
“Bohong!”
“Candaanmu tak lucu, Baby.”
Kedua sudut bibirnya tertarik ke samping, namun senyuman Allard tak menyiratkan kebahagiaan sama sekali. Mencintai, katanya? Tak ada yang bisa dicintai dan mencintai Lily-ku, selain aku! sangkalnya dalam hati.
Tak jauh berbeda dari Allard, Edric pun kini terheran-heran dengan drama yang sedang dimainkan sahabatnya. Walau aku berharap hal itu benar, namun apa Milly sudah gila mencoba bermain-main dengan perasaan? batin Edric.
“Siapa yang berbohong? Aku juga tak sedang bercanda,” ucap Milly dengan tenang.
“Aku yang meminta Edric merahasiakan hubungan kami, sebab kupikir lambat laun kamu akan menyerah padaku.”
Kedua netra Edric semakin membulat saat namanya lagi-lagi disebut oleh Milly. Ingin rasanya ia menggeleng atau jika sahabatnya itu dalam keadaan sehat, sudah pasti ia akan menepuk jidat Milly agar segera sadar dari khayalannya.
“Stop! Hentikan, Lily!”
Jika diteruskan, Allard tak yakin bisa menahan dirinya untuk tak melayangkan pukulan ke wajah pria yang diakui sebagai pria yang dicintai oleh Milly.
“Tidak, jangan memintaku berhenti Allard Anderson!”
“Aku yang seharusnya memintamu untuk berhenti memaksakan pertunangan kita,” tegas Milly.
“Seberapa lama pun hubungan yang sudah kita jalin, menjadi tak ada artinya sejak pertama kali kamu mengkhianatiku.”
Rasa sesak kembali menyeruak ke dalam dada Milly, ketika mengingat bagaimana pengkhianatan Allard padanya. Begitu juga Allard, seperti tak ada kata lagi yang bisa ia katakan untuk membela diri.
“Kamu butuh istirahat, Baby. Tidurlah, kumohon.” Pinta Allard mengalihkan pembicaraan.
“Aku mengakui jika tiga orang wanita yang menyerangmu, pernah memiliki hubungan denganku. Tapi semua hanya kesalahanku di masa lalu, Milly.”
“Kuharap kamu bisa mengerti. Tak ada seorang pun yang pernah menggantikan tempatmu di hatiku.”
“Hanya kamu seorang, tak ada yang lain. Sekarang ataupun nanti!” Tegas Allard.
Tak tahu harus menjawab apa, Milly ikut bungkam. Wanita itu terus mengamati gerak-gerik Allard, sepertinya dia akan pergi! batin Milly.
Edric yang hendak mencegah Allard dan menjelaskan semua kesalahpahaman di antara mereka, terpaksa mengurungkan niatnya. Milly tak mengizinkannya. Dia hanya bisa bergeming, menjadi penonton sepasang insan yang saling membohongi perasaan.
“Aku akan pergi sejenak. Ada urusan kantor yang harus kuperiksa,” ucap Allard seraya mengenakan jasnya.
“Ta-tapi, kita belum selesai bicara, Al,” cegah Milly.
__ADS_1
“Aku menganggap tak mendengar apa pun darimu Baby.”
“Tolong jaga Milly sebentar, aku akan segera kembali.” Imbuhnya tanpa menatap ke arah Edric. Sementara Milly hanya bisa memandang punggung Allard yang terus berjalan menjauh hingga menghilang di balik pintu.
...…...
Sementara di perusahaan Anderson, Kalvin masih disibukkan dengan tumpukan pekerjaan Allard. Seharian ini dirinya disibukkan dengan urusan di kepolisian. Semuanya terasa aman dan damai, hingga Allard datang dengan wajah ditekuk.
“Apa gue nggak salah lihat?” celetuk Kalvin.
“Seorang Allard Anderson meninggalkan tunangannya bersama pria lain,” canda Kalvin diiringi tawanya.
“Dia sahabat, Milly. Tak mungkin ada hubungan di antara mereka,” ujar Allard menenangkan dirinya.
Kalvin tergelak mendengar ucapan sahabatnya itu. “Terdengar seperti sebuah pertanyaan?”
Namun bungkamnya Allard menjadi perhatian Kalvin. “Apa terjadi sesuatu yang buruk?” tebaknya.
Allard tak menjawab, pria itu hanga mengusap wajahnya kasar seraya menghela napas. Ia rebahkan kepalanya di sandaran sofa. “Milly minta agar kami mengakhiri pertunangan ini,” lirih Allard.
Sontak Kalvin turut membeku di tempatnya. “Rupanya Milly sudah sampai pada batas kesabarannya,” balas Kalvin.
