Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 28. Janji suci


__ADS_3

Bukan perkara mudah, memantapkan niatku untuk membawa hubungan kita ke arah yang lebih serius.


Bukan hanya kemapanan materi yang harus ku persiapkan, tapi juga kemapanan hatiku.


Rencana membawamu untuk membina rumah tangga, tak sabar lagi segera ingin ku wujudkan.


Aku ingin mengikatmu dengan janji suciku, dan aku ingin menetap di sisimu dengan janji sucimu.


Janji suci kita berdua.


Aku sangat yakin dengan rumah tangga kita yang akan berjalan harmonis.


(Allard)


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


“Hai Mommy, bagaimana kabarmu? Maafkan aku yang jarang mengunjungi tempat peristirahatan terakhirmu. Bukan karena aku tak merindukanmu, tapi aku tak ingin Mommy bersedih karena melihatku menangis.” Ucap Milly di depan pusara Mommy Griselda, Ibu kandungnya.


Sebelum membawa Milly kembali ke mansion keluarga Harrison, Allard terlebih dulu meminta izin pada Daddy Robert untuk mengajak Milly mengunjungi Mommy Grisel.


Allard merangkul pundak Milly, ketika melihat ada buliran air mata yang berlinang di pipi wanitanya.


“Mommy aku tak pernah meragukan kasih sayangmu padaku. Begitu juga denganku, meski baru bisa ku katakan sekarang setelah Mommy telah tiada," ucap Milly


"Aku mencintaimu Mommy, kamu cinta pertamaku, tak akan ada yang bisa menggantikanmu di hatiku dan tak ada yang bisa sebaik dirimu," Lanjutnya dengan sekuat tenaga menahan air matanya.


Inilah perasaan yang telah lama Milly pendam.


Bukan hanya besarnya cinta yang Ia punya, lebih tepatnya Milly ingin mengadu jika selama kepergian Ibunya, kehidupannya tak lagi berjalan sebaik dulu.


"Aku menjadi anak yang baik dan penurut selama 10 tahun mom. Aku mengikuti semua keinginan Daddy dan Grandpa. Apa aku berhasil jadi anak baik mom? Sepertinya iya, karena aku menjadi Milly yang diinginkan Daddy," ungkapnya.


"Tapi apa tak akan jadi masalah mom, jika aku tak menjadi diriku sendiri?" lanjutnya mengadu.


Seperti ucapan Al, "Mengadu saja, tunjukkan bagaimana perasaanmu."


Delapan tahun terindah dalam semua perjalan hidup Milly nantinya. Delapan tahun Ia merasakan kasih dan sayang seorang Ibu, yang sangat mengerti perasaannya tanpa perlu Ia berucap. Delapan tahun yang singkat, tapi kenangan Milly akan Ibunya tak akan pernah ada habisnya, sebab setiap detik kehadiran Ibunya menjadi hal terindah dalam kisah perjalanan seorang Milly Harrison.


Menjadi satu-satunya penerus di keluarga Harrison, Milly menjadi terbiasa ketika semua kasih sayang dan perhatian berpusat padanya.


Milly adalah gadis dengan pribadi menyenangkan dan ceria, tapi itu semua hanya sebelum kepergian Ibunya.


Milly sudah terbiasa menerima ungkapan cinta dan kasih dari orang-orang terdekatnya. Hingga akhirnya Ia hanya tahu cara mengungkap perasaan cinta, tanpa tahu cara menyampaikan perasaan lain dalam dirinya.


Memendam, hal itu yang Milly lakukan. Kehidupannya diatur sedemikian rupa, agar nantinya Ia siap menjadi penerus keluarga Harrison.


Tapi seperti pertanyaan Milly yang tak mendapat jawaban, apakah tak akan ada masalah?


Bukan apakah, tapi kapan.


Kapan semua perasaan yang dipendam Milly akan tumpah, bagai botol kosong yang terus di isi air.


“Mommy, hari ini aku kemari karena Jun yang meyakinkanku jika kami hanya akan menyampaikan berita bahagia jadi aku tak perlu khawatir akan menangis,” ucap Milly sambil menertawakan dirinya sendiri.


“Tapi lihatlah aku tetap saja menangis. Bahkan baru saja aku mengeluh padamu. Aku malah semakin sedih, sebenarnya dalam anganku, orang pertama yang ingin ku beritahu ketika aku menjalin hubungan adalah Mommy. Tapi, tapi, .......” Milly tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya.


Tangisannya membuat Al tak tega. Kelemahan Al adalah pria itu tak sanggup jika melihat Ibunya dan Milly menangis.


Dua wanita yang penting dalam sejarah hidupnya kelak.


“Baby, bolehkah jika aku saja yang memberitahu Mommy Grisel?” pintanya pada Milly.


Milly yang masih menenangkan dirinya, hanya mengangguk tanda Ia setuju.


