
Kuharap aku bisa menyakitimu seperti caramu menyakitiku.
Namun ketika kesempatan itu datang, aku tak pernah bisa melakukannya.
Rasa cintaku masih lebih besar dari egoku.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Dalam setiap detik yang berlalu Al senantiasa berusaha untuk meredam perasaan marah yang kini tengah berusaha menguasai hati dan pikirannya.
Ia sudah tahu jika hal seperti ini sangat mungkin terjadi saat Ia dan Milly memutuskan menjalani hubungan jarak jauh.
Tapi entah mengapa, hatinya seakan tak terima jika Milly tertawa dan bukan bersamanya.
“Kemarahanku bukan tanpa alasan Milly,” ucap AL.
“Kau tau, sepanjang perjalananku menemuimu kini, aku berusaha untuk mengizinkan hatiku merasa marah, kecewa, dan sakit saat aku sendiri. Lalu aku mencoba untuk tenang dan dan melepaskan semuanya saat hendak bertemu denganmu, semua karena rasa rindu dan cintaku padamu.”
“Tapi apa yang kulihat? Pria itu, pria yang bersamamu kemarin, pria yang membuatmu tertawa, juga pria yang membuatmu cedera, dengan lancangnya dia menyentuhmu di hadapanku.” Lanjut Al dengan emosi yang belum mereda.
“Kamu memata-matai ku Al?” tanya Milly yang curiga dari mana AL mengetahui semuanya.
“Tidak. Aku sangat percaya padamu, dulu. Tapi salah satu temanku tak sengaja melihatmu, dan mengirimkan semua foto kemesraan kalian.” Jelas Al.
“Tapi idemu bagus juga, akan ku pikirkan untuk mengirim orang agar terus mengikutimu.” Lanjutnya.
Milly tidak membalas lagi ucapan Al. Ia kembali memalingkan wajahnya, menatap jalan yang mereka lalui.
Hingga mobil Al berhenti di depan lobby gedung perusahaan Andersons Property.
Al turun lebih dulu, kemudian mengitari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Milly.
Semua tetap seperti biasa, semua karyawan sudah mengetahui siapa gadis cantik yang sedang dirangkul mesra oleh putra tunggal pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
Seperti biasa juga, Milly akan tetap membalas dengan ramah semua sapaan dari karyawan Al yang berpapasan dengannya.
Hingga mereka tiba di lantai 45 gedung perusahaan Anderson.
Martin, yang bertugas menggatikan Kelvin selama pria itu ikut bersama Al ke Indonesia dengan sigap menyambut keduanya di depan lift, setelah resepsionis memberi informasi jika Tuan mudanya sudah tiba.
“Bagaimana dengan yang kuperintahkan, apa sudah kau lakukan?” tanya Al tanpa menatap Martin dan terus melangkah menuju ruang kerjanya.
“Sudah Tuan. Pemilik perusahaan R-9 menanyakan apa kesalahan mereka, hingga Anda memutuskan kerja sama secara tiba-tiba bahkan berniat untuk mengakusisi perusahaannya hanya dalam waktu semalam.” Jelas Martin yang juga masih tak mengerti atas keputusan aneh Tuan mudanya.
Allard hanya menyeringai, menoleh ke arah Milly sekilas.
Milly yang tak mengerti apa yang dibicarakan dua pria itu memilih acuh dan tak ingin peduli. Milly masih kesal dengan sikap Al yang tiba-tiba datang dan membuat kekacauan.
Ia memang sangat meridukan kekasihnya itu, tapi bukan pertemuan seperti ini yang Ia harapkan.
Ketika Martin telah meninggalkan ruangan Al, Milly segera mendaratkan tubuhnya di atas sofa, mencari posisi yang nyaman untuk kakinya yang mulai terasa sakit karena berjalan cukup jauh.
“Apa masih sangat sakit?” tanya Al yang tidak mendapat jawaban dari kekasihnya.
“Harusnya kamu bilang jika tidak kuat berjalan, aku tetap akan menggendongmu meski sedang marah padamu.” Lanjutnya.
Mendengar ucapan Al yang mulai melembut, Milly pikir kemarahan Al sudah meredup.
“Beb, Please jangan lagi marah padaku seperti ini. Aku takut,” ucap Milly dengan gaya manjanya.
Ia sengaja melakukan salah satu kelemahan Al. Pria itu tidak akan pernah menolak apapun yang diminta Milly jika Ia memintanya dengan gaya manja andalannya.
