
“Venture outside your comfort zone. The rewards are worth it." – Rapunzel
(Berusahlah keluar dari zona nyaman anda . Imbalannya akan sangat layak)
⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘
Baru saja Milly hendak turun untuk makan siang bersama ayah dan kakeknya, namun bunyi ponsel miliknya menghentikan langkahnya.
Milly sungguh terkejut ketika selesai membaca email yang baru saja Ia terima.
Email yang telah Milly tunggu sejak berminggu-minggu yang lalu.
Email ini bagai tiket bagi Milly untuk mencoba menjadi gadis mandiri yang Ia idam-idamkan.
Milly mengurungkan niatnya untuk berdandan, dipikirannya saat ini adalah bertemu Daddy secepatnya dan memberitahu hal yang membuatnya sangat bahagia.
“Daddy... Daddy.... “ Teriaknya meski kakinya masih terus melangkah menuju ruang kerja ayahnya.
“Maaf Non, tapi tuan baru saja turun karena kedatangan tamu,” ucap salah seorang maid yang melihat Nona mudanya kebingungan mencari ayahnya.
“Terimakasih,” ucap Milly kemudian kembali melangkahkan kakinya dengan cepat menyusul ayahnya.
Samar-samar Ia mendengar suara beberapa orang yang mengobrol dari ruang keluarga.
Milly makin mempercepat langkahnya, hingga beberapa langkah lagi dia tiba di sana.
“Dadd.... Dy,” ucap Milly terbata saat menyadari siapa saja yang ada di ruangan itu.
Semua keluarga Anderson ada di sini.
Dan Allard, kekasihnya juga di sana dan sedang menatapnya lekat.
“Wah, yang hendak dibicarakan ada disini,” ucap Mommy Carol.
Milly menyapa satu per satu, mulai dari Grandpa Gilbert, Mommy Carol, Daddy Sean, hingga Al, setelah itu Ia memilih duduk di sisi Al.
Entah Milly yang berlebihan ataukah memang benar jika suasana siang ini berbeda.
“Aku tak tahu jika kalian akan kemari, jika tahu aku akan ikut menyambut kedatangan Grandpa, Mommy dam Daddy,” sesal Milly.
“Tak apa sayang, kami kemari memang tanpa rencana. Dan itu semua karena pria disampingmu,“ Balas Mommy.
“Karena semua sudah berkumpul, Milly juga sudah disini, jadi mari kita dengar apa yang hendak Al sampaikan,” ucap Daddy Sean.
Kini semua perhatian tertuju pada Al, termasuk Milly yang kini melihat Al dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Hal penting apa hingga melibatkan kedua keluarga kami, bukannya dua hari yang lalu baru saja kami semua berkumpul," batin Milly.
“Daddy Robert, Grandpa Donald, Baby, maafkan aku yang datang secara tiba-tiba. Tak ada niat lain, selain aku ingin menunjukkan kesungguhan dan keseriusanku pada Milly, aku ingin meminta restu Daddy dan Grandpa untuk menikahi Milly,” ucap AL penuh harap.
Terlihat jelas dari sorot matanya yang penuh keyakinan dengan ucapannya, pikir Daddy Robert.
Setelah mengamati gerak-gerik Al, Daddy beralih menatap pada putrinya yang nampak lebih terkejut dari dirinya.
“Sepertinya yang ku khawatirkan tak benar-benar terjadi, syukurlah.” Batin Daddy Robert.
Daddy Robert menatapa ayahnya, seolah minta izin untuk menjawab permintaan Al.
“Silahkan Nak, Milly putrimu, kau berhak ambil andil dalam keputusan ini,” ucap Grandpa Donald.
“Thanks Dad," balasnya.
Daddy Robert lalu menghela napasnya, “Al, kamu tau jika sebelum kami memina restu, aku sudah memberikannya. Selama ini aku sudah melihat kamu menjaga Milly dengan sungguh-sungguh.”
“Entah apa yang membuatmu terburu-buru seperti ini dan Daddy yakin kalian cukup pintar untuk mencegah hal yang buruk terjadi. Tapi Al, mengenai pernikahan akan Daddy serahkan semua keputusannya pada Milly sementara Daddy dan Grandpa akan mendukung apapun keputusan kalian,” putus daddy.
“Thanks Dad, aku sangat menghormatimu,” Ucap Allard.
