Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 59. Meninggalkan Milly


__ADS_3

Beberapa waktu lalau, bunyi pintu yang dibuka membuat Milly terjaga. Kedua netranya terbuka dan dilihatnya punggung Edric menghilang dari balik pintu. Baru saja Milly hendak berseru memanggil Edric, namun ia merasakan ada lengan yang memeluk pinggangnya hingga membuat Milly mengurungkan niatnya.


Rasanya sangat nyaman, batin Milly.


Akhirnya Milly tahu alasan mengapa ia bisa tidur dengan nyenyak padahal sedang tak berada di rumah. Semua itu karena pria yang hatinya ia harapkan menjadi rumah tempatnya pulang, kini tengah memeluknya. Cukup lama ia menatap wajah lelah Allard dan rasanya ia tak akan pernah bosan untuk melakukan itu.


Al, mengapa hubungan kita menjadi seperti ini?


Bukankah kita saling mencintai sudah sejak lama? Lantas mengapa sekarang kita saling menyakiti?


Entah sudah berapa lama Milly dibuat sibuk dengan pikirannya sendiri. Sempat menyalahkan diri sendiri namun bayangan akan semua pengkhianatan Allard kembali menyakitinya. Sepertinya kata ikhlas masih sangat sulit baginya. Hingga keributan dari luar ruangan perawatannya mengejutkan Milly, juga Allard.


Sontak Allard membuka kedua netranya, didapatinya Milly yang sedang menatap padanya. Untuk beberapa detik dua pasang netra itu saling mengunci tatapan. Namun, dengan gerakan cepat segera ia mencuri kecupan di bibir tunangannya.


Cup. Milly tak dapat menghindari serangan fajar dari Allard.


“Morning, Baby. Jangan ke mana-mana, aku akan melihat apa yang sedang terjadi di depan dan akan segera kembali. Oke?!” pinta Allard.


Dengan langkah lebar, cepat, dan tanpa alas kaki, Allard menuju pintu. Keningnya mengernyit saat melihat ada celah di pintu dan tak ada Edric di sofa.


Apa Edric yang telah membuat keributan ini? Batinnya.


Benar saja … saat dirinya tiba di depan pintu, sekilas ia bisa melihat bayangan punggung Edric yang berlari. “Tak mungkin bukan dia sedang olahraga di sini,” gumam Allard.


Tak ingin membuat Milly khawatir, perlahan Allard menutup pintu ruang perawatan Milly dan masih tanpa alas kaki ia dengan sabar menanti Edric kembali di depan pintu. Hanya berselang beberapa menit, pria yang ia tunggu kembali.


“Apa yang terjadi? Gue gak yakin lu berlarian di koridor rumah sakit karena ingin olahraga!” sarkas Allard.


Edric masih mengatur napasnya yang memburu. Mendapat komentar seperti itu dari Allard semakin menambah kekesalannya, terlebih ia tak dapat menemukan seseorang yang ia kejar.


“Pintar! Lu udah tahu jawabannya, kenapa harus bertanya lagi?!” balas Edric kesal.


“Keributan yang lu buat, gangguin tidur nyenyak gue dan Milly!” ucap Al.


“Keributan yang gue buat juga karena untuk melindungi Milly!” balas Edric lagi.

__ADS_1


“Gue mendapati seseorang sedang mengintip ke dalam ruang perawatan Milly,” lanjutnya. Lalu mengalirlah cerita Edric mengenai rentetan kejadian yang berakhir dengan dirinya yang mengejar seseorang.


Al segera merogoh sakunya, ia ingin segera menghubungi Kalvin. Ia khawatir, orang yang dimaksud Edric adalah salah satu dari dua orang pelaku yang telah menganiaya Milly.


Sayangnya ponsel miliknya tertinggal di atas nakas. Allard juga memberitahukan Edric mengenai kecurigaannya, juga ia meminta pria itu untuk tak menceritakan hal ini pada Milly.


Saat Allard hendak masuk kembali ke dalam ruang perawatan Milly, Edric mencegahnya.


“Sebentar, selagi lu dan gue bisa bicara empat mata,” cegah Edric.


“Antara gue dan Milly ….” Belum selesai ucapan Edric, Allard telah menyela.


“Gue paham. Gue nggak butuh pengakuan lu, gue percaya pada cinta tulus Milly untuk gue. Gue tahu, hanya gue satu-satunya pria yang dia cintai,” ucap Allard dengan percaya diri dan bangga.


“Tapi kenapa lu begitu bodoh mengkhianati wanita setulus Milly!” komentar Edric.


“Ya, gue mengakui hal itu. Tapi tenanglah, gue nggak akan mengulangi kebodohan gue. Sudah cukup gue bergelut dengan kebodohan gue!” aku Allard.


“Jadi, setelah ini lu akan pergi?” tanya Allard.


