
Milly mengedarkan pandangannya ke setiap sudut restorannya. Meski hanya sebentar, rasanya Milly sudah sangat nyaman tiap kali berada di sana.
Tak hanya Milly yang merasa berat untuk meninggalkan restoran yang ia beri nama Mill Blossom Resto. Para staf, koki, dan pelayan pun turut merasakan kehilangan sosok Milly. Sosok pimpinan yang selalu ramah dan ceria. Mereka semua yakin akan merindukan semua sikap manja Milly, semua candaan Milly, dan semua omelan Milly yang selalu berakhir dengan tawa renyah dari wanita itu.
“Edric, aku titip restoran yah.” Suara Milly bergetar menahan tangis saat harus berpamitan pada sahabatnya.
“Jangan berlebihan, kau bisa datang kapan saja.” Edric melebarkan kedua tangannya agar sahabatnya itu bisa memeluknya sebagai salam perpisahan.
Pelukan antara Edric dan Milly hanya bisa berlangsung sepersekian detik saja, pasalnya Allard segera melerai pelukan kedua sahabat itu. “Ayo baby, kita bisa terlambat ke Bandara,” peringatnya.
Milly mencebik, “Baguslah kalau terlambat. Aku bisa lebih lama di sini,” celetuk Milly namun berbeda dengan langkahnya yang ia percepat menaiki mobil yang sudah siap mengantarnya ke Bandara. Dari dalam sebelum mobil itu berlalu menjauhi restorannya, sekali lagi Milly menatap pada restoran impiannya yang sudah lama ia impikan kini lagi-lagi harus ia tinggalkan.
Sampai kapan aku akan hidup seperti ini? Apa tak masalah jika aku mengeluh menjadi satu-satunya pewaris keluarga Harrison? Mengapa aku harus menjalani apa yang bukan keinginanku?
......................
Perjalanan menuju Ibu Kota terasa sangat cepat, kini Allard, Milly, beserta Kalvin pun sedang membelah padatnya jalanan Ibu Kota menuju apartemen milik Allard.
Allard tampak sungguh bersemangat. Meski harus dengan paksaan, tak pernah ia lepaskan genggamannya dari tangan Milly. Punggung tangan Milly ia kecup berulang-ulang dengan kata cinta yang tak henti terucap dari bibirnya.
Pria itu sudah memiliki tekad untuk merebut hati Milly kembali. Mengetuk pintu hati tunangannya yang tertutup karena ulahnya. Dan semua rencanaku Akan terwujud jika kami selalu bersama, batin Al tersenyum licik memikirkan idenya.
“Silakan masuk Tuan Putri.” Dengan menirukan gaya pelayan kerajaan menyambut seorang putri, begitulah kini Allard mempersilakan Milly masuk ke dalam apartemennya.
Milly mengedarkan pandangannya, mengamati dengan saksama tempat yang mungkin saja menjadi saksi bisu perselingkuhan yang dilakukan Allard.
Luas dan lapang. Tak banyak perabot dengan nuansa warna hitam dan abu-abu yang mendominasi. Sungguh mencerminkan sosok Allard, batin Milly.
“Baby, ayo kutunjukkan kamar kita.” Tangannya memeluk Milly dari belakang, menuntun Milly agar berjalan tetap dalam posisi seperti itu. Pemberontakan dan usaha Milly untuk lepas dari pelukan pria itu, tak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kekuatan dan keras kepalanya seorang Allard.
“Kamar kita? Mimpi kamu!” Gumam Milly yang tak dihiraukan oleh Allard.
Kamar yang berukuran luas, di dalamnya sudah tersedia tempat tidur ukuran king size. Meja rias dengan cermin lebar, ditambah dengan walk in closet yang sudah terisi banyak jenis pakaian. Semua hal itu sesuai selera Milly.
Sebanyak itu kamu tahu tentangku Al, batin Milly.
__ADS_1
Pintu hatinya sedikit terketuk karena semua hal yang Al lakukan untuknya. Meski ingin berbohong, namun dalam hati Milly menyadari jika dirinya masih mencintai Allard. Dan cinta itu pula yang membuatnya masih merasakan kekecewaan hingga detik ini.
Setelah tur singkat apartemen yang diberikan Allard, kini keduanya duduk saling berhadapan di ruang kerja pria itu. “Baby, apakah kamu tahu maksud Daddy Robert memintamu untuk tinggal di sini bersamaku?” tanya Al.
Milly menjawab dengan anggukan. Sebelum Milly berangkat, sudah berulang kali Daddy-nya mengingatkan agar Milly belajar dengan baik untuk mengelola perusahaan.
“Karena itu sudah kuputuskan, mulai besok kamu akan menjadi sekretarisku di perusahaan,” ujar Allard.
“Apa? Aku? Aku jadi sekretarismu?” Milly tak percaya Allard mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapatnya.
“Dasar pemaksa!” Geramnya. “Harusnya kamu bertanya dulu padaku, apakah aku bersedia atau tidak?”
“Aku hanya menjalankan perintah Daddy, baby,” ucap Allard membela diri.
“Baiklah karena kamu sudah memutuskan satu hal, maka biarkan aku memutuskan satu hal juga.” Tak ingin kalah dari Allard, Milly mengajukan pula tuntutannya.
“Aku ingin punya apartemen sendiri,” ujarnya.
Helaan napas berat Aku terdengar. “Baby, tapi apartemen ini juga milikmu. Kita bisa tinggal di sini bersama.”
