
Percayalah, aku hebat dalam menunggu.
Hebatku sebesar harapanku padamu.
Harapanku sebesar perjuangan cintaku padamu.
Perjuanganku sebesar keyakinanku pada apa yang telah kupilih.
Dan pilihanku jatuh pada dirimu.
Dirimu yang kehadirannya selalu ku nanti dengan perasaan yang sama.
♡♡♡♡♡♡♡
Jangan tanyakan pada Milly mengenai hal menarik semasa sekolahnya, sebab gadis cantik itu tak akan tahu jawabannya.
Sejak kesalah pahaman terakhir kali dengan Al, ruang gerak Milly jadi semakin terbatas.
Seorang sopir yang juga bertugas mengawasi siapa saja yang berani mendekati kekasihnya, sengaja dipekerjakan Al demi ketenangan hati pria itu saat berada di belahan bumi yang lain.
Seakan sudah ikhlas menerima nasib hubungan LDR yang memang sering dibumbui dengam cemburu dan curiga.
Milly gadis itu tak terganggu dengan kehadiran sopirnya. Meski sudah 3 bulan bekerja, Milly bahkan tak tahu nama sopirnya.
Rutinitas gadis itu, selalu dilaporkan oleh sopirnya pada Al.
Sealam 3 bulan, laporan rutinitas Milly sebagian besar hanyalah rumah-sekolah atau toko buku- dan kembali ke rumah.
Bukannya Milly tak tahu jika Ia sedang diawasi, tapi dia hanya mencoba untuk tidak peduli.
Baginya, yang perlu takut hanyalah orang yang melakukan kesalahan.
Tidak termasuk dirinya.
Sebab dirinya tak pernah ada niat untuk mengkhianati kepercayaan Al.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Siang ini, saat Milly sedang menikmati makan siangnya, di salah satu bangku kayu yang menghadap ke danau buatan di taman sekolahnya.
Tak jauh dari tempatnya duduk, ada juga sepasang muda mudi yang sedang menikmati waktu berdua.
Saat itu, tanpa niat untuk menguping pembicaraan orang lain, Milly tak sengaja mendengar obrolan dua orang siswa, yang sejujurnya Ia tak tahu tepatnya mereka berada di kelas mana.
Huuuhhhh..
Ya, Milly akui jika apa yang Ia lakukan salah. Mendengar pembicaraan orang lain bukanlah perbuatan terpuji. Tapi jika yang menjadi objek pembicaraan adalah dirinya, bagaimana?
Mari anggap saja sebagai pujian jika nanti yang dibicarakan mereka adalah hal baik, dan anggap saja kritikan jika itu adalah hal yang buruk.
Mudahkan.
Ya, sesederhana itulah pikiran seorang Milly.
“Apa kau mengenal Nona muda keluarga Harrison?” tanya seorang remaja pria.
Mendengar namanya disebut, sontak saja Milly melirik ke sumber suara. Namun tak satupun dari keduanya yang Milly kenal.
“Ada apa dengan Nona muda itu? Semua orang di sekolah ini tentu saja mengenalnya. Princess di dunia nyata dan yang pasti dia adalah gadis dari Allard Anderson.” Jelas gadis yang menjadi lawan bicaranya.
“Anderson property maksudmu?”
Tak ada jawaban yang Milly dengar, mungkin wanita tadi menjawabnya dengan cara lain, pikir Milly.
“Sepertinya kau terlihat kecewa.” Suara si gadis yang kini terdengar oleh Milly.
“Jikapun Nona muda itu tidak memiliki kekasih, aku sebagai adikmu tak akan setuju jika kau berkencan dengannya.”
Dari tempatnya Milly akui jika tadi Ia sempat salah mengira jika mereka berdua adalah sepasang kekasih.
Tawa si pria terdengar, Ia bahkan tertawa terbahak-bahak.
“Kau lucu, kau adikku tapi mengapa kau cemburu?” ucap pria itu.
“Cemburu? Dalam mimpimu!” Sanggahnya si adik.
“Aku hanya tak ingin punya kakak ipar yang sifatnya anti sosial.” Sambungnya.
Milly menegang.
“What? Mereka bilang aku anti sosial? Apa mereka pikir aku menderita salah satu penyakit kejiwaan itu?” Geram Milly dari tempatnya.
“Huusstt, kau jangan asal tuduh. Jika gadis itu mendengarnya pasti Daddy akan kesulitan dengan bisnisnya.” Tegur si Pria.
“Aku tidak asal tuduh. Lihat saja perilakunya. Aneh.” Ucap Si Gadis.
Ia tetap pada penilaiannya.
