Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 54. Semuanya pulang


__ADS_3

“Gila!”


“Dasar, kau wanita gila!”


Al membentak juga menghentak tubuh Stella hingga wanita itu tersungkur ke lantai. Ia begitu terkejut saat Stella dengan lancangnya hendak mencium bibirnya.


“Kamu pikir, karena siapa aku begini? Karena kamu, Sayang!” Ucap Stella diiringi tawanya.


“Aku terlanjur mencintaimu, kita masih bisa seperti dulu lagi.” Sesaat setelahnya, Stella kembali memelas. Memohon cinta pada Allard.


“Aku terima … aku janji akan terima meski hanya menjadi simpananmu. Jangan tinggalkan aku begitu saja, kamu tak bisa seperti ini. Membuangku begitu saja, kamu tak seharusnya begitu!”


“Aku tahu kamu membutuhkan aku. Apa kebersamaan kita selama bertahun-tahun tak berarti bagimu?” ucap Stella percaya diri.


Mendengar ocehan Stella yang tak kunjung henti, membuat Allard semakin geram pada wanita di hadapannya. Ia lalu membungkukkan setengah badannya kemudian mencengkeram dagu Stella.


“Kau jangan bicara omong kosong! Yang kubutuhkan dan yang kuinginkan, semuanya ada pada tunanganku. Kau tak berarti sama sekali untukku!” bentak Allard.


“Kau akan menyesal, Al!” Lirih Stella dengan kepala menunduk setelah Al melepas cengkramannya pada dagunya.


“Membuangku tak akan pernah mudah!” imbuhnya.


“Jangan berani mengancamku! Kau tahu, aku dengan mudah bisa menghancurkanmu. Tidak hanya kau, bahkan seluruh keluargamu akan hancur jika kau berani mengusik hubunganku!”


Napas Al memburu menahan amarah dalam dadanya. Andai saja Stella pria, maka ia tak perlu susah-susah menahan diri, pikirnya. Barang pasti, wajah Stella akan babak belur.


“Awas saja jika kau masih berani muncul di hadapanku,” peringat Allard lagi sebelum ia akhirnya pergi meninggalkan Stella.


Stella masih bergeming di tempatnya. Dirinya ingin menyesali, mengapa akhirnya ia memupuk cinta pada pria sebejat Allard. Harusnya … saat mereka sepakat menjadi partner ranjang, dirinya sudah bisa membentengi diri.


Namun tak ada kata terlambat dalam kamus seorang Stella. Semakin Allard menolaknya, maka ia akan semakin tertantang untuk mengejarnya.


Akan kupastikan gadis bodoh dan sok cantik itu yang menanggung semua akibatnya! Geramnya dalam hati.


Saat Stella masih menggeram dalam hati, tiba-tiba ia dikejutkan dengan munculnya sosok seorang pria dari balik lemari. “Hei! Siapa kau?” Pekik Stella.


Stella ikut was-was jika ada yang mendengar pembicaraannya bersama Allard. Jika skandal hubungannya dengan Allard sampai terbongkar sekarang, maka sudah dapat dipastikan hubungan Allard dan tunangannya akan hancur. Begitu pun dengan dirinya, juga seluruh keluarganya. Stella tahu, Allard tak pernah main-main dengan ucapannya.


“Aku?” Pria itu mengulurkan tangannya, membantu Stella untuk bangkit.


“Kupikir aku sudah cukup terkenal, rupanya belum.” Jawabnya dilanjutkan dengan tawa.


“Jangan basa-basi. Jawab saja pertanyaanku!” Suasana hati Stella yang sudah buruk membuatnya tak dapat beramah tamah dengan pria yang tampak angkuh di hadapannya.


“Jangan kejam begitu, Nona. Dari yang kudengar sepertinya kita di kubu yang sama,” tuturnya.


“Sampai jumpa, Nona. Mungkin suatu saat kita akan bertemu,” ucapnya seraya berjalan menuju pintu.


Stella masih mengamati langkah pria itu. Ketika tiba di ambang pintu, ia kembali menoleh. “Jangan terlalu lama berada di sini, orang-orang bisa curiga,” ujarnya sebelum menghilang dari balik pintu.

__ADS_1


“Si*lan! Allard si*lan! Akan kubuat kau bertekuk lutut di hadapanku. Akan kubuat kau memohon untuk kembali bersamaku. Wanita bodoh itu harus segera kusingkirkan,” gumamnya.


