
“Aaakkhhh......”
“Baby....... aku mencintaimu, terima kasih baby.”
Kecupan di kening Milly baru saja mengakhiri pertempuran panjang dua insan yang di mabuk asmara dan dilanda rindu.
Entah sudah berapa kali Al menggempur tubuh tunangannya sepanjang malam ini, yang pasti pria itu keluar menjadi pemenang pertempuran antara keduanya.
Wanita yang sebentar lagi berusia 19 tahun itu baru bisa terlelap setelah jarum jam di atas nakas menunjuk angka 4.
Al memilih keluar menuju balkon kamarnya. Ia pandangi setiap sudut Kota Seattle yang tak pernah tidur.
Keramaian kota itu membuatnya rindu dengan rekan-rekannya di Indonesia.
Berbeda jika ia di negara ini, waktu Al akan sepenuhnya ia curahkan untuk tunangannya.
Sesekali ia menoleh pada wanita yang sepanjang waktu berada dalam benaknya.
Senyuman terbit di wajah tampannya kala membayangkan tubuh polos Milly yang berada di bawah selimut.
Melihat damainya raut wajah tunangannya saat terlelap membuat senyum di wajah Al tak pernah surut.
Sejak kecil, memandangi Milly ketika tertidur adalah salah satu kegiatan favoritnya.
Setelah merasa dirinya cukup segar dengan embusan angin malam ini, Allard kembali masuk dan duduk di tepi ranjang.
Ia pandangi lagi wajah Milly dari dekat, disampirkannya beberapa helai rambut Milly yang bisa saja mengusik tidur wanitanya.
“Beruntung sekali aku memilikimu Baby,” gumam Allard.
Dipandanginya wajah cantik Milly. Sejak hari pertama wanita itu hadir di dunia ini, Allard tak pernah henti memuja kecantikannya.
Bagi pria itu, saat ini hanya 2 wanita yang paling cantik... Carol Anderson, sang Ibu dan Milly, tunangannya.
“Besok aku akan berusaha membujuknya lagi. Semoga dia berubah pikiran dan setuju untuk ikut bersamaku,” lirihnya.
"Aku begitu tersiksa karena selalu merindukanmu sayang," keluhnya.
Setelah membersihkan tubuhnya, pria itu segera bergabung di bawah selimut yang sama bersama Milly.
Susah payah Al menahan agar tak melenguh, saat kulit mereka bersentuhan langsung.
Dalam hati Al merutuki dirinya yang mudah sekali terpancing hasratnya jika itu bersama Milly. Bahkan hanya sentuhan saja, tapi mampu memberi getaran luar biasa ke tubuh Al.
“Kamu benar-benar membuatku candu baby,” gumam Al sembari memaksa kedua netranya terpejam.
...****************...
Betapa kesalnya Al... setelah susah payah ia coba memejamkan kedua netranya, menahan gejolak dalam dirinya agar tak lagi menyerang Milly.
Namun beberapa menit setelah berhasil, semuanya menjadi sia-sia ketika bunyi dering ponselnya sukses membangunkannya.
“Si*l!” gerutunya.
“Siapa yang berani-beraninya mengganggu tidurku,” geramnya.
Ia bergegas meraih ponselnya yang tadi ia letakkan asal di atas meja rias Milly.
Perlahan-lahan ia turun dari atas ranjang, tak ingin sampai Milly terbangun karena bunyi ponselnya.
Keningnya mengernyit saat melihat nomor tlp yang menghubunginya tidak tersimpan dalam phone book ponsel pintarnya.
“Halo,” sapanya.
__ADS_1
“Apa benar ini Allard?” suara wanita terdengar di seberang telepon.
“Anda siapa?” tanya Al.
“Aku Rachel, sahabat Christy...” jawabnya.
Al bungkam. Tentunya dia ingat wanita itu,
wanita agresif yang berpura pura menjadi wanita polos.
“Apa kamu lupa Al, aku yang kamu antar pulang beberapa hari yang lalu dari klub,” jelasnya lagi.
“Ahh iya, gue ingat kok,” balas Al singkat dan datar.
Dari pantulan cermin di hadapannya, ia melihat ada pergerakan dari Milly.
“Al.... baby....” pekik Milly dengan suara seraknya.
Segera Al menghampiri Milly dengan ponsel yang masih berada dalam genggamannya.
Allard sontak mengabaikan panggilan telepon yang tengah tersambung itu.
Pria itu benar-benar lupa jika sambungan telepon dengan wanita bernama Rachel belum ia putuskan hingga wanita itu bisa mendengar apa yang dibicarakan Al dan Milly.
“Kamu terbangun sayang?” tanyanya.
“Apa suaraku membangunkanmu?”
Milly menggeleng, “Tidak, bukan itu.” Jawabnya.
"Aku masih tak menyangka jika kamu ada di sini, aku takut jika hanya sedang bermimpi,” balas Milly.
Al tersenyum melihat Milly yang sedang merajuk hanya karena saat terbangun tak mendapati Al di sisinya.
Tubuh polos yang hanya tertutupi selimut, ditambah rambutnya yang acak-acakan sebagai bukti jika beberapa jam yang lalu Al benar-benar menyerang Milly tanpa kenal ampun.
“Mimpi? Maksudmu mimpi yang begitu nikmat, heuh?” goda Al.
Allard mengurungkan niatnya untuk menyerang Milly lagi, kasihan tunangannya itu tampak lelah.
