Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 60. Kekhawatiran Allard


__ADS_3

Di sebuah kafe yang lokasinya tak jauh dari perusahaan Anderson, Edric baru saja tiba setelah mendapat ajakan bertemu dari Allard.


“Kupikir sebentar lagi kita akan menjadi sahabat. Lu semakin sering menghubungi gue untuk bicara berdua.” Canda Edric disusul dengan gelak tawanya yang cukup nyaring.


Allard sampai mengedarkan pandangannya ke sekeliling, takut-takut jika ada pengunjung kafe lain yang terganggu dengan tawa dari orang yang sedang ia temui. Sesungguhnya Al juga tak ingin menemui pria ini. Edric, pria yang sampai saat ini diakui oleh Milly sebagai pria yang dicintainya.


“Andai saja bukan hal penting, gue nggak akan mau nemuin lu!” balas Allard.


“Gue nggak punya banyak waktu, jadi nggak akan basa-basi,” imbuhnya.


Setelah Edric menempati kursi tepat di hadapannya, Allard segera menyampaikan maksudnya. “Selama seminggu, gue akan pergi ke luar kota. Selama itu, gue minta lu untuk jagain Milly,” titah Al.


Edric mengangkat kedua alisnya bersamaan. “Lu gak salah minta gue yang jagain Milly?”


“Jangan memancing emosi gue!” balas Allard.


“Siapa yang mancing … gue tahu, Milly sangat berarti bagi lu. Makanya gue mau kita benar-benar harus saling percaya dulu,” jelas Edric.


Berlama-lama bersama Edric, jangan salahkan Allard jika dirinya bisa saja lepas kendali. Pria di hadapannya ini, sangat menguji kesabarannya.


“Jangan berlebihan. Gue hanya minta lu jagain Milly selama seminggu. Karena Gue yakin, hanya lu yang nggak akan menyakiti Milly.” Intonasi suara Allard sudah mulai meninggi. Rasanya kesabarannya sebentar lagi akan sampai pada batasnya.


“Lu benar! 100% lu benar,” ujar Edric masih dengan gaya bicaranya yang sangat santai.


“Gue gak akan mungkin nyakitin Milly. Tapi apa lu yakin dia nggak akan minta, gue bawa dia pergi?” lanjutnya.


“Pergi?” Allard tertawa. “Milly nggak akan ke mana-mana!” tegasnya kemudian.


Raut wajah ceria milik Edric mendadak lenyap. “Gue nggak akan ragu jika Milly yang meminta,” ungkapnya.


Cukup, Allard tak lagi bisa berlama-lama bicara bersama pria di hadapannya. Percuma saja pikirnya. Kehilangan proyek besar itu atau membawa serta Milly bersamanya menjadi dua kemungkinan di benak Allard.


Sontak Allard berdiri dari kursinya dengan kasar. “Gue gak akan membiarkan itu terjadi!”


Baru saja Allard hendak berbalik dan pergi, Edric yang tadinya berubah serius mendadak tergelak. Dalam benak Allard sempat terpikirkan mungkinkah Edric sudah tidak waras.

__ADS_1


“Hei … hei … hei … lu mau ke mana? Omongan gue yang tadi tidak serius. Maaf, maaf jika candaan gue keterlaluan.” Edric berdiri dan menuntun Allard agar kembali duduk. Kening Allard terus mengernyit saat menatapnya.


“Jangan main-main dengan gue! Gue nggak punya waktu untuk itu,” balas Allard.


“Iya, iya, maaf. Seandainya pun aku serius, tenanglah … hal itu tak akan mungkin terjadi,” ucap Edric.


“Sejujurnya selama ini gue menyangsikan cinta Milly ke lu. Gue merasa lu terlalu percaya diri dan terlalu memaksakan perasaan ke Milly.”


“Namun hanya beberapa hari melihat kalian bersama, aku yakin jika apa yang diucapkan Milly tak sesuai dengan hatinya. Dia mencintai lu, bro,” aku Edric.


“Semua yang dikatakan Milly mengenai hubungan gue dan dia adalah kebohongan. Gue dan Milly nggak pernah memiliki hubungan lebih dari sebatas sahabat.”


“Yang dicintainya sejak dulu hanya lu,” tegas Edric sekali lagi.


Sementara Allard bungkam, tak dapat berkata-kata. Akhirnya, selain dirinya ada juga orang lain yang bisa merasakan cinta Milly padanya.


Jika, selama ini ia selalu bersikap percaya diri dengan mengatakan jika Milly mencintainya. Sesungguhnya itu hanyalah tameng agar keraguannya tak terlihat oleh orang lain.


“Lu gak perlu ragu untuk terus perjuangin Milly kembali. Sebab jika Milly memang ingin meninggalkanmu, dia dapat melakukannya dengan mudah sejak dulu. Tapi, lihatlah … kenyataannya dia lebih memilih tersiksa untuk tetap bertahan di sisimu,” komentar Edric.


