
“Kemasi barangmu, ayo pulang!”
Setelah sekian lama keduanya saling bungkam, akhirnya Allard membuka suara lebih dulu.
“Pulang?” jawab Milly juga dengan pertanyaan.
“Aku akan pulang setelah restoranku tutup,” imbuhnya.
“Dan pastinya aku akan pulang ke rumahku.”
Allard menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan. Pria itu butuh sesuatu yang bisa meredam hatinya yang kini membara.
“Baby, rumah kamu itu bersama aku. Dari dulu dan sampai kapan pun akan selalu begitu,” bujuk Al.
Milly memalingkan wajahnya. Sudah ia duga jika Al tak akan semudah itu menerima keputusannya yang ingin tinggal terpisah dengannya.
Sedangkan Al sudah membulatkan tekadnya, tak akan ia kembali ke Jakarta jika tak bersama Milly.
Di saat suasana sedang memanas, beruntung Kalvin ikut bergabung untuk mencairkan suasana.
“Milly, selamat yah atas pembukaan restoran baru kamu,” ucapnya.
Pria itu dengan santainya menghampiri Milly, memeluk, dan mengecup pipi kiri dan kanan wanita yang sudah ia kenal sejak lahir.
“Terima kasih Vin,” balas Milly.
“Bagaimana dengan Daddy Robert? Dia pasti sangat bangga denganmu. Belum berapa lama kamu belajar mandiri, sekarang kamu sudah jadi pemilik restoran.”
Milly terdiam, ia memikirkan bagaimana Daddy-nya akan merespon jika mengetahui berita ini.
Apa mungkin Daddy akan bangga padaku? Atau apa Daddy akan kecewa, Batin Milly.
Melihat Milly yang membisu membuat Kalvin tersenyum, tujuannya berhasil. Dibandingkan Allard yang memancing kemarahan wanitanya, Kalvin memilih untuk mengalah.
Ia akan biarkan Milly menentukan sendiri, mengambil keputusan apa yang ia pikir akan menjadi pilihan terbaik untuknya.
Milly menjawab pertanyaan Kalvin dengan mengedikkan bahunya. Kalvin mengangguk, ia mengerti jika Milly ingin berhenti membahas hal yang tadi ditanyakan olehnya.
Suasana kembali terasa tak nyaman. Allard bungkam memikirkan bagaimana cara memboyong Milly bersamanya. Milly pun turut bungkam sebab dirinya masih memikirkan ucapan Kalvin.
Lalu terdengar suara derit pintu yang berhasil mengusir keheningan yang terjadi cukup lama dan sesaat setelahnya tampaklah pria tampan yang telah dianggap saingan oleh Allard.
“Mill, makan dulu yuk ...” ajaknya.
Milly melihat ke arah jam tangannya, rupanya bungkamnya bersama Allard cukup memakan waktu juga sampai-sampai dirinya melewatkan jam makan.
“Baiklah, aku akan segera menyusul.” Balas Milly.
“Oke. Allard dan Kalvin, ikutlah.” Ujar Edric, “Kalian harus mencicipi menu seafood andalan dari restoran Milly,” imbuhnya.
Setelah menyampaikan maksudnya Edric segera undur diri disusul dengan Kalvin yang mengikuti Edric.
__ADS_1
Allard menunggui Milly yang sedang merapikan meja kerjanya. Sungguh ingin ia berhambur memeluk tubuh wanitanya.
Mengecup kening, menatap kedua netranya dalam, lalu membungkam bibir merah muda yang terus saja menolak kehadirannya.
Setelah melihat Milly hampir selesai, segera Allard hampiri Milly. Pria itu sengaja memeluk Milly dari belakang, “Aku merindukanmu, aku mencemaskanmu.”
“Aku tak peduli padamu,” balas Milly.
“Baby ... sudah 3 tahun berlalu, haruskah kamu terus seperti ini?”
“Aku tak akan berubah sampai semua ini berakhir,” jawab Milly.
“Maka menikahlah denganku dan kita akan menciptakan akhir yang bahagia,” bujuk Allard.
“Tak akan ada pernikahan Al.”
“Kamu salah baby!” ujar Allard tak setuju.
“Setelah semua urusan di perusahaan selesai, pernikahan kita tetap akan berlangsung baby.”
...****************...
Rupanya Al serius dengan ucapannya. Hingga malam menjelang, pria itu tidak beranjak dari restoran milik tunangannya.
