
Hari ini adalah hari pertama perkuliahan bagi satu-satunya putri kesayangan di keluarga Harrison, Milly Lynelle Harrison.
Betapa bersemangatnya wanita itu, sebab di hari pertamanya memasuki babak baru dalam hidupnya, Allard... tunangannya turut serta untuk mengantarnya ke kampus.
Senyuman yang begitu indah tampak menghiasi wajah cantik Milly.
Wajah cantiknya begitu berseri-seri ketika mobil yang dikemudikan Allard mulai memasuki area parkiran kampus.
“Apa kamu sangat bahagia, sayang?” Tanya Allard yang melihat Milly terus tersenyum, bahkan saat keduanya baru saja meninggalkan apartemen.
Pertanyaan Allard tak mendapat jawaban. Tunangannya itu masih fokus mengamati kegiatan para mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang di sekitar area parkir.
“Sayang....” panggil Allard.
“Sayang....” sekali lagi.
“Sayang....” seru Allard. Kali ini suaranya sedikit meninggi.
“Y-y-ya...” jawab Milly terbata.
“Sebegitu bahagianya dirimu sayang?”
Milly hanya mengangguk.
Allard tertawa melihat tingkah polos tunangannya. Ia belai mesra surai wanitanya.
“Sayang, kok aku gak rela ninggalin kamu di sini.” Monolog Al yang masih bisa didengar Milly dengan jelas.
Milly segera mengubah posisi duduknya hingga kini keduanya saling berhadap-hadapan.
“Sayang...... bukankah kita sudah bicarakan mengenai hal ini,” ucap Milly dengan lembut.
Dalam hatinya, wanita itu berharap semoga Allard tidak berubah pikiran dan mengacaukan semuanya.
Allard menghela napas panjang.
Sebenarnya pria ini sudah meminta tunangannya agar mau melanjutkan studinya di Indonesia saja. Tentunya bersama dengan dirinya.
Namun Milly dengan teguh menolak. Wanita cantik ini beralasan jika untuk masuk ke Univesitas nomor satu di Seattle ini sangatlah sulit dan dirinya adalah salah satu orang yang beruntung itu.
Jika seperti ini, Allard tak memiliki pilihan lain lagi.
Pria itu turun lebih dulu membuat beberapa mahasiswi di sekitar area parkir berdecak kagum pada ketampanan paras Allard.
Pujian dari para wanita itu, tak ditanggapi sama sekali oleh Allard. Pria itu lebih memilih untuk bergegas membukakan pintu mobil di sisi yang lainnya, agar wanitanya tidak harus menunggu lama.
Decakan kagum dari penggemar dadakannya harus berakhir dengan kekecewaan sebab pria sempurna itu rupanya sudah jadi milik orang lain.
Apa lagi pemiliknya itu adalah seorang wanita cantik yang bahkan dari penampilannya saja, dari apa yang melekat ditubuhnya, sudah sangat jelas jika wanita itu tentunya berasal dari golongan atas.
“Sayang, kapan pun kamu berubah pikiran... aku akan selalu siap menjemputmu, oke?” bujuk Al untuk yang ke sekian kalinya.
Dan Milly selalu saja hanya mengangguk untuk setiap ucapan Al.
“Ingat ini sayangku, jangan pernah berdekatan dengan pria lain apa lagi sampai berteman. Kamu tahu kan tak ada pertemanan murni antara pria dan wanita,” peringat Al sekali lagi.
“Lihatlah, yang berdiri di sana adalah sopir dan juga pengawalmu. Selama di kampus dia akan menungguimu dan menjagamu,” imbuh Allard sambil menunjuk seorang pria berpakaian serba hitam yang sedang berdiri kaku di samping mobil.
Milly mengangguk pasrah sekali lagi. Bolehkah ia menolak atau sekedar mengungkapkan isi hatinya saja?
Padahal aku sudah dewasa, pergi jauh dari rumah pun tujuanku untuk mengasah kemandirianku. Batin Milly.
