
“No!” Tegas Mommy Carol.
“Keputusan Mommy tak akan berubah,” lanjutnya. Semua orang termasuk para opa dan para ayah hanya bisa diam. Titah sang ratu terlampau sulit untuk dibantah.
“Secepatnya kalian berdua harus pindah dari apartemen ini!” putusnya.
Dalam hatinya, wanita paruh baya itu bersyukur sebab bisa mengunjungi putra dan calon menantunya lebih cepat. Jika tidak, tak bisa ia bayangkan bagaimana seorang Milly Harrison yang terbiasa hidup dengan segala kemewahan harus tinggal di apartemen yang luasnya tak seberapa, menurutnya.
Hal itu menurut pandangan Nyonya Carol Anderson, berbeda dengan Milly yang merasa apartemen tunangannya cukup nyaman untuk mereka tinggali. Bahkan Milly berniat ingin meminta apartemen yang lebih kecil untuk ia tinggali seorang diri nantinya.
Namun sepertinya keinginan Milly untuk tinggal terpisah dengan Allard, hanya akan menjadi sebuah angan. Perdebatan pun tak terelakkan di antara pasangan itu.
“Mengapa tak kamu tolak permintaan mommy untuk pindah ke rumah baru?” tanya Milly saat keduanya sudah berada di dalam kamar.
Al hanya mengedikkan bahunya. “Katakan padaku, bagaimana cara kita menolak keinginan Mommy?”
“Ya ... katakan saja jika kita sudah nyaman tinggal di sini atau apalah,” jawab Milly. “Pindah atau tidak, yang pasti aku tetap ingin tinggal di apartemenku sendiri!" tegasnya.
“Milly, kumohon.” Kali ini Allard kembali memelas.
Melihat wajah memelas Allard yang merupakan salah satu kelemahannya, Milly merasa iba dan terpaksa setuju untuk tinggal bersama di rumah baru nantinya. “Baiklah, aku setuju. Tapi aku ingin memiliki kamarku sendiri,” putus Milly.
Allard mengangguk, tak bisa menolak atau dia akan kehilangan kesempatan memiliki waktu lebih banyak bersama wanitanya. “Itu rumahmu, baby. Lakukan apa pun yang kamu suka terlebih jika hal itu membuatmu nyaman.”
Setelah perdebatan singkat mereka, keduanya memilih untuk bungkam. Milly mendapati Allard telah tidur lebih dulu dengan posisi memunggunginya. Apa Allard mulai menyerah? batinnya.
Cukup lama Milly berusaha untuk terlelap, sayangnya kedua netranya enggan terpejam. Meskipun Milly telah bermain cukup lama dengan ponselnya agar matanya terasa lelah, rupanya cara itu masih belum cukup untuk membuatnya tertidur.
Milly berbalik, menatap punggung Allard cukup lama. Dahulu aku selalu berlindung di balik punggung itu, gumamnya dalam hati. Seolah tahu apa yang diinginkan pemiliknya, salah satu tangannya terulur untuk menyentuh punggung pria yang masih berstatus tunangannya hingga kini.
Tanpa sadar telunjuknya memperlakukan punggung Allard layaknya kanvas. Dengan asyik ia menggambar pola abstrak di sana. Milly menyingkirkan rasa khawatirnya kalau-kalau tidur pria itu terusik dan berakhir memergokinya.
Benar saja, hanya beberapa detik setelahnya Allard pun akhirnya terjaga. “Baby, ada apa?” tanya Allard hanya dengan menoleh.
Milly menggeleng.
“Kamu belum tidur?” tanyanya Allard lagi dan masih dijawab Milly dengan gelengan kepalanya.
“Apa ada yang mengusik pikiranmu? Apa masih mengenai rumah baru kita?”
__ADS_1
“Hemm ....” Jawab Milly dengan deheman.
Allard kini tak lagi menatap Milly. Kedua manik matanya kembali memejam. Posisinya masih sama, Allard masih memunggungi Milly.
