
Apa yang paling penting dari sebuah hubungan jarak jauh?
Kepercayaan.
Setelah hampir 19 jam berada di udara, seorang diri dengan perasaan yang berkecamuk antara rindu dan tanggung jawab, Allard yang baru saja tiba di bandara Soekarno Hatta dibuat geram oleh berita yang baru ia terima beberapa saat lalu melalui ponselnya.
“Si*lan!!!” Geramnya.
Jika dulu saja dia bisa dengan mudahnya hampir menghancurkan kehidupan seorang pria dan keluarganya hanya karena cemburu melihat wanita yang ia cintai didekati oleh pria itu.
Lantas bagaimana dengan saat ini. Ketika ia mendapat laporan dari orang suruhannya yang khusus ia tugaskan untuk mengawasi Milly, jika tunangannya yang belum cukup 24 jam ia tinggalkan tetapi sudah berani tertawa bersama pria lain.
“Br*ngs*k!” umpatnya ketika menyadari jika foto itu diambil tak lama setelah ia pergi meninggalkan wanitanya.
Allard berjalan menuju pintu kedatangan Internasional sembari terus menghubungi Milly.
Pria itu menggenggam erat koper kecil yang ia dorong sejak turun dari pesawat dengan satu tangannya. Sedangkan satu tangan lainnya meremat ponsel keluaran terbaru dari salah satu brand ternama kelas dunia. Ponsel pemberian tunangannya sebagai ponsel pasangan.
Tanpa melepaskan kaca mata hitam yang semakin menambah pesona ketampanan seorang Allard, pria itu berjalan melewati kerumunan orang yang berdiri di sana. Ia mencari sesosok pria yang merupakan sahabat, asisten, dan juga sudah ia anggap seperti saudaranya.
“Al... Allard,” seru Kalvin.
Al mengedarkan pandangannya, mencari sumber suara dan akhirnya ia menemukan Kalvin berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri terakhir kali.
...****************...
Kalvin dan Al tumbuh besar bersama. Tentunya hampir seluruh kebiasaan Al diketahui oleh Kalvin, begitupun sebaliknya.
Pria yang parasnya tak kalah tampan dari Allard itu mengernyit saat melihat sahabatnya sejak kecil tampak dalam suasana hati yang buruk.
“Hai bro,” sapanya.
“Bagaimana? Semua berjalan lancar?” tanyanya.
Allard mengulas senyum. Sebuah senyum yang mengandung banyak arti tersirat.
Jika seperti ini, Kalvin lebih memilih untuk diam. Pria itu tak akan memaksa Al bercerita, ia yakin Al akan membagi kegundahannya pada dirinya.
Kalaupun Al memilih untuk tetap bungkam, maka Kalvin akan mencari tahu alasan dibalik sikap Al.
Mudah saja... Kalvin cukup bertanya pada wanita yang menjadi belahan jiwa sahabatnya, Milly.
Sebab hanya Milly, satu-satunya yang bisa membuat Al menjadi gundah dan gelisah seperti ini.
Hanya Milly.
...****************...
__ADS_1
Keheningan selama perjalanan menuju apartemen tempat tinggal Al dan Kalvin, akhirnya pecah oleh suara dering ponsel milik Al yang sudah dihafal oleh Kalvin.
Cukup lama ponsel Al berdering dan sudah pasti panggilan itu dari Milly, namun pria itu masih saja tak bereaksi sama sekali. Hingga panggilan berakhir dan Al bahkan tidak melirik sama sekali pada ponselnya.
Aku semakin yakin jika keduanya sedang ada masalah. Batin Kalvin.
Ponsel pintar milik Al berdering kembali. Masih dengan nada dering yang sama, artinya si penelepon masihlah orang yang sama.
Dan reaksi pria itu masih sama, tetap mengabaikan panggilan telepon dari wanita yang telah menjadi tunangannya.
Kalvin pun juga masih sama, tetap bertahan dalam diamnya. Kalvin tak ingin ikut campur lebih dalam jika hal itu menyangkut urusan asmara Al dan Milly. Kedua orang itu adalah orang yang sama pentingnya dalam hidup Kalvin.
Kalvin tak akan pernah bisa memihak pada satu orang jika melibatkan dua orang ini.
Bunyi dering ponsel kembali memecah keheningan di dalam mobil, namun kali ini bunyi dering ponsel itu berasal dari ponsel Kalvin.
Dengan satu tangan, ia merogoh saku celana berbahan jeans yang ia kenakan. Dan beberapa detik kemudian ia menghela napas panjangnya.
Apa yang lebih buruk dari bertengkar dengan kekasih?
Jawabannya adalah seseorang yang berada di antara sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Dan Kalvin sedang berada di posisi itu.
“Al... panggilan dari Milly,” ujar Kalvin.
