Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 41. Pertengkaran


__ADS_3

“Katakan Milly, katakan apa yang kamu inginkan!” bentak Allard.


“Jangan menghindariku dan bertingkah seperti anak kecil,” imbuhnya.


Pertengkaran di antara Milly dan Allard tak dapat terhindarkan lagi. Allard yang seharian ini sudah dipusingkan dengan sikap Milly yang begitu membingungkan, ditambah baru saja ibundanya harus dilarikan ke Rumah Sakit karena pingsan saat mereka hendak makan malam bersama.


Semua hal itu membuat Al kesulitan mengontrol emosinya, hingga bentakan itu terlontar dari bibirnya.


Jika dulu Milly akan segera merasa bersalah jika Allard marah padanya, berbeda dengan saat ini. Tak ada simpati lagi yang tersisa untuk seorang Allard di mata Milly.


Kekecewaan pada sosok pria yang ia percaya seumur hidupnya telah membekukan hati Milly. Menyelimuti cinta yang begitu besar yang telah ternoda oleh pengkhianatan Allard.


Dengan berani Milly menyentakkan satu lengannya yang dicengkram oleh Al. Cengkraman pria itu cukup kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan di kulit putih Milly.


“Aku ingin kita berpisah! Aku ingin kita putus!” Pekik Milly.


Sengaja ia dekatkan wajahnya dengan wajah pria yang telah mengecewakannya begitu besar, agar Allard tahu dan bisa melihat sendiri dari manik matanya jika dia sungguh-sungguh dengan apa yang diinginkannya.


“Lepaskan anak kecil ini dan kamu bisa bebas bersenang-senang bersama wanita manapun!” Imbuh Milly, lalu dengan yakin ia palingkan wajahnya menatap ke arah lain.


Bukan karena tak ingin menatap Al, namun Milly takut bisa saja tekadnya akan goyah. Biar bagaimanapun faktanya, tak ada sehari pun di sepanjang usianya yang ia lewatkan tanpa memupuk rasa cintanya pada pria itu. Cintanya masih begitu besar untuk pria ini.


“Sh*t!” Allard mengumpat.


Ia usap wajahnya dengan kasar lalu tertawa.


“Berpisah katamu?” tanyanya.


“Beri aku alasan mengapa dengan mudahnya kamu ingin berpisah denganku?”


“Apa kamu tidak mendengar dengan jelas ucapanku? Putuskan pertunangan kita dan kamu bisa bebas bersenag-senang dengan wanitamu,” ungkap Milly dengan suara yang mulai bergetar.


Gemuruh di dalam dada Milly semakin kuat saat Allard membantah ucapannya. Pria itu tak ingin mengakui kesalahannya. Salah Milly saat itu bergegas pergi tanpa mengabadikan satu pun momen menyedihkan itu untuk dijadikan barang bukti.


“Wanita apa? Tak ada wanita lain di hidupku selain kamu baby,” elak Al.


“Bohong! Aku tak akan tertipu lagi. Terlebih aku melihat semuanya dengan mata dan kepalaku sendiri.” Ungkap Milly.


Deg.


Jadi dugaan Kalvin benar. Milly benar-benar mengunjungiku di Indonesia dan berakhir melihat pengkhianatan yang aku lakukan. Pikir Al.


Bodoh … bodoh … bodoh!!! Al merutuki dirinya sendiri dalam hati.


“Jangan berpura-pura bodoh. Bukannya kalian baru saja merayakan hari jadi kalian? Salahku yang langsung pergi tanpa mengucapkan selamat pada kalian berdua,” Sarkas Milly.


“Jadi kamu ke Indonesia? Berani sekali kamu pergi begitu jauh tanpa sepegetahuanku ataupun daddy,” ujar Al menocba mengalihkan pembahasan.


“Iya aku memang berani!” bantah Milly tak mau mengalah.


“Dan keberanianku itu telah menuntunku untuk mengetahui kebusukanmu selama di sana.” Imbuhnya.