“Biarkan Mommy melakukan keinginannya,” ucapnya. “Untuk sekarang tolong aku, jangan kecewakan Mommy.”
...................
...
Apa yang sulit didapatkan bagi keluarga Anderson dan Harrison? Hanya sebuah rumah mewah untuk putra dan putri mereka, dapat dengan mudah diwujudkan dalam satu malam saja.
Sebuah rumah mewah di kawasan elite Ibu Kota, kini sudah siap dihuni oleh Allard, Milly, dan Kalvin. Segala perabotan hingga para pelayan dan staf keamanan disiapkan dengan baik dan penuh perhitungan oleh kedua Daddy, Robert dan Sean.
Dua hari yang lalu, tepatnya saat malam pertama kali Mommy Carol menginjakkan kakinya di apartemen Allard, wanita paruh baya itu telah membuat kehebohan dengan meminta sebuah rumah untuk ditinggali putra dan calon menantunya. Lalu kemarin malam, wanita yang masih cantik di usianya yang menginjak setengah abad itu lagi-lagi membuat kepanikan saat dirinya mengatakan akan pindah hari itu juga.
Dan malam ini, saat semua anggota keluarga tengah menikmati santap malam mereka lagi-lagi Mommy Carol membuat sebuah permintaan yang cukup mengejutkan semua orang. “Aku ingin membuat pesta rumah baru,” ungkapnya.
“Tapi Mom,” Milly berniat menolak permintaan Mommy Carol namun ucapannya segera disela oleh Grandpa Gilbert.
“Bagus juga usulan Carol,” celetuknya. “Di pesta itu kita bisa mengundang seluruh jajaran direksi dari perusahaan dan membuat pengumuman mengenai pertunangan kalian di sini, bagaimana?”
Hampir semua orang di sana mengangguk termasuk Allard yang tersenyum penuh kemenangan. Hanya Milly satu-satunya yang tak tertarik dengan rencana itu.
......................
Bagai sulap dalam cerita dongeng, keesokan paginya Milly dikejutkan dengan ramainya para pekerja berlalu-lalang di rumah barunya. Milly yang baru saja hendak turun untuk sarapan terpaksa membatalkan niatnya dan kembali ke dalam kamar.
Klik.
Bunyi suara pintu yang kembali dikunci oleh Milly. Wanita itu bersandar pada pintu dengan kening yang mengerut dan mulut komat-kamit.
“Apa lagi kali ini? Apa yang sedang dilakukan orang-orang itu?” gumam Milly seperti berbisik.
Allard yang melihat tingkah wanitanya dibuat jadi penasaran karenanya. “Ada apa, baby?” tanyanya.
“Al, apa lagi kali ini? Mengapa di luar sangat ramai? Juga para pelayan tampak sangat sibuk.” Milly mengungkapkan apa yang ia lihat sebelumnya.
Bukannya segera menjawab pertanyaan Milly, Allard mendekati wanitanya yang masih bersandar pada pintu. “Bantu aku memakai dasi ini!”
__ADS_1
Milly mendengkus namun tangannya tetap menerima dasi yang diberikan oleh Allard. Dengan sengaja Allard semakin mengikis jarak di antara mereka hingga pria itu berhasil mendaratkan satu kecupan di kening wanitanya.
Gerakan tangan Milly yang sedang memasang dasi untuk Allard terhenti. Meski tak mengubah pandangannya, namun Milly yakin jika kini Allard masih terus memandanginya. “Apa kamu melupakan pesta yang dibicarakan Mommy semalam?”
Jarak mereka yang begitu dekat berhasil membuat Milly gugup. Wanita itu mematung di tempatnya, sampai Allard memindahkan tangan Milly yang awalnya memegang dasinya kini ia lingkarkan di lehernya. Setelah itu ia rengkuh pinggang Milly agar semakin mendekat padanya, menghilangkan jarak yang tersisa. Bagi seorang profesional seperti dirinya, melakukan semua hal itu sangatlah mudah baginya.
“Tak bisakah kita seperti dulu lagi? Tak ada jarak dan kecanggungan seperti sekarang,” pinta Allard.