Tak ada lelah atau bosan yang tampak dari wajahnya meski sudah berjam-jam pria hanya duduk diam di sisi Milly dan memandangi wajah cantik wanitanya yang sedang sibuk di meja kasir restorannya.
“Apakah kamu tak ingin pergi?” tanya Milly tanpa menoleh pada Allard.
Milly menoleh pada Allard dengan enggan.
“Jika aku memintamu pergi sekarang juga, apa kamu akan pergi?"
“Ya.” Jawab Allard singkat membuat Milly mengernyit.
“Hanya jika kamu ikut pergi bersamaku,” imbuh Allard.
Milly mencebikkan bibirnya membuat Allard gemas. Tanpa permisi dan peringatan, pria itu mengecup bibir Milly singkat.
Cup.
“Al!” pekik Milly. “Apa yang kamu lakukan?”
“Mengecup bibir calon istriku,” balas Al dengan santai.
“Kamu tak malu? Lihat, semua orang kini melihat ke arah kita.”
Al mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan benar saja ada beberapa pasang mata yang menatap ke arah keduanya.
“Biarlah, biar mereka tahu jika kamu sudah milikku.” Jawab Al dengan mengedikkan bahunya.
“Terserah apa katamu, tapi ingatlah kita berada di mana!”
__ADS_1
Milly pergi meninggalkan meja kasir menuju ke ruangannya yang berada di lantai 2 gedung restoran miliknya.
Milly menghela napas panjang, ia letakkan tangannya di dada. Bisa ia rasakan bagaimana jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat dari biasanya.
Kecupan Al, ya ... aku merindukannya. Batin Milly.
Bibirnya boleh saja berdusta, menolak mengakui jika dirinya pun sama rindunya dengan Allard. Bahkan mungkin melebihi pria itu, namun sayang ego Milly masih belum terkalahkan.
Milly yang selalu dilimpahi kasih sayang, tak pernah merasakan pahitnya diingkari, tiba-tiba harus menerima pahitnya pengkhianatan.
Semakin menyakitkan sebab semua rasa itu berasal dari pria yang ia percaya seumur hidupnya. Rasa sakit itu membekas begitu dalam di hati Milly.
“Sepertinya aku harus pulang dan berendam,” gumam Milly dengan lesu.
Segera ia bawa semua barang-barang penting miliknya. Keningnya mengernyit saat tak melihat sosok Allard di meja kasir tempat pria itu duduk bersamanya tadi.
“Siapa yang kau cari?” tanya Edric yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
“Apa dia sudah pergi?” Tanya Milly.
“Dia siapa? Allard?” tanya Edric balik dan dijawab anggukan oleh Milly.
“Tuh ... dia ada di sana,” ujar Edric sambil dagunya menunjuk ke arah Allard yang duduk bersama dua orang wanita berpakaian formal.
Tanpa sadar embusan napas Milly mulai memburu, tangannya mengepal. Semua itu disadari Edric namun pria itu hanya bisa tersenyum tipis.
Dasar! Kebiasaan memang sulit untuk diubah, batin Milly.
Dengan mengentak-entakkan kakinya Milly melangkah menuju meja yang dihuni Allard dan dua orang wanita itu
“Ekhem ...” Milly berdeham.
“Baby, kamu mau ke mana?” tanya Allard saat melihat Milly yang sudah menenteng tas tangannya dan juga kunci mobil.
“Pulang,” jawab Milly singkat sambil menatap ke arah Al dan dua wanita itu bergantian.
“Astaga aku sampai lupa,” celetuk Al.
“Perkenalkan, dia adalah calon istriku. Dan restoran ini adalah miliknya” ungkap Al dengan percaya diri.
Kedua wanita itu mengulurkan tangan ke arah Milly dan memperkenalkan diri sebagai Fanny dan Tata, rekan bisnis Allard.
“Maaf jika mengecewakan kalian, tapi saya akan tanda tangani jika asisten saya sudah memeriksanya lebih dulu.” Ujar Al.
“Ayo baby, kita pulang.”
Allard rengkuh pinggang Milly, memutus jarak di antar keduanya.
“Lepaskan aku,” ucap Milly memberontak ketika keduanya.
“Tidak. Tak akan kulepaskan sampai kamu mengakui jika barusan kamu cemburu,” goda Al.
__ADS_1
...----------------...