
“Apa kamu menunggu seseorang?” Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari bibir Milly.
Wanita itu tak kuasa menahan rasa penasarannya ketika melihat tingkah Allard yang tak biasa. Pria itu tampak gelisah tanpa alasan. Milly sering kali mendapati Allard yang terlonjak ketika pintu restoran terbuka.
Semua tingkah aneh Allard sudah berlangsung sejak pagi. Pria itu terus saja mencari-cari alasan agar hari ini Milly tidak perlu pergi ke restoran miliknya. Pria itu memaksa Milly untuk menemaninya mengunjungi beberapa tempat wisata yang terkenal di Pulau Dewata, Bali. Sayangnya Milly tak goyah semudah itu. Milly sudah curiga jika semua hanya alasan Allard untuk menghindari sesuatu.
“Tak ada!” Serunya. “Aku tak menunggu siapa pun,” jawab Allard.
“Tingkahmu aneh, Al.”
Dengan niat untuk mengalihkan perhatian Milly, pria itu menghampiri sang tunangan. Milly yang sedang duduk di balik meja kasir sengaja ia peluk dari belakang. Milly yang merasa tak nyaman dengan perlakuan Allard mencoba melepaskan diri dari pelukan pria yang masih berstatus tunangannya, namun sayang usaha Milly kali ini juga gagal.
“Baby, ikut bersamaku yah!” Bisiknya.
“Berhentilah Al! Kamu tahu apa jawabanku,” balas Milly.
Bukan Allard jika menyerah dengan mudah. Bukannya melepaskan pelukannya, pria itu malah semakin mengeratkannya juga mencuri beberapa kali kecupan di pipi tunangannya. Keromantisan sejoli itu menjadi perhatian para pengunjung restoran Milly. Banyak yang memuji jika keduanya sangat serasi jika nanti bersanding. Keromantisan keduanya tak lupa Allard abadikan dengan kamera ponselnya. Dirinya yakin jika setelah ini halaman sosial medianya akan banjir dengan banyak komentar.
Allard sangat bahagia, meski Milly masih bersikap acuh padanya tapi selama wanita itu tak mengusirnya saja dia sudah bersyukur. Tanpa Allard sadari jika apa yang ia lakukan kini menoreh luka pada hati dua pria, Kalvin dan Edric.
Hingga salah satu karyawan Milly menyapa seorang pengunjung yang baru saja masuk. “Selamat pagi, Nona,” sapanya dengan ramah. “Apa Nona sudah melakukan reservasi sebelumnya?” tanya karyawan tersebut.
“Tidak, aku belum reservasi.” Suara wanita itu sengaja ia lantangkan. Sontak dua pasang mata membelalak menatap ke arah sumber suara. Allard, pria itu mematung saat melihat sosok Stella benar-benar ada di hadapannya.
Sosok lain yang juga ikut dikejutkan dengan kehadiran Stella adalah Kalvin. Sebenarnya pria ini tak peduli dan tak ingin peduli dengan urusan Allard dan para wanitanya. Namun jika hal itu bisa saja menyakiti hati Milly, maka Kalvin tak akan tinggal diam. Bergegas Kalvin menghampiri Stella yang berdiri dengan angkuhnya menatap sejoli yang tampak serasi dan sejak tadi mencuri perhatian para pengunjung.
Bergantian Milly mengamati air muka Allard, pengunjung wanita, dan Kalvin. “Siapa dia? Apa kamu mengenalnya?” tanya Milly. Ditatapnya Allard dengan menyelidik, sementara Allard menjawab hanya dengan mengedikkan bahunya.
__ADS_1
“Ikut aku!” Sentak Kalvin pada Stella. Dengan satu lengannya yang digenggam erat Kalvin, wanita cantik itu tak kuasa menolak. Dengan enggan ia mengikuti langkah Kalvin menuju luar restoran. Stella memalingkan wajahnya, sejak dulu dia tak pernah menyukai kehadiran Kalvin. Asisten sekaligus sahabat Allard itu selalu saja menghalangi jalannya untuk menjerat Allard.
“Apa yang kau inginkan? Katakan!” tanya Kalvin dengan ketus, tanpa basa basi.
Kening Stella mengernyit. “Apa yang kuinginkan? Kamu tanya apa yang kuinginkan?” Tanya Stella dengan penekanan di setiap katanya.
“Tanyakan pada Allard! Apa dia mengira bisa menyingkirkan aku dengan mudah? Setelah beberapa tahun terakhir aku bertahan di sisinya, hanya karena wanita itu dia mencampakkan aku seenaknya!” Emosi Stella sudah tak dapat ia bendung. Melihat kemesraan Allard yang sengaja pria itu pertontonkan, Stella merasa jika dirinya selama ini begitu bodoh sebab bersedia dijadikan simpanan Allard.
“Kau!” Telunjuk Kalvin mengarah tepat di depan wajah Stella. “Jangan berani berbuat macam-macam!” Ancam Kalvin.
“Ada apa denganmu? Ini urusanku dan Allard, kau jangan ikut campur!” Tantang Stella. Siapa sangka wanita yang berpenampilan sangat seksi itu sangat berani melawan ancaman Kalvin.
