Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 36. Berharap semua hanya mimpi


__ADS_3

Kecewa.


Bagaimana cara Milly mengungkapkan jika kini hatinya sangat kesal.


Banyak yang mengira jika menjadi Milly maka hal apa pun bisa ia dapatkan dengan mudah.


Tidakkah orang lain mengerti jika kebahagiaan tidak selamanya bisa dibeli dengan uang.


Sama halnya kebahagiaan... kecewa pun pasti akan dirasakan oleh setiap orang, sebab tak ada hidup yang selalu berjalan sesuai dengan keinginan diri sendiri.


Seperti saat ini, entah sudah berapa jam berlalu sejak Milly memutuskan sambungan panggilan video dengan Al, tunangannya.


Sebuah berita buruk akhirnya ia terima, jika Al tak akan bisa hadir pada hari ulang tahun mereka.


Dan lagi-lagi alasannya karena pekerjaan.


Ingin rasanya Milly mengungkapkan kekecewaannya, saat Al terlampau sibuk dengan pekerjaannya hingga membuat dirinya merasa dilupakan.


Namun hal itu tak pernah ia lakukan sebab tak ingin dirinya dinilai telah bersikap kekanakan.


Lantas apakah kekecewaannya kali ini harus ia pendam lagi?


Kabar baiknya sejak diizinkan tinggal seorang diri di apartement, Milly tidak lagi harus memaksakan untuk tersenyum meski hatinya menangis.


Jadilah malam ini dilewati oleh wanita cantik itu dengan menangis sepuasnya.


Dengan lantang wanita itu mengeluarkan semua keluhannya terhadap perubahan sikap Al.


Dengan lantang wanita itu mengakui jika dirinya begitu mencintai pria yang baru saja mengecewakannya.


Terakhir, lirih wanita itu mengakui jika kini ia takut, Ia takut kehilangan Al.


“A-a-pa aku salah jika takut kehilanganmu?”


“A-a-pa aku salah jika takut kau tak mencintaiku lagi?”


Lirih pertanyaan itu terucap dari bibirnya yang bergetar lalu disusul tangisannya yang kembali pecah mengisi kekosongan malam yang teramat sepi.


Milly merindukan Allard. Batinnya tersiksa karena rindu.


Lalu bagaimana dengannya? apa dia juga merindukanku? tanyanya dalam hati.


...****************...


Di belahan bumi yang lain, sesuatu yang sedang terjadi pada seorang pria rupanya tak jauh berbeda dengan yang kini dialami Milly.


Allard.... hati pria itu kini juga tengah menangis.


Ya, benar. Hatinya meringis menahan pedih.


Meski tak terisak dan meraung-raung seperti tunangannya, namun ia yakin jika sesak yang terasa di hatinya tak jauh berbeda dengan yang dirasakan Milly.


Netranya tampak sendu, ia menyesal sebab saat ini dirinya tidak bisa melakukan apa pun selain menatap pada gawainya yang tergeletak tak berbentuk lagi di lantai.


Miris bukan?


Allard merasa hatinya remuk saat melihat wanitanya begitu terluka karenanya.


Semua tangisan Milly, semua keluh kesah wanita itu bisa Al dengarkan lewat benda pipih yang baru saja hancur setelah pria itu melemparkan dengan keras dan sukses menghantam dinding yang kokoh.


Dari orang suruhannya yang memang Allard khususkan untuk menjaga dan mengawasi Milly, pria itu akhirnya tahu betapa antusiasnya wanita kesayangannya dalam menyiapkan pesta kejutan untuk ulang tahun mereka berdua.


Bukannya ia tak seantusias Milly, pria itu sama antusiasnya. Besarnya rasa rindu pria itu pun tak kalah besar dengan rasa rindu wanitanya.


Allard bahkan merencanakan sesuatu yang lebih besar dari Milly.

__ADS_1


Sekali lagi, pria itu berniat melamar Milly di hari spesial mereka berdua. Ia ingin menunjukkan betapa dirinya serius dengan hubungan ini.


