
Rasa cemburuku lahir karena rasa cintaku padamu.
Tapi ku pastikan rasa cintaku tak akan mati bersamaan dengan rasa cemburuku.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Harusnya kau tak perlu lakukan ini Jer, aku masih bisa mengemudi sendiri.” Ucap Milly.
“Kamu cedera juga karena aku, jadi aku harus tanggung jawab sampai kakimu benar benar pulih.” Kilah Jeremy.
Meskipun telah menolak berkali-kali tapi Jeremy, pria yang baru saja dikenal Milly hari ini tetap memaksa untuk mengantar Milly pulang karena kakinya cedera saat mereka sedang bersepeda bersama.
Sekuriti yang sudah mengenal mobil Milly, segera membuka lebar gerbang kediaman keluarga Harrison agar mobil Nona muda mereka bisa masuk dengan mudah.
Mobil merah muda milik Milly berhenti tepat di depan pintu rumah utama, pelayan yang kebetulan melintas segera menghampiri mobil nonanya ketika melihat nona muda kesayangan mereka berjalan di papah oleh seorang pria yang baru mereka temui.
“Nona.... Apa nona baik-baik saja?” tanya pelayan.
“Iya bibi, aku tak apa.” Jawabnya.
“Emmhh.. Jer, sampai di sini saja. Ada Bibi yang akan membantuku masuk ke dalam.” Ucap Milly yang merasa tak nyaman dengan kedekatannya bersama pria lain selain Allard, kekasihnya.
“Baiklah Milly, ku harap kakimu segera pulih. Dan sekali lagi maaf jika ini semua harus terjadi karena ideku.” Ucap Jeremy dengan senyum terbaiknya, sebelum Ia akhirnya berlalu meninggalkan rumah Milly.
Milly masuk ke dalam mansion dibantu oleh pelayan yang langsung mengantarkannya ke kamar.
“Bi, bisakah aku meminta tolong?” Tanya Milly.
“Mengenai kakiku yang sakit dan temanku tadi, tolong jangan sampai ada orang lain yang tau yah,” lanjutnya.
Setelah membersihkan dirinya, Milly memilih untuk beristirahat guna menghilangkan rasa sakit di pergelangan kakinya yang mulai berubah warna menjadi kebiruan di sekitarnya.
Karena rasa sakit di kakinya, Milly terus tertidur bahkan Ia melewatkan makan malam.
Bukan hanya makan malam yang dilewatkan oleh gadis itu, tapi panggilan dari kekasihnya juga tak ada satupun yang Ia terima. Hal itu sukses membuat Al yang kini tengah berada di pesawat semakin geram.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hari telah berganti, seorang gadis yang melewatkan pergantian hari hanya dengan tertidur kini telah terjaga kembali.
“Astaga.. Apa aku tidur selama ini?” ucapnya saat menyadari jika hari telah berganti.
“Apakah putri tidur sudah terbangun?” Milly tersenyum saat mendengar suara pria yang sangat Ia sayangi.
“Daddy,” sapanya.
“Bagaimana keadaanmu sayang?” tanyanya.
“Aku? Baik-baik saja Daddy, memangnya apa yang perlu dikhawatirkan dariku,” Jawab Milly.
Daddy menyingkap selimut yang menutupi pergelangan kaki Milly sehingga membuat Milly terkejut.
“Kakiku?” gumamnya tak percaya. Kini kakinya yang cedera sudah berbalut perban.
“See? Ini yang Daddy maksud, apa masih terasa sangat sakit?” tanya Daddy lagi.
Milly mencoba menggerakkan kakinya, dan rasa sakitnya sudah cukup berkurang.
“Apa Daddy yang melakukan ini?” tanya Milly.
“Hemmm, berkat Al yang menghubungi Daddy dan minta agar aku memeriksa keadaanmu.” Jelas Daddy.
“Al? Astaga!” Pekik Milly.
Segera Ia mencari dimana letak ponselnya.
“Ponselku dimana yah?” gumamnya.
Daddy yang melihat tingkah anak gadisnya hanya bisa menggeleng.
“Pakai ponsel Daddy, lalu segera hubungi Al. Sejak semalam dia tak hentinya menanyakan keadaanmu.”
__ADS_1
Milly meraih ponsel Daddynya dan segera menekan nomor ponsel Al.
Panggilan pertama tak ada jawaban.
Panggilan kedua, barulah Al menjawab.
“Yes Dad,” sapanya.
“Beb, ini aku Lily.” Ucap Milly ragu-ragu.
“Hemm, di mana ponselmu?” tanya Al.
“Entahlah, aku tak menemukannya disekitarku. Mungkin tertinggal di dalam tasku.”
“Beb, apa kamu marah padaku? Aku minta maaf.” Ucap Milly tulus.
“Haruskah aku marah? Karena apa?” tanya Al.
“Emm, karena aku yang tidak menerima panggilan teleponmu.” Jawab Milly polos.
“Kamu yakin hanya karena itu?”
“Apa aku ada kesalahan lain lagi?” Milly balik bertanya.
“Ck, pikirkanlah. Setelah tau baru hubungi aku lagi.” Ucap Al kemudian pria itu memutus sambungan teleponnya sepihak.
Milly yang masih tak paham sama sekali dengan maksud Al, dibuat bingung.
Gadis itu terpaku, duduk di atas tempat tidur memikirkan kembali kesalahan apa yang telah Ia buat.
“Astaga, kenapa aku sampai lupa jika hari ini ada ujian.”
Milly segera bersiap sembari terus saja merutuki dirinya yang hampir saja melupakan ujiannya hari ini.
