
“Milly!”
Wanita cantik dengan gaun mini berwarna merah maroon sontak menatap dengan enggan kepada pemilik suara bariton yang baru saja meneriakkan namanya.
Tap tap tap
Derap langkah dari sepatu hak tinggi yang menghiasi kakinya, menemani langkah Milly menuju ke arah pria itu.
Kamu kuat Milly, kamu bisa! Ujarnya dalam hati untuk menyemangati diri sendiri.
Ternyata untuk lepas dari pengaruh Allard sungguh berat bagi Milly. Namun tekadnya sudah bulat, malam ini akan ia jadikan akhir dari kisah yang mereka rajut sejak belasan tahun silam.
Kalung dengan liontin yang berbentuk setengah bagian tubuh kupu-kupu tampak menghiasi leher jenjangnya. Kontrasnya warna kalung itu dengan leher jenjang Milly yang putih tampak semakin menawan saat bertahta di sana.
“Dari mana saja kamu? Haruskah kamu berbohong hanya untuk menghindariku?” Bentak Allard.
Bahkan jarak mereka masih tersisa beberapa langkah lagi, namun emosi pria itu sudah meledak ketika melihat ada pria lain dengan mesranya membukakan pintu mobil untuk wanita yang berstatus tunangannya.
Seringai yang pagi tadi mengejutkan Allard, malam ini tampak lagi dari bibir berwarna merah Milly.
“Kamu yakin ingin membahas soal kebohongan, huh?”
“Apa maksudmu? Bicara yang jelas Lily!” balas Al tak mau kalah. Pria ini benar-benar sudah terbakar api cemburu.
“Melihatmu datang kemari bersama pria lain, aku menyangsikan alasan apa yang akan kamu berikan setelah ini,” imbuhnya.
“Alasan? Siapa yang akan memberi alasan,” ujar Milly.
“Aku tak akan mencari alasan, aku memang menghindarimu, aku memang tak ingin kemari bersamamu. Dan a-a-aku tak ingin kita bersa-“ ucapan Milly terjeda oleh seruan suara bariton lainnya.
“Allard! Milly!” seru Daddy Robert yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu restoran.
Pasangan yang berstatus tunangan itu menoleh bersamaan ke arah sumber suara.
Dari raut wajah Daddy Robert Milly, Allard, dan Edric pria yang datang bersama Milly tahu jika kini pria paruh baya itu sedang panik.
“Ada apa Daddy? Apa yang terjadi?” Cecar Milly. Batinnya yakin jika sedang terjadi sesuatu yang buruk.
“Dari mana saja kalian?” tanya Daddy Robert.
“Ka-ka-kami baru saja tiba, maaf jika kami terlambat.” Jawab Allard mendahului Milly yang hendak membuka suara.
“Kami?” gumam lirih Milly saat menyadari jika salah satu tangan Allard telah melingkar posesif di pinggang rampingnya.
“Sudah-sudah, sekarang siapkan saja mobilmu. Carol pingsan!” ungkap Daddy Robert.
“Apa? Mommy pingsan?!” Seru Al dan Milly bersamaan.
Tak ingin membuang waktu lagi, segera Allard berlari menuju mobilnya yang ia parkiran tak jauh dari sana sedangkan Milly mengikuti langkah Daddy-nya yang kembali masuk ke dalam restoran.
“Mom-mommy ...” ucapnya dengan suara bergetar menahan isak tangisnya.
“Apa yang terjadi Dad?”
“Mengapa Mommy Carol tak sadarkan diri?” cecar Milly pada ayahnya.
__ADS_1
Bagaimanapun wanita paruh baya yang merupakan calon mertuanya itu selama ini sudah merawatnya dengan sangat baik.
Sejak ibunya meninggal dunia sebelas tahun yang lalu, bukan hal yang mudah bagi Milly untuk bertahan. Namun kehadiran Mommy Carol yang senantiasa memberikan cinta dan kasih sayang layaknya seorang ibu, mampu menguatkan Milly untuk bertahan, mengisi sebagian kekosongan ruang di hatinya yang rindu akan kasih sayang seorang ibu.
“Milly ... kesayangan Daddy,” seru Daddy Robert menyadarkan Milly dari lamunannya.
“Hei, Carol tak apa-apa sayang. Dia hanya kelelahan saja,” imbuh Daddy Robert menenangkan putrinya.
Milly mengangguk seraya mengusap pipi mulusnya yang telah dibanjiri air mata.
Ia ikuti langkah kaki Daddy-nya, juga Daddy Sean yang membawa Mommy Carol dalam gendongannya.
Sejenak Milly melupakan semua yang dia niatkan malam ini, hingga Allard mencengkram pergelangan tangannya.
“Kamu, ikut bersamaku!” sentak Al.
“Lepaskan aku!” tolak Milly. “Aku akan pergi bersama Daddy,” imbuhnya.
Al mendekat dan berbisik tepat di telinga tunangannya. “Menurutlah seperti biasa baby, jangan buat keributan di saat seperti ini.”
Milly masih ingin keras kepala dan menolak ikut bersama Al, namun seruan Daddy Sean yang sudah berada di dalam mobil milik Allard membuat Milly mengurungkan niatnya.
Dengan enggan Milly mengikuti kemauan Al kali ini. Sepanjang perjalanan wanita itu tak sekalipun memperhatikan Allard, setiap ucapan pria itu bagai angin lalu bagi Milly.
Tak butuh waktu lama bagi Allard melajukan mobilnya hingga kini beberapa mobil yang beriringan telah tiba di rumah sakit.
