
Kejadian tak terduga terjadi hari ini di kantin perusahaan Anderson Properti. Pewaris perusahaan yang kini menjabat sebagai salah satu direktur, sedang menikmati hidangan makan siang bersama asisten dan sekretarisnya yang juga adalah calon istrinya.
Bagai tak habis pujian yang diterima Milly. Jika sebelumnya para karyawan hanya memuji penampilan fisiknya yang sangat cantik hingga mendekati kata sempurna. Sekarang mereka saling berbisik mengungkapkan kekaguman perihal pribadi Milly yang dinilai sangat ramah dan jauh dari kata angkuh.
Melihat bagaimana wanita itu terus tersenyum saat berjalan, meski di sisinya melangkah pula pria penguasa Anderson Properti. Lalu Milly yang tak sungkan mengantre saat memesan makanan, dan tidak pula memaksa untuk dilayani lebih dulu. Juga sikap Milly yang mencerminkan keanggunan wanita terpelajar, menjadi nilai tambah untuk melengkapi kesempurnaan sosok Milly di mata para karyawan.
Yang berbeda adalah suasana kantin yang menjadi lebih tenang dan damai dibandingkan hari-hari sebelumnya. Tak ada celoteh para karyawan, mereka menikmati hidangan makan siang dalam diam. Hingga seorang pria berjalan dengan santai menuju meja yang dihuni Allard, Milly, dan Kalvin.
Sebelum mendengar rumor yang beredar, pria itu sudah lebih dulu diberitahu oleh ayahnya mengenai siapa Milly Harrison. Sering bepergian ke luar negeri, pria ini sudah tak asing dengan banyak wanita cantik dari berbagai negara. Jadi bayangan akan sosok Milly Harrison sudah tergambar di benaknya.
Namun saat netranya bertemu dengan netra Milly, seketika itu pula langkahnya terhenti. Bagaimana ia harus menjelaskan, jika wanita di hadapannya kini memiliki kecantikan yang berbeda dari wanita lain yang pernah ia temui. Cantik alami, bukan cantik karena polesan. Beberapa detik ia sempat tertegun, hingga akhirnya bibirnya berani menyapa.
“Ekhem ... maafkan diriku yang baru bisa menyapa sekarang,” ujarnya.
“Kau tak menyapa pun tak mengapa." Sapaannya dibalas dengan ketus oleh Allard.
Tangan pria itu dengan santainya merangkul pundak Allard. “Ayolah, jangan seperti ini sepupuku!” bujuknya. “Kalian tahu, di tengah-tengah jadwalku yang padat, aku sengaja kemari spesial ingin berkenalan dengan wanitamu,” lanjutnya.
“Sepupu?” ulang Milly. Satu hal yang baru ia tahu jika Allard memiliki keluarga lain di Negeri ini.
“Ya, benar.” Tanpa izin pria itu menarik kursi dari meja lain dan mengambil posisi duduk yang tak jauh dari Milly. Tangannya lalu terulur mengajak Milly berkenalan, “Namaku Erlan, Erlan Benedict.”
“Aku Milly, Milly Lynelle.” Milly menyambut uluran tangan Erlan, sengaja ia tak sebutkan nama belakangnya.
“Senang bisa berkenalan denganmu. Tak kuduga bisa bertemu dengan keluarga Anderson yang lain di Negeri ini," ujarnya ramah.
"Kamu mau tahu sebuah rahasia, Milly?” Tanpa peduli tatapan tajam dari Allard, Erlan lantas mendekatkan wajahnya hendak berbisik pada Milly. “Keluargaku adalah bagian dari Anderson karena sebuah kertas.”
“Aku tak paham,” jawab Milly jujur.
“Kamu tak perlu memahami itu, baby,” celetuk Allard. “Dan kau,” ucapnya setelah mengalihkan tatapannya kepada Erlan. “Berhenti membuat drama,” imbuhnya.
__ADS_1
“Siapa yang sedang membuat drama?” tanya Erlan. “Kamu bisa menyebut ini drama jika yang kukatakan bukan hal yang sebenarnya.”
“Calon istrimu harus tahu bagaimana Tuan Gilbert Anderson tak ingin mengakui kami sebagai bagian dari keluarga Anderson hanya karena ibuku adalah anak angkat!”
“Tutup mulutmu sebelum aku membuatmu tak bisa bicara lagi untuk selamanya!” ancam Allard.
Hilang sudah kedamaian dan ketenangan siang itu tatkala bentakan Allard menggema. Tanpa menghabiskan makan siangnya, Allard disusul Kalvin lantas pergi meninggalkan meja tanpa sepatah kata pun.
Milly menatap punggung Allard yang berjalan menjauh. Dalam hati sebenarnya Milly ingin tahu lebih banyak mengenai maksud dari ucapan Erlan. Belum sempat satu kata terucap dari bibirnya, suara teriakan Allard kembali menggema di penjuru kantin.