Meski tak senang dengan keputusan Edric, namun Allard bisa berkata apa. Yang dikatakan pria itu benar, Milly bisa saja semakin marah padanya andai ia mengira Allard penyebab sahabatnya itu pergi. Tanpa menjawab, Allard hanya bisa menghela napas sebelum kembali masuk ke ruangan Milly bersama Edric.


...……...


Tiga hari berlalu, meski tak lagi menolak semua perlakuan manis Allard padanya namun sikap dingin Milly masih saja sama. Edric masih bertahan di Ibu Kota, meninggalkan semua pekerjaannya demi sahabat yang juga sempat ia cintai. Hari ini pun Milly sudah diizinkan pulang oleh dokter.


Rasanya Allard begitu bahagia, akhirnya bisa membawa Milly kembali pulang ke rumah baru mereka. “Hati-hati, Baby.” Dengan penuh perhatian pria itu menuntun Milly saat menaiki tangga menuju kamar mereka.


“Istirahatlah. Sampai kondisimu benar-benar pulih, aku akan bekerja dari rumah,” ucap Al.


“Jangan mengkhawatirkan aku, pergilah bekerja. Ada Edric yang akan menjagaku,” balas Milly.


“No … no … Baby, kumohon hentikanlah sandiwaramu itu”


”Tapi, jika masih ingin memainkannya, aku tak akan melarang. Rumah kita masih cukup luas. Kamu bisa bertemu dengan sahabatmu itu di mana saja di rumah ini. Tapi tidak di kamar kita!” jelas Al.

__ADS_1


“Tidurlah, Baby. Aku akan berada di ruangan kerjaku. Kamu tahu, kan?” Milly mengangguk sebagai jawabannya, melihat itu barulah Al pergi setelah ia juga berhasil mencuri satu kecupan lagi di bibir manis tunangannya.


Sementara di ruang kerja Al, Kalvin sudah duduk nyaman di sana menanti si pemilik ruangan. Tak mengherankan lagi bagi Kalvin, ia sudah terlampau sering dibuat menunggu oleh Allard saat pria itu sedang bersama Milly.


Ceklek. Pintu dibuka dan nampaklah wajah berseri milik Allard.


“Coba gue tebak apa yang membuat lu terlihat begitu bahagia.” Kalvin memicingkan matanya, menelisik apa penyebab wajah sahabatnya itu tampak secerah mentari.


Belum juga Kalvin mengatakan dugaannya, Al lebih dulu menjawabnya. “Gue dapat ciuman penambah semangat dari Milly,” akunya.


Kalvin menggeleng. “Haruskah lu sejujur itu? Harusnya lu bisa lebih pengertian kepada gue yang masih jomblo,” balas Kalvin.


Allard tertawa. “Biarin, gue memang sengaja. Semoga lu segera diberi hidayah untuk mencari kekasih,” ujar Al masih dengan tawanya. Di saat Al puas tertawa, Kalvin hanya bisa berdecak menahan kekesalannya.


“Oke, oke. Jadi apa yang ingin lu bicarakan?” tanya Al setelah susah payah menghentikan tawanya.


“Dua wanita, pelaku penyerangan terhadap Milly sudah berhasil ditangkap. Rachel dan Helena, dua wanita itu kini sedang diperiksa di kantor polisi,” ungkap Kalvin.


Segera Allard meraih ponselnya, memeriksa berita yang beredar. Mengingat profesi kedua wanita itu yang sama-sama bergelut di dunia hiburan, barang pasti berita penangkapan keduanya sudah menjadi gosip terhangat. Bukannya peduli pada kedua wanita itu, tapi yang Allard khawatirkan jika berita ini akan sampai ke telinga para orang tua mereka.


“Tenanglah, media tak akan membocorkan siapa identitas korban,” ujar Kalvin yang sudah bisa menebak jalan pikiran Allard.


“Good, gue bisa tenang sekarang.”


Baru sedetik yang lalu Allard bisa bernapas lega, Kalvin kembali menyodorkan map berisi beberapa lembar berkas pekerjaan. “Apa-apaan ini?” Al menatap tak percaya pada Kalvin setelah membaca lembaran demi lembaran dokumen di hadapannya.


Kalvin menggeleng. “Apa yang lu baca gak salah,” komentar Kalvin.


“Tidak, Vin. Mana bisa gue pergi ke luar kota dan ninggalin Milly sendiri,” keluh Allard.


“Pilihannya hanya dua Al, lu kehilangan proyek penting ini atau lu ninggalin Milly selama seminggu.”


“Percayalah, tak akan ada yang terjadi. Selama Milly berada di rumah ini, tak akan ada yang bisa menyakitinya. Percayalah,” ujar Kalvin meyakinkan Allard.


...————————-...

__ADS_1


__ADS_2