Yang terpenting, Al ingin Milly tahu betapa ia menginginkan wanita itu untuk selalu berada di sisinya.


Rasanya semua hal terdengar nyaris sempurna, andai saja bisa berjalan sesuai dengan keinginannya.


Hingga kejadian semalam menghancurkan segalanya.


Dan si*lnya, semua itu karena dua hal yang selama ini ia coba hindari. Wanita dan n*fsu.


...****************...


“Apa lagi yang kamu pikirkan sayang?” suara manja dari seorang wanita menginterupsi Al yang sedang menghukum dirinya sendiri.


Mudah saja baginya untuk menghukum dirinya, Allard cukup memutar ulang memorinya. Membayangkan bagaimana air mata lolos dari sepasang netra indah Milly.


“Kenapa kau masih di sini?” tanya Al tampak tak berminat dengan kehadiran seorang wanita cantik dan berpenampilan seksi.


Rachel nama wanita cantik itu. Berprofesi sebagai seorang model dan aktris tentu saja menuntutnya untuk selalu berpenampilan menarik. Jadi tak salah jika banyak pria yang dengan mudahnya tersihir oleh pesonanya.


“Mana bisa aku meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini,” ungkapnya terdengar penuh perhatian.


Al tak menanggapinya, pria itu memalingkan wajahnya. Dirinya merasa begitu bersalah, merasa sangat menyesal tiap kali ia memandang Rachel.


Rachel sudah terbiasa dengan sikap Al yang acuh padanya, tanpa permisi ia duduk disisi Al lalu melingkarkan kedua tangannya pada pinggang pria itu dari samping. Bahu kokoh Al ia gunakan sebagai sandaran kepalanya.


“Bukannya kita sudah sepakat? Aku menerima semuanya sayang. Aku tak peduli pada apa pun. Yang kuinginkan hanya selalu berada di sisimu," ucapnya.


"Aku tak meminta cintamu, cukup izinkan aku berusaha membuatmu mencintaiku," ungkapnya.


"Mengenai tunanganmu, bukankah kita sudah membicarakannya dan sudah sepakat?"


Sepakat? Apa benar kami sudah sepakat?


Sejak kapan aku menjadi begitu gila dengan melakukan semua ini. Batin Al.


...****************...


“Siapa yang membuatmu menangis hingga matamu sembab seperti ini?”


“Katakan Milly, katakan! Jangan diam saja dan membuat kami semakin khawatir?”


Pertanyaan setengah membentak itu kini datang dari Edric, sahabatnya.


Sementara Alin kini memeluk Milly, ia bertugas menenangkan sahabatnya yang kembali menitikkan air mata.


Sejak pagi Milly tak kunjung datang ke kampus. Semua orang yang mengenal wanita itu tentunya tahu jika bukan kebiasaan seorang Milly untuk melewatkan kelas perkuliahan, kecuali dalam keadaan mendesak.


Ditambah Milly yang tak bisa dihubungi oleh Edric dan Alin, membuat kedua sahabat itu semakin khawatir hingga memutuskan untuk mengunjungi apartemen Milly.


Betapa terkejut keduanya saat melihat penampilan Milly yang bagaikan mayat hidup.


Pakaian yang melekat ditubuhnya masih sama dengan pakaian yang ia gunakan terakhir kali mereka bertemu. Surai yang bisanya tergerai indah dengan kilauan kini tampak kusut dan acak-acakan.


Satu lagi... meski tetap cantik, namun mata sembab dan bibir pucatnya tak bisa berbohong jika telah terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu.


“Dric... kamu bisa lebih tenang gak?” Sela Alin.


“Kamu buat Milly makin nangis,” ungkapnya.


Edric melirik ke arah Milly, dan benar saja wanita itu kini sudah terisak-isak dalam pelukan Alin.


Setelah lebih tenang Milly akhirnya mulai bercerita. Kedatangan Alin dan Edric yang terlihat begitu khawatir padanya membuat Milly yakin untuk membagi sedikit beban di hatinya.


Alin dan Edric mendengarkan kata demi kata yang terucap dari bibir Milly.

