Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 43. Hati ke Hati


__ADS_3

Sepi ...


Begitulah yang kini dirasakan oleh Allard.


Biasanya, ada Milly sang tunangan yang selalu menyambutnya dengan senyuman bahagia ketika ia kembali ke Seattle untuk mengobati kerinduannya.


Namun kali ini, sudah lebih dari 3 jam ia berada di apartemen dan Milly belum juga kembali.


Sebuah pesan telah Allard kirimkan ke nomor ponsel Milly melalui aplikasi pesan. Sayangnya pesan itu hanya dibaca lalu diabaikan oleh Milly. Tak ada niatan wanita itu untuk membalasnya. Bahkan jika bisa rasanya ia tak ingin pulang ke apartemen dan bertemu Allard.


Bukan hal yang mudah mengabaikan pria yang masih jadi pemilik hatinya. Hal itu nyata dan tak bisa Milly pungkiri, jika sebulan ini ia menyiksa dirinya sendiri dengan mengabaikan Allard.


Namun ada sisi hati dan logikanya yang tak terima dengan pengkhianatan yang dilakukan Allard. Di saat dirinya begitu setia, begitu menjaga kepercayaan yang diberikan Al, rupanya ia dibalas dengan kebohongan.


“Ayo ... aku akan mengantarmu pulang,” bujuk Edric.


Milly menggeleng. “Tugasku belum selesai, Ed. Aku harus mengumpulkannya besok,” tolak Milly.


“Jangan berbohong! Kau tak pandai, Mil.”


Milly tersenyum miris. “Kau benar, aku tak pandai berbohong. Aku hanya pandai dibohongi,” balas Milly diiringi tawanya. Tawa yang terdengar sangat menyedihkan.


“ Sekarang katakan padaku, ada apa lagi sebenarnya?” desak Edric.


Bukan tanpa alasan Edric memberondong Milly dengan pertanyaan sebab sebulan ini Milly selalu bertingkah aneh setiap harinya.


Dulu, Milly tak suka dan sangat jarang mengunjungi klub malam untuk berpesta. Namun dalam sebulan terakhir, wanita itu kini bahkan menjadi pelanggan VVIP suatu klub mewah di Seattle.


Jikalau dulu wanita itu bisa membaca selama berjam-jam bahkan hingga tenggelam dengan bacaannya, kini wanita itu bahkan bisa membangun dunianya sendiri ketika sudah mulai membaca buku. Kala rindu pada Allard melanda ... maka Milly akan mulai sibuk membangun dunianya dengan membaca, dunia yang tak mengenal waktu.


Jadi tak ada yang salah dengan pertanyaan Edric. Ketika seharian ini di sebuah kafe yang lokasinya tak jauh dari kampus, Milly malah mengerjakan tugas kampus yang kenyataannya tak ada. Maka bukan hal aneh jika Edric curiga jika sesuatu telah terjadi.


Mendapatkan pertanyaan yang tak ingin ia jawab dari sahabatnya membuat Milly menghela napas panjang.


Cukup mengenal Edric yang tak akan puas jika hanya dijawab dengan gelengan kepala saja, pada akhirnya Milly memberitahu kegundahan hatinya.


“Dia ada di sini,” ungkap Milly.


“Dia? Maksudmu, Allard ada di sini?”


“Hemm ...” jawab Milly dengan deheman saja.


“Lalu apa yang kau lakukan di sini? Kau tak menemuinya? Biasanya ...” melihat tatapan menusuk dari Milly, membuat Edric menghentikan ocehannya.

__ADS_1


“Uuppss ... maaf, tapi aku sungguh lupa jika kalian ...” ucapan Edric lagi-lagi tak selesai saat Milly menatapnya jengah.


“Oke, aku diam.” Ucap Edric mengalah pada akhirnya.


Edric maupun Aline sudah mengetahui masalah yang terjadi antara Milly dan Allard.


Sebagai sahabat, keduanya hanya bisa mendukung, menemani, juga menjaga Milly.


Malam semakin larut, kondisi kafe bukannya semakin sepi malah semakin ramai. Entah sudah berapa gelas minuman bersoda dan berapa porsi kudapan yang telah dihabiskan Edric. Sungguh berbeda dengan Milly, bahkan segelas mojito yang dipesannya belum ia tandaskan.


Hingga seorang pria yang beberapa hari terakhir mereka curigai sebab selalu ada di setiap tempat yang mereka datangi, akhirnya menghampiri meja yang dihuni Edric dan Milly.


“Permisi Nona, tapi saya diminta Tuan Allard untuk membawa Nona kembali ke apartemen,” ujar pria bertubuh kekar dengan setelah jas hitamnya.


