Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 37. Pertanyaan tanpa jawaban


__ADS_3

Sepertinya pilihan Milly untuk berendam adalah pilihan yang paling tepat saat ini. Dua puluh jam berada di udara, rasanya tubuh Milly akan remuk jika tidak segera ia istirahatkan.


Aroma lavender dari lilin aroma terapi yang berada pada tepi bath tub sengaja ia hirup dalam-dalam. Biasanya cara ini ampuh untuk menenangkan pikiran Milly, namun sayangnya saat ini semua usaha wanita itu rasanya percuma saja.


Wanita itu menertawakan betapa malangnya nasibnya. Betapa mudahnya ia mencintai hanya pada satu orang pria, dan semudah itu cintanya itu dihancurkan oleh orang yang sama.


Apakah di luar sana juga banyak wanita yang mengalami hal yang sama denganku? Kepercayaannya ada hanya untuk dikhianati.


Tawa Milly menggema dalam ruangan yang cukup luas untuk ukuran kamar mandi pada umumnya. Maklum saja setiap sudut pada apartemennya dipersiapkan dengan banyak perhitungan dan pertimbangan oleh Allard.


"Allard," gumamnya lirih.


Nama pria yang ia kenal sepanjang usianya itu tak pernah sedetikpun bisa ia hilangkan dari benaknya. Hal itu sontak mengubah tawa Milly menjadi tangis. Tangisan yang berusaha ia redam selama puluhan jam.


Bodoh!


Pengecut!


Dalam hati, wanita yang tengah meraung-raung itu tak henti-hentinya mengumpati dirinya sendiri.


Mengapa aku menghindari semua kenyataan ini?


Harusnya tadi aku langsung saja menemui Al dan wanitanya!


Menuntut kebenaran atas apa yang tertangkap oleh netranya.


Begitulah penyesalan yang ada dalam benaknya.


“Tapi jika melakukan semua itu adalah pilihan yang tepat, lantas setelah itu apa yang kuharapkan akan terjadi?” gumamnya lirih.


Milly menarik napas panjang dan dalam, menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa. Sayangnya sesak di dadanya tak kunjung reda.


Embusan napasnya yang pelan bersamaan dengan Milly yang kini menyandarkan kepalanya pada tepi bath tub.


Memejamkan kedua matanya, ia mencoba mencari ketenangan untuk batinnya. Namun yang terjadi adalah dadanya terasa semakin terhimpit.


"Apa lagi yang bisa kuharapkan?” gumamnya berulangkali.


“Apa aku berharap Al akan memohon-mohon maaf dariku? Lalu atas nama cinta aku akan memaafkannya dan kami akan kembali baik-baik saja seperti dulu?” imbuhnya.


“Haruskah seperti itu?”


"Semudah itukah?"


"Lalu bagaimana dengan kepercayaan yang telah kuberi padanya?"


"Biasakah kepercayaan itu kembali utuh?"


Pada akhirnya, ia juga merasakan lelah bermonolog. Rasanyab sia-sia saja bertanya pada dirinya sendiri yang juga tak tahu apa jawaban yang paling tepat atas semua yang pertanyaan yang sungguh menyesakkan hatinya.

__ADS_1


Sebenarnya, sebesar apa rasa sakit yang wanita itu rasakan hingga dengan mata terpejam pun, air mata tetap saja berlinang dari sudut matanya.


Atau bagaimana jika aku berharap saja jika sekali lagi waktu akan menyembuhkanku? Batin Milly.


Ya, waktu pernah menyembuhkan luka hati Milly. Luka yang timbul saat ia harus kehilangan sang ibunda untuk selamanya.


Saat itu adalah masa terberat dan tersulit dalam sejarah hidup Milly. Beruntungnya, setiap detik yang berhasil ia lewati saat itu ada Al yang selalu bersamanya.


Pri itu selalu siap memberikan bahunya kala wanita itu butuh tempat bersandar, dan jemarinya pun dengan piawai akan mengusap setiapair mata yang jatuh membasahi pipinya.


*Sekarang bagaimana aku harus melewati ini semua?


Bagaimana aku menyembuhkan luka ini? Jika kamu yang kuandalkan, kini menjadi penyebab semua luka ini*?


Tak pernah Milly membayangkan jika Allard akan menodai kepercayaan yang ia berikan.


Begitupun sebaliknya, dirinya juga tak pernah berharap atau membayangkan jika hubungannya bersama Allard akan selalu berjalan mulus, atau berharap jika keduanya selalu bahagia.


Milly sadar jika tentunya akan ada ujian yang akan menghiasi perjalan cinta keduanya.


Namun wanita itu berpegang pada kepercayaan jika hanya bersama Al yang menguatkannya dan melengkapinya, maka semua akan bisa ia lewati.


Lantas bagaima kini ia harus bertahan jika Al sendiri yang telah menghancurkan kepercayaan itu?