Sepertinya sudah ada yang lebih dulu menghubungi pihak Rumah Sakit, pasalnya di depan pintu IGD beberapa dokter dan perawat tampak siaga menanti kedatangan pasien.
“Malam Tuan Anderson,” sapa salah satu dokter dengan ramah.
“Tolong istri saya!” pekik Daddy Sean.
Betapa Daddy Sean takut kehilangan Mommy Carol, tampak tergambar jelas dari raut wajah tampannya yang kini sangat cemas.
Sama halnya dengan putranya, Allard. Pria itu juga tak ingin tunangannya menjauh darinya seperti apa yang telah direncanakan sang tunangan.
Dengan posesif tangan Allard terus saja menggenggam tangan Milly. Sebenanrya dia merindukan hangatnya pelukan Milly yang bisa menenangkannya di saat seperti ini.
Sayangnya yang diharapkan tak akan jadi kenyataan.
Beberapa menit menanti dalam kecemasan, tak lama dokter yang memberikan tindakan medis pada Mommy Carol muncul.
“Nyonya Anderson baru saja mengalami serangan jantung ringan.” Ungkap dokter.
“Sepertinya hal ini terjadi karena Nyonya memiliki banyak aktivitas yang membuatnya kelelahan, tolong agar kegiatan Nyonya lebih dibatasi lagi.”
“Kelelahan ini bisa menjadi pemicu terjadi serangan jantung dikarenakan tekanan ekstra pada jantung ketika mencoba memompa sementara area aliran darah tersumbat.”
“Juga kami harap pihak keluarga bisa membantu untuk menjaga kestabilan emosi beliau,” ungkap dokter.
Dua keluarga yang bersahabat dan sudah selayaknya saudara itu mendengarkan penjelasan dokter dengan saksama.
“Apa benar Mommy memiliki riwayat penyakit jantung?” Tanya Allard pada Daddy Sean.
“Entahlah Nak, Daddy pun baru mengetahui hal ini hari ini,” aku Sean.
__ADS_1
“Sudahlah, mengetahui hal ini lebih cepat bukannya lebih baik, kita bersama-sama bisa menjaga Carol,” ujar Daddy Robert mengemukakan pendapatnya.
Sementara semua orang sedang berbincang serius mengenai kondisi kesehatan Mommy Carol, dengan perlahan Milly melangkah mundur.
Hingga langkahnya terhenti saat kakinya menabrak sebuah kursi besi yang cukup panjang.
Milly mendudukkan dirinya di sana, fakta mengenai penyakit yang diderita Mommy Carol tentunya akan membawa pengaruh besar padanya.
Mana mungkin aku akan mengatakan yang sebenarnya saat ini? Pikir Milly.
“Ada apa sayang? Daddy lihat kamu lebih banyak diam,” tanya Daddy Robert.
Pria itu menyadari keanehan tingkah putrinya. Hingga ia pun memberanikan diri untuk bertanya.
Milly menggeleng, “Aku hanya takut terjadi sesuatu yang buruk pada Mommy Carol.”
“Ya, Daddy pun sama denganmu.”
“Kamu tahu ... Carol mengatakan jika tak lama lagi, kamu akan setuju untuk menikah dengan Allard. Benarkah itu?”
Kening Milly mengernyit.
Siapa yang mau menikah? Lelucon dari mana ini! Batin Milly.
“Kata siapa? Aku tak ada niat untuk menikah dengan Allard.” Ungkap Milly dengan hati-hati.
“Apa maksudmu Nak? Jangan main-main Milly,” peringat Daddy Robert.
“Harus kamu ingat jika hubungan kalian itu tak hanya melibatkan kalian berdua. Lihatlah ke sekelilingmu, ada banyak orang yang terlibat dalam hal ini.” Jelas Daddy Robert.
Milly mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Di lihatnya kedua kakek yang bersahabat itu tampak sedang berbincang serius, lalu tampak pula Daddy Sean dengan raut wajah khawatirnya.
Lalu netra Milly berhenti pada pintu ruangan tempat Mommy Carol sedang di rawat.
Benar kata Daddy, akan ada banyak hati yang terluka jika aku mengatakan yang sebenarnya.
Lalu netranya berhenti mengitari sekitarnya saat mendapati ada sepasang netra lain yang juga menatapnya.
Dua pasang manik mata saling beradu pandang, pandangan yang berbeda dari biasanya.
Entah ke mana perginya tatapan penuh cinta dan kerinduan yang biasa mereka beri, yang pasti saat ini kedua manik mata itu seolah sedang mengungkapkan kekecewaan yang sama-sama mereka pendam.
Milly yang lebih dulu mengalihkan tatapannya saat ia menyadari jika Al melangkah mendekat padanya.
“Ayo baby, sebaiknya kita pulang dulu. Kamu harus beristirahat.”
“Aku tak akan ke mana-mana. Aku akan di sini hingga Mommy Carol sadar,” tolak Milly.
“Biarkan Mommy istirahat, kamu pun juga butuh istirahat setelah seharian ini kamu pergi entah ke mana,” bujuk Allard sembari menyindir Milly.
Daddy Robert menyadari jika pasangan muda-mudi ini dalam keadaan tidak baik-baik saja dan membutuhkan waktu berdua untuk bicara.
“Benar kata Allard, pulanglah lebih dulu sayang. Daddy akan segera mengabari kalian jika Carol sudah sadar, dan kamu bisa kembali kemari menemuinya,” ucap Daddy Robert berkomentar.
Milly, si anak manja namun penurut terpaksa mengangguk tanda ia setuju dengan usulan sang ayah.
__ADS_1
“Ayo baby, kita harus pulang dan selesaikan semuanya,” bisik Allard saat keduanya berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
...****************...