
“Tidak ...”
“Jangan mendekat ...”
“Pergi ...”
Pekikan terdengar di sela-sela isakan tangis Milly yang masih terlelap dalam tidurnya.
Begitu besarnya rasa sakit akibat hati yang patah hingga wanita itu merasakannya sampai ke alam mimpi.
Sosok pria yang beberapa menit lalu baru saja terlelap di sisi Milly terpaksa berjingkat karena terkejut mendengar igauan tunangannya yang diiringi tangisan dan air mata.
“Baby ...”
“My baby ... honey ...”
“Kumohon ... ayo bangunlah ...”
“Buka matamu sayang,” pinta Allard dengan memelas.
Kedua tangannya yang bergetar kini mengguncang tubuh Milly kekasihnya.
Panik.
Ya, Allard panik ....
Dua jam yang lalu pria tampan itu baru saja mendarat kembali di Seattle dan langsung menuju ke apartemen milik tunangannya dengan perasaan yang resah.
Kebetulan sekali, laporan dari Kalvin asistennya bersamaan dengan berita dari Mommy-nya jika Milly baru saja kembali dari luar kota dalam rangka kegiatan kampusnya.
Was-was, takut, resah, begitulah perasaan yang Allard rasakan sejak 22 jam yang lalu. Namun kini yang tersisa hanyalah rasa bersalah dan penyesalan yang bersarang di hatinya.
Setibanya Allard di apartemen Milly, pria itu disambut dengan Milly yang tertidur dengan lelapnya.
Pria itu sudah coba mengusik lelapnya tidur sang tunangan, namun sayangnya tak ada respon sama sekali membuat Allard mulai khawatir.
Bergegas pria itu menghubungi salah satu dokter pribadi keluarga Anderson setelah ia mendapati botol obat tidur yang telah kosong tergeletak tanpa ada sebutir pun yang tersisa.
Apa kecurigaan Kalvin benar? Apa kamu benar-benar telah mengetahui semuanya? Batin Allard resah.
Bersyukur dokter mengatakan jika semua yang terjadi pada Milly karena efek obat tidur yang diminumnya. Allard diminta untuk sabar menunggu sampai pengaruh obat tidur itu benar-benar hilang dan Milly akan segera bangun.
...****************...
Allard tak henti dan tak putus asa untuk terus berusaha membangunkan tunangannya.
Dengan kedua netranya yang masih terpejam, kepala Milly terus saja menoleh ke kanan dan ke kiri, bergerak dengan kasar membuat Allard semakin panik.
“Ya Tuhan ... baby ... kumohon bangunlah,” pintanya dengan sepenuh hati.
Hanya pada Tuhan Yang Maha Kuasa, Allard bisa berharap pertolongan kini.
Bagaimana ia bisa melanjutkan hidupnya jika sampai terjadi sesuatu pada Milly.
Di tengah kepanikannya, bagai sebuah keajaiban Allard bisa melihat kedua netra tunangannya yang awalnya terpejam kini tiba-tiba saja terjaga bersamaan dengan Milly yang menjerit dan napas wanita itu yang memburu tak beraturan.
“Pergi ....” teriaknya.
Al segera membantu Milly untuk bangun dari posisinya yang semula berbaring. Lalu tanpa aba-aba Al mendekap Milly sangat erat.
“Syukurlah baby ... kamu tahu, aku sangat khawatir padamu,” ungkapnya.
“Maafkan aku baby, kumohon maafkan aku.”
Mendengar permohonan maaf Al, Milly hanya bisa menyeringai.
__ADS_1
Sudah beberapa menit berlalu, dan ia masih dalam pelukan Al tanpa ada niat sedikit pun untuk membalas pelukan dari sang tunangan.
Meski hatinya juga mengakui jika pelukan ini adalah pelukan yang sangat ia rindukan.
Tak jauh berbeda dengan Milly, Al pun merasakan hal yang sama.
Aneh, batinnya.
Apa mungkin Milly sudah mengetahui semuanya? Batin Al semakin tak tenang akibat perubahan kecil dari kebiasaan tunangannya.
Milly masih cukup lemah untuk memaksa lepas dari pelukan Al, hingga Al akhirnya yang lebih dulu melepaskan.
Dengan perlahan ia bantu tunangannya itu untuk bersandar pada kepala tempat tidur. Dengan salah satu tangannya kini menangkup pipi Milly. Ia belai lembut menggunakan ibu jarinya pipi mulus tersebut.
Ada apa baby? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa semua dugaanku benar? Apa aku benar-benar menjadi penyebab semua kekacauan ini?
Pertanyaan itu tak dapat terucap dari bibir Allard yang kini bergetar menahan tangis. Tak apa, pria itu terima jika dikatakan sebagai pria lemah atau pria cengeng jika hal itu menyangkut Milly.
Milly memang sumber kekuatannya, dan kini Allard sendiri yang terlah mematahkannya.
Hening ....
Sepasang kekasih itu hanya bungkam.
Jika bungkamnya Milly sudah jelas, sebab rasanya wanita itu sudah tak sudih untuk bertemu atau bahkan bicara dengan Al.
Berbeda dengan Al, pria itu bungkam sebab tak ingin salah mengambil sikap.
Namun hati Al teramat perih sebab sejak tadi Milly belum menatapnya. Meski berbagai sentuhan ia berikan, namun tak sedikit pun mengusik pandangan wanita itu yang dengan terus menatap indahnya langit sore melalui jendela besar kamarnya.