__ADS_1


Sesama wanita yang memiliki perasaan lebih lembut, Alin bisa mengerti meski tak bisa merasakan bagaimana kekhawatiran Milly.


Berbeda dengan Edric, pria itu merasa Milly sedikit berlebihan. Sontak saja, tepat setelah Pria itu mengungkapkan pendapatnya, timbul perdebatan antara dirinya dan Alin.


“Buktikan saja!” celetuk Edric.


“Maksudmu?” tanya Milly.


“Kenapa tidak dibuktikan saja?” usul Edric.


“Caranya?” tanya Milly polos.


“Susul saja tunanganmu itu,” jelas Edric.


“Dengan begitu selain bisa meyakinkan jika kecurigaanmu itu tidak benar, kamu juga bisa menjadikan kunjunganmu ini sebagai kejutan ulang tahun untuknya,” imbuh Edric.


Usulan Edric disetujui oleh Alin, bahkan wanita itu mengajukan diri untuk menjadi teman perjalanan Milly kali ini.


Sedangkan Si pemberi ide, menolak untuk ikut dalam perjalanan kedua sahabatnya.


Pria yang berasal dari salah satu pulau terkenal dari Indonesia yaitu Bali, menolak untuk ikut dengan alasan tugas kampus yang menumpuk.


...****************...


Hari yang ditunggu-tunggu oleh Milly akhirnya tiba. Susah payah wanita itu memberi alasan pada Ayah dan Kakeknya juga pada orang tua Allard, jika ulang tahunnya batal terlaksana sebab ia memiliki tugas dari kampus yang mengharuskannya berangkat ke luar kota.


Edric yang bertugas mengantar keduanya ke Bandar Udara Internasional Seattle- Tacoma Washington.


“Edric kamu masih ingat kan apa yang harus kamu katakan jika Allard atau Daddy-ku menghubungimu?” tanya Milly sekali lagi memastikan jika semuanya akan berjalan sesuai rencana.


Milly sudah bertekad agar rencananya kali ini berjalan dengan lancar, bahkan dia sampai menyewa seorang detektif swasta untuk mencari tahu di mana keberadaan tunangannya saat ia mendarat nanti di Negera yang baru pertama kali ia kunjungi.


Petunjuk yang diberikan oleh Detektif sewaannya mengantarkan Milly ke sebuah klub malam.


Klub malam yang terkesan mewah dengan pengunjung yang penampilannya sangat berkelas. Begitulah penilaian Milly mengenai tempat itu.


Dua wanita asing itu tak ingin kehadiran mereka mengundang perhatian, akhirnya memutuskan mencari meja yang kosong untuk mereka huni.


Berniat mencari meja yang kosong, namun sorot mata Milly mendapati hal yang seketika menghancurkan hatinya.


Tunangannya sedang bermesraan dengan seorang wanita yang sedang duduk dipangkuannya.


Belum cukup tersakiti hanya lewat pandanganya, dengan jelas Milly bisa mendengar jika malam ini adalah perayaan hubungan keduanya.


Milly berbalik mencari Alin. Ketika netranya menemukan sosok sahabatnya itu, ia bergegas mengajak Alin pergi dari tempat itu.


“Apa harus banget langsung balik ke Seattle sekarang juga?“ tanya Aline saat taksi sudah melaju dengan tujuan bandara.


Bukankah baru beberapa jam lalu mereka meninggalkan bandara, pikir Alin.


“Aku ketahuan Daddy.“ Jawab Milly singkat .


Alin menatap wajah Milly.


Mungkin saat ini kamu masih berkilah Mill, tapi aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Batin Aline .


Menyesal.


Aku berharap tidak pernah kemari dan berakhir mengetahui penghianatanmu. Batin Milly .


Akan ku simpan kenyataan ini untuk diriku sendiri.


Kuizinkan dirimu menghancurkan hatiku, hancurkan berkali-kali hingga hati ini tak bisa lagi mencinta.


Setelah itu aku akan pergi dari kehidupanmu tanpa takut tersakiti lagi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2