
Pesta pertunangan impian Christy akhirnya berantakan. Tak ada dansa romantis ataupun acara bertukar cincin layaknya pesta pertunangan lainnya. Noah … pria yang seharusnya melakukan itu semua dengannya, kini sedang sibuk mencari wanita lain.
Christy sebenarnya juga ikut panik saat mengetahui jika Milly menghilang. Tak ngin membuat keadaan semakin kacau, wanita itu memilih untuk bersikap tenang. Beruntung dirinya pandai dalam berakting. Christy akhirnya melanjutkan acara seorang diri, agar tamu undangan yang lain tak tahu ketegangan yang sedang terjadi.
“Stella! Brengs*k!”
Allard yang tak sengaja melihat Stella tertawa bersama beberapa orang rekannya, sontak menghampiri wanita itu dan langsung mencengkram lengannya.
“Di mana Milly?!” bentaknya.
“Milly? Bukannya dia bersamamu?” Raut wajah Stella berubah panik.
“Hentikan sandiwaramu, Stella!” Allard semakin mengeratkan cengkramannya pada lengan Stella.
“Aku berani bersumpah, aku tak tahu Milly di mana.”
“Benar, tadi aku bersamanya. Lalu aku ke toilet dan memintanya menungguku. Namun, saat kembali Milly sudah tak berada di sana. Kupikir dia kembali padamu,” jelas Stella.
“Omong kosong!” Bentak Allard sekali lagi.
“Milly tak mengenal siapa pun di sini. Sama siapa lagi dia akan pergi, huh!” Allard melampiaskan segala amarahnya pada Stella.
“Tapi … aku bersumpah, Al. Jika bukan karena kamu yang tiba-tiba datang dan marah padaku, mungkin aku tak akan tahu jika Milly belum kembali.” Stella tetap saja berkilah.
Al masih ingin meluapkan amarahnya pada Stella, beruntung Kalvin datang dan mencegahnya.
"Lepasin dia, Al!” serunya.
“Apa?! Lu belain dia?!” Amarah Al semakin menuju puncaknya.
“Ya! Karena bukan dia pelakunya,” jawab Kalvin.
“Salah seorang pelayan di dapur melihat Milly bersama tiga orang wanita,” jelasnya.
Mendengar penuturan Kalvin, akhirnya Al melepas cengkramannya pada lengan Stella. “Lalu mereka ke mana?”
“Digta, Noah, dan petugas keamanan hotel sedang menyusuri jalan yang ditunjukkan pelayan itu.”
“Ayo! Kita harus segera menyusul,” imbuh Kalvin kemudian melangkah dengan cepat memimpin jalan.
Mereka melewati lorong yang gelap dan sempit. Menurut petugas keamanan hotel, jalan ini menuju ke gudang yang sudah lama tak terpakai.
__ADS_1
Lokasinya tak jauh dari dapur, hanya saja sangat sepi karena tak ada tempat lain selain gudang tak terpakai itu. Hingga mereka menyimpulkan, Milly dan tiga wanita itu pasti menuju ke sana.
Namun yang menjadi pertanyaan dalam benak Allard, untuk apa Milly ke sana dan siapa tiga orang wanita itu?
“Sepertinya benar, mereka ke mari.” Seru seorang petugas ketika mendapati gembok gudang telah dirusak.
Al dan yang lainnya bergegas masuk ke dalam gudang yang ukurannya cukup luas dan penuh dengan barang. Banyaknya debu membuat semua orang merasa sulit untuk bernapas. Selain karena minimnya pencahayaan, tumpukan barang yang tak beraturan menyulitkan pencarian.
“Sepertinya informasi itu salah, Milly tak mungkin ke tempat seperti ini!” Gumam Al.
“Jangan menyerah, kita cari du-“ ucapan Kalvin disela oleh teriakan Digta.
“Bro! Milly di sini!” Teriaknya entah dari sudut yang mana.
Al semakin panik karena tak bisa segera memperkirakan dari arah mana sumber suara itu. Beruntung cahaya ponsel Digta memudahkan Allard dan yang lainnya menemukan posisi Digta.
“Baby!” Pekik Allard saat melihat Digta berjongkok di dekat tubuh Milly yang terbaring dan bersimbah darah.
Perlahan dan hati-hati Allard mendekap tubuh Milly. Tanpa menunggu perintah, Kalvin menghubungi rumah sakit terdekat.
“Baby, si-siapa yang melakukan ini padamu?” tanya Allard dengan suara yang bergetar.
Ingin rasanya ia segera menggendong Milly, membawanya ke rumah sakit. Namun ia khawatir akan membuat gerakan yang salah, malah akan membawa dampak buruk bagi Milly. Memastikan Milly masih mengembuskan napasnya, saat ini sudah cukup bagi Allard.