“Kau tau, saat di sekolah hanya kelasnya dan pepustakaan yang Ia kunjungi.
__ADS_1
Kantin pun hanya sesekali. Temannya hanya satu. Dan terpenting dia tidak suka di keramaian. Selalu menyendiri.” Jelas si gadis menggebu-gedu.
“Kau salah. Menurutku dia bukannya Anti sosial seperti katamu. Dia hanya seorang gadis yang introvert. Anti sosial untuk seorang gadis cantik sepertinya, sangat tak mungkin. “ Elak si pria.
“Mungkin dia hanya gadis yang introvert.” Ulangnya lagi memperjelas semua dugaannya.
♡♡♡♡♡♡♡
Pada dasarnya, Milly tetaplah manusia biasa. Setiap kritikan dari orang lain tetap akan menjadi bahan renungannya.
Introvert.
“Apakah aku introvert?”
Pertanyaan itu akhirnya Milly tanyakan pada dirinya sendiri.
Namun Ia tak bisa memastikannya.
Bagi orang lain yang melihatnya, sikap gadis remaja seperti Milly terbilang langka.
“Bukannya takut atau tak menyukai keramaian. Bukan juga karena angkuh atau ingin memilih-milih teman.” Batin Milly.
“Tidak. Aku tidak seperti itu.” Bantahnya.
“Bukan introvert, aku hanya lebih senang jika aku bersama orang yang sudah mengenalku. Tapi bukan berarti aku tidak memulai pertemanan baru.” Monolognya.
Keresahan Milly sepertinya di sadari oleh Mommy Carol.
Pasalnya kedua wanita beda usia itu kini tengah menjalani me time ala wanita.
Memanjakan sekujur tubuh mereka dengan perawatan spa yang terbaik dari salah satu salon terkenal di kota.
“Sedang memikirkan apa sayang?” tanya Mommy Carol, mengembalikan kesadaran Milly yang sedang berkelana dibenaknya.
“Ti...ti... tidak ada Mom.” Jawabnya ragu.
“Benarkah? Mommy tidak yakin. Apa kamu seperti ini karena ada hubungannya dengan Al?” tanya Mommy Carol.
“Benar Mom. Tak perlu khawatir. Al menjagaku dengan sangat sangat baik.” Ucap Milly sarkas sambil menatap sopirnya yang juga ikut masuk ke salon kecantikan dengan mengatasnamakan perintah Al.
“Lalu?”
Milly terdiam sesaat. Haruskah Ia berceria?
Pada Ibu dari pria yang kini menjadi kekasihnya.
“Mommy, menurutmu Aku ini seperti apa?” tanya Milly.
“Makasih pujian Mommy,” jawabnya sopan.
“Tapi yang ku maksudkan, apa menurut Mommy, aku introvert?” akhirnya pertanyaan itu terlontar dari bibirnya.
Mommy Carol diam sesaat.
Ia bungkam, sedang mengartikan introvert seperti apa yang Milly maksud ada pada dirinya.
“Milly, dengarkan Mommy.”
“Kamu bukan introvert atau apalah sebutan lainnya lagi.” Ucap Mommy Carol dengan yakin.
“Kamu hanya terlalu nyaman berada di zonamu sendiri.”
“Keluarlah dari zonya nyamanmu sayang.” Tangan Mommy Carol yang berusaha meraih tangan Milly.
“Kau hanya perlu lakukan itu sayang. Berkawanlah dengan siapa saja. Pergilah ke tempat-tempat yang biasa dikunjungi remaja seusiamu. Mall, restaurant, atau club, bukanlah ide buruk. “ Saran Mommy Carol.
“Tapi, bagaimana dengan Al? Dia pasti tak akan suka jika aku seperti itu. Aku tak ingin kami sering salah paham Mom, LDR sudah cukup memusingkan.” Balas Milly.
“Allard? Putra Mommy? Apa dia mengekangmu?” Tanya Mommy Carol.
“Tidak Mom, bukan seperti itu... Al hanya, “ Ucapan Milly terhentik ketika melihat Mommy Carol sedang menghubungi putranya dengan panggilan video.
Tak perlu menunggu lama, lalu wajah malas Al muncul di layar ponsel Mommy Carol.
“Ada apa Mom?” tanya Al tak bersemangat.
Namun saat menyadari jika sang kekasih juga ada di sana, wajah Al sontak berubah sumringah.
“Baby, kamu bersama Mom ternyata.” Sapa Al dengan antusias.
“Al, berhenti tersenyum-senyum seperti itu.” Ucap Mommy, memutus tatapan dua insan yang sedang merindu.
“Jawab dengan jujur, apa kamu mengekang Milly selama ini?” tanya Mommy Carol dengan tegas.