Pertanyaan inilah yang belum Milly temui jawabannya. Sekeras apa pun ia berpikir, selama apa pun itu, atau sejauh apa pun Milly mencari, wanita itu tetap tak bisa menemukan jawabannya.


Dirinya juga sudah mencoba untuk mencari alasan untuk kembali percaya pada prianya, namun bayangan kemesraan Allard dengan wanita yang mengaku kekasih dari tunangannya kembali terbayang jelas dalam benaknya.


Semua bayangan menyangkutkan itu membuat Milly tersesat di hatinya sendiri.


Seolah semua cahaya yang menerangi jalan untuk keluar dari permasalahan ini telah redup.


Pada akhirnya dirinya harus pasrah menerima nasibnya untuk terkurung di sana. Di salah satu ruangan pada hatinya, tempat keraguan itu bersarang dan menjadi raja di sana.


...****************...


Entah sudah berapa lama Milly berendam, saat tubuhnya ia rasa mulai menggigil dan bibirnya mulai bergetar hebat. Bahkan sesekali bunyi gemelatuk dari giginya terdengar.


Dengan sisa tenaga yang ia punya Milly berusaha bangkit. Kedua tangannya berusaha meraih tepian bath tub dan bertumpu di sana.


Langkahnya tertatih-tatih menuju walking closet, dipilihnya salah satu baju hangat miliknya untuk segera ia kenakan pada tubuh polosnya yang masih bergetar.


Tempat tidur berukuran king size kini menjadi tujuannya.


“Nyamannya….” Gumam Milly, setelah ia berhasil merebahkan tubuhnya. Selimut tebal yang menutupi tubuhnya hingga sebatas leher menambah kenyamanan bagi tubuhnya, hanya tubuhnya saja.


Kedua netranya mulai terasa berat, Milly tersenyum sebab ia akhirnya bisa memejamkan matanya kembali meski sebelumnya ia harus menenggak beberapa pil obat tidur.


Sebelum benar-benar tertidur, Milly tak lupa untuk menutup semua akses yang bisa mengganggu waktu istirahatnya.

__ADS_1


“Ya, aku butuh istirahat. Sebab kuyakin setelah ini baik hati dan fisikku harus bekerja ekstra,” gumamnya.


Itupun jika aku masih ingin melanjutkan hidupku, batin Milly tepat sebelum kedua netranya akhirnya terpejam sempurna.


...----------------...


Meninggalkan Milly dengan segala usahanya untuk bertahan di saat dunianya seakan runtuh, di belahan dunia lainnya sepasang pria dan wanita kini tengah bergumul hanya untuk mendaki puncak kenikmatan duniawi.


Si wanita yang berada di bawah kungkungan prianya tampak tak berdaya setelah tersihir oleh pesona ketampanan sang pria. Belum lagi kepiawaian pria itu ketika menjamah inci demi inci tubuhnya. Wanita itu semakin yakin jika dirinya tak akan melepaskan pria ini.


Berbeda dengan si wanita, pria itu melakukan semua hal ini hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan biologisnya yang akhir-akhir ini sangat sulit ia redam.


Tanpa sadar, candu akan tubuh tunangannya dan segala kenikmatan yang ia raih saat bersama tunangan yang ia cintai telah menuntunnya untuk berjalan menuju kehancuran hidupnya.


Benar, tanpa pria itu sadari jika perbuatannya saat ini adalah awal bagi kehancuran hidupnya.


Bagaimana tidak jika wanita yang sedang menggumamkan namamya lirih adalah wanita berbeda dari wanita yang kini ada dalam fantasinya. Bukan wanita yang ia cintai, juga bukan tunangannya.


Dering ponsel yang tak kunjung henti, sungguh mengganggu konsentrasi si pria.


“****!!!!” geramnya.


Dengan kasar pria itu melepaskan penyatuan mereka lalu meraih ponsel yang ia letakkan di dalam saku jas miliknya.


Pria itu adalah Allard sedangkan wanita yang menjadi pasangannya adalah Rachel.


Keduanya baru saja meresmikan hubungan mereka sebelum akhirnya berakhir di dalam salah satu kamar mewah sebuah hotel berbintang.


Keningnya mengernyit saat nama asistennya tampak pada layar gawainya.


“Vin,” serunya.


“Di mana lu sekarang?” tanya Kalvin.


“Sepertinya Milly dan Aline ada di sini,” imbuhnya tanpa menunggu jawaban dari Allard.


Sejenak Allard tertegun, pria itu mengatupkan kedua bibirnya yang baru saja hendak mengutuk Kalvin sebab telah mengusik kegiatannya.


Perlahan ia berusaha mencerna setiap kata yang diterima oleh indra pendengarnya.


“Ma-maksudmu, Milly…. Tunanganku, Milly ada di sini?” tanya Al memperjelas semuanya.


“Memangnya ada Milly selain tunanganmu?”


“Lu yakin? Lu sudah periksa semuanya kan?” tanya AL memastikan lagi hal yang tidak ia inginkan akhirnya benar-benar terjadi.


“Gue yakin!” tegas Kalvin.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2