Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Chapter 14. Cinta dalam diam


__ADS_3

Terkadang kita terlalu memikirkan bintang, tanpa memandang langit gelap yang membuatnya bersinar.


Bagi Milly, kini sudah cukup Ia memikirkan selama apa Ia mampu bertahan jika akan menjalin hubungan jarak jauh bersama Allard.


Tapi Ia akan memikirkan semua waktu yang telah Ia dan Al lewati dengan kebahagiaan.


Mengapa tak suka dengan gelapnya langit saat tak banyak bintang yang bersinar? Padahal bintang tetap di sana, hanya saja bumi yang sedang berputar atau awan sedang menutupinya.


Kini Milly tak akan lagi menyalahkan jarak yang akan memisahkannya dengan Al. Selama hati mereka masih merasakan hal yang sama, bahkan jarakpun tak akan menjadi penghalang bagi cinta mereka.


♡♡♡♡♡♡♡♡


Malam kian larut bersama dengan dua anak manusia yang juga ikut larut dalam euforia cinta yang membuat hati keduanya terus berdebar.


Milly dan Al benar-benar merasa hangat setelah acara berendam, tubuh keduanya juga lebih rileks.


Hanya saja mereka menjadi lebih lelah.


Dan hal itu yang kini sedang mereka tertawakan.


Hingga terdengar ketukan di pintu, diikuti suara stephany yang memberitahu jika makan malam sudah siap.


Milly segera mengenakan sweeter tebalnya agar suhu dingin tidak mampu menembus ke kulitnya.


Tak lupa syal untuk melindungi lehernya dari dingin dan juga dari jejak yang ditinggalkan Al.


Sedang Al melengkapi tampilan Milli dengan topi yang sama dengan miliknya.


Keduanya berjalan menuju rumah kayu yang berada di atas bukit di halaman belakang resort.



Suhu malam ini memang lebih dingin dari sebelumnya, pantas saja Kelvin dan Chris yang lebih dulu berada di sana terlihat sudah mulai menenggak minumannya.


“Apa saja yang kalian lakukan dikamar huh?” tanya Christ.


“Haruskah kau bertanya? Kau lebih berpengalaman dariku.” Balas Al.


Al turut mengambil 1 botol minuman untuknya dan bergabung bersama Kelvin dan Christ.


Sementara Milly melihat para pelayan yang sedang memanggang daging untuk makan malam mereka.


“Bolehkah aku membantu?” tanyanya.


Bahkan sebelum pelayan itu menjawab, Al sudah lebih dulu menegur kekasihnya.


“Baby, itu berbahaya.” Tegur Al tanpa menatap ke Milly.


Milly cuek saja dan meneruskan memanggang daging hingga Stephany tiba bersama Julian.


“Kau yang memanggilku tapi kau yang datang paling akhir.” Sindir Milly.


Stephany terkekeh, lalu membantu Milly menata hidangan makan malam mereka.


“Al, ku dengar wanita Indonesia itu cantik-cantik yah?” tanya Julian.


“Hemm, lihatlah yang di sampingku, cantik kan?” jawab Al melirik Milly.


“Milly?Apa kau berasal dari Indonesia?” tanya Stephany.


“Ya, grandma ku berasal dari Indonesia sedangkan grandpa memiliki campuran Indonesia juga. Begitu juga dengan My Lily,” jelas Al panjang lebar sementara yang ditanya hanya mengangguk saja.


“Kenapa kalian hanya membahas wanita Indonesia? Pria Indonesia juga jauh lebih mempesona. “ Ujar Kelvin.


“Benarkah? “ tanya Milly dan Stephany bersamaan membuat Al dan Julian mendengus sebal.


“Kalian mau bukti? Silahkan lihatlah aku.” Jawabnya.


“Bagaimana jika kita bermain Truth Or Dare?” Usul Christ.


“Boleh saja, tapi jika dare sudah pasti tak akan seru. Lihatlah betapa sepinya disini. “ Ucap Milly.


“Kamu tinggal memilih truth saja baby, kan tidak ada yang perlu kamu sembunyikan dariku.” Ucap Al.

__ADS_1


“Kalau memilih truth saja, namanya bukan truth or dare. Tapi Truth No Dare.” Balas Milly dengan kesal.


“Di sini mungkin sepi, tapi besok saat ski pasti akan ramai. Darenya kita tabung untuk besok saja, bagaimana?” usul Stephany.


Semua mengangguk setuju.


“Kau memang yang terbaik sayang,” puji Julian disertai sebuah kecupan manis di bibir sang kekasih.


Christ yang pertama kali mengusulkan ini menjadi sangat bersemangat.


Segera Ia menenggak habis isi botolnya, setelah botol kosong Ia bersiap untuk memutarnya.


Tanpa menunggu aba-aba yang lainnya segera duduk membentuk lingkaran.


Walau sebenarnya mereka sudah banyak tahu soal pribadi masing-masing karena ke enamnya memang tumbuh di lingkaran sosial yang sama.