__ADS_1
“Aku tidak marah padamu Baby, aku marah karena keadaan tidak mengizinkan aku terus berada di sisimu, membuatmu tertawa. Aku marah pada pria yang telah berani mengambil kesempatan mendekatimu disaat aku tak ada di sisimu.” Jelas Al.
“Tapi semua yang kamu lihat, tidak sama dengan apa yang kamu pikirkan Beb,” Milly memilih untuk melunak. Ia yakin akan semakin sulit menghadapi Al jika dia juga ikut terbawa emosi.
“Kamu mau bilang aku salah lihat, kenyataannya di hadapanku Milly, di hadapanku dia berani menyentuhmu.”
Al tetap mempertahankan pemikirannya yang dia anggap benar.
Milly menghela napas, sepertinya dugaannya salah. Al masih marah, Al masih kecewa, Al masih sakit hati.
Pintu ruangan Al kembali diketuk, lalu masuklah Martin.
"Tuan Muda maaf mengganggu, Tuan Thompson dari R-9 bersama sekertarisnya sudah tiba dan ingin menemui Anda.”
“Persilahkan dia masuk, aku memang sudah menunggunya.” Pirintah Al.
Milly berusaha berdiri, Ia berniat menunggu Al yang akan bertemu dengan kliennya di ruangan pribadi milik AL.
“Mau kemana Baby?”
“Aku lelah, bolehkah aku menunggu di ruangan pribadimu saja,”
Al menggeleng. “Jangan, disini saja. Temani aku, bantu aku untuk mengambil keputusan terbaik nanti.”
Ucapan Al barusan didengar jelas oleh Tuan Thompson dan sekertarisnya, begitu juga dengan Martin yang kini sudah berada di ruangan AL.
“Maaf Tuan Muda, Tuan Thompson sudah disini.” Ujar Martin.
Al membantu Milly yang masih bingung untuk kembali duduk, sebelum dia berbalik dan mempersilahkan dua orang pria paruh baya untuk ikut duduk di hadapannya.
Sementara Al mengambil tempat duduk di sisi Milly.
Sungguh jauh berbeda dengan Tuan Thompson yang terlihat sangat tegang, Al justru sangat santai, pria itu duduk dengan nyaman dan bersandar di sofa empuknya. Salah satu tangannya Ia rentangkan sehingga nampak seperti sedang merangkul pundak Milly.
Milly tersenyum ramah pada kedua pria paruh baya di hadapannya. Milly yang terlahir dan tumbuh di lingkungan keluarga pebisnis, sudah tak asing dengan pertemuan-pertemuan semacam ini. Karena itu, saat ini dia tidak gugup sama sekali.
Tuan Thompson dengan sopan menyampaikan keluhannya pada Al. Keluhan yang sama persis dengan yang disampaikan oleh Martin.
Al menyeringai, “Bukankah R-9 sudah lama menjadi subkontraktor dari Andersons Property?”
“Kupikir kalian sudah paham jika kami punya wewenang untuk membatalkan kapan saja kontrak kerjasama jika merasa subkontraktor melakukan kesalahan." Lanjut Al.
Tuan Thompson hanya bisa diam, sejak kemarin hingga saat ini Ia masih mencari di mana letak kesalahan yang telah mereka buat.
“Maaf Tuan Allard, bolehkah kami tau apa kesalahan kami? Jika Anda berbesar hati mengizinkan, kami akan memperbaiki kesalahan itu.” Ucap Tuan Thompson.
MIlly merasa iba melihat raut wajah Tuan Thompson. Ayahnya pernah berkata jika dalam bisnis, rasa iba harus di seleksi dengan baik karena bisa saja malah membawa kehancuran bagi diri sendiri.
Tapi melihat Tuan Thompson, entah mengapa Milly yakin jika pria paruh baya itu berkata jujur.
“Bukan kami tuan, tapi hanya putra anda.” Ucap Al. Jelas sekali ada emosi saat Al mengucapkannya.
Milly menoleh pada Al, dan dibalas dengan seringaian dari pria itu.
“Putraku? Maksud anda Jeremy?” tanya Tuan Thompson ragu.
Al hanya mengangguk.
Tuan Thompson seketika diam, memikirkan kesalahan apa yang diperbuat putranya. Mengapa putranya berani mengusik pria semacam Al.