Pria itu memilih untuk menggelitiki wanitanya, membuat Milly tertawa hingga memekik karena geli.
“Baby... ampun baby......” pekik Milly.
“No!” celetuk Al. “Katakan jika kamu benar-benar mencintaiku dulu.”
“Ya baby, tentu aku mencintaimu.” Pekik Milly lagi.
Susah payah ia berucap sebab Al terus menggelitiki perutnya.
Disela-sela tawanya ia terus mengakui betapa ia mencintai seorang Allard Junior Anderson.
“Aku pun sangat mencintaimu My Lily,” ungkap Al berulang-ulang tak mau kalah.
Tanpa keduanya sadari, ada seseorang yang sedang menahan amarahnya mendengar kemesraan sepasang kekasih itu.
Tangannya menggenggam erat ponsel mahal miliknya.
“Jadi benar rumor jika dia sudah bertunangan,” gumam wanita itu.
“Oke, sekarang kau boleh saja mengabaikan aku,” imbuhnya. “Tapi nanti... kupastikan kau akan memuja-mujaku.” Tekadnya.
...****************...
__ADS_1
Seharian ini Al benar-benar memanjakan tunangannya. Segala keinginan wanita itu diwujudkan oleh Al.
Setelah menghabiskan banyak uang di pusat perbelanjaan, kini saatnya bagi Al mengeluarkan semua gejolak dalam jiwanya yang Ia tahan sejak tadi.
Sudah satu jam keduanya bergumul di atas ranjang, Al rasanya tak akan pernah cukup jika bersama Milly. Wanita itu telah menjadi candunya.
Gerakan yang awalnya perlahan lalu lama kelamaan menjadi semakin cepat seiring suara jeritan Milly yang menggema.
Allard semakin terpacu untuk memberikan Milly kenikmatan yang tak akan wanita itu lupakan, rasa nikmat yang hanya bersama Al kan ia dapatkan.
Dan beberapa detik kemudian, Al menggeram di atas Tubuh Milly. Peluh mengaliri kening turun ke pipinya. Napasnya terengah-engah. Kepalanya mendongak ke atas dengan mata yang memejam merasai nikmatnya saat ia berhasil sampai di puncaknya.
“Terima kasih sayang, kamu tak pernah mengecewakanku, setiap inci tubuhmu ini adalah canduku,” ungkap Al. “Kamu luar biasa baby, selalu luar biasa.”
Begitulah Al dengan kebiasaannya memuji Milly setelah sesi percintaan panas mereka selesai, membuat wanita yang baru saja dibuat melayang karena nikmatnya surga dunia, kini merona hanya karena pujian dari seorang pria yang sangat ia cintai.
“Sekarang bersiaplah My Little Lily... Aku masih memiliki satu kejutan lagi untukmu,” ucap Al.
“Kejutan? Hemmm.....” wanita itu memicingkan matanya menatap Al.
“Apa lagi rencanamu baby?” tanya Milly.
“Kamu lupa ini kejutan?” Balas Al. “Berdandan yang cantik, aku juga akan segera bersiap.”
Setelah itu Al keluar dari kamar, pria itu akan bersiap di kamar lain agar keduanya bisa menghemat waktu.
Baru saja pintu kamar tertutup, ponsel Al bergetar. Milly melihat ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Segera ia menjawab panggilan tersebut, khawatir jika itu adalah telepon penting.
“Hallo....” sapa Milly.
Si penelepon tertegun saat menyadari panggilannya di jawab oleh seorang wanita.
“Hallo... maafkan aku, tapi bisakah Anda menghubungi lagi nanti. Tunanganku sedang tidak di tempat,” ucap Milly ramah.
“O-okay.” Jawab Si penelepon singkat lalu memutus panggilannya.
Milly mengedikkan bahunya, padahal ia belum sempat menanyakan nama orang itu.
Lalu tiba-tiba kening Milly mengernyit saat menyadari suatu hal.
Wanita, aku yakin dari suaranya jika dia seorang wanita. Tapi siapa dia?
Tak ingin membuat Al menunggu, bergegas wanita itu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa pergulatan panasnya sore itu.
Setelah selesai dengan ritualnya di kamar mandi, Milly mengikuti perintah tunangannya untuk merias diri.
Ditengah-tengah kegiatannya itu, ponsel Al kembali mengalihkan perhatiannya.
Kini bukan sebuah telepon melainkan sebuah pesan singkat dari nomor yang sama yang sebelumnya menelepon.
Karena tak paham dengan bahasa yang digunakan si pengirim pesan, Milly segera menerjemahkannya menggunakan aplikasi penerjemah.
Dan isi pesannya cukup mengejutkan Milly.
“Allard, aku Rachel. Kira-kira kapan kamu memiliki waktu untuk bertemu denganku? Malam itu aku belum berterima kasih dengan benar padamu karena telah mengantarku pulang ke apartemen, jadi bisakah kita bertemu lagi? Makan malam di tempat romantis? Apa kamu bersedia?”
Apa maksud wanita ini? Pikirnya.
Apa dia sedang berusaha menggoda Allard? Batin Milly.
Tak akan Milly biarkan seseorang mendekati tunangannya. Tanpa sepengetahuan Al, Milly segera menghapus pesan singkat dan riwayat telepon dari wanita bernama Rachel.
...****************...
__ADS_1