Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 47. Bujukan Allard


__ADS_3

“Baby, bisa tolong kamu tepikan mobilnya?” Kedua manik mata Allard tampak berbinar saat melihat betapa indahnya pemandangan langit malam ini. Meski keningnya mengernyit namun Milly tetap menepikan mobilnya sesuai permintaan Allard.


Milly pikir Allard ingin membeli sesuatu pada sebuah minimarket, nyatanya pria itu malah menyeberangi jalan menuju pantai. Pencahayaan yang kurang membuat area sekitarnya cukup gelap. Milly sampai harus menyalakan senter pada ponselnya saat menyusul Allard yang sudah lebih dulu berjalan ke sana.


Woooww! Pekik Milly dalam hati. Batinnya tak henti memuji betapa sosok Allard sangat rupawan di bawah sinar rembulan. Pria itu berdiri tepat di bawah sinar bulan yang menyorotnya langsung pesona seorang Allard.


Mendengar derap langkah kaki Milly, pria itu menoleh dan tersenyum.


Stop tersenyum! Jangan meruntuhkan pertahanan ku, gerutu Milly dalam hatinya.


“Baby, kemarilah!” Tangan Allard terulur berharap Milly menggapainya. Pria itu masih terus menutup mata akan sikap Milly yang berubah 360 derajat padanya.


Milly berjalan mendekat pada Allard, berdiri dan mengambil jarak dari pria yang masih berstatus tunangannya entah sampai kapan. “Sampai kapan kita harus terus berpura-pura, Al?” tanya Milly tanpa menatap Allard.


“Baby, sedikit pun aku tak pernah berpura-pura mengenai cintaku padamu.” Kalimat sama yang sudah berulang kali Al utarakan pada Milly.


“Tapi kamu berpura-pura setia Al. Aku tahu semuanya, aku tahu kamu mengkhianatiku!” Aku Milly. “Aku mengetahui segalanya Allard dan aku masih belum bisa menerima hal itu,” imbuhnya.


Allard mendudukkan dirinya di atas pasir yang tampak mengkilap karena kehebatan sang bulan dalam memancarkan sinarnya. “Beri aku kesempatan, Baby.” Pria yang menjadi idola banyak wanita karena keangkuhannya kini memelas di hadapan Milly.


Milly ikut duduk di samping Al. Dilepaskannya sepatu yang ia kenakan, hingga kakinya bisa merasakan butiran pasir yang menggelitik. “Kesempatan? Al, aku telah memberimu kesempatan bertahun-tahun untuk rela melepaskanku!”


“Jangan memaksakan hubungan ini Allard. Apa kamu tak menyadari jika beberapa tahun terakhir kita saling menyiksa?”


“Sangat sulit bagiku untuk bertahan di sisimu, jika rasa curiga selalu menghantui setiap detik waktu yang akan kita lalui bersama , Al.” Air muka Milly menggambarkan jelas betapa frustrasinya wanita itu karena kepercayaan yang telah ternoda.


“Sulit karena kamu melakukannya sendiri, Baby.” Kedua tangan Allard sudah berada di kedua lengan Milly. Al ragu untuk membawa Milly ke dalam dekapannya. “Tidak ingatkah kamu dengan nasihat Mommy Grisel?” Pertanyaan Al yang satu ini sukses membuat Milly terpaku.


Aku melupakan hal itu! Keegoisanku melupakan nasihat dan harapan Mommy pada kami, batin Milly.

__ADS_1


Melihat Milly yang mematung membuat Al memberanikan diri menarik tubuh Milly, dan mendekapnya erat. Akhirnya ... aku merindukan dekapan ini. Merindukan hangatnya embusan napasnya, merindukan irama detak jantungnya. Batin Allard.


“Baby, kamu ingat apa yang Mommy Grisel katakan? Jalan kita tak akan mudah, Baby.” Genangan air mata membuat pandangan Allard kabur. Suara seraknya yang didengar Milly membuat wanita itu semakin mematung.


Apa Allard menangis? Tanyanya dalam hati.


“Mommy Grisel pernah berpesan jika kita tak boleh menyerah, Baby. Untuk menjadi kupu-kupu yang cantik, bukankah ada fase hidup yang terus berubah namun tetap harus kita jalani?” ujar Al.


“Baby, aku tahu kamu membenciku. Tapi hati kecilku tahu jika di hatimu, kamu masih menyimpan cinta untukku,” imbuhnya.