“Pengkhianatan apa? Aku tak pernah mengkhianatimu. Aku pun tak merasa pernah merayakan hari jadi dengan wanita selain dirimu, baby.”

__ADS_1


Al terpaksa berbohong. Dia tak ingin mati konyol karena putus cinta jika Milly benar-benar meninggalkannya. Mana bisa ia hidup tanpa Milly, separuh napas dan Sebagian jiwanya adalah Milly.


“Jika kamu terus keras kepala seperti ini maka aku akan mengatakan pada Daddy Robert jika kamu telah berbohong dan pergi jauh tanpa sepengetahuan siapa pun,” ancam Allard.


Pria itu pikir Milly akan goyah, rupanya tunangannya semakin tak gentar.


Kembali ia menyeringai pada Allard, “Silakan lakukan hal itu dan kita lihat bagaimana reaksi Mommy Carol dan Daddy Sean saat mengetahui perilaku putranya.”


“Jangan mengancamku Milly!” peringat Al.


“Kamu yang lebih dulu mengancamku!” balas Milly tak mau kalah.


“Sekarang aku tak akan tinggal diam, aku akan membalas semua perbuatanmu. Akan kuhancurkan hatimu dengan cara yang sama saat kamu menghancurkan hatiku, Allard Junior Anderson!"


Setelah mengucapkan ancamannya, Milly berlari keluar dari kamar tidurnya dan menuju ke kamar tamu. Rasanya ia tak akan bisa bertahan lebih lama lagi berada dalam satu ruangan yang sama dengan Allard.


Hatinya tersayat-sayat setiap kali melihat Al bersikap manis padanya. Apalagi baru saja Al mengelak semua perbuatannya.


Tok ... tok ... tok ...


“Buka pintunya baby,” teriak AL dari luar.


“Ayo bicarakan semuanya. Kita berdua harus meluruskan kesalah pahamanan ini.” Ucap Al.


Pria itu sangat yakin jika Milly kini mendengarnya dari balik pintu.


“Baby, aku tak pernah mengkhianatimu dan tak akan mengkhianatimu. Hanya kamu satu-satunya wanita dalam hidupku, hanya kamu wanita yang aku cintai dan aku inginkan.”


“Namun sekarang kumohon, tolong mengertilah keadaan saat ini. Aku mohon kamu mau menepis egomu demi Mommy,” ujar Al.


“Aku tahu kamu sangat menyayangi Mommy, begitupun sebaliknya.”


“Aku yakin kamu paham maksudku baby, sekarang semua keputusan ada di tanganmu.”


Dalam hati Al memohon-mohon maaf karena telah memanfaatkan kondisi kesehatan sang ibunda.


Maafkan aku,Mom. Namun aku sungguh tak akan pernah sanggup jika harus kehilangan Milly.


...****************...


Setelah berpikir keras semalaman suntuk, akhirnya Milly telah memutuskan untuk menyembunyikan semua permasalahan ini dari kedua keluarga besar mereka.


Namun bukan berarti ia akan menerima Allard kembali atau memaafkan pria itu dengan mudah.


Semua telah Milly sampaikan pada Allard. Tentu saja pria itu menyambut hal ini dengan gembira. Baginya ini adalah sebuah peluang untuknya kembali merebut simpatik Milly.


Allard bertekad untuk mencairkan hati Milly yang beku. Allard sangat yakin jika cinta Milly untuknya tak akan semudah itu menghilang.


Dengan apik keduanya bersandiwara saat di depan keluarga mereka. Sesekali Allard akan mencuri-curi ciuman atau pelukan dari sang tunangan saat mereka berdua berada di tengah-tengah keluarga.


Syukurnya kesehatan Mommy Carol juga mulai pulih.


Malam ini pula adalah malam terakhir Allard berada di Negeri Paman Sam. Tak ingin pulang ke Indonesia dengan sia-sia, segera AL menjalankan rencananya malam ini.

