Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 26. Peristiwa bersejarah


__ADS_3

Ia berkata yang kejam, tapi ku tahu itu semua untuk kebaikanku.


Ia mengenalkanku pada titik terendah, tapi ku tahu itu semua untuk membawaku ke titik terindah.


Ia membuatku melakukan kesalahan baru, tapi ku tahu itu semua agar akau berhenti mengulang kesalahan.


Ia mengingatkanku akan rasa sakit, tapi ku tahu itu semua agar aku bisa belajar.


Ia membuatku merasakan ragu, tapi ku tahu itu semua agar aku berhati-hati.


Dia, adalah pengalaman hidupku.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Suara gemericik hujan dan beberapa kali suara petir yang menggelegar, bukanlah alasan sebenarnya bagi Milly untuk terjaga dari tidur lelapnya.


Milly mulai terasa tidurnya terusik saat bagian perutnya terasa tertindih sesuatu.


Juga hembusan napas di ceruk lehernya membuatnya meremang, hingga terpaksa harus membuka matanya.


“Hah? Hembusan napas? Bagaimana bisa?"


Milly segera membuka matanya, memeriksa beban apa yang menindih perutnya dan hembusan napas apa itu.


“Huhh, dasar bodoh kamu Milly.” Gerutunya pada diri sendiri.


Yah, Ia menjadi tenang saat melihat tangan tunangannya yang berada di sana, memeluknya posesif. Dan hembusan napas yang membuatnya meremang, tak lain adalah hembusan napas sang tunangan.


Pelukan posesif Al, membuat Milly merasakan gelanyar aneh saat kulit keduanya bersentuhan.


“Milly, masih sepagi ini dan otakmu sudah kacau.” Rutuknya kembali pada dirinya sendiri.


Pasalnya gelanyar itu membawanya dalam ingatan peristiwa semalam.


Saat Milly mengubah status gadis menjadi wanita, bersamaan dengan Milly memutuskan untuk maju selangkah lagi, dari kekasih menjadi tunangan seorang Allard Junior Anderson.


Jelas sekali di ingatannya, bagaimana hebatnya sentuhan dan cumbuan Al saat keduanya berendam bersama.


Hingga Milly tak ada kuasa untuk menolak, saat Al meminta untuk melakukan lebih.


Semalam dia juga sangat menginginkannya. Rasa nikmat yang aneh di bagian intinya seakan menuntut rasa yang lebih.


Ia berharap bisa menikmati rasa yang baru, yang luar biasa.


Hal itu benar-benar Milly berhasil rasakan.


Rasa yang luar biasa, mampu membuatnya merasa sakit dan nikmat bersamaan, mampu membuatnya menitikkan air mata dengan bibir yang terus menyunggingkan senyuman, mampu membuatnya memekik meminta untuk berhenti, namun beberapa detik kemudian, Ia ingin semua yang terjadi bisa bertahan lebih lama.


Dan, Al mampu mewujudkan harapannya.


Milly kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia yakin pasti wajahnya kembali merona saat ini. Ia berusaha melirik Al dan bersyukur karena pria itu masih tertidur.


“Sepertinya peristiwa beruntun semalam benar-benar membuatku gila.” Batin Milly, saat ini bibirnya itu tak bisa Ia cegah untuk tak tersenyum.


Jelas di bayangan Milly, bagaimana semalam Al menggendongnya bak bayi koala tanpa melepaskan pagutan dua benda kenyal untuk saling mencecapi rasa, dari kamar mandi menuju ranjang yang menjadi saksi penyatuan mereka semalam.


“Ah, penyatuan itu.....” Batin Milly.

__ADS_1


Tak Ia lupa bagaimana lembutnya Al membaringkannya ke ranjang, hingga Ia tidak menyadari jika posisinya telah berubah.


Bukan lagi dalam gendongan Al, tapi Ia sudah berbaring di bawah kunkungan tunangannya.


“Aku selalu suka mendengar suara indahmu, apa kamu menikmatinya Baby?”


Ucap Al saat Milly yang masih menenangkan diri setelah sesuatu memaksa keluar dari dalam dirinya.


Sesuatu yang membuat Milly menggelinjang dan akhirnya basah di pusat dirinya.


Dan semua itu hanya karena mulut, dan dua tangan nakal Al, berama-sama menyerang pertahanan Milly.


Mulutnya menyerang salah satu puncak buah di dadanya dengan lidah yang menyapu dan sesekali menggigit pelan.


Satu tangan Al tentu tak tinggal diam, memilin-milin puncak buah yang satu lagi. Sedang tangan yang satunya lagi, bermain di bagian bawah. Jemarinya Ia gerakkan perlahan, awalnya pelan dan lama-kelamaan tempo gerakannya menjadi cepat.


Hingga Milly tak tahan lagi, ingin Ia teriakkan kata berhenti, namun nyatanya tubuhnya berkhianat. Yang terdengar dari bibir Milly, bukan sebuah kata melainkan erangan.


Bukannya menarik diri menjauh, melainkan Ia makin membusung, bahkan kakinya berusaha mengapit tangan Al.


Hingga akhirnya pusat tubuhnya melepaskan sesuatu yang akhirnya bisa menenangkan Milly.