...…………….....


Malam semakin larut, pesta rumah baru Allard dan Milly pun usai sudah. Besok semua keluarga mereka akan kembali ke Negara asalnya. Mengingat hal itu, dalam hati Milly terjadi pergolakan.


Rasanya tak rela jika ia harus berjauhan lagi dengan Daddy juga Grandpa yang selalu ia rindukan. Namun di sisi lain, Milly berharap mereka segera pergi. Ia sudah tak sabar untuk pindah ke kamarnya sendiri. Godaan jika tidur dalam satu kamar bersama Allard akan sulit dibendung.


Benar saja, belum lama pikiran itu terlintas dalam benaknya, Milly harus bersusah payah membentengi dirinya. Semua itu karena tingkah menyebalkan Allard, pikirnya.


Sudah menjadi kegiatan rutin seorang Milly, sebelum tidur ia akan membersihkan sisa-sisa riasan pada wajahnya. Setelahnya ia akan memoleskan krim perawatan wajahnya yang khusus dipakai saat malam saja.


Klik.


Bunyi kunci pintu kamar mandi yang dibuka dari dalam diiringi bunyi derit pintunya.


Apa lagi ini?! Jerit Milly dalam hati.


Tak lama sosok Allard keluar dari dalam sana. Dengan tubuh polos di bagian atas dan hanya selembar handuk putih yang melingkari pinggangnya.


Rambutnya ia biarkan basah, ada bulir air yang menetes dari sana. Dada bidang Allard dengan sedikit bulu halus yang tumbuh di sana. Si*l! Mengapa aku jadi mengingat bagaimana rasanya saat dulu membelai dada bidang itu, gertutu Milly dalam hati.


Milly sontak menelan salivanya. Jemarinya berhenti otomatis memoleskan krim pada wajahnya. Wanita itu sempat lupa caranya berkedip ketika Allard dengan langkah perlahan berjalan ke arahnya.


Suhu ruangan mendadak berubah panas, ketika Allard bukannya langsung memakai pakaiannya. Pria itu berdiri di belakang tubuh Milly hingga pantulan tubuhnya semakin jelas terlihat dari cermin di hadapan mereka.


“A-apa m-ma-mau-mu?” Terbata-bata Milly bertanya hal itu pada Allard.


“Kenakan pakaianmu dulu!” Celetuk Milly membuat Al mengerutkan keningnya.


“Ya, tapi setelah tubuhku benar-benar kering. Aku tak mau ambil resiko piyamaku basah karena ini,” jawab Al santai. Bahkan ia sempat membusungkan dada bidang itu, hingga kotak-kotak di perutnya seakan menantang Milly untuk menyentuhnya.


“Cih! Kamu sengaja ingin menggodaku!” Milly memutuskan untuk menghentikan lebih awal rangkaian kegiatan perawatan wajahnya malam ini.


Allard menyeringai, ia sedikit membungkukkan tubuhnya hingga kini wajahnya berada di atas pundak Milly. “Apakah aku berhasil menggodamu?”


Embusan napas beraroma mint kesukaanku. Stop! Jerit Milly dalam hati.


Tubuh Milly menegang, embusan napas Allard seakan menggelitik tengkuknya. Milly sontak berdiri tanpa aba-aba.


“Tidak! Kamu gagal.” Milly berdiri berkacak pinggang menghadap Allard.


“Aku sedikit pun tak tergoda,” tegasnya seraya berjalan naik ke atas tempat tidur dan bersembunyi di balik selimut tebal. Bahkan wajahnya pun sengaja ia tutupi.


Allard sampai menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan tawa. Lucu sekali, Milly-ku, batinnya.


Tawa Allard tak lagi bisa ia tahan ketika satu tangan Milly meraba-raba atas nakas untuk menyalakan lampu tidur.


“Tolong matikan lampu kamarnya,” ucapnya dari balik selimut setelah ia berhasil melakukannya.

__ADS_1


“Ingat janjimu! Jangan berani berbuat macam-macam padaku,” ucapnya dari balik selimut.


Pecahlah tawa Al. “Oke … oke, Baby. Aku akan mengingatnya,” balas Allard dengan terus tertawa. Ia yakin di balik selimut itu Milly terus mendumel.


Setelah berpakaian, Al mengikuti Milly naik ke atas tempat tidur. Dirinya yakin, malam ini akan tidur nyenyak kembali. Sebab Milly, wanita yang ia cintai kini bersamanya. Terlelap dalam dekapannya.


