Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 44. Hubungan yang dipaksakan


__ADS_3

Tanpa terasa waktu terus berjalan. Hubungan Milly dan Allard tetap tak ada perubahan meski 3 tahun telah berlalu.


Sudah berkali-kali Milly meminta Allard untuk melepaskannya saja. Bukan karena cintanya telah pudar pada pria itu, tapi karena ia tak ingin mereka saling menyakiti lebih dalam lagi.


Hingga akhirnya ia lelah dan membiarkan sang waktu yang akan menentukan bagaimana dan kapan hubungannya akan berakhir.


Sementara Allard, tak pernah lelah pria itu memohon kata maaf dari Milly. Selama 3 tahun terakhir, dalam setiap bulannya tak pernah sekalipun ia absen mengunjungi sang tunangan.


Namun bagai tak belajar dari pengalaman, Al lagi-lagi mengulangi kesalahannya.


Sepi, dijadikan Allard sebagai alasan untuk mendua. Bukan menduakan cinta Milly, hanya untuk mengisi kekosongan waktunya, begitu Allard berkilah.


Kalvin sebagai sahabat sudah sering kali memperingati Allard, namun pria itu menulikan telinganya. Bagi Allard, wanita-wanita itu hanya untuk menemaninya sesaat.


Tak ingin mengambil resiko, Allard tak pernah memberi status pada setiap wanita yang dekat dengannya. Allard pun terbuka mengenai hubungannya dengan Milly.


Mulai dari Natasha seorang penyanyi yang menjalin hubungan dengannya hanya selama 3 bulan. Lalu Helena yang bekerja sebagai sekertaris baru sahabatnya, Noah. Hingga yang terakhir adalah Stella Baryan.


Stella Baryan, seorang pengusaha salon kecantikan ternama di Indonesia. Wanita yang bertahan cukup lama menjadi wanita yang dekat dengan Al.


Hingga kini, sudah terhitung 2 tahun Stella bersedia menjadi wanita yang menemani hari-hari Allard selama pria itu di Indonesia.


Selama itu pula Stella harus berbesar hati jika Allard mengumbar kemesraan di semua media sosialnya bersama tunangannya.


Hal yang tak diketahui Stella jika hubungan Allard dan Milly tidak dalam keadaan baik-baik saja. Semua kemesraan di media sosial Allard, semuanya adalah foto yang sengaja pria itu abadikan saat mereka sedang bermain peran di depan kedua keluarga.


Allard tetap memaksakan hubungan yang sudah tak sehat itu pada Milly. Selama ini, pria itu masih yakin jika jauh di dalam hati Milly, masih dirinya yang menjadi raja. Selain itu, Allard pun belum bisa merelakan Milly.


Dua puluh dua tahun ia mencintai Milly. Perasaannya yang sudah mengakar selama itu tak akan mudah sirna dengan sendirinya. Rasanya tak akan sebanding jika ia harus menyerah hanya karena tiga tahun hubungan yang dipaksakan.


...****************...


Hari ini adalah hari kelulusan Milly. Wanita yang kini berusia 22 tahun itu tampak cantik dengan baju toga wisuda yang membalut tubuhnya.


“Kamu cantik sekali, baby.” Puji Allard pada Milly.


“Terima kasih.”


Dipeluknya erat Milly dari belakang. Keduanya saling bertukar pandang melalui pantulan cermin. Hal yang sudah lama tak mereka lakukan.


Ada cinta dan kerinduan terpancar dari sorot mata keduanya. Keduanya tahu dan sadar jika yang kini mereka lakukan sudah menyiksa satu sama lain. Namun bagai kain putih yang telah ternoda meninggalkan bekas, atau bagai kaca yang telah retak tak akan bisa kembali utuh lagi, begitulah gambar kepercayaan Milly pada Allard.


“Apa kalian sudah selesai bermesraannya?” tegur Mommy Carol membuat Al dan Milly menjadi salah tingkah.


“Siapa yang bermesraan Mommy, kami tidak melakukan apa pun,” elak Milly.

__ADS_1


“Melakukannya juga tak apa, bukankah kalian akan segera melangsungkan pernikahan?” goda Mommy Carol.


Jika Milly menegang saat mendengar ucapan Mommy Carol, sedang Al kini tersenyum lebar.


Benar juga kata Mommy, rupanya kami berdua bisa bertahan. Batin Allard.


Harusnya aku tak perlu terlalu khawatir lagi, toh sesuai janjinya dulu padaku dan pada keluarga kami bahwa Milly akan setuju menikah setelah kuliahnya selesai. Imbuh Allard membatin.


Melupakan sejenak permasalahan dalam percintaanya, hari ini Milly begitu bahagia.


Hari ini nyaris sempurna, andai saja Edric ada di sisinya saat ini.


Sayangnya setelah selesai dengan ujiannya, Edric terpaksa kembali ke pulau Bali di Negara Indonesia untuk menggantikan ayahnya mengurusi bisnis resort milik keluarganya.


Seluruh rangkaian prosesi wisuda Milly telah selesai. Kini tiga keluarga tengah menikmati hidangan makan malam di kediaman keluarga Harrison.


