
Dilema antara bertahan namun batin tertekan, atau pergi namun hati tak bisa berpaling.
♡♡♡♡♡♡♡
Cukup lama Milly bungkam. Suasana hening terasa mencekam di ruangan kerja Al yang cukup luas jika hanya diisi dengan mereka berdua.
Meski telah menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, perasaan Al tak tenang sebelum Milly mau bicara lagi padanya.
“Baby, sampai kapan kamu mau mendiamiku begini?” tanya Al.
“Baby, mengertilah jika semua itu kulakukan karena aku teramat mencintaimu. Tak bisa ku bayangkan hidupku tanpamu, dan semua ini hanya caraku untuk melindungi hubungan kita baby.” Jelas Al.
Orang lain akan menilai Milly adalah gadis bodoh, biarlah.
Orang lain akan menilai Milly sebagai gadis bucin, biarlah.
Yang Milly tahu, saat ini amarahnya mulai luluh mendengar pengakuan Allard mengenai cinta yang begitu besar untuknya.
“Jika tujuanmu pulang untuk memberi pelajaran pada Jeremy, maka sekarang pergilah. Kamu sudah berhasil melakukan keinginanmu." Ucap Milly masih dalam mode ketus.
“Yah, itu memang salah satunya. Tapi yang lebih utama adalah karena aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.” Ucap Allard lirih tepat di ceruk leher Milly, membuat tubuh gadis itu meremang.
“Al, apa yang kau lakukan,” ucap Milly sembari mengusap lehernya yang tadi terkena hembusan napas Al.
“Al?” ulang Allard.
“Sejak kapan kamu memanggilku seperti orang lain memanggilku?”
“Apa kini aku sudah tak berarti apa-apa lagi bagimu?” keluhnya.
Milly merasa tak tega, Ia tak akan tega melihat wajah memelas milik prianya.
“Bukan begitu Beb, aku, aku, aku hanya terkejut melihat sisi dirimu yang seperti ini. Tak kusangka kau bisa melakukan hal kejam pada orang lain.”
Mendengar Lili, kekasihnya, kembali meyebut panggilan sayang untuknya, dengan berani Al mengecup bibir ranum yang Ia rindukan.
Hanya mengecup.
Rona merah menghiasi wajah putih mulus milik Milly, membuat Al semakin gemas karenanya.
“Cintaku padamu mampu membuatku melakukan hal-hal diluar perkiraanmu sayang. Jika orang lain akan mengorbankan nyawanya demi cinta, aku akan memilih mengorbankan nyawa orang lain sebagai gantinya. Karena ku tau, kau sama saja denganku, kita tak akan bisa hidup jika tidak bersama.”
Lengan kekarnya mendapat pukulan dari Milly.
Meski tidak terasa sakit, Al tetap meringis.
“Auuuchhh, setelah menyakiti hatiku dengan membuatku cemburu, kini kau menyakiti lenganku beb.”
Tawa renyah Milly akhirnya bisa kembali Al nikmati.
“Lagian kamu mengubah quotes romantis menjadi quotes horor,” ucap Milly beralasan.
“Kenapa membawa-bawa nyawa orang lain sebagai pengorbanan cintamu, kamu mengacaukan alur romantis cerita pengorbanan demi cinta.” Kesal Milly.
Al ikut tertawa, “Aku hanya berpikir realistis Baby.”
Keduanya lalu berjalan bersama meninggalkan ruangan Al.
Tangan Al yang terus melingkari pinggang kekasihnya menjadi objek pandangan yang cukup menarik perhatian, membuat jiwa-jiwa para jomblo menangis bombay.
Sementara dari kejauhan, Daddy Sean dan Daddy Robert menatap putra dan putri mereka.
Mereka sengaja bersembunyi, seolah-olah mereka tak tahu dengan semua kelakuan Al.
“Padahal aku menanti aksi Al yang lebih dari ini. Jujur aku kecewa,” ucap Daddy Robert.
Daddy Sean menatap tak percaya pada ucapan sahabatnya.
“Apa kau berharap putraku benar-benar melakukan aksi mengorbankan nyawa orang lain?” tanyanya.
