Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Chapter 15. Kenangan hari ini


__ADS_3

Saat perasaan makin dalam, ketakutan makin sering menghampiri.


Rasa takut kehilangan tersebut menandakan kita tulus menyayangi seseorang.


Tetaplah menjadi semangatku.


Jangan menjauh, jangan pergi, jangan berpindah ke lain hati.


Lakukanlah segalanya, tapi jangan pernah berpikir untuk pergi.


Tolong kau jangan pergi.


- ALLARD


"Jangan takut aku pergi, jangan pergi aku takut."


- MILLY


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


“Apa Kelvin serius dengan ucapannya tadi?” Batin Al.


Tatapannya tertuju pada Milly, kekasihnya yang kini terlelap di sisinya.


“Tapi siapapun itu aku yakin akan sama. Sangat mudah untuk seseorang jatuh cinta padamu My Lily, bagaimana aku bisa tenang saat jauh darimu.” Gumam Al sembari membelai lembut surai berwarna hitam legam milik Milly.


Malam ini Al lewati hanya dengan memandangi Milly yang terlelap.


Rasanya tenaga yang terkuras habis hari ini, kembali terisi ulang.


“Aku harus segera bicara pada Daddy, jika Ia bisa memaksaku untuk menuruti keinginannya maka Daddy juga harus mau mengikuti keinginanku.” Batin Al bertekad.


Sungguh hanya karena ucapan Kelvin, Allard malam ini bahkan tidak bisa sama sekali memejamkan matanya.


Terlalu banyak kemungkinan yang Allard pikirkan .


Bahkan hingga matahari yang terbit lebih lama hari ini karena salju yang tak henti turun sejak semalam, tidak membuat Allard bisa memejamkan matanya.


Milly mulai mengerjapkan matanya tatkala tatapan Al masih terfokus padanya.


Samar-samat Milly merasa jika dirinya sedang diperhatikan seseorang.


Otaknya yang baru mulai memahami situasinya, mulai mengingat potongan-potongan kejadian yang Ia alami hari sebelumnya.


Mengingat apa yang terjadi kemarin membuat Milly tersenyum, “berhenti memandangiku?” ucapnya dengan manja.


“Jangankan hanya semalam sayang, diberi waktu seminggu untuk hanya menatapmupun aku mampu.” Balas Aydin.


Blush.


Wajah putih mulus tanpa ada noda itu kini merona, dengan warna merah yang perlahan memudar di kedua sisi pipinya.

__ADS_1


“Memangnya sejak kapan kamu memandangiku? “ tanya Milly.


“Hanya sebentar, sejak semalam.” Balas Al santai.


Milly sontak bangun dari posisi berbaringnya.


“What?????”


“Jangan katakan sejak semalam kamu belum tidur Beb?”


Allard mengangguk.


“Tapi kenapa Beb? Apa kamu sakit?” tanya Milly khawatir.


Milly bahkan tak sadar jika posisi tubuhnya kini sangat dekat dengan Al, saat Ia tiba-tiba memeriksa suhu tubuh Al dengan menempelkan telapak tangannya pada kening kekasihnya itu.


Hembusan napas Al yang terasa di wajahnya membuat rona yang baru saja hendak mengilang kini kembali berpesta di wajahnya.


“Kamu merona lagi baby,” ucap Al dengan suara seraknya.


Pandangan kedua muda-mudi ini bertemu. Netra keduanya sepertinya kini saling berbicara. Mereka tau apa yang ada di benaknya kini sama.


Al menarik Milly hingga kini gadis itu berada tepat di atas tubuhnya, menindih Al.


Milly bergidik tatkala merasakan ada benda yang dengan ajaibnya tiba-tiba menyentuh di sekitar bawah perutnya.


Merasa kurang nyaman, Milly terus bergerak mencari posisi yang pas.


“Jangan banyak bergerak Baby, kau makin membuatnya bersemangat,” ucap Al. Suaranya semakin berat.


Al memimpin dengan menarik tengkuk Milly yang masih menindih tubuhnya.


Ia satukan kedua bibir dari dua orang yang saling mencintai. Tangan Al membelai lembut punggung polos sang kekasih membuat Milly tercengang, sesuatu dalam dirinya terbangun.


Milly heran dengan tubuhnya mengapa pagi ini Ia sangat bersemangat, “apa mungkin pengaruh alkohol semalam?” batinnya.


Milly beralih memimpin permainan mereka pagi ini, meninggalkan beberapa jejaknya di leher dan di dada bidang kekasihnya.


