Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 35. Kekecewaan Milly


__ADS_3

Malam ini Milly berdandan sangat cantik. Mengenakan mini dress off shoulder hingga tampaklah leher jenjang yang selalu membuat tunangannya rindu.


“Kamu cantik sekali Baby,” puji Al.


Wanita itu tersenyum pada Allard, pria yang tak pernah bosan memuji dirinya.


Tak bisa dipungkiri jika Milly cukup terganggu dengan pesan pada ponsel Allard yang tak sengaja ia baca. Pesan dari seorang wanita bernama Rachel untuk tunangannya Allard.


Ia merutuki kebodohannya yang gegabah telah menghapus pesan tersebut. Seandainya ia biarkan saja, mungkin saat ini dirinya tak perlu menerka-nerka seorang diri.


Ya, benak wanita otu kini dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.


Siapa Rachel?


Sedekat apa hubungan keduanya hingga minum bersama, bahkan wanita itu mengaku telah diantar pulang oleh Al?


Dan yang terakhir, adalah pertanyaan yang paling mengusiknya malam ini.


Jika yang wanita itu katakan benar, apa Allard akan menerima ajakan wanita itu untuk makan malam romantis?


"Harusnya aku tak bertindak ceroboh,” lirih Milly.


“Ceroboh? Siapa yang telah berbuat ceroboh?” tabnya Al.


Milly tak menjawab, hanya senyuman canggung yang ia tampilkan.


Dan benar saja, bukan Al namanya jika ia tak tahu banyak hal perihal wanitanya.


“Ada apa baby?” Apa kamu baik-baik saja, huumm?” tanyanya.


“Ya, tentu saja.” Jawab Milly singkat.


Baiklah, Milly mengakui jika dirinya bukanlah seseorang yang pandai menyembunyikan perasaannya.


“Benarkah? atau apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?” tanya Al.


Pria itu ragu dengan jawaban tunangannya.


Baik-baik saja, tapi sorot matanya mengatakan jika ada sesuatu yang membebani pikirannya. Batin Al.


Milly menggeleng.


Al mengenal Milly sejak hari pertama ia menyapa dunia.


Sudah jelas Milly berbohong, Allard yakin. Namun yang menjadi masalahnya adalah apa yang mengganggu pikiran wanitanya.


Sejak kemarin, Al selalu bersama MIlly. Tak pernah sekalipun ia tinggalkan wanitanya.


Mengapa selalu saja ada masalah saat aku hendak pergi lagi! Batin Al.


Tersisa satu harapan Al untuk mengembalikan suasana hati tunangannya.


Semoga kejutannya malam ini membuat Milly bahagia dan tak merasa kesepian lagi saat ia tak berada di sisinya.


...****************...


Akhir pekan memang adalah waktu yang tepat bagi orang-orang yang telah lelah beraktivitas, untuk memulihkan kembali tenaganya untuk kembali bekerja keesokan harinya.

__ADS_1


Mungkin itu adalah salah satu penyebab jalanan malam ini cukup padat oeh kendaraan lain yang berlalu lalang.


Allard dan Milly tiba di sebuah restoran yang menyajikan makanan dari Negeri tempat di mana menara Eiffel berada.


Dari luar saja kesan mewah terasa sangat mendominasi. Syukurlah Milly sudah sangat tahu bagaimana selera pria itu, hingga ia bisa menebak seperti apa tempat yang akan mereka tuju dan Milly telah menyesuaikan dengan pakaiannya.


Dua orang pelayan menyambut sepasang kekasih itu dengan sangat ramah.


“Apa Anda sudah melakukan reservasi sebelumnya Tuan?” tanya pelayan dengan ramah.


“Ya, Allard Anderson.” Dijawab singkat oleh Al.


Pelayan tersebut berjalan lebih dulu. Menuntun Allard yang terus merengkuh pinggang Milly.


Dalam hati Milly memuji konsep restoran ini. Dari yang ia amati, restoran ini sangat mengutamakan privasi bagi pelanggannya.


Meja yang satu dengan yang lainnya cukup berjarak. Hingga bisa dipastikan restoran ini tak menerima banyak pelanggan.


Selagi sibuk mengamati keadaan disekitarnya, kakinya terus melangkah mengikuti ke mana arah Allard menuntunnya.


Sebegitu besar kepercayaan Milly pada prianya.


Bahkan jika ia harus berjalan dengan mata tertutup, ia hanya akan percaya pada arah yang ditunjukkan oleh Allard.


“Silakan Tuan, Nyonya... saya permisi.” Pelayan tadi undur diri dengan sopan.


Siapa mereka? Apa malam ini kami tak hanya makan malam berdua saja? Batin Milly saat melihat ada sosok pria dan wanita yang lebih dulu duduk di meja yang di pesan Allard.


