Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 30. Mencoba memahami


__ADS_3

Suara derap langkah kaki Milly yang terburu-buru terdengar jelas di sepanjang lorong.


Gadis yang kini sudah resmi menjadi seorang wanita, tak lagi peduli dengan kegaduhan yang ia timbulkan.


Di lantai paling atas gedung apartemen milik keluarga Anderson, di sanalah Al kini berada.


Di satu-satunya penthouse pada apartemen ini.


Milly tak bisa menahan lebih lama lagi untuk menemui Al. Tak ingin kesalahpahaman terjadi lebih lama.


Hingga tanpa harus mengetuk atau menekan bel untuk meminta izin si pemilik, Milly hanya perlu menekan 6 digit angka dan pintu akan segera terbuka.


Wanita itu masuk ke dalam penthouse kekasihnya dengan terburu-buru.


Kecemasannya semakin meningkat kala tak ia dapati Al tak ada di mana pun.


“Sayang.... Sayang....” panggilnya.


Teriaknya mulai frustrasi sampai dia mengingat ada satu ruangan yang belum ia periksa dengan baik.


Kembali kakinya melangkah lebar dan dua kali lebih cepat. Napasnya sudah berembus tak karuan, namun tak mengurangi sedikit pun niat Si cantik Milly untuk berhenti sejenak dan menormalkannya.


Bayangan kehilangan Al lebih mengerikan dibandingkan bayangan jika ia harus menderita sesak karena kehabisan oksigen.


Cekrek


Tak ada kelembutan saat dirinya membuka pintu dari ruangan yang sebelumnya sudah ia datangi sekali.


Tangannya meraba-raba sesuatu di atas rak buku, mencari sebuah tombol rahasia yang hanya ia dan Al yang tahu.


Kriiieetttt....


Bagian ujung rak buku sebelah kanan bergeser. Ruang rahasia Al... senyumnya merekah kala ia melihat sosok pria yang dicarinya ada di sana.


Duduk di sofa dengan satu tangan yang bertopang di dagunya.


“Kamu cukup lama menemukanku, Beb.”


“Kamu tak pernah bilang jika ingin mengajakku bermain hide and seek!” balas Milly cemberut.


Ia berlari ke arah Al, berhambur di pelukan seorang pria yang sesaat lalu menjadi sumber ketakutannya. Ketakutan akan kehilangan pria itu.


“Kita tak sedang bermain Milly, aku serius dengan ucapanku yang ingin menikahimu sesegera mungkin.”


Milly membenamkan wajah mungilnya pada dada bidang Al.


“Baiklah, ayo menikah jika itu yang kamu inginkan.”


Kening Al mengernyit, “Apa semudah ini? Apa kamu baru saja mengalah padaku?”


Milly melepaskan pelukannya, sengaja ia duduk di pangkuan Al.


Al mengusap sudut mata wanitanya yang masih tergenangi air mata.


“Bukankah aku selalu seperti itu?” tanya Milly.


Tentu saja Milly tidak sedang mengeluh, ia hanya ingin Al memahami jika jauh sebelum mereka menjalin hubungan pun Milly selalu mengikuti keinginan Allard. Wanita itu hanya berharap agar sekali ini saja, Al bisa mendukung apa yang menjadi pilihannya.


“Berapa lama aku harus menunggumu?” tanya Al.


“Aku ingin memilikimu seutuhnya, memiliki dirimu hanya untukku,” imbuhnya.

__ADS_1


Entah apa yang lucu dari permintaan prianya, yang pasti kini Milly terbahak di hadapan Al.


“Apa lagi dari diriku yang kamu inginkan sayang?” kedua tangannya kini menangkup wajah Al.


Perlahan Milly mendekatkan wajah mereka hingga terasa dua puncak hidung telah bertemu. “Aku mencintaimu Allard Junior Anderson.”


“Aku ingin menjadi pantas untuk dirimu yang luar biasa, aku ingin membuatmu bangga telah memilihku menjadi pendamping hidupmu kelak, dan aku ingin memberi nilai pada hidupku sebelum nantinya akan kuabdikan diriku untukmu dan keluarga kita kelak,” ungkap Milly.


Ketulusan Milly jelas terpancar dari kedua manik matanya. Tak pernah sekalipun Al meragukan hal itu, tak pernah.


Hanya saja, pria itu sudah tak sabar untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang sudah ia rencanakan untuk membahagiakan MIlly-nya.


“Apa pilihanmu untuk menunda pernikahan kita akan membuatmu bahagia?” tanya Al.


Milly menggelengkan kepalanya. “Bagaimana bisa kamu berpikir jauh darimu akan membuatku bahagia?”


“Sayang, asal kamu tahu yang paling kuinginkan setiap hari adalah kamu menyambutku saat pertama kumembuka mata dan kamu pula yang menjadi pemandangan indah terakhir saat aku hendak terlelap kembali.” Imbuh Milly.


“Maka ikutlah bersamaku, kita menikah dan mewujudkan keinginanmu.”


Milly menggeleng, “Tapi sebelum itu semua aku ingin berhasil dengan caraku sendiri beb.”


“Bisakah kamu mengerti sayang.” Puppy eyes miliknya sungguh mampu menggoyahkan keteguhan hati Allard.


Tak kuat lama-lama ditatap oleh Milly, Allard memalingkan wajahnya.


Sudah sejauh ini usahanya untuk membujuk Milly menikah dan ikut dengannya, jangan sampai ia gagal hanya karena pesona wanitanya yang tak ada tandingan.