“Katakan pada Tuanmu jika aku tak akan pulang malam ini. Ada banyak pekerjaan yang harus kulakukan,” balas Milly dengan ketus tanpa menoleh pada pria malang tersebut.


Tak membantah ucapan Milly, pria itu segera menghubungi Allard dari ponselnya.


Bisa Milly dan Edric dengar jika pria itu mengatakan persis seperti apa yang barusan dikatakan Milly padanya.


Lalu tampak pria itu mendekat kembali ke meja Milly dan Edric dengan ponsel yang sudah dibuat dalam mode loud speaker.


“Baby, ikut pulang bersamanya atau aku yang akan datang menjemputmu dan lihatlah apa yang akan terjadi dengan tempat itu.” Pinta Allard, namun bagi Milly ini sebuah ancaman.


Panggilan pun terputus begitu saja, Milly tahu Allard tak akan pernah main-main dengan ucapannya.


Ia edarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe. Sebagian besar adalah muda mudi yang juga berkuliah di tempat yang sama dengannya.


Aku bisa malu jika Allard benar-benar membuat keributan di sini, batinnya.


“Mill ... kau tahu kan kafe ini milik Steve, salah satu senior kita?” Peringat Edric.


Milly seketika bungkam, keegoisannya tak boleh sampai merugikan orang lain.


Segera ia benahi semua barang-barangnya yang berserakan di atas meja. Ia masukkan secara asal ke dalam tasnya.


“Baiklah, ayo kita pulang!” ajaknya pada Edric.


“Maaf Nona, tapi Tuan meminta Anda untuk pulang bersamaku.” Sela pria tadi.


“Aku pulang bersama Edric atau aku tidak akan pulang!”


Sontak saja pria bertubuh kekar itu memundurkan langkahnya, membiarkan tunangan dari tuannya berlalu bersama pria lain yang selalu ada di samping sang nona.

__ADS_1


...****************...


Dengan kemeja yang sudah terbuka beberapa kancing di bagian atasnya, wajah lesu dengan rambut yang acak-acakan.


Jangan lupakan bau alkohol yang menguar di setiap embusan napasnya, senyuman Allard akhirnya terbit di wajah tampannya saat mendengar suara derit pintu yang terbuka.


“Baby, kamu sudah pulang?” tanyanya dengan senyuman manis dan tatapan penuh cinta juga rindu.


Milly tentunya menyadari hal itu, ada rasa iba terbersit di hati wanita yang telah terluka ini namun lagi-lagi egonya masih lebih mendominasi.


Meski tak ada jawaban dari Milly, Allard tetap mendekati wanitanya. Ia dekap dengan erat tubuh Milly yang mematung, ia kecup puncak kepalanya, keningnya, kedua netra indah yang tampak tak tertarik lagi saat melihatnya.


Ciumannya berakhir di bibir Milly yang berperona warna nude. Ia kecup lama ... dan lagi Allard harus menelan kekecewaan sebab tak ada balasan sama sekali dari wanita itu.


Setelah adegan penyambutan yang penuh kekecewaan untuk Allard,


keduanya kini sudah berada di dalam kamar. Allard sedang bersandar di kepala ranjang mengamati Milly yang sibuk dengan rangkaian perawatan wajah yang menjadi kegiatan rutinnya setiap malam sebelum tidur.


Allard masih setia menunggu Milly, pria itu berharap malam ini permasalahan di antara merekah bisa selesai.


Manik mata Allard mengikuti setiap pergerakan Milly hingga wanita itu naik ke ranjang dan berbaring membelakangi Allard.


Allard mendekat pada Milly, ia peluk wanita itu dari belakang sesekali ia kecup pundak Milly yang tak tertutup gaun tidur.


“Sayang, maafkan aku atas perbuatanku terakhir kali. Aku benar-benar khilaf, aku takut kehilanganmu hingga, aku takut kamu meninggalkanku,” aku Allard.


Hening ... tak ada jawaban dari Milly.


“Bisakah kita kembali seperti dulu lagi? Kumohon sayang, aku sungguh tersiksa. Maafkan semua salahku, aku sungguh tak sanggup jika kamu terus mendiamiku seperti ini,” ungkapan hati Allard.


Meski Allard sudah berbicara semua hal yang ia rasakan, semua hal yang ingin diungkapkan hatinya, Milly tetap saja bungkam.


Tubuhnya masih mematung, berbaring memunggungi Allard.


Cukup lama Milly bungkam, sampai akhirnya ia buka suara. Ia pikir, Allard berhak tahu apa yang diinginkannya kini.


“Sayangnya ini yang aku inginkan, Aku ingin tahu sampai mana kamu akan sanggup bertahan.”


Milly menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


Meski sulit untuk berucap, tapi jika bukan sekarang lantas kapan waktu yang tepat untuk ia ungkapkan apa yang diinginkan hatinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2