“Astaga apa yang ku lakukan."


Membayangkan kejadian semalam sungguh gila pikirnya.


“Gila!” Serunya dalam hati.


Benar-benar gila apa yang terjadi semalam. Awalnya Ia sempat ragu, karena ini jadi yang pertama untuknya.


Ia takut melakukan kesalahan dan berakhir mengecewakan Al.


Al seperti biasa mampu meluluhkan Milly, hingga semalam Ia setuju untuk melakukannya dengan dalih mereka akan sama-sama belajar.


Dengkuran halus Al menyapa indra pendengar Milly pagi ini, “Kasihan, kamu pasti sangat lelah yah,” gumamnya lirih sambil terkekeh.


Bagaimana tidak lelah, jika semalam Al sungguh menggunakan hampir seluruh tenaganya untuk mendaki puncak kenikmatan di dunia bersama Milly.


Milly jadi membayangkan saat benda kebanggan seorang Allard Anderson memulai aksinya untuk menembus pertahanan Milly.


Suara Al yang menahan erangannya, saat benda miliknya terasa dimanjakan oleh liang sempit yang kini berusaha Al tembus.


Sekali dengan hentakan pelan, yang kedua kali juga masih sama, yang ketiga kali Al seperti menambah lagi sedikit kekuatannya.


Ada air mata yang mengalir dari kedua netra Milly yang terpejam, bersamaan dengan Al yang menghentikan aksinya.


“Sakit?” satu kata itu yang Al tanyakan pada Milly semalam.


Milly ingin menjawab Ya, dan jika boleh Ia ingin berhenti.


Tapi tubuhnya sukses mengkhianati Milly.


“Please, don’t stop. Move baby.” Jawaban Milly semalam.


“Aku maluuuuuu,” pekiknya kini dalam hati saat seringai nakal dari bibir Al terbayang.


“As you wish baby,” jawab Al atas permintaan Milly. Begitu jawaban Al yang masih terngiang di telinga Milly.

__ADS_1


Dan dengan satu hentakan kuat, penyatuan itu sukses terjadi.


Diiringi suara erangan Al yang tidak bisa Ia tahan lagi. Bersamaan Milly yang meringis dan bulir air mata yang berlinang dari pelupuk matanya.


Keduanya mengambil jeda untuk membiasakan diri satu sama lain.


Milly ingat saat Ia membuka matanya, Ia melihat Al tengah mengatur hembusan napasnya dan bulir-bulir peluh di kening dan dada bidangnya.


Indah.


Yah, pemandangan itu sangat indah dalam pandangan Milly, hingga mampu menghilangkan rasa sakit digantikan dengan perasaan yang tak bisa Ia ungkapkan dengan kata.


“Baby, Can we .......” Al hendak bertanya sesuatu pada Milly.


Namun Milly segera menghentikan ucapan Al dengan menarik tengkuk pria itu dan membungkamnya dengan ciuman lembut.


“Please Baby, do it.”


Senyuman Al mengawali pergulatan keduanya.


Hentakan demi hentakan yang Al lakukan, membuat Milly akhirnya menyadari alasan mengapa Al menjadikan benda yang sedang keluar dan masuk di dirinya itu adalah sebuah kebanggaan.


Entah sudah berapa lama waktu yang mereka lewati. Mendaki puncak berkali-kali, tanpa peduli jika mereka sudah mulai kelelahan, tanpa peduli jika peluh terus berceceran.


Entah sudah berapa banyak gaya berbeda yang mereka lakukan, namun dengan tujuan yang sama.


Hingga Al merasa tenaganya perlu diisi ulang, sedang Milly merasa miliknya mulai perih.


Peristiwa bersejarah bagi Al dan Milly yang terjadi malam ini harus berakhir setelah Al menembakkan amunisinya.


Tak lupa sebuah kecupan di kening Milly dan ucapan terimakasih dari Al, sebelum keduanya memejamkan mata dan tertidur.


Milly menepuk-nepuk kedua pipinya.


“Sadar Milly, kamu membayangkan kegiatan semalam di saat milikmu saja masih terasa sedikit perih.”


Milly berdecak dan lagi-lagi merutuki dirinya yang terus terbayang kegiatan mereka semalam.


Perlahan Ia memindahkan tangan Al yang menindihnya, berharap pria itu tak akan terbangun karena gerakannya.


Setelah itu Ia sedikit mengambil jarak dari Al.


Dengan tangan yang menumpu dagunya, kini Ia sedang dilanda kebingungan.



Jika di novel atau film yang Ia tonton, biasanya seorang wanita di pagi hari akan membuat sarapan.


“Tapi apa yang harus ku buat yah?” gumamnya.


Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Milly segera menyegarkan tubuhnya dan keluar menuju dapur untuk membuat sarapan.


Kini bahan-bahan makanan sudah siap di olah.


“Ayo mulai memasak calon Nyonya Anderson.”


Ujarnya menyemangati dirinya sendiri sembari terkekeh karena merasa lucu dengan ucapannya sendiri.

__ADS_1


⚘⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘⚘


Dimulai hari ini, bangun pagi dan melihat wajahmu untuk pertama kali akan menjadi sumber kebahagiaanku.


__ADS_2