Allard lalu memutar tubuhnya hingga kini menghadap Milly yang menunduk.
Entahlah, Al tidak bisa menebak bagaimana perasaan Milly. Sejak tadi wanitanya hanya menunduk dengan jemari yang terus meremas ponselnya.
__ADS_1
Al lalu berlutut dengan satu kakinya di hadapan Milly, “Baby, please look at me,” pinta Allard dengan lembut.
“Baby, I know how much you love me, and I love you just the same,”
(Sayang, Aku tahu betapa besarnya cintamu padaku dan begitupun cintaku padamu)
“Baby, Only you, you're the only thing I'll see forever. In my eyes, in my words, and in everything I do, your sight is the only sight that will ever bring me peace,”
(Sayang, Hanya kamu, kamu satu-satunya hal yang akan aku lihat selamanya. Di mataku, dalam kata-kataku, dan dalam semua yang aku lakukan, pandanganmu adalah satu-satunya pemandangan yang akan memberiku kedamaian)
“Baby, You're the one girl that made me risk everything for a future worth having,”
(Sayang, hanya kamu satu-satunya wanita yang membuatku mempertaruhkan segalanya demi masa depan berharga)
“So, please say yes and It's time we went further, to take our relationship to the next level”
(Jadi, Kumohon katakan Ya, Sayang. Dan ini adalah saatnya kita melangkah lebih jauh, membawa hubungan kita ke tahap selanjutnya)
“Let’s get married, Baby. And through love we advance in faith and hope,”
(Ayo menikah, Sayang. Dan dengan kekuatan cinta kita melangkah dalam iman dan pengharapan)
“Will you?”
(Maukah kamu?)
Dan akhirnya pertanyaan di akhir itu seperti menarik Milly jatuh ketika sedang diterbangkan oleh kata-kata romantis Al.
Namun pertanyaan terakhir darinya seperti menyadarkan Milly, jika Al menyatakan semua kata romantis itu bukan hanya untuk menerbangkanku ke awang-awang, tapi pria itu ingin membawaku melangkah ke dunia nyata yang sebenar-benarnya.
Bungkamnya Milly yang cukup lama membuat Al gusar, begitupun dengan dua keluarga yang kini menanti jawaban Milly.
“Of course, I Will,” balas Milly
(Tentu saja, Aku mau)
Baru saja senyum Al hendak merekah, namun mendengar lanjutan ucapan Milly, rahang Al langsung menegang.
“But sorry, not now baby,” lanjutnya, “I have a dream for the future, and I will working very hard towards it,”
“Please baby, never doubt my love for you, that was real,”
(Kumohon sayang, jangan pernah meragukan cintaku, hal itu nyata)
“Please baby, take me time to improving my self,”
(Kumohon sayang, beri aku waktu untuk memantaskan diriku)
“I want to be some one who deserved beside you.”
(Aku ingin menjadi seseorang yang pantas berada di sisimu)
Jawaban Milly memang begitu mengejutkan, tidak hanya untuk Al, tapi juga untuk yang lainnya.
Melihat bagaimana cinta diantara keduanya, tak menyangka jika Milly bisa seteguh itu pada pendiriannya untuk mengutamakan mimpinya, semuanya semakin kagum pada sosok Milly.
Semuanya mengerti jika Milly masih sangat muda untuk sebuah pernikahan, namun Al yang sudah dewasa dan mapan dirasa mampu mendampingi Milly.
Namun keputusan semuanya ada pada Milly dan Al.
Milly merasa sangat bersalah sudah mengecewakan Al, terlihat jelas lewat kedua netranya yang sudah berkaca-kaca.
“Apakah aku telah membuat keputusan yang salah?” batin Milly.
⚘⚘⚘⚘⚘⚘
Perbincangan yang cukup serius, menjadikan suasana makan siang terasa canggung.
Al yang tiba-tiba saja bungkam, dan Milly yang tak bersemangat membuat para orang tua merasa iba.
Meski bukan berarti mengakhiri hubungan keduanya, namun mereka yakin jika kini keretakan akan terjadi dan jika tidak segera diperbaiki bisa saja akan berakibat semakin buruk dan menjadi ancaman bagi kelangsungan hubungan mereka berdua.
__ADS_1
Tak beberapa lama setelah makan siang, Al pamit pada semuanya, karena ada hal mendesak mengenai perusahaan yang akan Ia lakukan.
