Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 33. LDR menyiksa


__ADS_3

“Halo....”


“Beb, kamu baik-baik aja kan?”


“Kasihan sekali kamu, pasti penerbangan berjam-jam sangat melelahkan.”


Milly, wanita itu begitu bersemangat saat menerima panggilan dari sang pujaan hatinya.


Allard tak tahu saja, jika kedua mata wanita itu telah sembab karena menangis memikirkan dirinya.


Benar kata Kalvin, Milly bukan lagi anak kecil yang tak bisa membaca situasi. Semua sikap manja yang ia tunjukkan, semata-mata karena tak ingin mengecewakan Ayah, Kakek, juga Al yang begitu menyayanginya juga memanjakan dirinya.


Beberapa jam yang lalu, Milly sudah mengecek jadwal penerbangan. Pesawat yang ditumpangi Al sudah mendarat sejak beberapa jam yang lalu. Jika semua baik-baik saja maka Al sudah pasti akan segera menghubunginya.


Apa Al marah padaku? Apa kesalahan yang sudah ku perbuat?


Batin Milly sejak beberapa jam yang lalu terus menanyakan hal yang sama berulang-ulang.


Rasanya kini Milly sulit bernapas, entah mengapa ia merasa dadanya begitu sesak saat Al mendiaminya seperti ini.


Seandainya saja mereka tak terpisah jarak, sudah pasti Milly akan segera berlari menghampiri tunangannya itu.


“Beb, apa kamu mendengarku?” ucap Milly.


Sedang di seberang telepon, Allard hanya menjawab dengan deheman saja.


Milly tertawa, berharap tawanya bisa sedikit saja mencairkan suasana. “Kupikir kamu tertidur Beb setelah mendengar suaraku.”


Mendengar tawa teman barunya, Aline yang saat itu memang sedang berada di apartemen Milly juga ikut tertawa.


Mendengar ada suara asing di sekitar Milly, sontak mengundang reaksi Allard.


“Siapa itu?” tanya Al. “Apa saat ini kamu tidak sendirian?”


“Astaga Beb... aku sampai lupa memberitahumu. Dia Aline, temanku di kampus.” Jelasnya.


“Aku sungguh kesepian karena merindukanmu, itulah mengapa aku meminta Aline menemaniku di sini,” imbuhnya.


Tak mungkin jika Milly berkata jujur pada Al, jika Aline yang memaksa untuk tinggal sebab khawatir melihat keadaan Milly yang menangis tanpa henti hingga wajahnya kini seperti zombie.


“Kamu mengajak orang lain ke apartemen kita?” tanya Al. "Apartemen itu tempat paling privasi untuk kita." Pria itu menekankan setiap kata yang ia ucapkan.


“Apakah tak boleh?” tanya Milly.


Wanita itu sedikit menjauh dari tempatnya tadi, ia pikir harus mengambil jarak. Ia tak ingin agar Aline mendengar pembicaraannya dengan Al.


“Kenapa kamu baru bertanya setelah melakukannya Milly!” bentak Al.


“Aku tak bertanya sebab kurasa ini bukan hal yang salah, dia temanku, dan dia seorang wanita. Tak ada hal buruk yang bisa terjadi, Beb.” Jelasnya dengan lembut.


Sungguh Milly tak pernah menduga jika ia dan Allard akan bertengkar karena masalah kecil seperti ini.


Bahkan di hari pertama mereka kembali menjalin hubungan jarak jauh.


Di bayangannya, hari ini akan ia habiskan dengan bermanja-manja pada Al meski hanya lewat telepon saja.


“Siapa yang bisa menjamin, huh?” tanya Al.


“Kau belum lama mengenalnya dan tak ada yang tahu apa niatnya berteman denganmu.”


“Ingat Milly, kamu itu seorang pewaris Harrison. Banyak orang yang ingin berada di posisimu. Banyak juga yang ingin memanfaatkanmu.”

__ADS_1


Sungguh, Milly tak ingin bertengkar di hari pertama keduanya kembali menjalin hubungan jarak jauh.


Sekuat tenaga ia menahan emosinya.


Berkali-kali pula ia harus menghela napas panjang untuk meredakan gejolak amarah dalam batinnya yang mungkin saja akan segera meledak.


“Al, jangan berlebihan. Aline orang yang baik, aku bisa merasakan itu,” ucap Milly.


“Siapa yang bisa menjamin itu semua,hah? Saat orang itu menyakitimu jangan pernah mengeluh padaku!” cibir Al.


Milly terperangah, tak percaya jika Al baru saja membentak dirinya.


Tak ingin membesarkan masalah sepele seperti ini, Milly memutuskan untuk mengakhiri saja panggilan lebih dulu.


“Sebaiknya kamu lanjutkan istirahatmu Beb.”


“Aku juga akan istirahat, hari ini cukup melelahkan,” ungkapnya sebelum mengakhiri panggilan telepon sepihak.


Namun sedetik kemudian, Milly menyesal.


Ia merutuki betapa bodohnya ia yang langsung memutus panggilan telepon begitu saja.


Harusnya dia membujuk Al, meluluhkan hati Al dengan sikap manjanya.


Aku benci hubungan jarak jauh! Aku benci semua kesalahpahaman ini! Jerit Milly dalam hatinya.


...****************...