“Kumohon, ikutlah bersamaku. Bersama-sama kita lewati fase hidup ini, Baby. Aku berjanji tak lagi menyia-nyiakan kesempatan jika kamu bersedia memberikannya.” Sekali lagi Al berjanji pada Milly.


“Kita berdua masih bisa menyatu seperti kupu-kupu, Baby.” Tak lelah pria itu meyakinkan Milly. “Kumohon, pikirkan kedua keluarga kita.”


Milly mengedikkan bahunya. Pikirannya benar-benar buntu saat ini. Milly ingin mencoba percaya, sayangnya bayangan pengkhianatan Allard selalu menghantui.


Katakan jika aku pendendam, namun luka hati ini terlalu dalam hingga sulit sekali untuk kusembuhkan, batin Milly.


......................


Setibanya di rumah Milly, dengan keras kepala Allard memaksa untuk tidur bersama Milly. Rasa lelah fisik dan batinnya membuat Milly tak berdaya untuk membantah keinginan pria itu. Allard sempat kecewa saat melihat Milly naik ke atas tempat tidur dengan setelan piama yang menutupi seluruh tubuhnya.


Allard memicingkan matanya. Sepertinya Milly sengaja mengenakan piama seperti ini, batin Al.


Pria itu dibuat kecewa karena harapannya untuk memandangi kemolekan tubuh sang tunangan tak bisa terlaksana malam ini. Dari raut wajah kecewa yang ditampilkan Allard, membuat Milly tertawa diam-diam.


Jangan kira aku tak tahu niatmu! Kamu harus bertahan Milly, kamu harus bisa membuktikan jika Allard benar-benar tak akan lagi mengecewakanmu. Batin Milly bertekad.


Malam semakin larut, tanpa sadar Milly sudah terlelap dengan nyaman dalam pelukan Allard. Begitu pun dengan Allard, sudah lama rasanya tidurnya tak senyaman malam ini. Mendekap Milly merasakan kehangatan yang selalu ia rindukan. menghirup aroma vanila dari rambut Milly membuat Al tak bosan-bosannya mengecup puncak kepala Milly.

__ADS_1


Namun semua kesenangan Al harus terhenti tatkala ponselnya bergetar. Dengan satu tangan Al berusaha meraih ponselnya di atas nakas. Tubuhnya seketika menegang saat melihat nama yang tampak di layar gawainya.


Stella? Untuk apa dia menghubungiku lagi! Gerutu Al dalam hati.


Mengendap-endap Al keluar menuju teras yang ada di luar kamar Milly. Lagi-lagi Allard mengagumi pemandangan yang memanjakan matanya. Pesona cahaya bulan terlihat jelas dari teras kamar Milly. Sontak ia tersadar dengan tujuan keluar kamar setelah gawainya kembali bergetar.


“Ada apa?” Ucap Al tak ramah.


“Hai sayang, apa kabar? Aku merindukanmu,” ucap wanita di seberang telepon.


“Stel ... kita sudah berakhir. Tolong pahami itu!” Balas Allard. Tak tahu saja Allard jika wanita yang menjadi lawan bicaranya di telepon kini sedang mengepalkan erat tangannya.


“Santai sayang, aku paham. Itulah mengapa aku menghubungimu sekarang,” ujar Stella. “Apa tunanganmu sudah tidur?”


Kening Al mengenyit. “Bagaimana kau tahu jika saat ini aku bersama tunanganku?”


Pertanyaan Allard dijawab dengan tawa oleh Stella. “Jawab Stella!” Bentak Allard. “Apa kau memerintahkan orang untuk mengikutiku?”


“Sayang ... bagaimana bisa kamu menuduhku seperti itu,” elak Stella.


“Aku tak memerintahkan siapa pun mengikutimu sayang. Tapi sepertinya kita memang berjodoh hingga dipertemukan di pulau ini,” tutur Stella membuat Allard membulatkan matanya.


Rasa kantuknya hilang seketika. “Apa kau juga berada di Bali?”


“Ya sayang, aku di sini. Berada tak jauh darimu. Jika kamu tak percaya, besok aku bisa menemuimu.” Ucapan Stella baru saja terdengar bagai ancaman untuk Allard.


“Jangan gila, Stel!” Celetuk Allard.


“Terlambat sayang, aku sudah tergila-gila padamu!”

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2