Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 57. Pengakuan Milly


__ADS_3

“Milly!”


Seruan seorang pria yang masuk ke dalam ruang perawatan Milly menarik perhatian semua orang yang berada di sana. Jika semua orang kini menatapnya dengan tatapan penuh tanya, berbeda dengan Allard yang duduk di tepi ranjang Milly.


Allard menatap tajam pada pria itu. Menyesali keputusan yang ia buat. Menyesal karena telah menuruti keinginan tunangannya, agar meminta pria itu datang menemui wanitanya.


“Edric!” Milly membalas seruan itu dengan kedua netra yang berbinar dan hal itu sukses membuat Al geram. Mana mungkin Allard membiarkan Milly bertingkah seperti saat ini, seandainya kondisinya baik-baik saja.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Edric. Gurat kekhawatiran tampak jelas di wajahnya.


“Seperti yang kau lihat,” Milly mengedikkan bahunya.


“Di dalam gudang yang gelap dan penuh sesak, tiga orang wanita menyerangku. Mereka memukul kepalaku dengan balok kayu lalu menampar wajahku. Saat aku terbaring tak berdaya dan hampir kehilangan kesadaranku, hal itu tak menyurutkan ketiga wanita itu untuk terus menendang sekujur tubuhku.”


Dengan linangan air mata dan tubuh yang bergetar, Milly bercerita mengenai hal mengerikan apa yang ia alami kemarin malam. Sebagai tunangan, Allard merasa perlu menenangkan Milly. Akan tetapi, baru saja ia ingin membawa Milly dalam dekapnya, Milly bergerak menjauhkan tubuhnya.


“Jangan menyentuhku! Ini semua terjadi karena kamu!” ucap Milly dengan geram.


“Baby … apa maksudmu? Jangan mengatakan hal yang bisa membuat orang lain salah paham,” bujuk Al dengan lembut.


“Tak mungkin aku menyakitimu. Aku turut merasakan sakit yang kamu rasakan, Baby. Kamu jiwaku, kamu hidupku, kamu segalanya bagiku.”


“Aku tak akan mungkin bisa menyakitimu,” ulang Al mempertegas perasaanya.


Milly menggeleng lalu berdecak. “Wanita-wanita itu menyimpan dendam padamu, Allard!”


“Dan aku yang mereka jadikan sasaran untuk membalaskan dendam!” Ucap Milly dengan intonasi suara tinggi disertai isak tangis. Wajahnya mulai memerah menahan amarah, jantungnya berdegup lebih cepat dengan jemari yang mengepal dan bergetar hebat.


Sepertinya emosi kini tengah menguasai sepasang kekasih itu. Mereka berdebat tanpa memikirkan situasi dan kondisi di sekitarnya. Layaknya tak ada orang lain di sana, Milly dan Allard bertahan dengan ego masing-masing.


“Hei kalian, sudahlah!” ujar Kalvin menengahi.


“Tenanglah Milly, pelakunya akan segera ditangkap. Semua bukti yang kudapatkan telah kuserahkan pada pihak yang berwajib. Kamu tak perlu khawatir lagi, tak akan ada hal buruk yang akan terjadi lagi.”


...………....

__ADS_1


Kehadiran Edric sungguh mengusik ketenangan hidup Allard. Pria itu terus dibuat geram, menahan cemburu karena sikap Milly yang ia rasa berlebihan pada Edric.


Seperti saat makan siang tiba, ketika Allard ingin menyuapi Milly.


“Ayo … makan dulu ya, Baby.” Sepiring nasi juga lauk khas rumah sakit telah berada di tangan Allard.


Milly yang masih sulit untuk duduk tanpa sandaran, meminta bantuan pada Edric untuk mengatur posisi tempat tidur yang pas agar bisa membantunya duduk dengan nyaman. Melihat hal itu, dalam hati Allard menahan cemburu yang luar biasa. Sejak dulu, melihat Milly dekat dengan pria lain adalah kelemahannya.


Namun tak ada yang bisa dilakukan Allard kini. Pria itu memutuskan untuk mencoba menahan cemburunya. Mengingat kondisi Milly yang sedang sakit. Juga dirinya tak ingin menambah kebencian Milly padanya.


“Ayo, Baby … buka mulutmu,” sesendok nasi telah berada di depan bibir Milly yang masih mengatup.


Milly menggeleng lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. “Aku tak ingin makan makanan itu,” ungkapnya.


“Mengapa? Ini makanan yang sehat untukmu,” bujuk Al.


“Tidak!” Milly bersikeras. “Aku tak suka makanan itu.”


“Tapi, kamu harus makan agar cepat pulih kembali.” Dengan sabar Al mencoba membujuk Milly. Perdebatan pasangan tersebut menjadi tontonan menarik bagi Edric yang kembali duduk di sofa.