__ADS_1


Segelas air minum yang sudah dicampur dengan obat per*gs*ng telah ia siapkan di atas nakas pada kamar Milly. Al bahkan tak peduli lagi jika saat ini keduanya tengah berada di kediaman keluarga Harrison.


Malam ini aku harus membuat Milly berhasil mengandung benihku. Tekadnya.


Sesuai ucapan Mommy Carol saat pertemuan keduanya beberapa hari yang lalu.


"Jika Milly hamil dan mengandung calon bayi kalian, maka tentunya tak akan ada lagi alasan untuk menolak pernikahan.” Begitu ucapan Mommy-nya yang diingat Al.


“Mau tak mau, siap tak siap kalian tetap harus menikah segera jika Milly hamil.” Imbuh Mommy-nya saat itu yang membuat Al semakin yakin dengan rencananya malam ini.


Milly yang tak tahu rencana Allard, baru saja selesai memakai seluruh rangakaian perawatan wajahnya sebelum tidur. Ia ganti bathrobe dengan piyama berlengan panjang kemudian naik ke atas ranjang.


Allard sudah ada di sana, bukan hal yang baru lagi jika keduanya tidur di dalam satu kamar yang sama jika Allard sedang berada di kediaman keluarga Harrison. Sebab bagi mereka semua, Allard masih pria yang menjadi tunangan Milly dan nantinya mereka akan menikah.


Tak lupa sebelum tidur, Milly menenggak segelas air putih yang selalu tersedia di atas nakas samping tempat tidurnya.


Tak butuh waktu lama hingga obat per*ngs*ng itu mulai bereaksi.


Efek panas mulai menjalari tubuhnya. Milly mulai menggeliat-geliat.


Hingga sentuhan tangan Al di pundaknya mampu mengantarkan getaran aneh di relung jiwanya.


"Baby, apa kamu baik-baik saja?" tanya Al dengan berbisik. Rupanya hal itu makin memperbutuk keadaan Milly.


Milly tak menampik jika selama ini terkadang ia memiliki keinginan kuat untuk menyalurkan hasratnya. Namun malam ini sungguh berbeda. Seperti ada sesuatu yang memaksa untuk dikeluarkan, bukan keinginan yang berasal dari lubuk hati Milly.


Setiap inci di tubuhnya meronta dan menuntut agar Al turut menjamah bagian lain.


Malam itu kembali keduanya bersama mengeruk kenikmatan dunia. Allard melakukannya dengan begitu bahagia dan penuh cinta.


Di sela-sela hentakannya yang begitu kuat pada tubuh Milly, dalam hati Al selalu memohon agar kegiatan mereka malam ini membuahkan hasil sesuai rencananya.


Milly hamil dan dia pun dapat segera mempersunting tunangannya itu dengan mudah dan tanpa penolakan.


Berbeda dengan Allard selama penyatuan keduanya, dari bibir wanita itu memang terkadang mengalun melodi-melodi yang sangat indah didengar oleh Al. Namun siapa yang tahu jika hatinya kini menangis, tak ia duga jika Al berbuat selicik ini padanya.


Setiap kata cinta yang terucap dari bibir Al tak pernah diragukan kesungguhannya oleh Milly. Wanita itu bisa melihat dari kedua manik mata Al yang memancarkan kejujuran.


Sayangnya kepercayaan bagai sebuah kertas putih. Jika sudah ternoda maka akan berbekas.


Dan dalam kasus Milly, kertas putih miliknya telah Al nodai bahkan Al remat-remat. Lantas bagaimana mungkin mengembalikannya seperti sedia kala.


Setelah beberapa jam berlalu, pengaruh obat itu pun perlahan menghilang bersamaan dengan lenguhan Al juga Milly.


PLAK !!!!


Tanpa Al duga, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.


"Br*ngs*k kamu Al!!!" Jeritnya.


"Aku membencimu!!!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2