Daddy Robert hanya mengedikkan bahunya.
“Mungkin tidak perlu sejauh itu, mungkin patah kaki, patah tangan, atau cedera serius, itu sudah cukup.” Lanjutnya.
__ADS_1
“Kau gila. Putraku pebisnis, Robert. Dia akan menyelesaikannya dengan cara seorang pebisnis.” Jelas Sean.
“Well, apapun itu. Aku senang karena Al membuktikan sekali lagi jika dia benar-benar mencintai putriku. Ku yakin jika Griselda mengetahui hal ini, dia tak akan berhenti mengoceh.” Ucap Daddy Robert.
“Mengoceh? Harusnya dia senang dan bangga." Balas Daddy Sean.
“Ya. Karena kita tak bertindak apapun saat Al tengah bersikap sewenang-wenang pada orang lain.” Jawab Daddy Robert.
Daddy Sean mengangguk menyetujui ucapan sahabatnya.
“Apalagi jika Grisel tau jika suaminya berharap Al untuk ......” ucapan Daddy Sean disela oleh Mommy Carol.
“Berharap Al untuk apa? Katakan.” Pinta Mommy Carol.
“Jangan bilang kalian sedang mengajarkan Al sesuatu yang aneh-aneh,” tudingnya.
Kedua Daddy segera menggeleng bersamaan.
“Tapi sejak tadi kalian membahas Al, memangnya Al ada di negara ini?” tanya Mommy Carol.
Kedua Daddy kini mengangguk bersamaan.
“Astaga, dasar anak nakal. Dia kembali dan tak menghubungiku.” Gerutu Mommy Carol.
“Biarkan dia menghabiskan waktu bersama Milly. Ini juga salah kita karena membuat mereka harus berhubungan jarak jauh.” Ucap Daddy Sean membela Al, putranya.
“Salah kita?” ulang Mommy Carol.
“Yang benar ini semua salah Ayahmu.” Sambungnya.
“Benar, Ayahku yang tak lain adalah Ayah mertuamu.” Balas Daddy Sean.
Daddy Robert hanya menjadi penonton pasangan suami istri yang sedang berdebat mengenai hal yang tak penting, Ia hanya bisa menggeleng.
“Tak bisa ku banyangkan jika Uncle Gilbert sampai tau kalau kalian berdua menyalahkannya,” celetuk Daddy Robert lirih.
Sontak Ia mendapat tatapan tajam bersamaan dari pasangan suami istri yang tak lain adalah sahabatnya.
♡♡♡♡♡♡
“Aku akan menghapus ingatanmu akan momen yang kamu habiskan berdua dengan pria itu.”
Milly menghela napasnya, “Ku pikir kamu telah melupakan kesalah pahaman itu.”
Al terkekeh, “Maaf, maaf Baby. Aku hanya bercanda. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, tempat dulu aku selalu memikirkanmu, membayangkan memelukmu, mencium bibir manismu.”
Wajah Milly kembali merona hanya karena ucapan Al.
Al semakin gemas pada gadisnya.
"Milly, berapa lama lagi aku harus menunggu untuk bisa memakanmu?" tanyanya asal.
“Masih sangat lama, karena kamu harus menungguku mati lebih dulu.” Jawab Milly juga asal.
Bukannya Ia tak tahu maksud ucapan Al, Ia hanya tak ingin wajahnya semakin merona karena bayangan aneh di pikirannya.
“Bukan itu maksudku Baby, kau pasti mengerti maksudku yang sebenarnya.”
Milly hanya mengedikkan bahunya.
“Apa Mommy Grisel bisa mengetahui jika aku melanggar janjiku padanya?” Ucap Al dengan suara berbisik.
“Kurasa aku akan sulit menahannya jika kamu selalu tersenyum semanis ini.” Lanjutnya.
Milly memberikan cubitan di lengan Al.
“Mommy bahkan sudah mendengarkan niatmu. Tunggulah dia akan menemuimu di dalam mimpi.” Ucap Milly disertai tawa.
“Berarti kamu juga akan bertemu dengannya, karena setiap mimpiku selalu ada kamu Baby.”