“Baby! Apa maksudmu? Aku tak pernah seperti itu,” ujar Allard tak terima dengan tuduhan tunangannya.
“Ya sudah, jika kamu tak mengizinkanku memiliki apartemen sendiri maka aku juga tak mau jadi sekretarismu.” Milly tetap teguh pada pendiriannya.
“Baby, kumohon kali ini menurutlah,” pinta Allard.
“Menurut? Menurut seperti apa yang kamu maksud, Al?” Tanya Milly. Ada penekanan di setiap katanya menandakan jika wanita ini mulai terbawa emosi.
“Selama 19 tahun hidupku aku begitu mempercayaimu. Aku diam saja saat kamu mengekang hidupku, aku menuruti semua inginmu. Tapi di belakangku apa yang kamu lakukan, huh?” tantang Milly.
Entah keberanian dari mana, Milly mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Dan semua kebenaran itu bagai menampar Allard. Lidah Allard keluh tak bisa membantah ucapan Milly sebab semuanya adalah benar adanya.
Allard mengakui jika dirinya telah melakukan kesalahan. Meski tak pernah membagi hatinya pada wanita lain, namun dirinya telah berani bermain dengan ketulusan dan kesetiaan.
Meski hatinya menolak namun apa daya Allard, ia tak ingin Milly semakin membencinya. “Baiklah baby, kamu akan mendapatkan yang kamu mau.” Putus Allard akhirnya. “Tapi tidak sekarang, setelah semua keluarga kita pulang baru kamu boleh pindah ke apartemenmu sendiri,” imbuh Al.
__ADS_1
Milly mengangguk menyetujui keputusan Allard, dirinya juga tak ingin menimbulkan kecurigaan dari kedua keluarga yang tak lama lagi akan datang mengunjungi mereka.
“Baiklah baby, sudah cukup untuk malam ini. Ayo kita beristirahat,” ujar Al dengan senyumnya yang penuh arti.
Mulai saat ini, aku harus memanfaatkan setiap detik kebersamaan bersama Milly, batin Allard.
......................
Pagi ini senyum Allard tak secerah bayangannya. Ia pikir semalam dirinya bisa kembali tidur nyenyak sambil mendekap Milly. Namun semua hanya bisa Allard wujudkan dalam mimpi, pasalnya Milly memaksa Allard untuk tidur di sofa. Wanita itu mengancam akan tidur di hotel jika Allard menolak. Sekali lagi Allard mengalah demi misi mendapatkan cinta Milly kembali.
Awan mendung yang menyelimuti paginya segera ia hempaskan ketika melihat Milly sibuk memasak di dapur apartemennya. Melihat wanita yang ia cintai menyiapkan sarapan untuknya adalah salah satu pemandangan terindah dalam hidup Allard. Aku semakin bersemangat meluluhkan hatinya lagi, dia harus segera menjadi istriku! Tekad Allard dalam batinnya.
Kalvin tiba bersamaan dengan Allard dan Milly yang baru saja menyelesaikan sarapannya. “Yah ... aku terlambat. Kalian berdua jahat, tak menungguku untuk sarapan bersama,” seru Kalvin.
Milly tergelak melihat ekspresi wajah Kalvin saat merajuk, “Tenanglah, aku tak mungkin melupakanmu. Aku sudah menyiapkan untukmu juga,” bujuk Milly.
“Lagian kenapa kamu terlambat, Vin? Apa kamu menghabiskan malammu dengan memohon cinta lagi pada Stella?” tanya Milly berniat menggoda Kalvin.
Sontak saja Allard tersedak air yang sedang ia minum, sedangkan Kalvin terbatuk-batuk karena tersedak makanannya. Milly menatap bingung pada keduanya, “Ada apa dengan kalian berdua? Kalian berdua sungguh sehati, tersedak pun kalian lakukan bersama,” celoteh Milly.
......................
Sementara itu Anderson Group kini disibukkan dengan penyambutan sekretaris baru yang juga merupakan tunangan dari sang pewaris perusahaan.
Sebuah pesta penyambutan untuk Milly telah Allard siapkan. Dia ingin wanita itu dikenal oleh seluruh karyawannya tak hanya sebagai sekretarisnya melainkan dikenal juga sebagai calon istrinya.
Kini seluruh penjuru Anderson Grup sedang menanti kehadiran sang pewaris perusahaan yang sebentar lagi akan tiba bersama calon istrinya. Hampir seluruh karyawan membicarakan mengenai Allard dan Milly, banyak juga yang penasaran ingin melihat secara langsung sosok cantik yang beruntung telah dicintai oleh Allard.
Sementara itu, di ruangan direktur utama Anderson Grup sepasang ayah dan anak sedang merencanakan sesuatu. Berita mengenai Milly Harrison yang akan bekerja di Anderson Grup menarik perhatian paman Allard, Marvin Benedict. Sebuah rencana licik telah ia siapkan untuk menghancurkan Allard, dan kali ini ia akan meminta bantuan putranya Erlan Benedict.
“Ayolah Erlan, pikirkan baik-baik.” Bujuk Marvin pada putranya. “Sekali tepuk dua lalat. Kita bisa menghancurkan Allard dan kau juga bisa menguasai Harrison Grup,” imbuhnya.
“Kau tak tahu saja bagaimana berpengaruhnya wanita itu, dia adalah satu-satunya pewaris Harrison Grup. Ayah yakin kau akan menyetujui rencana ayah jika telah bertemu dengan wanita itu secara langsung,” ungkap Marvin.
...----------------...
__ADS_1