Seminggu sudah hubungannya dengan Al merenggang. Jika mengingat bagaimana mesranya mereka sesaat sebelum jarak mulai memisahkan keduanya, tentu tak ada yang bisa membayangkan jika hal seperti ini akan terjadi.


Seminggu ini Milly hanya disibukkan dengan jadwal perkuliahannya yang padat.


Dengan berat hati ia sedikit mengambil jarak dengan Aline, juga Edric.


Rasa rindu dalam benaknya semakin menggila saat melihat senyum wanitanya yang begitu indah.


Senyum Milly sepertinya menular pada Al.


Senyum merekah terus saja menghiasi wajah tampannya. Semua itu karena ia baru saja mendapatkan izin dari sang kakek untuk menemui wanita yang sangat ia rindukan.


Ya, Al merindukan wanitanya. Ia merindukan semua hal dari Milly. Suaranya, tawanya, dan setiap inci dari tubuh wanitanya pun sangat ia rindukan saat ini.


Seminggu ini, orang suruhan Al sudah bekerja keras untuk mencari tahu segala hal mengenai wanita bernama Aline.


Dan Al harus mengakui jika kali ini Milly benar, sepertinya Aline tak memiliki niat jahat pada tunangannya.


Namun AL sedikit terganggu dengan kehadiran Edric, sahabat Aline. Jadi untuk mencegah hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi, Al akan memastikan secara langsung jika kekhawatirannya itu tidak akan pernah terjadi.


...****************...


Malam ini Al dan Kalvin sedang berada di sebuah klub malam untuk menghadiri pesta ulang tahun Christy, kekasih Noah.


Belum lama Al berada di tempat ini, namun ketampanan pria itu sudah memabukkan banyak wanita.


Salah satu di antaranya adalah Rachel. Wanita cantik yang berprofesi sebagai seorang aktris itu terus saja mendesak sahabatnya agar mengenalkan Al padanya.


“Hai Al,” sapa Christy.


Dan seperti biasa, pria itu selalu merespon dengan dingin.


“Bagaimana pestanya?” tanya Christy basa-basi.

__ADS_1


Al mengangguk, “Pestanya oke.” Jawab Al singkat. “Selamat ulang tahun yah,” imbuhnya.


“Baguslah kalau lu suka pestanya. Tapi karena ini hari ulang tahun gue, bolehkan gue minta sesuatu?” Ujar Christy.


Kening Al mengernyit, “Lu mau apa?”


“Gue mau titip sahabat gue nih,”ungkapnya.


“Namanya Rachel, dia jarang ke tempat seperti ini. Dan saat ini sepertinya dia mulai merasa gak nyaman. Apa lu bisa mengantarnya pulang?”


Al berpikir sejenak.


Sebenarnya saat ini harusnya Al sudah beristirahat , pasalnya Besok pagi ia harus ke bandara.


Sepertinya dengan mengantar sahabat Christy pulang, itu bisa menjadi alasan agar aku bisa pergi dari tempat ini. Pikir Al.


“Oke,” jawab Al setuju.


“Anggap saja ini sebagai Early gift dari gue.”


“Kado yang sebenarnya nanti setelah gue balik dari Amrik." ujar Al.


“Tuanangan gue punya selera yang bagus kok,” imbuhnya lagi.


“Ayo,” seru Al pada wanita berpakaian seksi yang sejak tadi terus menatapnya.


Aku tak yakin jika ini pertama kalinya ia ke tempat seperti ini. Dari pakaian dan gerak geriknya, aku yakin jika dia tidak sepolos itu. Batin Al


Namun apa peduli Al.


Bagi seorang Allard, yang terpenting saat ini ia bisa pulang lebih awal dan bisa beristirahat.


Al sudah membayangkan hal menyenangkan apa yang akan ia dan MIlly lakukan.


Aku harus cukup istirahat, sebab aku akan membutuhkan banyak tenaga nanti. Batin Al.


...****************...


Milly kini sedang duduk bersandar pada kursi yang dibuat dari belahan batang pohon yang ukurannya cukup besar.


Ia masih menunggu jadwal kelas berikutnya.


Sesekali wanita cantik itu menutup matanya, kala embusan angin menerpa wajahnya.


Tak ia duga dari arah belakang tubuhnya seorang pria tiba-tiba saja memeluknya.


“I Miss you Baby,” bisiknya.


Suara yang begitu ia kenali mengejutkannya. Ia segera berbalik, dan bagai sebuah mimpi di siang bolong, Allard... tunangannya yang sudah 2 hari tak bisa ia hubungi kini ada di sini. Berada sangat dekat dengannya, dan tengah memeluknya erat.


“Allard...” pekik Milly.


“Yes Baby, ini aku.”


“Maafkan aku Baby... maafkan aku. Lagi-lagi aku berbuat salah padamu.”


Milly menggeleng, “Tak ada yang perlu dimaafkan, sebab aku tak pernah marah padamu.”


“Terima kasih baby.” Ucap Al. “ Aku mencintaimu,” ungkapnya.


“Ya, aku juga mencintaimu Al.”

__ADS_1


Sedetik kemudian, tak ada lagi kata yang terucap setelah pengakuan cinta keduanya. Sebab dua bibir yang bertemu kini tengah menunjukkan betapa besarnya kerinduan yang tertahan selama seminggu ini.


__ADS_2