
Tampak para petinggi perusahaan Anderson Properti sedang berbaris di depan lobi perusahaan. Selain itu, karpet merah juga sudah digelar dan para manajer dari berbagai bidang sudah berjejer di sisi kiri dan kanannya.
Semuanya disiapkan secara matang dan harus sempurna sesuai permintaan Si pewaris perusahaan. Semuanya dalam rangka menyambut seorang wanita yang rumornya adalah calon istri dari sang pewaris Anderson Properti.
Dari kejauhan tampak sebuah mobil yang mulai memperlambat lajunya kemudian berhenti tepat di depan pintu lobi Anderson Properti. Sekuriti yang bertugas segera membuka pintu mobil bagian pengemudi disusul pintu mobil di belakangnya. Kalvin yang pertama turun dan menyapa dengan hormat pada jajaran direksi, lalu disusul Allard dan seorang wanita asing yang sangat cantik.
Semua orang yang hadir di sana sangat penasaran untuk melihat wujud wanita yang diketahui sangat spesial bagi sang pewaris perusahaan. Selama ini mereka harus puas hanya dengan melihat foto wanita itu di sosial media.
Milly merasa aneh dengan semua yang dilihatnya pagi ini. Saat Allard sedang bersalaman dengan para direksi yang menyambutnya, Milly gunakan kesempatan itu untuk bertanya pada Kalvin.
“Vin, apa setiap pagi selalu ada penyambutan seperti ini?” tanya Milly dengan berbisik.
Kalvin menggeleng. “Baru pertama kali,” jawab Kalvin jujur. “Bahkan penyambutan Al beberapa tahun yang lalu, tidak seperti ini.”
Milly menghela napas. Allard selalu saja berlebihan jika itu tentangku. Apa aku harus bahagia atau khawatir sebab akan semakin sulit lepas darinya? Batin Milly.
Allard, Milly, Kalvin dan rombongan para direksi beriringan masuk ke dalam gedung perusahaan. Lagi-lagi Milly menggeleng saat melihat barisan karyawan di sisi kiri dan kananya. Samar-samar ia bisa mendengar beberapa karyawan dengan berani memuji dirinya terang-terangan dan ada pula yang hanya berani melakukannya sebatas berbisik.
Langkah mereka tertuju ke sebuah aula besar di lantai dasar gedung, rupanya di sana lebih banyak lagi karyawan yang sudah berkumpul. Awalnya Milly hendak duduk di barisan paling belakang, membaur bersama para karyawan lainnya.
Bukankah aku bekerja sebagai sekertaris? Tak seharusnya aku bergabung bersama para petinggi di sana, batin Milly
Namun dengan tegas Allard tak memberinya izin.
“Bagaimana mungkin si empunya acara malah duduk di belakang,” tolak Allard. “Ini adalah acara penyambutan sekaligus perkenalanmu, Baby.” Sebisa mungkin Allard menjelaskan dengan halus pada Milly.
“Tapi semua ini berlebihan hanya untuk sekretaris sepertiku,” sanggah Milly lagi.
“Kamu bukan sekretaris biasa, Baby,” balas Allard. “Kamu itu calon istri pewaris perusahaan ini,” imbuhnya bangga.
Milly berdecih lalu mencebikkan bibirnya membuat Allard harus menahan gemas. Ingin sekali ia mendekati Milly dan segera menerkam bibir merah muda itu.
Andai saja tak ada orang lain di sini, huh! Keluh Allard dalam hati.
......................
Acara penyambutan dan perkenalan Milly akhirnya berakhir setelah dua jam telah berlalu. Sopan santun dan keramahan Milly, memberi kesan awal yang baik untuk para karyawan dan petinggi perusahan. Tapi hal itu tak berlaku untuk seorang pria paruh baya bernama Marvin Benedict. Pria yang juga duduk di jajaran direksi perusahaan itu tak hentinya mengutuk Al dan Milly dalam hatinya.
__ADS_1
Sejak keluar dari aula hingga kini mereka berada di dalam lift, Milly terus cemberut dan menghindari kontak fisik dengan Allard.
Allard menghela napasnya berkali-kali. “Kamu marah padaku, Baby?” tanyanya meminta penjelasan saat mereka telah berada di ruangan Allard.
Milly melipat kedua tangannya di depan dada. “Al, bisakah kamu tidak melakukan hal seperti ini lagi?”
“Yang seperti apa? Katakan padaku bagian mana yang tak kamu suka."
“Semua Al, semuanya.” Jawab Milly singkat.
Wanita itu memilih untuk duduk dan bersandar di sofa, “Aku tidak suka segala hal yang berlebihan,” lanjutnya.