Tahu jika wanitanya tak bisa diajak negosiasi, akhirnya Al mengalah. Dengan ponsel pintarnya, ia memesan beberapa porsi makanan untuk Milly, dirinya, juga Edric … tamu yang tak ia harapkan kehadirannya.


Setelah makanan yang dipesan oleh Allard tiba, rupanya Milly belum berhenti membuat ulah. Dengan tegas ia menolak Allard yang hendak menyuapinya. Saat Al sedikit memaksa, Milly malah mengancam tak akan makan. Meski tak rela, akhirnya Allard mengalah. Membiarkan Edric yang menyuapi tunangannya, sementara ia hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa.


...…….....


Allard pikir, Milly yang merajuk padanya hanyalah sebuah drama. Di pikirannya, seiring berjalannya waktu Milly akan berhenti membuatnya geram menahan cemburu. Hingga malam tiba, nyatanya tunangannya itu masih saja sama.


Bagaimana hati Al tidak terbakar api cemburu, jika Milly dengan tegas melarang dirinya untuk mendekat padanya. Jika Allard memaksa maka sudah pasti Milly akan berbalik badan membelakanginya. Ia bahkan memejamkan mata seolah sedang tertidur, padahal dirinya hanya tak ingin menatap Allard.


Berbeda dengan sikap Milly padanya, wanita itu terlihat terus saja tersenyum pada Edric. Keduanya tertawa dan mengobrol layaknya di ruang perawatan itu tak ada Allard.


Kedua telapak tangan Allard bahkan sampai terasa sakit karena dikepal dengan kuat oleh si empunya. Dalam hati ia tak berhenti menggerutu, memaki pria yang mengaku sebagai sahabat Milly.


Ingin rasanya Al menghampiri keduanya, saat melihat mereka duduk begitu dekat seraya menghubungi sahabat mereka yang lain via panggilan video. Al sungguh tak rela jika Milly berdekatan dengan pria lain. Terlebih kini, keduanya duduk semakin tanpa jarak ketika Milly meminta Edric membacakan sebuah buku untuknya.

__ADS_1


Semakin lama kehadirannya semakin tak dianggap. Allard tak bisa lagi menahan gejolak cemburu dan amarah dalam dadanya. “Milly … Baby, bisakah kita bicara?” tanya Allard. “Hanya kita berdua,” imbuhnya.


“Katakan saja. Aku dan Edric belum selesai membaca buku,” tolak Milly.


Allard menghela napasnya. Sempat ia berpikir untuk menyeret paksa Edric keluar dari ruang perwatan Milly, jika perlu ingin ia kirim pria itu ke luar angkasa saja, pikirnya.


“Milly, Baby, kupikir kesehatanmu belum pulih benar. Kamu harus lebih banyak istirahat,” ucap Al dengan lembut.


Milly mengangguk. “Ya, tentu saja. Saat ini juga aku sedang istirahat,” jawabnya.


“Istirahat?” Al menggeleng. “Dari tadi yang kulihat hanyalah kamu yang terus tertawa dan mengobrol dengannya.”


“Kamu bahkan seperti menganggapku tak ada. Melupakan kehadiran tunanganmu di sini,” lanjutnya.


Tanpa Al duga, Milly kembali menatap tajam. Tatapan penuh amarah dan kebencian. Hati Al semakin perih saat menyadari jika Milly tatapan itu hanya disuguhkan untuknya.


“Memang itu tujuanku. Aku ingin terbiasa tanpamu,” jawab Milly ketua.


“Apa? Kamu tak ingin bersamaku?” Allard semakin mendekat pada Milly.


“Ya, kurasa ucapanku sudah jelas. Setelah pulih, tekadku sudah bulat untuk memberitahu pada kedua keluarga mengenai bagaimana hubungan kita saat ini,” jawab Milly.


“Ada apa dengan hubungan kita, Milly?! Kita baik-baik saja, dan akan selalu begitu.”


Edric yang menyadari kehadirannya tidak diperlukan di sana, berniat pergi untuk memberi keleluasaan bagi sepasan kekasih ini bicara. “Milly, aku pergi sebentar. Ada sesuatu yang ingin kubeli,” ucapnya berbohong.


“Tidak! Jangan ke mana-mana Edric,” cegah Milly.


Terlihat Milly menarik napas panjang. “Kupikir sudah saatnya aku juga jujur padamu, Al,'' ungkap Milly.


“Kita berdua memang harus berpisah, Allard.”


“Sebenarnya aku dan Edric saling mencintai,” imbuh Milly membuat kedua pria di hadapannya tercengang.


...—————————...

__ADS_1


__ADS_2