Tak ada yang bisa mencegahnya, meski tahu semua hanyalah alasan Al.
“Jujurlah, kamu mau kemana?” tanya Milly, saat Ia mengantar Al menuju mobilnya.
“Aku akan ke perusahaan Baby,” jawab Al seperti biasanya.
Pria itu berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosinya kini.
Jujur saja, tak pernah Ia duga akan mendapatkan penolakan dari Milly.
Bahkan semalam saja, Milly telah memberikan hal yang paling berharga dihidupnya.
“Mimpi apa yang ingin Milly raih? Apa Milly ragu akan cintaku padanya? Atau justru Milly ragu akan cintanya padaku?” Batin Al.
Ingin sekali Ia menanyakan hal itu pada Milly saat ini, tapi rasanya hanya akan berakhir dengan pertengkaran hingga Al memilih untuk memendamnya.
“Bohong,” ucap Milly lirih.
“Tidak, aku benar-benar akan ke perusahaan,” ujar Al meyakinkan Milly.
“Apa aku harus mengkhawatirkan hubungan kita setelah aku menolak untuk menikah secepatnya?” tanya Milly.
“Tentu saja tidak, dan jangan pernah berpikir seperti itu,” balas Al, “Aku pergi,” ucapnya.
Lalu Al pergi menyisakan banyak tanya, banyak sesal, dan banyak kata yang ingin Milly ucapkan untuk menjelaskan.
Sudah Ia duga, jika kesalah pahaman ini akan terjadi. Tapi tak pernah Ia sangka jika Al akan memilih pergi menyendiri dari pada tinggal dan mendengar penjelasannya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” lirih Milly.
“Temui dia Nak,” ucap Mommy Carol mengejutkan Milly.
Mommy Carol mengajak Milly masuk dan duduk bersama untuk mengobrol.
“Mommy Carol tak kecewa pada keputusanku?” tanya Milly ragu.
Mommy Carol menggeleng.
“Kamu tahu sayang, Mommy sebenarnya sudah tak sabar ingin melihat kalian menikah. Seperti kata Grisel, aku harus memastikan riasanmu tetap utuh meski kamu baru saja menangis saat hari pernikahanmu,”
“Tapi aku juga mendukungmu Nak untuk menggapai citamu,” ucap Mommy Carol.
“Mommy, Al ada dalam bagian mimpiku yang ingi ku gapai. Aku ingin menjadi yang terbaik demi dia. Mommy tahu, aku tak ingin dipandang karena nama Harrison yang ku bawa sejak lahir, atau Anderson setelah kami menikah,” jelas Milly.
“Aku ingin seperti Mommy Grisel, tahu kapan mulai dan berhenti dengan mimpinya,” lanjutnya.
Mommy Carol membawa Milly ke dalam dekapannya, membelai surai lembut gadis yang Ia sayangi seperti anaknya sendiri.
Lalu tanpa sengaja netranya menatap pada jejak kemerahan yang tak asing pada ceruk leher gadis itu.
“Dasar Allard Anderson, awas saja jika sampai dia mengecewakan gadisku,” batin Mommy Carol yang tahu pasti jejak apa itu dan siapa pelakunya.
Tak lama ponsel Mommy Carol bergetar, dan Ia tersenyum.
“Al ada di apartemennya, pergilah, susul dia, jelaskan semuanya. Kamu tahu dia seperti ini hanya karena takut kehilanganmu, Al insecure pada dirinya, khawatir jika kamu menemukan pria lain yang lebih darinya.”
Milly mengangguk.
Mengecup kedua pipi Mommy Carol, sebelum bergegas ke kamarnya untuk bersiap menemui Al.
“Milly, apapun yang kalian lakukan Mommy percaya kamu cukup pintar menjaga dirimu,” peringat Mommy Carol.
Milly tersenyum dan mengangguk dengan antusias, sedang Mommy Carol hanya menggeleng melihat itu, dirinya yakin Milly belum paham apa yang Ia maksud.
⚘⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘⚘
Semua orang bisa mengatakan bahwa dirinya hebat.
Tapi penilaian tidak hanya berasal dari sudut pandangmu sendiri.
__ADS_1
Orang lain menilai kepribadianmu lewat apa yang kamu lakukan.
Jadi lebih baik melakukan hal bermanfaat, dibanding terus membicarakan kehebatan dirimu.