“Selmat malam, terima kasih telah meluangkan waktu kalian,” sapa Al.


Keduanya berbalik bersamaan.


Dan mengejutkannya karena yang mengundang mereka adalah Allard.


Tunangannya, yang sebelumnya mencurigai kedua orang ini.


“Another surprise My baby lily....”


Ucap Al dengan senyum yang sangat tampan.


Jangan tanyakan lagi, sudah pasti hati Milly dibuat hampir meleleh karena hangatnya senyuman prianya.


...****************...


Waktu berlalu begitu cepat, hubungan jarak jauh MIlly dan Allard berjalan layaknya hubungan jarak jauh lainnya yang sarat akan pasang surut.


Entah sudah berapa kali Milly menghela napas. Pasalnya sejak kemarin tunangannya tidak bisa dihubungi.


Sedangkan seminggu lagi hari ulang tahun keduaanya. Saat hari itu tiba, usia Milly akan genap 19 tahun sedangkal Allard akan berusia 24 tahun.


Wanita cantik itu hari ini sangat bersemangat membicarakan tentang rencananya dalam menyiapkan kejutan ulang tahun untuk sang kekasih


“Aline, lihatlah... menurutmu apa Allard akan menyukai pesta yang aku siapkan?” tanya Milly.


“Rasanya sulit sekali memutuskan setiap detail mengenai pesta kejutan ulang tahun ini,” keluhnya.


“Sabar, untuk orang paling spesial dalam hidupmu... kurasa ini akan sepadan untuknya,” komentar Aline.

__ADS_1


Milly menghela napas pelan, “Sejak dulu Al yang selalu menyiapkan ulang tahun kami, aku selalu menjadi pihak yang diberikan kejutan,” ungkapnya.


“Coba tanyakan pada Edric, dia kan pria tentunya dia tahu apa saja yang disukai pria saat mereka ulang tahiun,” imbuh Aline


Setuju dengan saran Aline, sontak keduanya beralih menatap Edric yang sedang asik mendengarkan musik lewat head phonenya.


Merasa mendapat tatapan tajam dari dua sahabatnya, Edric melepaskan headphonenya, “Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu, hum?”


“Dric... please... bantu aku,” pinta Milly.


“Menurutmu, saat pria berulang tahun, apa yang paling ia inginkan?” tanya Milly.


“Wanita... ber- cinta,” jawab Edric jujur, namun terdegar asal-asalan oleh Milly.


“Edric!” pekik MIlly.


“Seriuslah sedikit!” Ujar Milly dengan sisa-sisa rona merah di pipinya.


Wanita itu merona malu saat mendengar jawaban Edric, pasalnya untuk jawaban Edric tadi sudah ia persiapkan dengan sangat baik.


Suasana hati Milly benar-benar mudah sekali berubah-ubah.


Beberapa saat yang lalu dia tampak sangat bersemangat dan antusias, lalu tiba-tiba saja semangatnya itu hilang entah kemana.


Milly duduk di samping Aline, kepalanya ia sandarkan pada pundak sahabatnya0 itu.


Ya, sahabat... MIlly, Aline,dan Edric.


Sejak malam itu, Allard tak lagi menghalangi Milly saat wanita itu ingin menjalin persahabatan dengan Aline dan juga Edric.


Meski sesekali tetap saja jiwa pencemburunya tetap mendominasi, dan Al mencurigai Edric yang ia pikir memiliki perasaan pada tunangannya.


...****************...


“Baby... kumohon mengertilah,” ucap Allard.


Tampak penyesalan di wajah Al.


Saat ia melihat Milly, wanita yang ia cintai tengah menagis tersedu-sedu.


Penyesalannya semakin berlipat-lipat sebab orang yang telah membuat wanita itu menangis adalah dirinya.


“Tapi... a-a-aku sudah susah payah menyiapkan pesta ulang tahun kita,” jawab Milly dengan terisak.


“Maafkan aku baby, tapi sungguh pada hari itu aku benar-benar tak bisa menemuimu.


“Bukan karena inginku baby, tapi ini semua tuntutan atas tanggung jawabku sebagai pemimpin perusahaan di sini,” imbuh Al.


Setelah panggilan video bersama Milly berakhir, Al Mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


Padahal dia sudah berpikir keras, memilih kata-kata yang sekiranya bisa mengurangi kemarahan dan kekecewaan Milly.


Sayangnya wanita yang memiliki seluruh hatinya itu tetap saja menangis, dan tangisnya itu sungguh melukai hati Allard.


Ceklek...


Pintu kamar Allard terbuka.

__ADS_1


“Sayang, ayo makan dulu. Aku sudah siapkan makan malam untuk kita berdua.”


...****************...


__ADS_2