Lagi-lagi yang dibahas saat makan malam adalah pernikahan Milly dan Allard membuat Milly kehilangan selera makannya.


...****************...


Hari demi hari berlalu. Kini Milly telah kembali ke kediaman orang tuanya. Setiap hari Milly akan diberondong dengan pertanyaan mengenai kesiapannya dalam membina rumah tangga bersama Allard.


Sama seperti pagi ini, untuk kesekian kalinya pertanyaan yang sama harus Milly jawab dengan jawaban yang sama pula.


“Jadi apa rencana kalian sekarang? Sampai kapan kalian akan seperti ini, menjadi sepasang kekasih tanpa arah dan tujuan.” Ucap Daddy Robert.


Impian terbesar Daddy Robert adalah, ia ingin memastikan jika pria yang menjadi suami putrinya kelak adalah pria yang pantas dan yang bisa ia andalkan. Pria yang bisa ia berikan tanggung jawab besar atas hidup putrinya yang begitu berharga.


Belum sempat Milly menjawab, Daddy Robert lebih dulu menyelanya.


“Daddy sudah putuskan. Kamu harus menyusul Allard ke Indonesia. Belajarlah bisnis di sana, sekaligus kalian berdua harus mulai belajar hidup dengan saling membantu dan saling mendukung,” ujar Daddy Robert tak ingin dibantah.


“Daddy sudah bicarakan semuanya dengan keluarga Anderson. Terlebih Allard sudah menerima keputusan Daddy, dia sudah berjanji untuk menjagamu melebihi nyawanya sendiri selama kamu berada di sana,” imbuhnya.


Ingin rasanya Milly membantah ucapan Daddy-nya, memberi tahu bagaimana hubungannya dengan Allard yang sebenarnya. Namun melihat dua sosok pria yang ia sayang begitu antusias dan bersemangat, tak tega rasanya ia patahkan semangat itu.


“Baiklah Daddy tapi biarkan aku memberi kejutan untuk Allard. Jangan beritahu kapan aku akan ke sana. Biarkan kedatanganku menjadi kejutan untuknya,” tawar Milly.


Tanpa curiga sedikit pun, Daddy Robert menyanggupi permintaan putri semata wayangnya.


Dalam hati Milly kini tengah menyusun rencananya. Sudah cukup dirinya terikat dengan Allard saat berada di Seattle. Milly berniat akan menciptakan kisahnya sendiri saat berada di Negara yang terkenal dengan keramahan penduduknya.


...****************...


Tak jauh berbeda dengan Milly, Allard juga kini sedang mempersiapkan segala hal untuk menyambut tunangannya.

__ADS_1


Pertama, pria itu membeli apartemen yang lebih luas dari sebelumnya. Kamar tidurnya sengaja ia desain sesuai dengan kebutuhan Milly.


Karena Milly ingin belajar berbisnis, maka Allard telah menyiapkan posisi di perusahaan untuk wanitanya, yaitu sekertaris pribadinya.


Meja kerja Milly juga nantinya akan berada di ruangan yang sama dengannya.


Dan yang terakhir adalah Allard harus membereskan semua wanita yang masih berhubungan dengannya.


Malam ini Allard telah merancang makan malam terakhirnya bersama Stella.


Stella tampil cantik seperti biasanya. Wanita itu merasa hatinya menghangat saat Allard menyambutnya dengan sebuah senyuman.


“Kamu menyiapkan semua ini?” tanya Stella saat merasakan jika suasana makan malam kali ini begitu romantis.


Allard hanya mengangguk.


“Apa sesuatu yang baik sedang terjadi? Kamu tampak begitu bahagia sayang,” ucap Stella.


“Tebakanmu benar Stel, aku memang sangat bahagia saat ini,” jawab Allard.


“Apa kamu bersedis membagi kebahagiaanmu itu denganku?”


“Tentu saja, itulah alasan aku menemuimu malam ini,” ungkapnya.


“Kamu tahu kan mengenai tunanganku?” tanya Allard.


Stella mengangguk, tiba-tiba saja ada rasa khawatir yang menjalar di relung hatinya.


“Dalam waktu dekat ini, tunanganku akan tinggal bersamaku di sini. Dia akan bersamaku di sini sampai semua urusan Bisnisku selesai lalu kami akan segera menikah,” ungkap Allard.


Rona bahagia di wajah Stella akhirnya pudar.


Apa aku akan segera dicampakkan? Batin Stella.


“Lalu?” tanya Stella.


“Maaf Stel, tapi aku ingin semua kedekatan kita berakhir malam ini.”


“Aku sudah banyak berbuat kesalahan pada tunanganku, aku tak ingin mengecewakannya lagi.”


"Kamu tahu Stel, aku tak akan bisa hidup tanpa dirinya. Aku harap kamu mengerti,” ucap Allard menyampaikan semua maksudnya.


Meski kepalanya mengangguk dan bibirnya menyunggingkan senyuman, namun kedua tangannya yang berada di atas pangkuannya kini mengepal kuat.


Kalau aku tak bisa memilikimu, maka wanita lain pun juga tak boleh memilikimu.

__ADS_1


Hanya aku yang boleh memilikimu. Hanya Aku! Batin Stella.


...****************...


__ADS_2