
“Baby … mau ke mana kamu?”
Atensi Allard yang semula terfokus pada gawainya akhirnya teralihkan setelah netranya menangkap sosok Milly yang sudah rapi dan sepertinya hendak pergi.
Tanpa peduli dengan pertanyaan Allard, wanita cantik dengan mata yang sembab itu terus saja terfokus untuk mengaitkan tali sepatu hak tinggi yang akan ia kenakan.
Batin Milly sedang berperang saat ini. Ada perasaan sedih juga benci, ada rasa rindu dan juga amarah yang kini berkecamuk dalam hati wanita yang cinta tulusnya baru saja dikhianati.
“Baby!” tegur Allard.
Suaranya mulai meninggi, hingga akhirnya dengan enggan Milly mengarahkan pandangannya pada Allard.
Huft, wajah tampan itu sangat kurindukan. Sayangnya, ketampananmu saja tak cukup bagiku untuk memaafkan pengkhianatanmu. Geram Milly dalam hati.
Tanpa sadar Milly menyeringai membuat Al sontak tersentak.
Ke mana senyum indah yang biasa menyambutku? Mengapa tak ada aura cinta dan kerinduan darinya? Apa benar jika dia mengetahui segalanya dan kini membenciku? Batin Allard sibuk bertanya pada dirinya sendiri.
Di satu sisi pria ini tak sabar untuk mengetahui pasti apa penyebab perubahan sikap tunangannya. Sedang di sisi lain, ia pun tak sanggup jika kecurigaan Kalvin benar adanya.
Intinya Allard tak akan sanggup dan tak akan mampu kehilangan Milly.
“Jika kamu hanya diam, maka aku pergi sekarang,” ujar Milly membuyarkan lamunan Al tentang segala pertanyaan dalam batinnya.
Milly sudah beranjak dari tempat duduknya semula, namun langkahnya terhenti saat Allard meraih salah satu pergelangan tangannya.
“Aku akan mengantarmu, baby.”
“Tak u-“ penolakan yang hendak Milly lontarkan segera disela oleh Al.
“Sssstttt … aku tahu kamu ingin menghindariku. Sebelum aku tahu alasannya mengapa, aku tak akan membiarkanmu melakukan semua itu.”
Allard lantas berlari ke dalam kamar guna mengambil coat dan juga kunci mobilnya.
Sementara dari tempat Milly berdiri mematung, pria itu masih bisa dengan jelas mendengarkan gumaman sang tunangan yang seketika membuat dadanya terasa sesak.
“Terserah apa katamu, namun setelah malam ini kamu tak akan bisa mencegahku lagi melakukannya.”
Begitulah yang ditangkap indra pendengar Al. Hanya satu kalimat yang mampu membuat hatinya bagai terkoyak.
Tidak sayang! Tidak semudah itu untuk lepas dariku. Kamu milikku sejak pertama kali kamu menyapa dunia, batin Allard.
Pria itu tak akan pernah rela jika harus kehilangan wanitanya, Milly.
...****************
...
Sesuai permintaan sang ratu di hatinya, Allard melajukan mobilnya menuju kampus Milly yang jaraknya sangat dekat. Tak sampai 10 menit mengemudi kini mobil mewah berwarna merah muda milik Milly sudah memasuki area kampus.
__ADS_1
Tak banyak mahasiswa yang berlalu lalang seperti biasanya, hal itu membuat Al ragu untuk meninggalkan Milly seorang diri di sana.
“Kamu yakin jika hari ini ada perkuliahan?” tanya Al. “Lihatlah, bahkan parkiran kampus pun sangat sepi, baby.” Imbuhnya.
Milly turut mengedarkan pandangannya ke sekitar, dan membenarkan ucapan Al.
Tentu saja kampus sepi. Semua orang pasti sedang menghabiskan waktu berharga mereka dengan orang yang mereka sayangi. Batin Milly.
Bagaimana tak sepi jika hari ini hingga akhir pekan tiba, tidak akan ada jadwal perkuliahan. Dan harusnya waktu ini juga dimanfaatkan oleh Milly untuk bersenang-senang dan melepas rindu bersama Al di Indonesia.
Lagi-lagi air mata seolah memaksa untuk tumpah dari pelupuk matanya saat mengingat kejadian malam itu.
Al bukanlah pria bodoh yang tak menyadari hal itu. Allard yang tak ingin setetes air mata pun tumpah membasahi pipi wanitanya segera meraih tubuh Milly dan dia bawa dalam dekapannya.
“Baiklah ... baiklah, aku akan pergi.” Ujarnya dengan suara yang turut bergetar.