“Sudah siap? Aku putar yah. 1.... 2.... 3....”


Botol berputar sangat cepat menyesuaikan dengan besarnya tenaga yang digunakan Christ saat memutarnya.


“Yes.....” gumam yang lainnya.


Sedangkan Christ yang terpilih hanya bisa berdecih.


“Aku tak akan memutar lagi, selalu saja seperti ini.” Akunya.


“Pilihlah tuan muda, Truth or Dare?” ucap Milly menirukan gaya pelayan di mansion Christ.


“Aku adalah tuan muda sejati yang sesungguhnya, tentu aku akan memilih dare.” Ucapnya dengan pongah.


“Bagaimana jika besok kamu harus mencium wanita pertama yang memakai topi warna ungu?” Ujar Stephany.


Yang lainnya setuju.


“Bagaimana jika tidak ada yang memakai topi ungu?” tanya Christ.


“Besok saja warna lainnya ditentukan, sekarang putar lagi saja botolnya.” celetuk Julian.


Dan kali ini botol menunjuk ke arah Julian.


“Pilih Truth aja sayang, “ ucap Stephany.


“Dare dong sayang, aku tidak akan kalah dengan Christ.” Ucap Julian tidak mau kalah.


“Pasang foto ciuman kalian di profile sosmedmu.” Tantang Christ.


Sontak saja Julian dibuat kesal karena tantangan dari Christ.


Bukannya tidak setia, tapi Julian memang selalu mengaku single saat tak bersama Stephany.


Pria itu suka mendapat banyak perhatian.


Jika Ia memasang foto ciuman, pasti akan banyak fansnya yang berubah jadi haters.


Tapi dare tetaplah dare. Julian


memberikan ponselnya pada Christ yang siap mengabadikan ciuman yang akan menggemparkan dunia para penggemar Julian.


Benar saja baru 2 menit setelah foto profilnya di ganti, sudah banyak pesan yang masuk ke ponselnya.


Beruntung Ia sempat mengubah ponselnya menjadi mode diam.


Kini botol kembali berputar. Lebih lama dan lebih cepat.


Dan kini botol memilih Milly yang harus bermain.


“Aku juga akan pilih dare.” Ucapnya yakin.


“Baby, pilih truth aja,” Ucap Al.


“Dare.” Ucap Milly.


“Truth.”

__ADS_1


“Dare.”


“Truth.”


Perdebatan diantara sepasang kekasih itu tak terelakkan lagi.


“Dari pada kalian ribut, bagaiman kalau darenya kalian harus ciuman selama 5 menit. Dan akan di posting oleh Christ di media sosial miliknya.” Usul Julian.


“Oke. Aku setuju,” Al yang menjawab.


Tanpa memberi kesempatan pada Milly untuk menolak, Al segera meraih tengkuk sang kekasih.


Ciuman yang harusnya hanya 5 menit, kini sudah sangat melampaui dari harapan.


Jika tidak mengingat jika permainan masih harus berlanjut. Al tidak akan mau berhenti.


Botol berputar lagi dan kini menunjuk Kelvin.


“Truth, “ ucap Kelvin.


“Apa kah ada hal yang kau rahasiakan dari Allard?”


Allard juga kini ikut menatap Kelvin.


Kelvin mengangguk yakin.


“ Tentu saja ada. “ Jawabnya tanpa ragu.


“Apa itu tentang wanita yang kau sukai?” Kini Milly yang bertanya.


Kelvin mengernyitkan keningmya.


“Apa wanita itu ada disini sekarang,?” tanya Stephany asal.


Belum mendengar jawaban dari Kelvin, Julian sudah menyela, Jangan dengarkan pertanyaannya.


“Apa aku mengenal wanita itu?” tanya Allard.


Kelvin mengangguk.


“Ya, kau mengenalnya.” Jawab Kelvin singkat.


Permain dimulai kembali.


Semuanya mulai kembali seperti sebelumnya.


Jika bintang menerangi gelapnya malam ini, maka tawa dari ke 5 muda mudi ini yang telah mengusir sunyinya malam ini.


Semakin larut hingga akhirnya lelah dan kantukpun memudarkan semangat mereka.


Merasa sudah waktunya untuk kembali ke kamar masing-masing.


Allard dan Kelvin berjalan paling akhir, “Apa dia adalah Milly?”


Kening Kelvin kembali mengernyit mendapat pertanyaan yang tiba-tiba dari Al.


“ Wanita yang kau suka. Apa dia Milly?”


Kelvin tersenyum.


“Bagaimana jika dugaanmu benar?” tanya Kelvin.


“Maka maaf, karena cintamu tak akan pernah terbalas.”


Kelvin tertawa, begitupun Al.


“Maka sekarang tugasmu bertambah lagi, pastikan akan tetap seperti itu.” Ucap Kelvin sambil menepuk pundak Al.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


"Memendam rasa bukan sebuah tanda tak mampu, tapi menyadari bahwa orang yang sedang dipilih hati saat ini bukanlah sosok yang tepat."


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2