Merasakan hangatnya embusan napas Allard, membuat kekuatan Milly untuk menolak dan menghindar seakan sirna. Berbeda dengan hatinya yang berani mengakui jika keinginan mereka sebenarnya sama dan cinta itu masih ada, nyatanya yang terjadi Milly hanya bisa membisu.
Ketakutan jika wanitanya menolak lagi, membuat Allard segera menyatukan kedua bibir mereka. Cukup lama pria itu diam tanpa melakukan apa pun selain mempertemukan kedua bibir mereka.
Hingga yakin tak ada penolakan dari Milly, barulah ia lanjutkan aksinya. Menyelami lebih jauh bibir wanitanya yang selalu ingin ia kecup, menuntut agar segala rindunya tersalurkan melalui ciuman yang bergelora.
Aku terima semua keadaan ini. Tak apa meski hanya aku yang mencinta, selama ada kamu di sisiku, aku mampu. Batin Allard.
...................
...
Pesta syukuran rumah baru Allard dan Milly digelar malam itu. Tak banyak tamu yang hadir sebab pesta ini sengaja dibuat tertutup. Semua yang hadir malam itu adalah orang-orang yang dipilih langsung oleh para opa dan para ayah.
Semua jajaran petinggi perusahaan Anderson kedua teman Allard, Digta, Noah dan kekasihnya Christy, juga turut hadir keluarga besar Jhon Austin, satu-satunya keluarga Grandpa Gilbert di Negeri ini.
Tak lupa Grandpa Gilbert mengenalkan sepupunya itu pada keluarga Harrison. Jhon Austin hadir bersama seluruh keluarganya. Putri angkatnya Beatrice Austin dan suaminya Marvin Benedict. Juga tak lupa putra tunggal mereka Erlan Benedict.
Acara malam itu cukup meriah dan terbilang sukses. Dekorasi tempat yang begitu apik dengan hidangan yang tersaji sangatlah nikmat. Tak lupa acara hiburan yang membuat para tamu akhirnya berdecak kagum atas jamuan yang sungguh memanjakan mereka.
Sebuah pesta rumah baru yang berbeda dari biasanya. Banyak kejutan yang diberikan oleh si empunya pesta. Pengumuman mengenai hubungan Allard dan Milly turut menjadi sorotan malam itu. Pasangan itu tampil serasi dengan balutan busana bernuansa warna beige.
Seolah belum cukup dengan semua kejutan malam ini, Grandpa Gilbert turut mengumumkan jika mulai besok seluruh kepemimpinan Anderson Properti yang selama ini berada dalam wewenang sepupunya, Jhon Austin akan beralih pada satu-satunya pewaris perusahaan tersebut, Allard Junior Anderson.
Riuh tepuk tangan menyambut keputusan dari pemegang takhta tertinggi di Anderson Properti. Jhon Austin pun turut bahagia dengan keputusan sepupunya, ia merasa tugas dan janjinya pada Gilbert telah selesai. Berbeda dengan menantunya, Marvin dan cucunya, Erlan yang kini mematung dengan kedua tangan yang mengepal menahan amarah.
Ucapan selamat untuk Allard datang bertubi-tubi. Meski begitu, pria itu tak sedetik pun membiarkan Milly jauh dari sisinya. Satu tangannya dengan posesif terus merangkul pinggang wanitanya.
Melihat betapa posesifnya pria itu untuk menjaga tunangannya, tak ada pria yang berani memuji kecantikan Milly secara terang-terangan. Sebagian besar dari mereka, harus puas hanya dengan memuji kecantikan Milly di dalam hatinya saja. Cukup Digta dan Noah saja yang berani melakukan itu.
Di tengah-tengah kemeriahan pesta, tiba-tiba saja datang sosok yang tak diundang. Sontak tubuh Al menegang, tangannya semakin erat merangkul pinggang Milly.
__ADS_1
“Hai, selamat malam semua,” sapanya ramah. “Maaf, aku terlambat.”
...----------------...