“Allard, apa-apaan kau!” Bentak Milly.
__ADS_1
Al semakin emosi saat Milly kembali berani membentaknya.
“Jadi ini yang kamu maksud dengan cara memenangkan pertarungan? Tidak seharusnya kamu melibatkan orang lain dalam masalah kita Al.” Ucap Milly.
Tuan Thompson mulai paham apa yang terjadi.
Sepertinya putranya telah keliru saat memilih mendekati seorang wanita. Dan sungguh kali ini sangat berakibat fatal, karena nasib perusahaannya kini ada di tangan pria yang tengah merasa kehidupan cintanya telah terusik.
“Aku tak akan memaafkanmu jika kamu benar-benar melakukan apa yang dikatakan Tuan Thompson.” Ancam Milly.
“Maaf baby, tapi sudah terlambat. Semuanya sudah terjadi." Balas Al.
"Tapi aku masih memberi 1 kesempatan lagi, akan ku kembalikan semuanya ke keadaan semula asal kamu berjanji menuruti semua permintaanku.” Balas Al.
Milly membalas ucapan Al dengan tatapan tajam dan menantang.
Hingga seorang pria muda yang tadi baru saja mendapat pukulan sebagai salam perkenalan dari Al, masuk ke ruang kerja Al ditemani Martin.
“Permisi,Tuan Jeremy sudah disini.” Ucap Martin yang kemudian meminta Jeremy duduk di tempat yang tersisa.
Jeremy menatap secara bergantian pada Milly lalu pada Allard.
Milly membalas tatapan Jeremy dengan ucapan permohonan maaf dengan menggunakan gerakan bibir saja, tanpa suara.
Tuan Thompson mengambil inisiatif mengenalkan Allard dan Milly pada putranya. Juga bagaimana status hubungan keduanya.
Jeremy tersenyum getir, ternyata peringatan sahabatnya Thommy benar-benar terjadi. Bahkan pria ini melakukan hal yang jauh dari dugaannya.
Martin yang tidak meninggalkan ruangan sejak kehadiran Jeremy mulai berbicara saat mendapat kode dari Allard.
“Jadi Tuan Jeremy, perusahaan kami menawarkan beasiswa pada Anda untuk melanjutkan kuliah di negara lain. Jika Anda menerimanya maka kami akan segera mengurus kepindahan Anda, biaya pendidikan dan akomodsi tempat tinggal juga uang saku akan menjadi tanggungan Anderson Property.” Jelas Martin.
Jeremy menatap tak percaya pada apa yang barusan Ia dengar.
“Jika anda setuju, maka Anderson Property akan melanjutkan kerja sama dengan perusahaan R-9 yang saat ini terhenti.” Lanjutnya.
Jeremy hanya pasrah dan menerima semuanya.
Jika terusir dari negaranya sendiri adalah jalan terbaik untuk keluarganya, maka Ia akan rela.
Al tersenyum puas dengan keputusan Jeremy. Pria itu membuktikan jika Ia tidak pernah main-main saat membalas, ketika merasa miliknya terusik.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Setelah semua orang sudah pergi, meninggalkan Al dan Milly yang terus bungkam.
“Jangan mengira semuanya sudah usai Baby, mulai sekarang supir akan mengantarmu kemanapun kamu pergi. Supir itu juga yang akan mengawasimu, dia akan melaporkan semua kegiatanmu, sama siapa kamu bertemu, dan yang lainnya yang kurasa penting untuk ku ketahui.”
Tegas Al. Saat ini Ia sama sekali tak berharap Milly akan membantahnya.
Milly hanya diam melihat Al mulai bersikap over protective padanya.
Ingin rasanya Ia menolak, namun rasa cintanya yang teramat besar pada Al membuatnya diam dan menerima semuanya.
Baginya tidak ada yang perlu Ia khawatirkan, karena pada kenyataannya Ia memang tidak melakukan kesalahan apapun. Dan tak akan mungkin Ia berpaling, saat rasa cintanya pada pria pemaksa ini seperti sudah mendarah daging di dirinya.
♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡
Tak ada yang salah dengan mencintai secara berlebihan pada seseorang.
Namun yang perlu di ingat, semakin besar cinta, maka semakin besar harapan.
__ADS_1
Dan juga semakin besar pula kemungkinan akan rasa kecewa.
Karena orang yang teramat dicintai adalah orang yang berpeluang besar untuk menyakiti hati.