“Mommy, aku meminta izin untuk menjadikan Milly pasangan dalam hidupku. Tolong restui kami Mommy, doakan putra dan putrimu ini agar kami bisa berpasangan layaknya kupu-kupu, sesuai dengan nasihatmu dahulu." Pinta Al dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Meski tak ada jawaban, tapi mereka yakin mommy Grisel pasti merestui keduanya.


Mommy adalah orang pertama yang memberi mereka ucapan selamat pada 10 tahun lalu, ucapan selamat yang tersirat pada liontin kupu-kupu yang terbagi menjadi 2 bagian.


Setelah Milly lebih tenang, Al segera mengantarkannya pulang ke mansion keluarga Harrison.


⚘⚘⚘⚘⚘


Dalam perjalanan, Al bertanya pada Milly mengenai menikah di usia muda. Hal yang sejak kemarin menjadi rencananya.


“Baby, bagaimana pandanganmu jika ada wanita yang menikah saat usianya masih muda,” tanya Al.


“Menikah muda?” Milly diam sejenak, keningnya sampai mengernyit karena memikirkan jawaban yang tepat.


“Tak ada masalah, selama keduanya sudah siap,” jawab Milly.


“Suatu hubungan yang berdasar cinta dan komitmen, akan bertujuan pada pernikahan,” jelas Milly.


“Dilakukan sekarang ataupun nanti, saat masih muda atau sudah berumur, tak ada masalah, dan tak ada larangan pula. Tergantung kesiapan masing-masing pasangan saja,” lanjutnya.


Tanpa Milly sadari, pria yang sedang mengemudi disampingnya, kini sedang berbunga-bunga. Merasa Milly tidak akan menentang dengan usulan menikah muda.


Namun yang Allard lupakan adalah siapa dan bagaimana pola pikir tunangannya.


Meski sulit, namun menjadi Milly pewaris tunggal dari keluarga Harrison menuntutnya untuk selalu berpikir dan menyikapi sesuatu dengan Open Minded.


Sedangkan Allard pikir ini sebuah lampu hijau baginya.


Terlebih kemarin Kelvin terus saja menghubunginya, jika pekerjaan di Indonesia yang tertunda sudah sangat banyak sebab ketidak hadirannya.


Belum lagi, informasi dari Kelvin, jika paman Al yang bernama Marvin Benedict terus saja membuat masalah dengan proyek-proyek besutan Al.


Disaat Al tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, Milly merasakan kelelahan mulai terasa pada tubuhnya. Perjalanan mereka hari ini memang cukup jauh, hingga Milly tak akan menyalahkan rasa kantuknya saat ini, dirinya memang butuh tidur, butuh istirahat.


Tak ada jawaban dari tunangannya, akhirnya Al menoleh dan mendapati Milly telah tertidur dengan pulasnya.


“Menggemaskan sekali kamu Baby, meski tidur kau tetap nampak sangat cantik,” pujinya pada sang tunangan.


Al tak lagi berbicara, Ia bungkam tak ingin mengganggu tidur Milly, "Dia pasti sangat kelelahan," tentu saja Al tahu apa penyebab lelahnya Milly. Sesekali Al melirik ke arah Milly memastikan wanitanya tidur dengan nyaman.


Hingga mobil Al memasuki halaman mansion keluarga Harrison. Tanpa membangunkan Milly, Al menggendong Milly menuju kamarnya.


Beberapa maid yang berpapasan dengan Allard yang menggendong nona mudanya, menuduk untuk memberi salam.


⚘⚘⚘⚘⚘


Setelah tugasnya selesai yaitu memastikan Milly kembali ke mansion dengan selamat, kini saatnya Ia bertemu kedua orang tuanya.


Dua hari lagi, Al harus kembali ke Indonesia dan dia harus bergerak cepat. Sehingga masalah ini sudah harus menemukan kata sepakat dari kedua belah pihak keluarga, paling lambat besok malam.


“Ada alasan di balik mahalnya harga berlian. Begitupun dengan Milly, dirinya jauh lebih berharga dari berlian, jadi tak salah jika aku berusaha memiliki Milly. Berbahaya meninggalkan berlian tanpa penjagaan," batin Al.


Tak ingin menyianyiakan waktu, terlebih lagi pekerjaannya di Indonesia semakin menumpuk.


Setibanya di mansion, Al segera menemui kedua orang tuanya yang sedang mengobrol santai di ruang keluarga.


Dengan keyakinan dan percaya diri, Al menyampaikan maksudnya untuk segera menikahi Milly.


“Hai Daddy, Hai Mommy “ sapanya.


Tak lupa sebuah kecupan dari Al mendarat di pipi wanita yang telah melahirkannya.


“Al, dimana Milly?" tanya ibunya.


“Aku sudah mengantarkannya kembali ke mansion keluarga Harrison,” jawab Al.