“Cepatlah selesaikan kuliahmu, belajar yang rajin dan kita akan segera menikah,” ungkap Al.
“Aku sangat mencintaimu, baby.”
Meski tahu tak akan ada balasan dari Milly, Allard tetap menautkan kedua bibir mereka. l
Sebuah kecupan ia berikan sebelum benar-benar melangkah pergi dengan berat hati.
Sebelum Allard masuk ke dalam mobilnya, ia sempat melihat pemandangan yang sukses membuatnya kesal.
Seorang pria yang tak asing baginya sedang berjalan ke arah Milly sembari menyerukan nama tunangannya.
Dari jauh tampak Edric melambaikan tangan pada Al yang dibalas pula dengan lambaian tangan oleh Al.
Lalu yang membuat pria itu geram sebab Milly yang dengan sengaja menarik tangan Edrick untuk segera pergi menjauh.
...****************
...
Berkali-kali Allard melayangkan pukulan pada kemudi yang sejak tadi ia cengkram dengan erat.
“Si*al!!!!”
“Harusnya sejak dulu aku tak pernah mengizinkan Milly untuk berteman dengan pria asia itu.” Gerutunya.
Al menyadari jika menggerutu sendiri seperti ini sama sekali tak berguna.
Sampai terdengar suara deringan ponsel yang berada di dalam saku Coat-nya.
“Mommy,” gumam Allard lirih.
Segara ia jawab panggilan dari wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
__ADS_1
“Halo Mom …” sapanya.
Betapa besar rindunya pada wanita di seberang telepon.
“Allard … makan malam nanti, jadi kan?” tanyanya.
“Mommy tak ingin lagi kalian berdua banyak alasan,” lanjut Mommy Carol.
“Mommy sangat merindukan kalian berdua,” imbuhnya.
Hanya beberapa detik yang dibutuhkan Allard hingga sebuah ide terlintas dibenaknya.
“Mommy, aku perlu bertemu denganmu.”
Setelah memutus sambungan teleponnya, mobil Allard melaju dengan cepat membelah jalanan untuk menemui Mommy Carol.
Semoga saja setelah rencana ini sukses, Milly tak akan pernah bisa menjauh dariku. Batin Al.
...****************...
Malam pun tiba, Al sungguh dibuat gusar sebab hingga satu jam sebelum makan malam di mulai, Milly belum juga kembali ke apartemen.
Setelah bertemu dengan sang ibunda, Allard berniat menjemput Milly di kampus. Namun keadaan kampus bukannya semakin ramai, melainkan semakin sepi.
Hingga saat Allard bertanya pada salah satu petugas kebersihan yang memberitahu fakta jika tak ada jadwal perkuliahan apa pun hingga pekan depan.
Allard mencoba bersikap lebih tenang. Tak akan ia rusak momen indah yang akan ia ukir malam ini hanya karena emosi sesaatnya.
Seperti dirinya, Milly juga punya hak untuk marah. Dan saat ini wanita itu sedang merajuk karena batalnya pesta ulang tahun yang telah ia rencana sedemikian rupa, begitu pikirnya.
Sayangnya baru saja Al hendak menenangkan perasaannya dengan berpikir positif, sebuah pesan singkat dari sang tunangan membuatnya mencengkram erat gawai yang berada dalam genggamannya.
Aku akan berangkat sendirian ke restoran. Sampai bertemu di sana.
Isi pesan singkat yang benar-benar singkat itu telah membakar kembali api amarah yang Allard coba redam.
Tanpa membuang waktu lagi, segera Allard lajukan mobilnya menuju restoran tempat mereka janjian.
Tak butuh waktu lama untuk Al sampai ke restoran. Namun tak sesuai harapannya, di meja yang sudah dipesannya kedua orang tuanya, kakeknya, ayah dan kakek Milly pun sudah tampak duduk di sana.
Semuanya tampak sangat bahagia. Senyum mengembang di wajah para paruh baya dari dua keluarga. Berbeda dengan Al yang masih berdiri mematung dengan tangan terkepal menahan emosi sebab tak ia dapati Milly di sana.
Bukannya menemui keluarganya, Al justru berbalik badan dan kembali keluar. Ponselnya tak pernah henti menghubungi Milly.
“Br*ngs*k!” umpatnya.
Bagaimana tidak dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Milly yang baru saja turun dari mobil, setelah dibukakan pintu oleh seorang pria.
“Lagi-lagi pria itu!” Geram Al.
__ADS_1
“Milly!” teriaknya membuat sepasang pria dan wanita menoleh padanya dengan tatapan heran.
...****************...