“Baiklah, aku pergi dulu. Aku ingin kita selalu bertukar kabar sayang. Jangan buat aku khawatir denganmu yang tak bisa dihubungi, oke?”
“Bukannya yang sering sangat sibuk itu kamu?” celetuk Milly.
__ADS_1
Al lagi-lagi mengusap puncak kepala Milly dengan lembut. “Maafkan aku sayang, mulai sekarang aku berjanji akan selalu menerima panggilanmu. Sesibuk apa pun aku saat itu,” ucap Al berjanji.
“Kamu tahu nomor telepon Kelvin ‘kan?”
“Hubungi dia jika sesuatu mendesak, aku hanya selalu bersamanya saat di sana.”
Penjelasan Al akhirnya membuat Milly sedikit lega. Jika selalu bersama Kelvin maka Milly tak perlu khawatir ada wanita lain yang akan menggoda Al. Ia tahu Kelvin selalu menjaga Al dan dirinya dengan sangat baik.
...****************...
Rasanya sulit sekali genggaman bagi kedua insan yang dimabuk cinta itu untuk melepaskan genggaman tangan keduanya.
Sulit sekali rasanya jika harus berpisah jarak dan waktu lagi. Namun semua ini sudah menjadi keputusan Milly.
Ia harus dewasa, bisa lebih mandiri, dan yang pasti dirinya harus pantas untuk pria sesempurna Allard, tunangannya.
Allard melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah waktunya ia harus ke bandara.
Maka dengan berat hati, ia mengecup kening Milly lama. Lalu turun ke kedua mata sang tunangan, lalu kedua pipinya, dan terakhir adalah kecupan di bibir Milly.
Lama kedua bibir mereka bertemu. Entah berapa lama waktu yang keduanya perlukan saat ini untuk mengganti waktu-waktu yang nanti akan mereka lalui tanpa kehadiran masing-masing.
Kecupan lembut yang lama kelamaan berubah menjadi ciuman menuntut, membuat keduanya tak peduli lagi di mana mereka kini berada, ada berapa banyak pasang mata yang melihat mereka, atau bagaimana tanggapan orang lain pada mereka.
Keduanya hanya ingin menciptakan momen indah setiap detiknya, sebelum jarak benar-benar menciptakan rasa rindu yang seringnya menyiksa batin keduanya.
“Baiklah sayang, sudah waktunya aku pergi,” ucap Al.
“Jaga dirimu, jaga hatimu ini agar hanya aku yang ada di sana,” imbuhnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan tunangannya dengan hati yang sesak karena rindu dan gelisah.
...****************...
“Hai,” sapa seorang wanita cantik bertubuh mungil dengan dua lesung pipi menghiasi kedua pipinya.
Ya.... setelah kepergian Al, Milly bergegas menuju ke ruang kelasnya. Tentunya Milly tak ingin terlambat di hari pertamanya kuliah.
Tak ada niat baginya untuk sekedar berkeliling kampus atau menyapa teman-teman yang lain. Bukan karena dirinya adalah seorang yang angkuh, tapi Milly terbiasa sendiri sejak dulu. Wanita cantik itu selalu saja canggung, ia selalu khawatir jika orang lain tak menyukai dirinya.
Namun kekecewaan menyambutnya tatkala ia sampai di kelas dan ruangan itu sepi tanpa ada seorang mahasiswa pun di sana.
“Ke mana semua orang?” gumamnya lirih.
"Ekhemmm...." dehaman seorang wanita akhirnya mengalihkan pandangannya.
“Tak akan ada orang di ruangan ini, karena kelas pagi ini dibatalkan.” Jelas wanita itu tanpa di minta.
Mendengar si wanita memiliki jawaban atas pertanyaannya, Milly akhirnya menoleh pada si empunya suara.
Seorang wanita yang tingginya hanya sebatas bahu Milly. Rambut pirangnya juga hanya sebatas bahu, dan jangan lupakan kedua lesung pipinya yang membuat wanita ini tampak manis dan menggemaskan.