Namun Milly tak gentar, ia tahu apa kekhawatiran Al.


“Beb... kumohon.. apa yang harus kulakukan agar kamu mau mengerti aku,” ucap Milly yang kini disertai dengan ******* putus asa.


Allard menatap dalam manik mata kekasihnya.


“Apa kamu akan melakukan apa pun yang kuminta agar aku menyetujui keputusamu?” tanya Al


Milly mengangguk, lalu dengan wanita yang masih duduk di pangkuan kekasihnya itu dengan perlahan memberikan banyak kecupan di hampir seluruh wajah Al.


Al terkekeh, tingkah kekasihnya memang selalu menggemaskan hingga Al tak kuasa untuk tidak membalas kecupan Milly dengan banyak kecupan pula. Dan sebagai pelengkapnya, tak lupa Al memberikan ciuman mesra di bibir wanitanya.


Penyatuan dua benda kenyal yang awalnya perlahan itu, lama kelamaan berubah jadi menuntut.


Tak ingin sia-siakan kesempatan, Allard menggendong Milly bagai bayi koala menuju kamar utama di penthousenya.


Sudah jelas jika kedua insan yang tengah di mabuk asmara itu akan kembali bersama-sama saling menuntut untuk menggapai puncak kenikmatan.


Sementara Al... di sela-sela kegiatannya bersama Milly yang tentunya menguras energi, pria itu kembali memaksa otaknya untuk berpikir dan mencari jalan keluar terbaik baginya dan Milly.


Bagaimana pun caranya meski berjauhan, Milly harus tetap dalam pengawasku. Batin Al.


...****************...


Seminggu telah berlalu... tiga hari lagi Allard akan kembali ke salah satu negara yang berada di kawasan Asia Tenggara, Indonesia.


Kekasih Milly itu sengaja menunda kepulangannya hanya karena tak ingin melewatkan hari ini.


Hari di mana sang kekasih tercintanya akan mulai tinggal jauh dari orang tuanya.


Ya, hari ini Milly.. tuan putri dari keluarga Harrison untuk pertama kalinya akan pergi jauh dari rumah, seorang diri.


Tidak hanya Allard yang sudah seminggu ini disibukkan dengan persiapan kepindahan kekasihnya, tapi 3 keluarga yang terkenal sebagai keluarga pemilik perusahaan raksasa di bidang masing-masing.

__ADS_1


Keluarga Harrison, Anderson, dan Geffrey.


Tiga keluarga itu kini telah berkumpul di sebuah penthouse yang tentunya masih berada pada gedung apartemen mewah milik Anderson Grup di kawasan Seattle.


Al benar-benar membuktikan ucapannya untuk terus mengawasi Milly.


Lokasi penthouse yang berjarak sangat dekat dari kampusnya.


Lalu hampir di setiap sudut penthouse ini telah dipasangi CCTV yang akan merekam setiap gerak gerik wanitanya nanti.


Tak lupa 2 orang penjaga yang tinggal di gedung yang sama. Keduanya bertugas menjaga kekasihnya selama ia berada jauh di belahan bumi lainnya.


Semua itu ia lakukan bukan karena ia ragu pada kekasihnya, tapi ia ragu pada pria di luaran sana. Ia yakin akan sulit bagi mereka menolak pesona sang kekasih hati.


Jika bertanya bagaimana Milly dengan semua sikap posesif Al dan keluarganya... maka jawaban wanita polos itu adalah terima kasih.


Terima kasih karena begitu melimpahiku dengan kasih sayang. Batin Milly.


Wanita itu begitu tersentuh dengan kebahagiaan malam ini. Makan malam


bersama, diselingi canda tawa, semuanya luruh dalam euforia menyambut dunia baru Milly.


...****************...


Malam ini adalah malam terakhir Al bisa memeluk Milly dalam tidurnya.


Besok, ia sudah harus kembali ke Indonesia... memenuhi tanggung jawab yang diembannya.


Sedang wanitanya, besok juga sudah memulai kuliah hari pertamanya.


Kini Milly sedang berada dalam dekapan erat Allard.


“Sayang, kapan kamu akan mengunjungiku lagi?” tanya Milly dengan telunjuk yang menggambar pola abstrak pada dada bidang prianya.


Al memejamkan matanya, meresapi sentuhan kekasihnya. Merekam setiap detik debaran jantungnya yang mulai memacu hanya karena sentuhan sederhana wanitanya.


“Segera! Segera setelah pekerjaanku usai, aku akan segera kemari.”


“Ingat beb, kamu sudah berjanji untuk fokus menyelesaikan kuliahmu,” tegas Al.


“Tak perlu peduli atau lakukan hal lain, hanya fokus untuk belajar saja.”


Milly mengangguk patuh, membuat Al kembali gemas.


Ia kecup puncak kepala Milly. Lama... cukup lama kecupan bibir Al bertahan di sana.


“Ingat sayang, jangan sampai ada seorang pria pun yang mendekatimu, jangan beri mereka celah sekecil apa pun” peringat Al.


Milly lagi-lagi hanya mengangguk patuh.


“Tak akan ada pertemanan yang murni, jika itu terjadi antara pria dan wanita,” gumam Al.


“Kamu setuju ‘kan?”


Milly lagi-lagi hanya mengangguk saja. Tak membantah setiap ucapan Al meski hatinya ingin.


Bagi Milly siapa pun itu tak akan bisa menggantikan sosok Allard di hatinya.


Harusnya dia tak perlu secemas ini. Batin Milly.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2