“Saya ingin mengetahui siapa pelakunya, malam ini juga!” Tuntut Allard pada petugas keamanan hotel.
“Kalian tahu apa yang bisa kulakukan, seandainya aku tak mendapatkan apa yang ku inginkan,” lanjutnya sebelum ambulans melaju meninggalkan hotel.
.................
Sungguh si*l!
Kamera CCTV yang ada, tak lagi menyorot ke area jalan menuju gudang. Amarah Kalvin hampir saja meledak saat ia mengetahui fakta tersebut. Selain Allard, dirinya adalah orang kedua yang paling merasa bersalah. Dirinya telah lalai menjaga Milly. Beruntung, salah satu kamera ada yang menyorot mereka saat berjalan keluar dari ballroom.
“Itu … di sana! Lihat, Milly bersama tiga orang wanita,” ucap Noah.
Dari rekaman kamera pengawas yang sengaja diputar dalam mode adegan lambat, terlihat mereka berjalan keluar dari ballroom bersamaan. Milly pun berjalan dengan santai, tak terlihat ada paksaan di sana. Mereka malah terlihat seperti sekumpulan teman.
Rekaman kamera pengawas tersebut juga, akhirnya membenarkan pernyataan Stella. Tak ada sosok wanita itu di antara tiga wanita yang pergi bersama Milly.
“Aku ingin salinan video ini,” pinta Kalvin. Salinan video tersebut yang akan dia gunakan untuk melapor ke pihak yang berwajib.
__ADS_1
“Tunggu!” Pekik Noah tiba-tiba.
“Tolong putar ulang videonya!” suruh Noah. Pria itu mengamati dengan seksama video itu.
Noah memutar video itu berulang-ulang, sebelum akhirnya ia memekik.
“Dia … aku mengenal wanita ini!” Tunjuknya pada salah seorang wanita di layar monitor.
“Helena! Dia adalah sekretarisku,” gumam Noah.
Pria itu seakan tak percaya jika wanita yang dalam kesehariannya terlihat begitu lemah lembut, dapat melakukan hal yang sangat keji. Namun, mengingat bagaimana hubungan Allard dan Helena dahulu, bukan tak mungkin wanita itu tega melakukannya.
Sementara di rumah sakit, dokter mengatakan beruntung sebab Milly cepat ditemukan dan mendapatkan penanganan yang tepat. Pendarahan di kepalanya karena terkena pukulan benda tumpul pun telah berhasil dihentikan. Luka-luka lain di sekujur tubuh Milly juga telah diobati. Milly kini telah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP.
Hingga lima jam berselang Milly masih belum sadarkan diri. Tak henti Allard membelai lembut puncak kepala Milly. Sesekali ia mengecup perban di kepala dan beberapa bagian tubuh Milly yang lain. Sama seperti yang sering ia lakukan dahulu, ketika keduanya masih kecil.
“Baby, sadarlah. Kumohon katakan padaku jika kamu baik-baik saja,” lirih Allard. Dirinya merasa sangat bersalah telah lalai menjaga wanita yang ia cintai.
Dan saat mentari mulai menampakkan dirinya dari ufuk timur, bersamaan dengan Milly yang meringis dan perlahan membuka kedua netranya.
“A-aku di mana?” tanyanya. Suaranya serak dan sangat pelan hingga Allard harus mendekatkan wajahnya agar dapat mendengar ucapan Milly.
“Di rumah sakit, Baby,” jawab Allard.
“Syukurlah kamu telah sadar, Baby,” lanjutnya. “Jangan khawatir, sekarang kamu aman.”
Ucapan Allard menimbulkan seringai di wajah Milly. “A-aku akan aman jika kamu menjauh dariku,” lirih Milly.
Kening Allard mengernyit, ia bahkan belum mendapat kabar dari Kalvin mengenai pelakunya. Mengapa Milly malah menyalahkan dirinya, begitu pikirnya.
“Baby ... salahku yang telah lalai menjagamu, kuakui itu. Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi. Kita akan memperketat keamanan untuk kita,” sesal Allard.
“Benar, kamu memang telah lalai,” ucap Milly.
“Harusnya kamu selesaikan dulu masalahmu bersama wanita-wanita itu. Karena kamu telah mencampakkan mereka, aku lah yang menjadi sasarannya untuk membalas dendam!” ungkapnya.
Mendengar hal itu tubuh Allard seketika membeku. Tak ia duga jika perbuatannya di masa lalu bisa mengancam nyawa tunangannya.
“Ba-baby, itu … itu …." Belum selesai ucapannya, Milly lagi-lagi menyela.
“Hubungi Edric!” Suruh Milly.
__ADS_1
“Aku ingin bertemu Edric. Secepatnya!”
...—--------------...