Gerakan-gerakan Milly di atas tubuhnya sungguh menyiksa Al, ingin rasanya Ia amnesia sesaat dan melanjutkan apa yang keduanya tunda selama ini.


Akhirnya pagi itu keduanya mandi terpisah. Milly mandi lebih dulu disusul Al setelahnya.


Setelah selesai bersiap Milly memilih menikmati pemandangan salju dari balkon kamarnya. Salju yang kini bahkan hampir menutupi seluruh halaman depan resort.



Al yang juga sudah selesai bersiap menyusul Milly, “Apa yang kamu minum Beb?” tanyanya sembari memeluk kekasihnya dari belakang.


“Kopi, kamu mau?” Milly menyodorkan cangkir yang Ia pegang lalu Al meminumnya.


“Sepertinya cuacanya sangat pas untuk ski,” ucap Milly.

__ADS_1


“Kamu benar Beb, dan itu yang sebentar lagi akan kita lakukan. Ayo turun , ku yakin mereka sudah lama menunggu.” Ajak Al.


Milly mengangguk, mengikuti langkah kaki Al menuruni tangga dengan tangan yang saling bertautan.


“Wajahmu lelah sekali Al, berapa ronde semalam?” pekik Christ yang segera mendapat tatapan tajam dari Milly.


“Ayo berangkat sekarang, aku tak ingin Christ menangis saat ku ceritakan bagaimana aku melewati malamku.” Balas Al meledek Christ membuat yang lainnya ikut tertawa.


Mengemudi selama 15 menit dan akhirnya mereka tiba di tempat yang dituju.


Setelah menyiapkan semua perlengkapan, kini mereka sudah siap untuk melakukan salah satu olahraga musim dingin yang paling mudah diakses – dan paling mudah dipelajari.


Mereka mulai menelusuri sepanjang Northville-Placid Trail yang terkenal jalur ski lintas alam melintasi danau beku, berlari di sepanjang padang rumput berhutan, dan mengelilingi hampir setiap jalur itu.


Sungguh indah pemandangan kala itu. Al dan Milly juga yang lainnya tidak henti-hentinya tertawa karena saling bercanda gurau.



Dengan teropong, Kelvin melihat satwa liar di dalam hutan. Rupanya piknik musim dingin seperti ini sekali-kali diperlukan untuk menikmati keindahan di atas selimut salju yang lembut.


Tak lupa Al dan Milly juga mengabadikan momen-momen kebersamaan mereka sebagai kenangan jika hari itu mereka berdua pernah tertawa, ber bahagia, bahkan sempat melupakan jarak yang akan memisahkan mereka beberapa hari lagi.



♡♡♡♡♡


Malamnya , Al dan Milly memilih untuk menghabiskan waktu hanya berdua.


Yang lainnya tentu sangat paham, walau mereka sejak kecil selalu bersama, tapi kebersamaan mereka sebagai sepasang kekasih baru saja dimulai.


Di dalam master room resort mewah ini, Al dan Milly kini duduk di depan perapian. Menikmati wine, dengan tangan yang saling bertaut.



Sesekali Al mengecup bibir Milly.


“Beb kamu itu terlalu mudah dicintai aku khawatir jika kau akan berpaling dariku.” Ucap Al.


“Kamu memujiku terlalu berlebihan, aku yang seharusnya khawatir. Siapa yang akan menolak pria tampan, mapan, dan pekerja keras sepertimu hah?” Balas Milly.


Malam itu mereka gunakan untuk quality time berdua, dan berharap semua kenangan indah mereka di sini akan menjadi penguat kala hubungan mereka goyah.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


“ Satu tahun Al, hanya satu tahun. Buktikan pada Daddy jika kau mampu, lalu Daddy akan berani untuk bicara pada Robert mengenai Kau yang ingin menikahi Milly.” Tegas Daddy Sean.


“ Tapi Daddy, kau tak tau di luar sana banyak pria yang sudah menunggu saat-saat ini. Saat aku jauh dari Milly, dan mereka akan merebutnya dariku.” Ujar Al.


“Percayalah pada Milly Al.” Ucap Daddy Robert yang baru saja tiba di kediaman Anderson


“Ikuti kata Daddymu. Jika kau berhasil aku akan merestui kau dan Milly bertunangan saat itu juga."

__ADS_1


"Dan akan ku berikan keputusan penuh pada Milly, Ia ingin tetap kuliah di sini atau setelah kalian tunangan Ia ingin ikut denganmu dan kuliah di Indonesia juga akan Daddy izinkan.” Ucap Robert membuat senyum akhirnya terbit di wajah tampan Allard.


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡


__ADS_2