“Maksudmu?” tanya Allard.
“Gue ingatkan lagi, mungkin lu lupa jika Milly adalah seorang Harrison. Dia bisa dengan mudah mengetagui gerak-gerikmu,” komentar Kalvin.
“Ya, gue melupakan itu.”
“Tapi sekarang, apa yang harus gue lakuin. Lu yang paling tahu bagaimana kacaunya hidup gue tanpa Milly,” akunya.
“Perjuangin atau menyerah,” jawab Kalvin santai.
“Menyerah dan gue akan mati!” balas Al dengan ketus. Saran Kalvin tak membantu apa-apa, pikirnya.
“Lalu? Apa lu akan tetap di sini dan membiarkan ajal semakin cepat menjemputmu?” Sarkas Kalvin.
“Si*lan lu!” Celetuk Allard menimbulkan tawa Kalvin.
“Oke, gue akan kembali ke rumah sakit sekarang. Lu gak boleh pulang sebelum kerjaan gue selesai,” ucap Allard dengan intonasi suara memerintah.
Saat Alard sudah akan pergi, Kalvin menghentikannya. “Al, tunggu!”
__ADS_1
Kalvin menghampiri Allard yang sudah berdiri di ambang pintu, menunjukkan foto dari ponselnya. Sontak raut wajah Allard menegang saat dilihatnya, wanita yang dulu pernah menjadi teman ranjangnya duduk menunduk di hadapan petugas kepolisian.
“Jadi, mereka sudah tertangkap?”
“Tidak semua, hanya Helena. Dua wanita lain masih dalam pencarian. Lu akan terkejut saat tahu siapa mereka,” jawab Kalvin.
“Rachel dan Natasha? Apa benar mereka?” tanya Allard dan dijawab anggukan oleh Kalvin.
“Mereka benar-benar sudah gila!”
“Yang buat gue penasaran, bagaimana mereka bisa saling mengenal. Gue merasa gak pernah mengenalkan mereka satu sama lain.”
Keduanya saling pandang. Kedua sahabat itu sepertinya memikirkan hal yang sama. “Siapa yang lu curigai!”
“Stella?” Jawab Al tak yakin.
“Tapi gue mengawasi wanita itu akhir-akhir ini,” ucap Kalvin.
“Gue percaya lu pasti melakukannya dengan baik, Vin.”
“Tapi ingatlah, Stella wanita yang licik. Berhati-hatilah padanya,” peringat Al sebelum melangkah pergi.
...…....
Saat kembali ke rumah sakit, sebelum masuk ke ruang perawatan Milly. Allard berhenti sejenak di depan pintu ruang perawatan Milly. Ia usap perlahan wajahnya seraya menghela napas panjang dan dalam.
Perlahan tangannya menekan pegangan pintu sepelan yang ia bisa. Langkah kakinya pun begitu pelan, di pikirannya Milly pasti telah tertidur. Ada kekhawatiran dalam benaknya, bagaimana jika saat ia pergi Milly dan pria si*lan itu …. Rasanya untuk memikirkan lanjutannya saja ia tak sanggup.
Dan dugaannya benar. Milly-nya sudah terlelap, hanya saja ia tidur dengan tenang sendirian. Sementara Edric tidur dengan lelapnya di atas sofa. Senyum pun akhirnya terukir di wajah Allard malam itu.
“Huuhhh ….” Akhirnya Allard bisa bernapas lega. Tak ingin membuang waktu lama, setelah mengganti pakaiannya segera ia bergabung bersama Milly di atas hospital bed.
Malam pun berganti pagi, Edric yang bangun lebih pagi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kedua sejoli di hadapannya. Belum cukup sehari mereka bertengkar, kini mereka sudah tidur saling berpelukan.
Tak ingin mengganggu keromantisan sahabatnya, Edric memilih pergi untuk menikmati secangkir kopi. Namun, saat ia kembali dari kejauhan ia melihat seseorang sedang mengintip ke dalam ruang perawatan Milly dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Koridor ruang VVIP itu memang terlampau sepi. Selain karena masih sangat pagi, di lantai tersebut juga tak ada banyak ruang perawatan. Edric memelankan langkahnya, ingin mengamati apa yang dilakukan orang tersebut. Ia tak bisa menebak apakah seseorang itu adalah pria atau wanita karena ia mengenakan jaket tudung yang kebesaran.
Namun saat orang tersebut mengeluarkan ponsel dari sakunya dan hendak memotret ke dalam ruangan Milly, Edric segera menegurnya.
“Hei, apa yang kau lakukan, huh!!!”
__ADS_1
...————...