...……………...


Seperti rencana, keesokan harinya dua keluarga besar, Anderson dan Harrison akan kembali pulang ke Negara asal mereka. Perjalanan mereka dipermudah dengan penggunaan jet pribadi milik keluarga Anderson. Kini semuanya sudah berkumpul di lounge bandara, yang berada tak jauh dari landasan pacu khusus jet pribadi.


Grandpa Gilbert mengucapkan terima kasih pada sepupunya, Jhon Austin karena selama bertahun-tahun lamanya sudah mengemban tugas dengan sangat baik. “Jhon, kumohon bantu aku sekali lagi. Tolong perhatikan Allard. Tegur anak itu jika dia melakukan kesalahan, dia masih butuh banyak bimbinganmu.” Pinta Grandpa Gilbert.


Grandpa Gilbert tahu betapa tulus sepupunya itu. “Tentu, tanpa kau pinta pun pasti akan kulakukan. Dia cucuku juga, kalau kau lupa.”


Keduanya tertawa bersama. Hingga datanglah Marvin, menantu Jhon Austin. “Selamat sampai tujuan, Paman.” Tangannya terulur ingin menjabat tangan Grandpa Gilbert.


“Ya, terima kasih. Tolong bekerja samalah dengan Allard untuk membuat Anderson Grup lebih maju lagi,” ucap Grandpa Gilbert.


“Ya, Paman. Tentu aku akan begitu,” balasnya dengan senyum dipaksakan.


Granpa Gilbert pun seperti itu. Ia memaksakan senyumnya agar Marvel tak curiga. Allard telah memberitahu pada kakeknya mengenai semua kecurigaannya terhadap pria ini. Grandpa Gilbert percaya, Allard pasti memiliki rencana untuk mengungkap semua kebusukan Marvel.


Di sisi lain, Milly sedang memeluk erat Daddy Robert. “Jangan terlalu merindukan Daddy,” ucapnya seraya membelai lembut surai putri semata wayangnya.


“Aku tak bisa berjanji untuk itu, Daddy. Kamu tahu hampir setiap detik aku merindukanmu,” balas Milly dengan suara serak menahan tangis.


Sesi pamitan penuh haru pun akhirnya selesai, setelah Milly memeluk satu persatu keluarganya juga keluarga Anderson. Allard pun juga melakukan hal yang sama.


Saat berpamitan dengan semua orang pria itu sampai menggeleng, dikarenakan amanat mereka semua sama. Yaitu untuk menjaga Milly. Tanpa disuruh pun, tentu saja ia akan menjaga wanitanya, pikirnya.


Saat pesawat jet pribadi milik keluarganya lepas landas, Allard segera mengajak Milly untuk pergi dari sana. Ia merasa tak suka dengan tatapan Erlan kepada tunangannya.


“Ayo, Baby. Kita harus ke kantor,” ajaknya.


Allard, Milly, juga Kalvin segera pergi setelah berpamitan pada Grandpa Jhon dan keluarganya. Tangan Allard terus merangkul posesif pinggang tunangannya.


Baru lima menit mobil melaju, Allard menerima panggilan telepon dari Christy. Ia sengaja menerima panggilan tersebut dalam mode loudspeaker. Mencegah Milly agar tak berpikiran buruk padanya.


“Ya, Christy … ada apa?” tanya Al tanpa basa-basi.


“Malam nanti, datanglah bersama Milly acara pertunanganku,” jawab Christy.


“Aku sungguh ingin menghubungi Milly langsung. Sayangnya aku lupa, jika kemarin kami lupa bertukar nomor ponsel,” lanjutnya.


“Tak masalah, Milly sedang bersamaku dan mendengar ucapanmu. Tenang saja, kami pasti akan datang,” ucap Al lalu panggilan telepon itu berakhir.


Mobil Al yang semula melaju menuju ke perusahaan Anderson segera berbelok menuju arah yang berbeda. “Al, sepertinya ini jalan yang salah,” tegur Milly.


“Ya, kita akan ke butik lebih dulu. Apa kamu tak dengar tadi, malam nanti kita punya acara, Baby. Kita harus mengenakan pakaian yang serasi malam ini,” ucap Al bersemangat. Berbeda dengan Milly yang hanya menghela napasnya.

__ADS_1


Al berlebihan, pikirnya.


...——————————...


__ADS_2