Awalnya Milly cukup memaklumi saat Allard mengenalkannya sebagai sekretaris baru. Lalu saat pria itu menambahkan informasi status mereka, Milly mencoba untuk pasrah saja dengan sikap seenaknya pria itu.
Namun saat Allard mengeluarkan aturan jika Milly hanya boleh bekerja untuknya saja. Tak diizinkan siapa pun di perusahaan memberikan pekerjaan pada Milly selain dirinya. Sontak saja Milly mendadak kesal.
Al tak berubah, pria itu tetap ingin menguasai dirinya, pikir Milly.
“Sudah cukup banyak orang yang menghormatiku hanya karena tahu aku seorang Harrison.”
“Di sini aku ingin menjadi biasa Al,” imbuh Milly. “Aku ingin orang lain melihatku sebagai Milly Lynelle, tanpa embel-embel Harrison, Geffrey, ataupun Anderson.” Jelasnya.
Tak ada penolakan darinya cukup membuat Mlly bertanya-tanya. Namun pertanyaan di benaknya segera ia tepis. Milly tak ingin menambah lagi beban pikirannya sendiri.
......................
Merasa perdebatan pagi ini sudah cukup, Milly kembali pada tujuan awalnya. “Jadi Al, apa tugasku dan di mana meja kerjaku?”
Al berbalik badan dan menggeser posisi berdirinya sedikit ke kanan. Kening Milly mengernyit saat melihat ada sebuah meja kerja yang sudah dilengkapi dengan komputer di atasnya. Posisinya cukup dekat dengan meja Allard.
Tak menjawab, Allard kini menuntun Milly untuk duduk di balik meja tersebut. “Ini meja kerjamu, baby.” Tuturnya.
“Mengapa harus di sini Al? Apa tak bisa di tempat lain saja? di depan ruanganmu juga boleh,” usul Milly.
Allard menggeleng. “Tidak, baby.”
“Di sini adalah tempat yang paling tepat untuk sekretaris spesial sepertimu,” imbuhnya. “Dan tugas pertamamu adalah memastikan semuanya terasa nyaman bagimu.”
__ADS_1
Entah dari mana Allard mendapatkannya, namun kini di tangan pria itu sudah ada sebuket bunga yang ia berikan pada MIlly.
“Selamat bergabung di Anderson Group, baby.”
“Kuharap harimu akan menyenangkan selama bersamaku di sini,” ucap Allard.
Ingin rasanya Milly protes, bagaimana bisa meja kerja seorang sekretaris berada dalam ruangan bosnya?
Lalu jika ditanya apa yang membuatnya paling tak nyaman, bolehkah aku menjawab jika Allard lah jawabannya?
Belum juga Milly mengungkapkan semuanya, Allard kembali membuat Milly terkejut dengan sebuah kecupan di bibir dan keningnya secara tiba-tiba.
“Selamat bekerja, baby.” Ucapnya.
“Katakan padaku jika kamu membutuhkan sesuatu,” sambungnya.
Milly bungkam, tak tahu harus bagaimana merespon sikap Al. Ingin marah, namun ada sisi lain di hatinya yang mencegah Milly melakukan itu. Alhasil, Milly hanya bisa menghela napasnya saja dan berjaga-jaga jika ada serangan kejutan lain dari Allard.
......................
Detik demi detik berjalan sangat lambat bagi Milly. Sejak tadi Allard hanya memberinya satu dokumen untuk Milly periksa kelengkapan dokumennya.
Milly sempat meminta pada Allard agar dirinya diizinkan untuk berkeliling di sekitar gedung Anderson Properti. Namun dengan tegas Al menolak. Pria itu berdalih jika gedung perusahaan cukup luas, Al khawatir Milly akan kelelahan.
Hingga tak terasa jam istirahat makan siang pun tiba.
“Al, aku ingin makan siang di kantin perusahaan saja.” Pinta Milly.
Ada kekecewaan dalam hati Al sebab tanpa sepengetahuan Milly, Allard sudah memesan satu meja di sebuah restoran mewah untuk mereka berdua. Pria itu ingin merayakan hari pertama Milly bekerja.
Mau tak mau, Allard mewujudkan keinginan Milly. Kedatangan Allard bersama sekretaris sekaligus calon istrinya menarik banyak perhatian karyawan yang sedang menikmati santap siangnya.
Milly terus tersenyum, untuk menyapa karyawan lain. Allard memberikan kebebasan padanya untuk memilih makanan apa yang ingin ia makan.
“Ekhem ... “ deheman seorang pria menarik perhatian Milly dan Allard.
Dilihatnya seorang pria kini berdiri di depan meja keduanya.
__ADS_1
“Maafkan diriku yang baru bisa menyapa sekarang,” lanjut pria itu lagi.
...----------------...