“Beb,” pekik MIlly menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Kamu semakin pandai menggombal. Apa orang Indonesia pandai menggombal? Siapa di sana yang mengajarimu.” Ujar Milly masih dengan tangan yang menutup wajahnya.
__ADS_1
“Ayo dong, please, rona merah di wajahku, pergilah dulu. Aku malu, sangat malu.” Batin Milly.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Mobil yang Al kemudikan, melaju memasuki halaman besar sebuah universitas.
“Untuk apa kita ke kampusmu Beb?” tanya Milly.
“Bukan kampusku Beb, aku bukan pemiliknya. Dan juga aku tidak lagi terdaftar sebagai mahasiswa sejak akhir tahun kemarin.” Jelas Allard.
“Lalu, untuk apa kita ke sini?” tanya Milly lagi.
Ia tak merasa ada jawaban dari ucapan Al yang sebelumnya.
Al bungkam, mobil yang melaju semakin jauh ke dalam. Universitas ini memang di bagian belakangnya masih terdapat sebuah hutan yang belum tersentuh.
Hingga mobil Al berbelok ke sisi kanan universitas. Nampaklah sebuah bangunan yang terpisah dari bangunan utama.
“Ini adalah asrama pria,” Jelas Al menunjuk bangunan yang tadi dilihat Milly.
Mobil berhenti tepat dibelakang asrama itu.
Terdapat padang rumput hijau, dengan bukit-bukit kecil yang belum tertutup rumput dengan sempurna.
Ada beberapa meja dan kursi kayu.
“Ayo turun Baby,”
“Kita akan membuat kenangan musim semi kita disini.” Ajak Al.
Milly menerima uluran tangan Al.
Dengan saling merangkul pinggang, keduanya berjalan di atas rerumputan hijau yang menenangkan.
Meski sinar matahari mulai menyilaukan, namun sejuknya hembusan angin cukup menyejukkan dan membuat sepasang kekasih ini betah menghabiskan waktu di sana.
Berlarian, saling berkejar-kejaran, saling memeluk, berciuman, berbaring bersama dengan alas rerumputan dan menatap indahnya langit biru bagai lukisan di atas kanvas.
Al antusias bercerita mengenai waktu-waktu yang Ia lewatkan di Indonesia, mengenai sahabat kecilnya yang bertemu dengannya kembali.
Juga mengenai Paman yang sepertinya tidak menyukai kehadiran Al di sana.
Potret demi potret wajah Milly, sengaja Al kumpulkan sebanyak mungkin.
Ia ingin memiliki wajah cantik kekasihnya di setiap sudut pada setiap ruangan yang Ia tempati di Indonesia.
Seperti saat ini, Al sedang mengganti wallpaper ponselnya dengan foto terbaru dari Milly hasil jepretan kameranya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Sekarang kita akan kemana lagi Beb? Apa rahasia lagi?”
Al menggeleng, “Malam ini akan kita habiskan berdua di apartemenku.”
“Berdua di apartemen?” ulang Milly terbata-bata sambil sesekali menelan salivanya.
Ingatannya berkelana saat mereka pertama kali menghabiskan malam berdua sebagai sepasang kekasih.
Wajahnya kembali merona, mengundang tawa dan tanya dari Al.
“Wajahmu merona Baby, apa lagi kali ini yang ada di pikiranmu?”
“Jika seperti ini, aku curiga kamu yang akan menyerangku lebih dulu.” Ledek Al.
Milly mencebikkan bibirnya karena bukannya membalas ledekan Al, namun wajahnya malah semakin merona.
“Wajahku, bersyukurlah karena kau cantik. Jika tidak aku tak akan memaafkanmu yang terus merona di hadapan Al. Aku malu tau!” Batin Milly.
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
"Jika pemandangan langit biru memenuhimu dengan sukacita, jika sehelai rumput muncul di ladang, memiliki kekuatan untuk menggerakkanmu, jika hal-hal sederhana dari alam memiliki pesan yang kamu pahami, bersukacitalah, karena jiwamu itu hidup." - Eleonora Duse
__ADS_1