Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 25. Malam yang dinanti


__ADS_3

Terimakasih atas keseriusan yang kamu ungkapkan,


Terimakasih atas pertanyaan yang sudah kunantikan sejak lama,


Akhirnya salah satu permohonanku yang terlampau sering kupanjatkan, hari ini terwujud.


Setelah ini bolehkah aku bertanya, sampai kapan aku menunggu untuk kita saling menggenapkan diri dan berdampingan di pelaminan sebagai Raja dan Ratu.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Senyum tak pernah menghilang dari wajah cantik Milly.


Meski saat ini sudah larut malam, tapi tidak menyurutkan semangatnya untuk menjelajahi rumah yang Ia desain.


Rumah yang Ia desain tanpa memikirkan prinsip arsitektur, seperti proporsi dan skala. Tanpa tahu rumah dengan gaya atau konsep seperti apa yang akan Ia buat.


Semuanya hanya berdasarkan hal-hal yang Ia dan Al sukai. Hal yang akan membantu keduanya mengukir kenangan-kenangan indah, yang bisa menjadi cerita saat mereka tua nanti.


Milly yang awalnya berada dalam rangkulan Al, kini mulai bersemangat, hingga kini Ia sudah berjalan beberapa langkah mendahului Al.


“Jika danau tadi adalah halaman belakang rumah, maka jika aku berbelok ke arah kanan maka disini adalah dapur,” tebak Milly disusul langkahnya yang bersemangat.


Matanya berbinar ketika tebakannya ternyata benar.


“Lihat Beb, tebakanku benar.” Ujarnya bangga.


“Tentu saja, aku tak mengubah apapun. Aku hanya mengerjakan halaman belakang saja.” Balas Al.


Setelah melirik jam dipergelangan tangannya, Al rasa ini sudah waktunya mereka harus beristirahat.


“Baby, bagaimana kalau kita langsung melihat kamar utamanya saja?” ajaknya.


“Kupikir kita bisa melanjutkan tur keliling rumah besok, mari beristirahat untuk malam ini,” bujuknya.


Meski ada sedikit kekecewaan di raut wajah Milly, tapi gadis itu tetap mengikuti ucapan Al.


Langkahnya yang awalnya perlahan, tiba-tiba Milly percepat saat melihat anak tangga yang akan membawanya naik ke atas menuju kamar utama.


Al hanya menggeleng saat melihat betapa bersemangatnya Milly menapaki anak tangga satu per satu.


“Hati-hati Baby, jangan terburu-buru tak ada yang mengejarmu.” Peringat Al.


Ia cemas jika Milly bisa saja tersandung dan berakhir cedera.


Meski tak menjawab tapi Milly tetap menuruti ucapan Al, membuat pria itu tersenyum saat melihat Milly berhenti berlari.


Milly melangkah tanpa ragu meski ini adalah kunjungan pertamanya. Tujuannya kini adalah sebuah ruangan yang terletak paling ujung.


“Here we are,” ucapnya bersemangat.


Kedua tangannya meraih pegangan pintu, dan mendorongnya perlahan. “Woow,” decaknya kagum.


Kedua netranya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Tatapannya memancarkan kekaguman.


Sebenarnya tak ada yang sangat spesial dengan kamar itu, perabotannya juga tidak termasuk barang mewah.


Tapi yang membuat Milly kagum adalah Al benar-benar membuat kamar ini seperti apa yang Ia gambarkan, bahkan tata letak perabotnya juga sama.



“Beb, kamu benar-benar mengikuti setiap detail desain yang ku buat?” tanya Milly masih sulit untuk percaya.

__ADS_1


Bisa saja Al meminta arsitek profesional yang bekerja untuk Anderson Property mengubah desain Milly, namun tunangannya itu tetap setia untuk menggunakan hasil desain yang hanya dibuat oleh seorang pelajar.


Yang tentu tak akan sebanding dengan desain dari arsitek profesional yang bekerja untuk Anderson Property.


