Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 53. Sandiwara Kalvin


__ADS_3

Berani sekali wanita itu muncul di hadapanku! Geram Allard dalam hatinya.


Seandainya ia mampu, mungkin saat ini Allard telah menghentikan waktu berputar. Seandainya dunia ini, seperti dunia dongeng dari buku cerita yang sering ia bacakan pada Milly saat mereka kecil dahulu, Allard akan meminta pada ibu peri atau mungkin tuan jin miliknya untuk membawa wanita itu pergi sejauh mungkin dari hidupnya.


Tak ada lagi yang bisa dipikirkan Allard selain pikiran konyol tersebut. Pasalnya … wanita gila itu, berani sekali muncul saat pesta rumah barunya bersama Milly masih berlangsung.


Sial! Lanjut Allard menggerutu dalam hatinya.


“Maafkan, aku terlambat.” Dengan gaya manja yang khas, Stella menyapa semua orang.


Demi apa?! Siapa yang berani mengundang wanita ini?! Karena panik, Allard tak sengaja mempererat rangkulannya pada pinggang Milly.


Milly meringis saat merasakan sakit pada pinggangnya. “Al, kamu terlalu erat memelukku.”


“Oh, ya? Maaf … maafkan aku, Baby,” sesal Allard seraya mengusap lembut pinggang tunangannya.


“Stella! Sayang … akhirnya!” Kalvin yang menyadari kepanikan Allard segera mengambil alih situasi.


Milly tersenyum melihat sikap manis Kalvin. Sampai saat ini, yang ia ketahui Stella adalah mantan kekasih Kalvin. Wanita yang mampu membuat pria itu gagal move on.


Perhatian semua orang kini menuju pada Kalvin yang menghampiri Stella. Kalvin pun tak segan-segan memeluk Stella di depan semua orang.


“Awas saja jika kau berani berbuat macam-macam. Jangan harap kau bisa melihat hari esok jika kau berani melakukannya. Aku tak mengancammu, aku memberimu peringatan serius!” Bisik Kalvin tepat di telinga Stella.


Stella sempat menegang saat mendengar ancaman Kalvin. Namun tekadnya sudah bulat, perlahan ia akan merusak hubungan Allard dan Milly. Hanya dengan begitu barulah ia memiliki kesempatan untuk memiliki Allard kembali.


Setelah Kalvin melerai pelukannya, ia kembali mendalami perannya. Tersenyum begitu hangat dan penuh damba pada Stella.


Stella menelan salivanya, ia sempat mengagumi ketampanan asisten merangkap sahabat Allard itu. Sayangnya senyuman itu hanyalah bualan belaka. Semuanya palsu, hanya sandiwara untuk menutupi kebusukan Allard.


“Terima kasih karena menyempatkan untuk hadir,” ucap Kalvin melengkapi sandiwaranya.


“Tak perlu berterima kasih. Kesempatan seperti ini tak mungkin kulewatkan.” Meski kini ia sedang membalas ucapan Kalvin, namun pandangannya hanya tertuju ke satu pria.


Pria itu adalah Allard. Sang empunya acara yang kini menatap Stella dengan tatapan penuh amarah. Bahkan dari jarak yang cukup jauh, Stella bisa melihat jika satu tangan Allard mengepal menahan emosinya.


Saat seluruh perhatian terpusat pada interaksi Stella dan Kalvin, tanpa diduga Milly tiba-tiba berdeham.


“Ekhem!”

__ADS_1


Tak cukup sampai di situ saja, dengan lembut Milly menjauhkan tangan Allard yang sejak tadi merangkul pinggang rampingnya. Lalu dengan langkah anggun, ia menghampiri Stella


“Hai, Stella … terima kasih sudah menyempatkan datang ke rumah kami. Kamu masih mengingatku ‘kan?” Milly begitu tulus menyambut kehadiran Stella. Di pikirannya, ia dan Stella bisa saja menjadi teman baik selama dirinya tinggal di Negeri ini.


Allard masih mengamati apa yang dilakukan Milly-nya dari tempatnya bergeming. Sebelum menyambut Milly dengan senyuman, Stella sempat menyeringai pada Allard.


“Tentu saja. Akan sangat sulit melupakan wanita secantik dirimu,” jawab Stella memuji Milly. Tentu saja pujian itu adalah dusta, hanya untuk menarik simpati Milly saja.


“Kamu terlalu memujiku,” balas Milly.


“Jika boleh jujur, aku sangat senang atas kedatanganmu.” Alih-alih menjabat tangan Stella, Milly lebih memilih menggandeng tangan wanita itu.


“Oh, ya?” Stella sengaja memasang senyum terbaiknya.


“Selain Kalvin, dan keluarga kami … yang hadir malam ini adalah relasi bisnis Allard. Kupikir sebentar lagi aku akan mati karena bosan,” celoteh Milly seraya terus melangkah ke arah Allard.


Kalvin setia mengikuti ke mana langkah kaki Milly membawa Stella. Menyadari jika Milly menuntun langkah mereka menuju Allard, dalam hati Kalvin bersorak gembira.