“Baby, sampai kapan kamu ingin duduk di sana?”
Milly tahu bukan jawaban yang diinginkan Allard, maka ia pun segera beranjak dari tempatnya. “Senang berkenalan denganmu Erlan, maaf aku harus pergi.”
Dari tempatnya duduk, Erlan tak berkedip menatap kepergian Milly. Melihat sikap Allard yang begitu posesif pada wanita itu membuat Erlan akhirnya memiliki alasan untuk setuju dengan rencana ayahnya.
“Ini saatnya aku mengalahkanmu Allard!” Gumam Erlan.
......................
Sesekali Milly melirik pada Allard yang menyibukkan dirinya dengan tumpukan dokumen. Sudah 20 menit berlalu sejak peristiwa mendebarkan di kantin terjadi dan artinya selama itu pula Milly bertahan dengan rasa ingin tahunya.
“Permisi Tuan, saya mengantarkan pesanan Anda,” ucap seorang wanita paruh baya. Kedua tangannya membawa sebuah baki yang berisi banyak makanan.
Hanya dengan sekali anggukan kepala dari Allard, wanita paruh baya itu segera menghidangkan berbagai menu makanan yang dibawanya ke atas meja. Setelah pekerjaannya selesai, ia segera pamit tanpa berani menatap lama wajah Allard maupun Milly.
Terdengar dengusan Allard dari meja kerjanya. Milly mengamati setiap gerak-gerik pria itu. Bagaimana ia kini sedang mengangkat kedua tangannya ke atas guna meregangkan otot-ototnya, setelah itu ia beranjak dari kursi kebesarannya menuju sofa tempat makanan tadi terhidang.
“Baby, apa kamu sudah kenyang hanya dengan menatapku saja?” sindir Al.
Milly berdecih, kesal bercampur malu karena Allard mengetahui jika sejak tadi ia mencuri-curi pandang padanya. “Aku menunggu kamu mempersilakan aku menikmati makananmu!” elak Milly.
__ADS_1
“Baby, harus berapa kali aku katakan jika apa yang menjadi milikku adalah milikmu,” tutur Allard. “Lagian semua makanan ini sengaja aku siapkan untukmu, aku tahu kamu masih lapar.”
“Kamu benar, aku memang masih lapar,” terkekeh Milly menjawab dengan jujur. “Terima kasih ya, Al.”
Melihat suasana hati Allard yang tampak lebih baik, Milly memberanikan dirinya bertanya pada Allard mengenai Erlan. “Al, apa benar Erlan adalah sepupumu?” Allard mengangguk sebagai jawaban.
“Lalu apa maksud perkataannya tadi?” tanya Milly.
“Baby, dengarkan aku baik-baik. Ak tak akan mengulang ini lagi,” ucap Al.
“Grandpa Gilbert memiliki sepupu bernama Grandpa Jhon Austin. Grandpa Jhon lah yang diberikan kepercayaan untuk mengurus Anderson Properti di Negeri ini. Semuanya berjalan lancar hingga Grandpa Jhon mulai sakit-sakitan dan mempercayakan perusahaan pada menantunya Marvin Benedict, suami dari putri angkatnya.”
Milly mengangguk-anggukan kepalanya, penjelasan Al cukup mengobati rasa ingin tahunya. “Tuan Marvin Benedict, bukannya dia adalah salah satu direktur di perusahaan ini?”
“Benar. Kamu benar, baby. Entah apakah kamu ingat, tapi tadi kita sempat bertemu dengannya saat acara penyambutanmu,” jawab Allard.
“Biar kutebak, apa Erlan adalah putra Tuan Marvin? Cucu dari Grandpa Jhon?”
“Ya ... sekali lagi kamu benar, baby.”
“Waspadalah pada keluarga mereka, baby. Saat pertama kemari aku menemukan banyak kejanggalan yang terjadi pada keuangan perusahaan,” ungkap Al.
“Jika sebelumnya fokusku adalah memulihkan kondisi perusahaan, beberapa waktu terakhir aku dan Kalvin kembali menyelidiki siapa dalang di balik masalah yang menimpa perusahaan dan semuanya selalu berkaitan dengan Paman Marvin.”
“Jika ingin membantuku, kumohon berhati-hatilah. Waspadalah pada keluarga mereka. Bisakah kamu berjanji untuk itu?” Pinta Allard, salah satu tangannya mengelus lembut puncak kepala Milly.
“Tentu saja aku akan selalu berhati-hati,” balas Milly.
“Bahkan padamu pun aku selalu berhati-hati,” gumam Milly dengan lirih namun masih bisa didengar oleh Allard.
“Berhentilah bertanya dan makanlah, baby. Setelah ini kita masih harus ke Bandara menjemput keluarga kita,” ucap Al.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Milly bersemangat menghabiskan makanannya dengan cepat. Wanita itu sudah tak sabar ingin bertemu ayahnya yang sangat ia rindukan.
...----------------...