__ADS_1


“Daddy, Mommy, aku ingin meminta restu kalian, aku berniat sesegera mungkin menikahi Milly,” pintanya penuh harap.


“Menikah?” ulang kedua orang tuanya bersamaan dan saling melempar tatapan penuh tanya.


“Al pernikahan tidak sesederhana sebuah rencana dan keinginan. Janji pernikahan, tidak semudah mengucap janji yang biasa,” ujar Ayahnya.


“Al, jujurlah pada Mommy apa terjadi sesuatu? Apa Milly hamil?” tanya Ibunya tanpa basa-basi.


Kekhawatiran menjalar di hati Mommy Carol. Sebagai seorang wanita dewasa yang tahu mengenai kehidupan negara barat, entah mengapa Ia berpikir jika hal itu mungkin saja terjadi.


Bukan tak senang jika Milly hamil, tapi sesama wanita, Ia berharap jika Milly, gadis yang sudah Ia sayangi seperi putri kandungnya, hamil saat waktunya tiba dan dengan runtutan yang benar pula.


“Tidak Mommy, Milly baik-baik saja. Dan tenanglah Mom, aku mengerti kekhawatiran Mommy,” jelas Al dengan lembut.


Senyuman Al mampu menenangkan Mommy Carol. Senyumnya sangat meyakinkan, hingga Mommy Carol bisa lebih tenang.


Namun kini Al yang menjadi was-was. Mengapa dirinya tak terpikirkan mengenai kemungkinan Milly hamil. Sejak kemarin mereka melakukannya berkali-kali tanpa menggunakan pengaman.


“Lalu? Mengapa terburu-buru Al?” tanya Mommy memecah lamunan Al.


“Mommy, kami saling mencintai. Setahun ini aku sangat bersusah payah menjalin hubungan dengannya. Ku pikir Mommy pasti mengerti bagaimana beratnya jika merindukan seseorang yang sangat kita cintai,” ujar Al.


“Jangan egois dan pikirkan Milly, dia masih sangat muda, tentu masih banyak mimpi yang ingin diraih olehnya,” jelas Daddy Sean.


“Sebagai kekasih yang baik, seharusnya kau mendukungnya Al, menikah bisa saja menjadi penghambat mimpinya,” sambungnya.


Al bungkam, ada benarnya juga kata Daddynya. Mengapa selama ini dirinya tak pernah bertanya pada Milly, apa mimpinya.


Harusnya Al bisa lebih peka, dia jelas tahu jika Milly bukan tipe orang yang mudah menyuarakan hati dan perasaannya.


Harusnya Al bisa bertanya. Bukannya terus terusan memikirkan dirinya sendiri, dan menarik Milly mengikutinya.


“Apapun mimpi dan keinginan Milly, aku akan mendukungnya. Aku akan berada di sisinya. Daddy tenang saja, aku akan tetap menepati janjiku untuk perusahaan di Indonesia. Aku berencana mengajak Milly ikut denganku kesana,” jelas Al.


“Ekheemmm...”


Dehaman dari seorang pria menyela perdebatan ayah dan anak yang sedang berlangsung.


“Tak perlu menghalanginya Sean, menikah bukan hal yang salah. Yang penting keputusannya berasal dari kedua belah pihak,” Usul Grandpa Gilbert bukan tanpa alasan.


Grandpa Gilbert sangat mengenal Al, keras kepala, egois, posesif, tidak peka, semua ada pada diri Al. Namun pria itu tetaplah cucunya, cucu kebanggaan keluarga Anderson.


“Besok kita ke mansion Donald, dan tanyakan langsung pada Milly, apa dia bersedia. Jika dia setuju, bukankah lebih bagus lagi untuk penyatuan 2 keluarga,” lanjutnya.


"Akhhh, aku juga sudah lama tak bermain catur dengan Donald," celetuknya Grandpa Gilbert.


Pria paruh baya itu terlihat sangat santai. Dalam hatinya Ia yakin jika tak akan ada pernikahan dalam waktu dekat.


Ia tahu dibalik sikap penurut Milly pada Donald dan Robert, tersimpan jiwa yang penuh ambisi.


Daddy Sean dan Mommy Carol akhirnya menyetujui usul Grandpa Gilbert.


Kini keputusan ada pada Milly. Al tak perlu merasa terlalu khawatir, Ia yakin jika keinginannya kali ini pasti sama dengan apa yang diingikan Milly.


“Malam cepatlah berlalu, aku tak sabar melihat betapa terkejutnya Milly saat aku serius dengan pernikahan," batin Al.


⚘⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘⚘


Kebahagiaan, terkadang melibatkan pilihan.


Aku bahagia memilihmu sebagai tempat terakhir hatiku bernaung.


Aku juga bahagia pada pilihanku untuk menggapai mimpiku.


Aku akan semakin bahagia saat kamu mendukung impianku.

__ADS_1


__ADS_2