Al hanya mengangguk, entah harus berapa kali Ia harus mengatakan hal itu.


Lebih baik segera mengalihkan perhatian Milly, sebelum gadis itu kembali bertanya.


“Baby, aku akan menyiapkan air untuk berendam.” Ujar Al namun segera dicegah oleh Milly.


“Jangan, biar aku saja yang melakukannya.” Balas Milly sambil berlari ke kamar mandi.


Sementara Al mulai melepas satu per satu pakaiannya. Dimulai dari dasi yang cukup menyesakkan jika dipakai dalam jangka waktu yang lama.


Lalu membuka kancing kemejanya satu per satu, hingga menyisakan tubuhnya yang kini terpampang nyata.


Dilanjutkan dengan ikat pinggang dan celana panjangnya.


Al hanya menyisakan boxer yang menutupi apa yang menjadi kebanggaannya, asetnya yang paling berharga.


Al perlahan melangkah memasuki kamar mandi, Ia bisa melihat Milly yang tengah duduk dipinggiran bathtub.



Entah apa yang dilakukannya hingga kehadiran Al yang berdiri tepat di sisinya tak Ia hiraukan sama sekali.


“Ekheeemmm….”


Dehaman Al membuat Milly menoleh.


“Astaga Beb, kemana pakaianmu?” pekiknya.


“Ada di luar.” Jawab Al singkat.


Sepertinya Milly tak tertarik dengan pertanyaan Al, Ia lebih tertarik menyaksikan 6 kotak di perut Al yang berada tepat di hadapannya.


“Lalu kenapa kamu melepas pakaianmu,Beb?” tanya Milly. Salah satu pertanyaan tak bermanfaat di abad ini.


“Jika tidak ku lepas, apa aku harus berendam dengan menggunakan setelan jas dan juga dasi?”


Wajah Milly sontak merona, “Ini pasti karena 6 kotak itu hingga aku tak konsentrasi sampai bertanya hal yang tidak penting.” Batinnya menggerutu.


“Oke, nikmati waktumu Beb.” Ucap Milly dan hendak pergi, namun pergerakannya segera dihentikan Al dengan sebuah pelukan dari belakang.


“Memangnya kamu tak ingin berendam?” Tanya Al.


“Aku akan berendam setelahmu.” Jawab Milly gugup.


“Ini sudah sangat larut Baby, jika harus menungguku selesai maka akan semakin larut lagi. Sebaiknya kita berendam bersama saja,” usul Al.


Deg! Deg!


Jantung Milly berdegup lebih cepat, ucapan Al dan juga hembusan napasnya yang terasa di tengkuk Milly membuat gadis itu meremang.


Meski bukan pertama kali Al akan melihat tubuh polosnya, tapi entah mengapa kali ini Milly begitu berdebar.


“Apakah hari ini adalah hari itu? Hari yang tertunda sejak setahun yang lalu?” batin Milly.


Gadis itu teringat saat hari pertama mereka menjadi sepasang kekasih. Malam itu, keduanya harus berusaha sekuat tenaga agar tidak melakukan penyatuan, meski saat itu keduanya sedang dikuasai oleh hasrat setelah bercumbu.


Beruntung kala itu Al bisa menahannya. Saat itu Ia berjanji pada Milly jika tak akan melakukan penyatuan sebelum Ia menunjukkan bukti keseriusannya.

__ADS_1


“Bukankah malam ini Al membuktikan keseriusannya dengan melamarku, lantas apakah Ia juga akan melakukannya malam ini?” batin Milly.


Wajahnya merona membayangkan hal-hal apa yang mungkin saja akan terjadi sesaat lagi.


Hingga tangan Al yang tengah menurunkan resleting gaunnya menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


“Al,” tegur Milly.


Tak menjawab, namun pria itu mengecup punggung Milly yang kini sudah terlihat.