“Aku akan menemui wanita itu dan me-“ ucapan Stella terpaksa terhenti kala Kalvin tiba-tiba saja membungkam dirinya dengan sebuah ciuman yang kasar. “Emmmpphh ... leh-phas-kan!” Stella masih berusaha melepaskan diri dari pelukan dan ciuman Kalvin.
Sementara tak jauh dari sana, Milly dan Allard berdiri mematung melihat adegan yang keduanya kira romantis. Milly sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan, wanita ini khawatir jika dirinya tak sengaja memekik dan mengganggu aktivitas Kalvin dan wanita yang belum ia tahu namanya. Sedangkan Allard yang berdiri di belakang Milly menatap Kalvin dengan penuh rasa terima kasih.
Allard tak akan melupakan peristiwa saat ini. Bukan ciuman Kalvin dan mantan simpanannya, tapi bagaimana Kalvin yang bisa melakukan segala hal untuk menolongnya.
“Hai namaku Milly,” sapa Milly dengan ramah.
Stella dengan berat hati mengakui jika rivalnya ini memang sungguh cantik. Pantas saja Allard, Si kadal itu tak ingin melepasnya, batin Stella.
Dengan setengah hati Stella menyambut uluran tangan Milly. “Stella Brayan,” masih dengan wajah angkuhnya Stella menyambut uluran tangan Milly.
Setelah adegan ciuman Kalvin dan Stella usai, Milly yang menyaksikan semuanya mengajak keduanya untuk makan siang bersama. Akhirnya di sinilah mereka sekarang, duduk dalam satu meja yang sama menanti koki restoran Milly menghidangkan menu spesial yang menjadi andalannya.
“Dia tunanganku dan kami sebentar lagi akan menikah!” Celetuk Allard.
__ADS_1
“Allard!” Sontak Milly melayangkan tatapan tajam pada pria yang sejak tadi tak henti merangkul pinggangnya. Sungguh Milly tak paham dengan sikap Allard yang sangat aneh. Pria itu tampak begitu gelisah, tatapan tajam tak henti ia layangkan pada Stella. Dan semua itu terekam jelas oleh kedua netra Milly.
“Aku Edric, sahabat Milly.” Perkenalan Edric berhasil menghilangkan suasana canggung di meja bundar yang dihuni oleh ke-5 orang itu.
“Jadi, apa kalian berdua sepasang kekasih? Tak kuduga wanita secantik dirimu mau menerima Kalvin yang begitu kaku,” ucap Milly menggoda Kalvin. Wanita itu juga tak segan-segan merangkul lengan Kalvin yang duduk tak jauh darinya. Kedekatan antara Kalvin, Milly, dan Allard sejak kecil memang membuat ketiganya tak pernah merasa canggung satu sama lain.
“Dia bukan siapa-siapaku!” Elak Stella namun segera di sanggah oleh Kalvin. “Kami sepasang kekasih, sebelum Stella mengakhiri hubungan kami.”
Kami sepasang kekasih? Sandiwara apa lagi ini? Batin Stella.
“Kau!” Kini gantian Stella yang mengarahkan telunjuknya ke wajah Kalvin. “Mengapa kau mengaku sebagai kekasihku?”
“Sayang, maafkan aku. Aku mohon kembalilah padaku. Aku berjanji tak akan berbohong lagi,” ucap Kalvin memelas. Tak ada yang tahu jika kini hatinya sedang menahan kekesalan yang luar biasa.
“Maafkanlah dia Stel,” celetuk Milly. Wanita itu tak tega melihat Kalvin, pria yang dianggapnya sebagai kakak memelas cinta seorang wanita hingga seperti ini.
“Aku tahu Kalvin sering bertingkah menyebalkan. Kami bertiga tumbuh bersama, dia sudah seperti kakakku. Itulah sebabnya aku berani menjamin jika dia pria yang baik,” lanjut Milly.
Stella mengangguk, dirinya mulai paham mengapa Kalvin begitu dekat dengan Allard. Kalvin benar-benar menjadi ancaman baginya, sebab ia yakin jika Kalvin pasti akan membela Milly.
“Bagaimana dengan tunanganmu, Milly? Apa dia pria yang baik seperti Kalvin?” tanya Stella.
Air muka kekesalan di wajah tampan Allard tak dapat ia sembunyikan lagi. Ia tahu pasti jika pertanyaan Stella barusan hanya ingin menjebaknya saja.
“Tunanganku?” tanya Milly. Wanita itu sudah tak menganggap Allard tunangannya lagi sejak 3 tahun yang lalu. Itulah sebabnya dia sedikit bingung dengan pertanyaan Stella.
Belum juga Milly menjawab, lagi-lagi Kalvin menyelanya. Kali ini bukan karena sengaja, melainkan ia melakukannya karena terpaksa setelah menerima panggilan dari ayahnya.
__ADS_1
“Kalian berdua harus kembali ke Jakarta sekarang! Semua keluarga Anderson dan Harrison dalam perjalanan mengunjungi kalian!” Pekik Kalvin menimbulkan kepanikan di wajah Milly. Berbeda dengan Allard yang tersenyum mendengar berita itu.
...----------------...