Petuah dari Edric sukses memantik semangat dalam diri Allard. Pengakuan dari Edric, semakin membuatnya yakin jika Milly-nya yang dulu akan segera kembali. Setelah sekian lama mengenal Edric, baru sekarang Allard merasa dia mulai menyukai pria itu.


Merasa tak perlu juga tak tahu harus berkomentar apa atas semua pendapat Edric, Allard memutuskan untuk segera pergi. Membahas Milly, membuatnya merindukan wanitanya.


“Gue pergi! Lu harus jagain Milly. Gue percayain dia bersama lu,” ucap Allard sebelum berlalu pergi.


...…….....


Hari ini Allard juga Kalvin akan berangkat keluar kota. Sejak semalam, Milly sudah bosan mendengar semua larangan-larangan yang Allard berikan padanya.


Rupanya, hal itu belum berakhir hingga pagi ini. Allard tak henti-hentinya mengingatkan Milly ini dan itu. Bahkan hingga pria itu hendak naik ke mobilnya.


“Kumohon, jangan mengabaikan panggilan teleponku,” pinta Allard yang di balas anggukan oleh Milly.


Kedua tangannya menangkup wajah Milly hingga wanita itu tak dapat menghindar dari serangan Allard. Dikecupnya kening, pipi, hingga bibir wanitanya. “Jangan ke mana-mana tanpa sepengetahuanku.”

__ADS_1


“Jangan khawatir, aku sudah menambahkan keamanan di rumah ini. Juga ada Edric yang akan menemanimu selama aku pergi. Berhati-hatilah, Baby,” ungkap Al.


Milly menggeleng, ia pikir bukan dirinya yang khawatir tetapi Allard. “Ya, terima kasih. Tapi harusnya kau juga katakan hal itu pada dirimu. Yang khawatir berlebihan di sini bukan aku, tapi kamu.”


Allard tergelak mendengar penuturan Milly, semua yang dikatakan tunangannya itu memang benar. “Ya, aku mengakuinya. Semua itu karena aku sangat mencintaimu,” aku Allard yang diakhiri dengan memberi ciuman mesra di bibir Milly.


Begitulah perpisahan dramatis antara dua sejoli tersebut berakhir pagi itu.


Namun bukannya berakhir begitu saja, Allard benar-benar melakukan apa yang ia katakan sebelumnya. Pria itu tak pernah henti menghubungi Milly. Mengingatkan wanitanya untuk makan, beristirahat, meminum obatnya atau hanya ingin sekedar melihat wajah cantik tunangannya.


Mendapat perlakuan seperti itu, Milly menjadi mengingat masa-masa saat pertama kali mereka harus menjalani hubungan jarak jauh. Rasa rindu akan kehadiran sosok Allard di sisinya, kembali dirasakan Milly. Ia juga mulai kembali menikmati perasaan berdebar kala menanti panggilan telepon dari Allard.


Terkadang Milly bersungut-sungut hingga menggerutu seorang diri saat dirasa Allard telah lama tak menghubunginya. Edric yang memenuhi janjinya untuk menemani Milly, hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah sahabatnya itu.


“Kalau memang masih cinta, mengapa harus terus jual mahal? Kesabaran pria ada batasnya, Mil.” Nasihat dari Edric yang akhirnya mengusik pikiran Milly.


Hingga genap seminggu Allard pergi dan rindu Milly semakin membuncah. Seharian ini ia terlihat uring-uringan dan tak bersemangat. Sejak pagi Allard hanya menghubunginya sekali, yaitu saat membangunkan Milly. Lalu Edric yang biasanya datang di pagi hari untuk sarapan bersama, juga belum menampakkan wujudnya meski hari sudah siang.


Milly bergegas meraih ponselnya saat mendengar bunyi notifikasi pesan. Senyumnya mengembang saat membaca deretan kata dari isi pesan yang baru saja ia terima. Bergegas Milly mengganti pakaiannya dan bersiap-siap untuk pergi.


Dengan menggunakan taksi yang telah ia pesan via aplikasi online, Milly pergi menuju lokasi yang disebutkan pada pesan yang ia terima. Hatinya terlampau bahagia hingga ia melupakan janjinya untuk mengabari Allard atau Edric jika akan pergi ke suatu tempat.


Sementara itu di tempat lain, Allard baru saja menyelesaikan pekerjaannya dengan hasil yang memuaskan. Dirinya tak sabar untuk segera kembali ke Ibu Kota dan menemui sang pujaan hati.


Allard baru akan menghubungi Milly saat Kalvin menemuinya dengan raut wajah yang sulit dibaca Al. “Ada apa?” Tanyanya.


“Ketiga wanita itu-“ Kalvin menggantung ucapannya karena harus menarik napas panjang. Napasnya masih memburu setelah ia berlari menemui Allard.


“Wanita-wanita itu-“ ulangnya.


“Wanita siapa?” sela Al yang mulai tak sabar.


“Wanita yang menganiaya Milly. Aku baru saja menerima kabar jika kemarin mereka baru saja bebas dengan jaminan,” ungkap Kalvin.


“Apa?!” pekik Allard.

__ADS_1


...-----------------...


__ADS_2