Bagai seorang ahli, Al berhasil melepas gaun Milly tanpa disadari oleh pemiliknya yang tengah terhanyut akibat ciuman di tengkuk, Pundak, hingga ceruk lehernya.


Milly hanya melirik ketika gaun brukat putih yang Ia pakai sudah teronggok tepat di bawah kakinya.


Perlahan namun pasti,Al melanjutkan tugasnya untuk menanggalkan kain apapun yang masih tersisa ditubuh Milly, hingga keduanya kini sudah berada di dalam bath tub dengan posisi saling berhadapan.


Tak ada pembicaraan diantara keduanya. Hanya saling menatap, seolah membiarkan mata mereka yang saling berbincang.


Sementara sang empunya lebih memilih untuk membayangkan keindahan apa yang tersembunyi di balik busa-busa sabun beraroma vanilla.


Tak ingin waktu terbuang sia-sia, dan jika Ia menunggu gadisnya berinisiatif lebih dulu maka bisa saja keduanya akan berendam hingga fajar tiba tanpa melakukan apa-apa.


Al akhirnya berinisiatif mengulurkan tangannya ke Milly.


“Jika Ia menyambutnya berarti Ia sudah siap,” Batin Al.


Sesuai dengan harapannya, uluran tangannya bersambut. Memberi semburat merah di wajah putih Milly dan senyum merekah di wajah tampan Al.


Merasa lampu hijau sudah Ia dapatkan, Al segera menarik Milly ke atas pangkuannya. Hingga busa-busa sabun tak bisa lagi menyembunyikan sesuatu yang Al puja-puja.


Tangan Milly melingkar sempurna di leher Al, sementara tangan Al merengkuh pinggang Milly dengan kedua tangannya. Sesekali salah satunya akan menjalar naik ke punggung Milly dan membelainya lembut.


Milly hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat merasakan sensasi dari elusan lembut tangan Al. Hingga akhirnya tanpa permisi Al membungkam bibirnya, kali ini ciuman itu lebih menuntut.


Cukup lama kedua benda kenyal itu beradu, dan harus berhenti karena mereka perlu tambahan oksigen.


Milly sedang berusaha menormalkan debaran jantungnya yang sudah tak karuan, dan napasnya yang memburu.


Sedang Al terlihat hanya memejamkan matanya sebentar, lalu dengan lembut menarik Milly ke dalam dekapannya kembali.


“Baby, aku sungguh ingin memilikimu seutuhnya malam ini.” Ucapnya dengan penuh pengharapan di setiap katanya.


“Namun aku tak akan memaksamu. Aku ingin segala hal yang kulakukan bersamamu, semuanya bersumber dari sini.” Telunjuk Al menunjuk tepat di dada Milly.


Sentuhan telunjuk Al mengantarkan getaran yang membuat Milly memejamkan matanya untuk meredam rasa yang membuncah didadanya.


Cinta, rindu, hasrat, dan rasa lain yang tak bisa digambarkan, bercampur aduk menjadi satu.


Milly tersenyum, “Apakah kamu yakin sudah menunjuk hal yang benar?” tanya Milly dengan tatapan yang menggoda.


“Baby, Please…. Jangan menggodaku.”


Wajahnya sengaja Ia buat cemberut membuat Milly gemas.


Kedua tangannya yang semula melingkari leher Al, kini Ia gunakan untuk menangkup kedua pipi Al.


Dua pasang mata yang saling memancarkan cinta, kini saling menatap. Tanpa harus bertanya, Milly sudah mengetahui apa yang ingin ditanyakan oleh tunangannya.


Sedang Milly berharap sebuah senyuman bisa menjadi jawabannya, dan sebuah kecupan di bibir Al menjadi tanda keyakinan Milly akan jawabannya.


⚘⚘⚘⚘To be continue⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


Jika diamku saja bisa kamu mengerti, maka tak ada keraguan jika kau tentu akan memahamiku.


(Lanjutannya mau di skip aja... atau di buat detail? komen dong 🙏🙏🙏)


__ADS_2