Rasain, lu! Beginilah akibatnya jika pria punya kebiasaan selingkuh, omel Kalvin dalam hati.


“Al … Stella datang,” ucap Milly bersemangat. Berbeda dengan Allard yang merespon dengan senyuman tipis.


Gandengan tangan Milly pada Stella segera digantikan oleh Kalvin. Malam ini ia tak boleh lalai agar Stella tak berbuat ulah, pikirnya.


Mommy Carol yang sejak tadi hanya menjadi pengamat, akhirnya buka suara. “Kalvin!” Panggilnya.


“Kemarilah! Kenalkan wanitamu pada kami.”


Wajah cantik, juga penampilan elegan dan berkelas adalah kesan pertama yang disematkan Stella pada Mommy Carol. Dia semakin bersemangat dan sangat ingin berkenalan dengan wanita itu.


Kalvin tak punya pilihan lain. Dengan berat hati, masih dengan tangan Stella yang setia menggandengnya, ia menuruti ucapan Mommy Carol.


“Mommy Carol, Daddy, Grandpa, perkenalkan wanita cantik ini bernama Stella,” ucap Kalvin dengan sopan.


Stella kembali menyunggingkan senyum terbaiknya. “Selamat malam, terima kasih karena masih menerima saya. Padahal pestanya sebentar lagi usai,” ucap Stella berbasa-basi.


“Bukan masalah. Jika kamu adalah teman dari putra dan putri kami, maka pintu rumah kami akan selalu terbuka diterima kapan pun.” Kali ini Daddy Sean yang memberikan jawaban, dan yang lainnya ikut mengangguk setuju.


Milly dan Allard pun turut bergabung. Air muka pasangan itu sungguh berbeda. Milly dengan senyum bahagianya. Sedangkan Allard dengan tatapan tajamnya seperti hendak menguliti Stella.

__ADS_1


“Stella adalah mantan kekasih Kalvin,” ucap Milly melirik ke arah keduanya.


“Ya, itu benar. Dan semoga kata mantan itu segera hilang. Aku masih sangat berharap kami dapat kembali bersama,” dusta Kalvin.


“Wow, rupanya putra Mommy diam-diam telah memiliki tambatan hati,” celetuk Mommy Carol.


“Mommy harap hubungan kalian berdua dapat seperti Milly dan Allard,” imbuhnya.


“Apakah kau tahu, Stella … mereka bersama sejak mereka masih kecil. Lihatlah mereka sekarang,” ujar Mommy Carol.


“Ya, Nyonya. Mereka sungguh serasi dan sangat romantis,” komentar Stella.


Pesta pun terus berlanjut. Gerak gerik Stella diawasi oleh Allard, Kalvin, juga Digta dan Noah. Namun pada dasarnya, Stella adalah wanita licik. Ia memanfaatkan sikap ramah Milly terhadapnya. Allard dibuat cemas sepanjang sisa acara.


Hingga semua tamu undangan meninggalkan kediaman Allard dan Milly. Hanya keluarga yang masih tinggal, termasuk Stella. Melihat ada celah saat Milly pamit untuk mengganti gaunnya, Allard segera menggunakan kesempatan itu untuk bicara dengan Stella.


Dengan kasar Allard menarik lengan Stella ke ruang kerjanya. Ia hempas wanita itu hingga terjatuh ke atas sofa. “Apa maumu, hah?!” Bentaknya.


“Berani sekali kau menginjakkan kakimu di rumahku!” Allard masih saja membentak Stella.


“Aku merindukanmu. Aku sungguh ingin bertemu denganmu,” jawab Stella dengan lembut. Wanita itu berpikir untuk meluluhkan Allard dengan gaya manjanya.


“Mimpi!” Bentak Allard sekali lagi.


“Sebaiknya kau bangun dari mimpimu, bodoh!”


“Sampai kapan pun aku tak akan pernah meninggalkan Milly-ku hanya untuk wanita sepertimu,” hina Allard.


Stella mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia balas memaki Allard, namun ia sadar itu bukanlah pilihan yang baik.


“Al, sayang, kumohon ….” Stella mulai memelas. “Aku rela meski harus jadi yang kedua. Aku rela jika harus menjadi simpananmu. Aku tak butuh pengakuanmu,” Stella bangkit lalu tiba-tiba saja memeluk Allard.


“Aku hanya ingin terus bisa mendekapmu seperti ini,” ungkapnya.


“Aku hanya ingin terus merasakan sentuhanmu pada tubuhku, aku tak bisa hidup tanpa itu.” Dengan sisa keberaniannya, Stella meraih kedua tangan Allard lalu ia lingkarkan pada pinggulnya.


Tanpa keduanya tahu, seorang pria yang tadinya berniat mencuri dokumen penting dari ruang kerja Allard, kini sedang merekam aksi keduanya. Seringai puas menghiasi wajahnya. Temuannya kali ini bagai sebuah bongkahan emas.


Yes, dapat. Kupikir rekaman video ini akan lebih menguntungkan dibanding dengan dokumen berharga apa pun yang ada di ruangan ini, gumamnya dalam hati.

__ADS_1


...————————...


__ADS_2