Tak sanggup dengan diamnya Milly lebih lama, Allard akhirnya buka suara lebih dulu.
“Baby, bagaimana keadaanmu?” tanyanya lembut.
“Baik-baik saja,” jawab Milly singkat tanpa menoleh pada sang empunya pertanyaan.
Tunangan yang ada di hadapannya kini bukanlah tunangannya.
Ini bukan dirimu baby, aku yakin telah terjadi sesuatu. Batinnya.
Tak ingin dalam kondisi canggung lebih lama lagi, Allard memutuskan untuk beranjak dari hadapan Milly.
“Baby, bersiaplah. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk merayakan ulang tahun kita,” ungkap Al.
Dikecupnya kening Milly sekali, “Maafkan aku... kuharap belum terlambat bagi kita untuk merayakannya bersama.”
“Tapi aku tak mau lagi merayakan ulang tahun,” jawab Milly yang cukup membuat Al terkejut.
Bukannya, beberapa hari lalu dia sangat bersemangat merayakannya?
Apa sikapnya ini karena dia merajuk karena aku tak hadir saat ulang tahun kami? Semoga saja....
“Sayangnya aku sudah mempersiapkan semuanya baby,” balas Al terdengar kecewa.
“Tapi-“, ucapan Milly harus terhenti sebab Al membungkamnya dengan sebuah kecupan singkat.
“Keluarga besar kita pasti akan sangat kecewa jika makan malam ini dibatalkan,” ujar Al beralasan.
“Apalagi Mommy ... dia begitu bersemangat untuk makan malam ini,” imbuhnya.
Jika sudah alasan keluarga, bagaimana Milly harus menolak.
Milly marah dan membenci Allard, pria di hadapannya. Namun wanita itu sangat menyayangi kedua keluarga mereka.
Tak ingin mengecewakan kedua keluarga seperti yang dikatakan Allard, maka Milly akhirnya setuju.
__ADS_1
Makan malam nanti akan menjadi saat yang tepat bagiku untuk mengakhiri hubungan ini. Batin Milly.
Sebuah anggukan dari Milly menjadi jawaban jika ia setuju dengan ide Al.
Senyuman yang semakin menambah ketampanan seorang Al akhirnya terbit juga.
Saking bahagianya, pria itu dengan lihai kini mendaratkan sebuah ciuman tepat di bibir pucat Milly.
Dengan piawainya Al bermain di bibir sang tunangan, namun sayang tak ada sedikit pun balasan yang ia terima.
Sekali lagi hatinya harus menelan pahitnya kekecewaan. Ke mana Milly, tunangannya yang dulu. Pada akhirnya Allard segera menghentikan aksinya.
Terdengar helaan nafasnya yang begitu lirih, pria itu pun juga kini merasakan kecewa yang luar biasa. Tak ada sambutan hangat dari kekasihnya.
“Kamu tak apa kutinggalkan sendiri? Aku akan bersiap lebih dulu,” ucap Al.
Milly menggeleng, “Tak apa ... pergilah,” jawabnya singkat.
Baru dua langkah Al setelah pria berbalik badan, namun ia harus menghentikan langkahnya karena mendapatkan pertanyaan dari wanitanya.
“Apa kamu tak ingin tahu mengapa?” Tanya Milly ambigu.
“Mengapa? Apa yang harus kutahu?” Balas Allard.
“Kamu ingin memberitahuku sekarang?” tanya Al dengan manik matanya yang melirik pada botol obat tidur yang telah kosong tak bertuan.
Milly menyeringai, “Apa kamu benar-benar ingin tahu?
Al menggeleng, “Aku tak akan memaksamu baby, beritahu aku kapan pun kamu siap untuk bercerita.”
Milly mengangguk setuju, pikirnya malam nanti semua yang ia pendam akan ia ungkapkan. Dan kisahnya bersama Al akan berakhir malam ini.
“Bagaimana denganmu Al, apa ada hal yang ingin kamu ceritakan padaku?” Tanya Milly.
“Al?” ulangnya menirukan ucapan Milly.
Pria yang berstatus tunangan Milly itu kini mengernyitkan keningnya.
Milly menyebut namanya? Ke mana panggilan sayang untuknya? Pikir Al.
“Cerita seperti apa yang kamu ingin tahu?” tanya Al kembali.
“Apa pun ...” jawab Milly singkat.
“Nanti saja aku akan bercerita, sekarang aku akan siap-siap,” ujar Al.
“Kamu pasti tak ingin jika Mommy menunggu kita berdua.”
“Pergilah lebih dulu, aku akan menyusul. Masih ada yang harus kukerjakan,” ucap Milly.
Ucapan Milly barusan akhirnya berhasil memancing emosi Al. Tunangannya itu saat ini sudah berkali-kali membuatnya kecewa.
“Tidak!” Tolak Al dengan tegas.
“Batalkan semua rencanamu! Kita akan tetap pergi bersama,” ujarnya.
“Sekarang bersiaplah!” titah Allard.
Milly berdecih sangat pelan, namun masih bisa di dengar oleh Al.
Langkah kaki Al semakin ia percepat agar segera sampai di kamar mandi, berharap Milly tidak mengucapkan kata-kata lain lagi yang tak ingin ia dengar seumur hidup.
Al bergumam seorang diri, ia menatap kasihan pada dirinya sendiri melalui pantulan cermin.
“Jika pun dugaanku benar, kamu telah mengetahui semuanya ... Maafkan aku Baby, tapi aku tak akan pernah melepasmu.”
__ADS_1
...****************...