♡♡♡♡♡♡
Bersiap dengan cepat adalah salah satu keterampilan yang wajib dimiliki oleh gadis seusia Milly untuk mengatasi situasi seperti saat ini.
“Okey Daddy, Grandpa, aku berangkat dulu. Aku menyanyangi kalian.” Ucap Milly setengah berteriak karena langkah kakinya terus berjalan menjauh.
Tin.. tin.. tin..
Bunyi klakson mobil mengalihkan perhatian Milly. Dari dalam mobil hitam yang masih asing baginya, keluarlah pria yang baru Ia kenal kemarin.
“Jeremy?”
“Pagi cantik, ayo... Aku akan mengantarmu ke sekolah.” Ucapnya.
“Terimakasih, tapi tak perlu Jer. Aku bisa berangkat sendiri.” Tolaknya.
“Please Milly, sekali ini saja. Aku tidak bisa tidur semalaman memikirkan kondisimu. Aku sangat merasa bersalah padamu, tolong sekali ini saja sebagai bentuk tanggung jawabku telah membuat kakimu cedera.” Bujuknya.
Tak ingin membuang waktu dengan berdebat, akhirnya Milly setuju untuk berangkat bersama Jeremy.
Dari balik jendela, Daddy Robert melihat semua yang terjadi.
“Besar juga nyali pria itu,” gumamnya.
“Apa yang kau lihat sepertinya menarik sekali?” tanya Grandpa Donald.
“Pria yang menjemput Milly.”
“Pria? Siapa pria malang itu?” Grandpa kini ikut-ikutan mengintip dari balik jendela.
“Semoga pria itu bisa bertahan.” Gumam Grandpa.
“Yah, semoga saja. Tapi mengingat bagaimana seorang Anderson jika tengah terusik, mungkin pria itu beruntung jika malam ini Ia masih berada di benua ini.” Ujar Daddy Robert sambil mengedikkan bahunya.
Ia kembali mengingat pembicaraannya semalam bersama Al.
Tinggal beberapa jam lagi dan pria itu akan tiba dengan kemurkaan, membawa petaka bagi siapa saja yang Ia anggap telah mengusik miliknya.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Jeremy.”
Langkah pria yang hatinya tengah dipenuh bunga-bunga yang bermekaran kini terhenti karena mendengar namanya dipanggil.
“Hai Thom,” sapanya.
“Kau mau kemana?” tanya Thommy.
“Menjemput Milly. Sebentar lagi jam pulang sekolahnya.” Jawab Jeremy.
“Jer, sebagai sahabatmu ku pikir sebaiknya kamu memikirkan kembali niatmu untuk mendekati Milly. Dia itu kekasih Allard Anderson.” Peringat Thommy.
“Aku tak peduli dia kekasih siapa, yang ku tau di sisinya kini tak ada pria lain lagi. Hanya aku.” Ucapnya penuh percaya diri.
“Terserah padamu, aku sebagai sahabatmu sudah mengingatkan.”
Peringatan Thommy tak menyurutkan niat Jeremy sedikitpun. Hatinya sudah tertarik pada wajah cantik Milly, belum lagi semua kekayaan yang Ia miliki.
Bagi Jeremy, wanita seperti Milly memang pantas untuk diperjuangkan. Mobil hitamnya telah Ia parkirkan. Netranya mengawasi setiap muda mudi yang keluar dari balik pintu.
Hingga senyumnya terbit tatkala melihat gadis pujaannya berjalan dengan perlahan untuk keluar.
“Milly,” serunya.
“Jeremy?”
“Mau apa kau?” tanya Milly.
“Menjemputmu, mari ku bantu berjalan.”
Baru saja Jeremy memegang tangan Milly, bentakan seorang pria mengejutkan mereka.
“B*NGS*T!”
Bugh.....
Jeremy tersungkur setelah mendapatkan satu pukulan dari tangan kekar Al.
“Jauhkan tanganmu dari milikku.” Makinya.
“Allard, Stop!” Teriak Milly.
Al menoleh pada kekasihnya. Jarang sekali Milly menyebut namanya, tapi karena pria ini gadisnya melakukan itu.
“Allard?” ulang Al.
“Baiklah Milly Harrison, ayo pulang.” Lanjutnya sambil menarik Milly masuk kedalam mobilnya.
“Ada apa denganmu Al? Kenapa kamu memukulnya?” tanya Milly.
“Al? Itu peringatan dariku, karena dia sudah berani mengusik milikku.” Balas Al.
“Mengusik apa? Dia tidak menggangguku Al, dia hanya membantuku. Kakiku cedera, dan dia hanya menolongku.” Jelas Milly.
“Kamu cedera juga gara-gara dia. Atau apa kamu senang jika dia mendekatimu?”
“Allard! Jangan menuduhku,” peringat Milly.
“Cihh, baru 3 bulan dan sekarang kau sudah berani membela pria lain. Bagus Milly, bagus.”
“Al, kamu salah paham. Akan ku jelaskan semuanya saat emosimu mereda.” Ujar Milly.
“Kamu mau emosiku mereda? Kalau begitu ikut aku, kamu harus lihat bagaimana aku memenangkan pertarungan ini. Aku akan memberi pria itu pelajaran bahkan akan jauh lebih sakit dari pukulan yang dia tadi.” Ucap Al dengan senyum penuh arti.
♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡
Cemburuku menjadi bukti betapa besarnya cintaku padamu.
Amarahku menjadi bukti betapa berartinya kau dalah kehidupanku.
__ADS_1
Maafku menjadi bukti betapa aku tak bisa hidup tanpamu.