“Aku mengekang Milly? Kata siapa?” tanya Al.
Milly sontak menunduk dan gerakannya berhasil di tangkap oleh netra Al.
“Apa sekarang kamu sedang mengadu pada Mommy?” tanya Al.
__ADS_1
Milly tak menjawab. Ia jadi merasa bersalah. Apalagi jika Mommy Carol sampai marah pada Al.
Namun ternyata berbeda. Respon Al tidak sama dengan apa yang dibayangkan Milly.
Al tertawa. Pria itu tertawa.
“Sejak kapan Mommy ingin ikut campur masalah hubunganku dan Milly?” tanya Al.
“Memangnya kenapa? selama yang jadi kekasihmu Milly maka Mommy akan selalu ikut campur. Tak akan kubiarkan sedikitpun kau menyakiti kesayanganku.” Ucap Mommy Carol.
“Mommyku yang cantik, aku tidak mengekang Milly. Aku hanya menjaga milikku.”
“Aku sangat mengenal tempat-tempat dimana teman-teman Milly sering bertemu. Dan bisa ku pastikan di sana banyak bahaya yang bisa menimpa Milly.”
Jawaban Al baru saja sudah Milly hapal. Karena itu adalah kata-kata pamungkas Al, saat Milly merajuk.
“Tapi aku bisa menjaga diri kok Beb, aku tak akan pulang larut atau bertemu Pria lain.” Celetuk Milly.
“Tapi aku yang tak akan tenang jika kamu pergi tanpaku. “ Balas Al.
Hening.
Milly menghela napas panjang.
“Sepertinya tak ada harapan.” Batinnya.
“Tak apa sepeti ini, toh aku juga mulai merasa nyaman.” Pasrahnya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Sementara di belahan lbumi yang lain, meski terlihat acuh, namun sesungguhnya Ia kini tengah dilanda kecemasan.
Mengapa Al birpikir jika ini adalah sebuah peringatan.
Arrrgghhhhh....
“Ini smua karena pekerjaan sialan ini sampai aku harus jauh darinya.” Gerutunya.
Al membuka galeri foto pada ponselnya.
Al tercekat, saat menyadari sesuatu,
“Apa aku memang sudah berlebihan?” Tanyanya pada dirinya sendiri.
Al melihat satu per satu foto Milly yang dikirim oleh sopirnya.
Hampir semua foto itu menampakkan sosok Milly yang tengah sibuk belajar atau membaca.
“Aku memang sudah keterlaluan.” Akunya.
“Tapi ku mohon Milly, bersabarah sebentar lagi.” Gumamnya seolah Milly sedang bersamanya.
“Sabarlah beberapa bulan lagi My Lily, setelah kamu menjadi calon istriku, dan setelah aku berhasil memilikimu seutuhnya.” Sambungnya.
♡♡♡♡♡♡
Setahun kemudian.
“Beb, apa kamu juga akan melewatkan acara kelulusanku besok?” Tanya Milly.
“Baby, ku harap kamu mengerti. Jika aku berhasil mendapat proyek ini, maka itu akan menjadi tiketku untuk kembali kesana, agar kita tidak lagi berjauhan.” Bujuk Al.
Namun sepertinya kali ini bujukan Al tidak berhasil.
Isakan sudah terdengar di seberang telepon.
“Kamu jahat Al. Sekarang kamu tidak mencintaiku lagi. Dulu saja aku bersepeda bersama seorang pria, dan saat itu juga kau kembali.” Ucap Milly sedikit tak jelas dipendengaran Al.
Al bungkam. Ia memikirkan cara lain untuk membujuk Milly.
“Baby, udahan dong nangisnya. Nanti sebelum perkuliahan dimulai, datanglah berlibur kesini, aku akan menunjukkan banyak tempat bagus di Indonesia.” Bujuknya sekali lagi.
“Tidak perlu. Karena aku tak mau menemuimu lagi. Jangan menghubungiku, aku akan sangat sibuk mencari pria yang mau jadi pasanganku besok.” Ancam Milly.
“Milly!”
“Jangan mengucapkan kata yang akan membuatmu menyesal Baby, karena jika kita bertemu nanti aku pastikan kamu akan mendapat hukumanmu.” Ucap Al.
Ada yang berbeda dengan ucapan Al barusan.
Tatapan tajam Al, dengan aura yang menggelap, nampak sangat jelas ketika Ia membalas ancaman Milly.
♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡
__ADS_1
"Ketika aku menutup mataku, yang kulihat adalah dirimu. Ketika aku membuka mataku, yang kurasakan adalah aku merindukanmu."