“Dari mana kau tahu... ehmmm,” Milly tampak bingung mau menyebut siapa nama wanita itu.
“Aku Aline Smith, tapi kau bisa memanggilku Aline,” selanya.
“Cukup mudah untuk mengetahui penyebab kelas pagi ini dibatalkan," imbuhnya.
" Berita batalnya kelas ini sudah tersebar di situs sekolah dan di grup obrolan sosial media,” jelasnya.
Milly akhirnya mengangguk.
“Apa kau tidak memeriksa obrolan teman-teman lain di grup obrolan kelas kita?”
Kali ini Milly menjawab dengan gelengan kepala.
“Wajarlah jika kau tak memeriksa obrolan mereka, teman-teman kita sungguh sangat berisik di sana,” celetuknya.
__ADS_1
Sontak Milly membuang pandangannya ke arah lain.
Bukan... bukan karena tak ingin bergabung dengan mereka, namun semua urusan kampusnya telah di atur oleh Al. Milly tak dibiarkan untuk tahu hal sekecil apa pun. Dirinya hanya mendapatkan jadwal kuliah saja.
“Hei... Hei... Kau melamun lagi,” celetuk Aline dengan tangan yang melambai-lambai di depan wajah teman barunya yang begitu pendiam.
“Jadi siapa namamu?” tanyanya.
“Milly Lynelle.” Jawabnya. Sudah ia putuskan untuk tak memperkenalkan nama besar keluarganya selama di kampus.
“Jadi aku harus memanggilmu apa? Milly? Lynel? Elle?” celetuk Aline tanpa henti.
Milly tertawa, “Milly... panggil saja aku Milly,” ucapnya di sela-sela tawanya.
“Milly? Nama yang cantik, secantik orangnya.” Ujar Aline.
“Jadi Milly, maukah kau berteman denganku?”
Senyum Milly semakin merekah saja mendengar hal itu.
“Tentu saja aku mau, Aline.” Jawab Milly.
“Tapi aku tak kaya dan juga tak pintar. Bukan juga berasal dari kaum sosialita, aku tak populer dan juga tak peduli akan hal seperti itu.” jelas Aline panjang lebar.
"Apa kau tak masalah dengan hal itu?” tanyanya.
“Tentu saja tidak Aline,” jawab Milly segera.
“Mengapa kau berpikir seperti itu?”
“Kebanyakan wanita cantik seperti itu,” jawab Aline.
Milly merangkul pundak Aline, ia yakin wanita ini akan menjadi teman baiknya.
“Tenanglah, aku bukan salah satu dari kebanyakan wanita itu.” Ujarnya.
“Jadi apa sekarang kita berteman?” tanya Milly.
Aline mengangguk, “Oke kita berteman. Dan ayo ikut aku...akan kukenalkan padamu sahabatku, dia pasti senang jika aku memberitahunya telah memiliki teman lain selain dirinya.”
Kening Milly mengernyit dan disadari oleh Aline.
“Nanti saja kujelaskan, sekarang ayo ikut aku.”
Mau tak mau, putri dari kerajaan Harrison itu mengikuti langkah teman barunya.
Tak perlu usaha ekstra bagi Milly, karena dengan kakinya yang jenjang, ia tak kesulitan untuk mengikuti langkah kecil kaki Aline.
Rupanya tujuan Aline adalah kantin.
Kepalanya bergerak lincah, menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang ia akui sebagai sahabatnya.
Tak butuh waktu lama untuk mencari. Setelah mendapati sosok yang ia cari, Aline berteriak untuk menyapa orang itu.
“Edric....”
Milly mengikuti arah pandangan Aline.
Di sana ia melihat sosok yang namanya baru saja diserukan oleh temannya adalah sosok seorang pria berwajah Asia.
Dari jarak tempatnya berdiri saat ini, Milly sudah bisa menilai jika wajah pria bernama Edric itu cukup tampan.
Tampan? Edric seorang pria? Sahabat? Apa Aline bersahabat dengan seorang pria? Batin Milly penuh pertanyaan.
...****************...
__ADS_1