Kalvin menggelengkan kepalanya, satu lagi bukti betapa besarnya pengaruh seorang Milly.
Hanya Milly yang bisa membuat seorang Allard merajuk dan bersikap kekanak-kanakan.
Tanpa peduli dengan peringatan Al, Kalvin tetap menerima panggilan dari Milly.
Terlepas masalah apa yang terjadi di antara keduanya, Milly tetaplah wanita yang sudah ia sayangi seperti adiknya sendiri.
“Ya Milly,” ucap Kalvin setelah menggeser tombol berwarna hijau pada layar ponsel pintarnya.
Sontak saja Al menoleh pada Kalvin. Meski Al bicara tanpa mengeluarkan suara, dari gerak bibirnya Kalvin tahu jika Al tengah melayangkan protes padanya.
“Al baru saja tiba. Sepertinya penerbangan cukup melelahkan, dia langsung saja tertidur ketika tiba di dalam mobil.” Jelas Kalvin pada Milly saat wanita itu bertanya mengenai keberadaan tunangannya.
Dalam hati Kalvin terus saja memohon maaf pada Milly. Dia tak bermaksud berbohong, tapi ini adalah tindakan terbaik yang ia lakukan demi hubungan keduanya.
Entah apa yang dikatakan Milly, Al tak dapat mendengarnya.
“Tak perlu khawatirkan Al, cukup jaga dirimu saja di sana. Aku percaya kamu pasti bisa mandiri.” Ujar Kalvin menyemangati Milly sebelum panggilan telepon terputus.
Sempat hening beberapa saat sebelum Al mulai bercerita.
__ADS_1
“Orang gue mengirimkan foto Milly yang sedang bersama seorang pria,” ujar Al.
“Dan yang buat gue semakin kesal, foto itu diambil hanya beberapa jam setelah gue pergi,” imbuhnya.
Kalvin susah payah menahan tawanya. “Jadi, saat ini lu sedang merajuk karena cemburu?”
“Cemburu buta Lu...” lanjutnya.
“Buta dari mana? Lu lihat aja sendiri,” balas Al tak terima dengan ucapan Kalvin.
Kalvin mengamati foto yang dibicarakan oleh Al.
Dari pengamatannya, beberapa foto yang ada pada ponsel Al tak ada yang salah.
Foto Milly bersama 2 orang lainnya yang sedang menikmati makanan entah di mana.
Bahkan pada foto tersebut Milly duduk sendirian, sedangkan pria yang menjadi objek kecemburuan dari Allard duduk di hadapan Milly bersama seorang wanita lainnya.
“Sebaiknya lu menyerah aja Al. Lu kayaknya bisa gila jika lama-lama berjauhan dari Milly,” ujar Kalvin.
Allard berdecak sebal. Komentar Kalvin mengenai dirinya yang sebentar lagi benar-benar akan gila karena Milly sungguh tak membantu. Meski hal itu juga sangat mungkin untuk menjadi nyata.
“Gue gak butuh komentar lu,” balas Al ketus.
“Coba lu lihat lagi foto itu, menurut gue gak ada yang salah. Gue gak lihat ada foto Milly yang sedang bermesraan dengan pria lain seperti ucapan lu."
“Seandainya lu bisa berpikir positif pada tunangan lu, lu bisa sepenuhnya percaya pada Milly, maka lu gak akan pernah uring-uringan seperti ini.”
“Bisa saja, pria yang lu cemburui itu adalah kekasih wanita yang duduk di sampingnya,” imbuhnya.
Perlahan Al mencerna ucapan Kalvin. Ia tatap kembali lekat-lekat foto pada ponselnya.
Benar kata Kalvin, sepertinya ia belum sepenuhnya rela berjauhan dengan Milly.
Mungkin juga ini adalah bentuk dari rasa rindunya yang sudah sangat besar pada tunangannya yang belum 24 jam ia tinggalkan di belahan bumi yang lain.
Ponsel Al kembali berdering bersamaan dengan mobil yang berhenti melaju. Dering yang sama seperti dering panggilan sebelumnya.
‘My Lily’ sebagai id pemanggil pun tampak pada layar ponsel milik Al.
“Lu masih gak mau nerima panggilan telepon Milly?” Tanya Kalvin.
Al bungkam.
“Ya sudah, tapi jangan heran jika tak lama lagi apa yang lu khawatir benar-benar terjadi.”
“Lu lupa... Milly yang sekarang bukan lagi Milly yang masih anak-anak. Meski manja, dia sudah dewasa, dia gak akan terima jika lu terlalu berlebihan dalam mengatur hidupnya,” ujar Kalvin.
__ADS_1
“Jangan terlalu keras padanya Al... Milly itu tunanganmu. Dia bukan tawananmu,” imbuhnya sebelum turun lebih dulu dari mobil meninggalkan Al yang kini diam termenung.