
Berita mengenai pertunangan Christy dan Noah sudah menjadi buah bibir di seluruh Negeri. Christy, gadis itu memiliki nama yang cukup terkenal. Seorang aktris multi talenta, yang telah lama berkecimpung di dunia hiburan Tanah Air. Malam ini akan bertunangan dengan sang kekasih hati … Noah Adiguna, pengusaha perhiasan terbesar di Negeri ini.
Bertempat di sebuah hotel berbintang, para pemburu berita sudah berkumpul di sana. Memadati bagian depan lobi utama hotel. Membuat para petugas keamanan kesulitan karena harus memberi jalan bagi para tamu untuk masuk ke dalam hotel tanpa gangguan.
Milly sudah siap dengan gaun berwarna merah bata. Gaun yang terbuat dari kain satin sutera, tampak sungguh berkilau membungkus tubuh Milly. Bagian punggung gaun itu terbuka lebar, memperlihatkan leher jenjang Milly. Model kerutan di bagian dada hingga ke perut juga berhasil memamerkan tiap detail lekuk tubuh Milly.
Milly memang tak pernah salah dalam memilih pakaian. Ia tahu, bagaimana cara tampil dengan elegan namun tetap s*ksi secara bersamaan. Belahan gaunnya dari pertengahan paha hingga ke mata kaki, berhasil membuat setiap pria yang melihat pasti akan mengagumi kemolekan tubuh tunangan Allard itu.
“Wow, sekarang aku percaya jika Christy benar-benar artis terkenal,” gumam Milly saat menyadari antrian kendaraan dari para tamu undangan.
“Dia sudah cukup lama berkecimpung di dunia hiburan. Aku mengagumi kegigihannya. Dia mulai karirnya dari nol.”
“Kamu tahu banyak soal Christy. Apa jangan-jangan ….” Milly sengaja menggantungkan ucapannya. Dalam benaknya, tunangannya ini adalah sosok pria pemain wanita. Tak salah jika dia selalu curiga dan berpikir buruk padanya.
“Cih!” Allard paham apa yang Milly pikirkan. “Aku tak seburuk itu, Baby.”
“Christy adalah kekasih Noah. Jangan berpikir aku memiliki skandal dengannya.” Dalam hati Allard bertanya-tanya, seburuk apa dirinya dalam benak Milly.
Keasikan mengobrol, Milly dan Allard tak menyadari jika mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti tepat di depan pintu lobi. Khusus malam ini, Kalvin tak datang bersama Allard dan Milly. Pria itu mengatakan akan datang terlambat karena sebuah urusan penting.
Pintu dibuka dari luar oleh sopir. Dengan setelan jas serba hitam, Allard mencuri banyak perhatian. Kilatan kamera dari berbagai penjuru cukup mengganggu penglihatannya. Apalagi setelah turun dari mobil, Allard mengulurkan tangannya untuk membantu Milly turun.
Momen yang begitu ditunggu-tunggu oleh para awak media. ‘Pengusaha muda terkenal Allard Anderson dan tunangannya.’ Tajuk berita seperti ini yang besok akan hangat diperbincangkan di berbagai media.
Keduanya tampak serasi, saat berjalan bergandengan tangan di atas karpet merah menuju ballroom tempat acara digelar. Decakan kagum para pria saat menatap Milly terdengar jelas, hingga memancing amarah seorang Allard.
“Aku sudah memberitahu untuk tidak memilih gaun ini,” bisik Allard. Embusan napasnya yang hangat, mengacaukan fokus Milly.
“Aku menyukainya dan kamu tak punya hak mengatur pakaianku,” jawab Milly.
“Kamu lupa baby, siapa aku?” Balas Al.
__ADS_1
“Apa perlu kuingatkan? Aku akan sangat senang menggendongmu menuju salah satu kamar di hotel ini.”
“Jika kamu berani menyentuhku, maka aku tak akan segan mengungkap bagaimana sebenarnya hubungan kita.” Milly balik mengancam Allard.
“Baik Baby, aku menyerah. Aku mengaku kalah. Sebaiknya kita jangan merusak momen malam ini. Mari kita nikmati, oke?”
Tanpa menjawab Milly melepas gandengan tangannya pada lengan Allard. Ia mempercepat langkahnya menghampiri Christy untuk mengucapkan selamat.
“Christy, selamat atas pertunangan kalian,” ucap Milly.
“Milly … terima kasih telah hadir, aku sangat senang Allard berhasil membawamu ke mari.” Christy lalu mengenalkan Milly pada rekan-rekan sesama artisnya. Wanita-wanita itu, sebenarnya dalam hati merasa kecewa. Sebagian besar dari mereka sengaja berdandan dan tampil menarik dengan tujuan menggoda Allard. Niat terpendam para wanita itu harus gugur sebelum mereka melakukannya
Allard dan Milly bergabung bersama Digta juga Noah. Ketiganya sedang terlibat perbincangan yang cukup serius mengenai pekerjaan. Milly sampai dibuat bosan karenanya. Hingga berselang lama, Kalvin pun tiba.
Kedua netra Allard membulat saat melihat wanita yang digandeng sahabatnya. Mau apa lagi wanita gila itu! Gerutunya dalam hati.
“Sorry, gue terlambat!” Seru Kalvin yang datang bersama Stella.
Sementara Milly begitu senang saat Stella datang. Ia memeluk Stella untuk menyapa. “Syukurlah kau datang. Aku hampir saja mati karena bosan.”
Tanpa Milly sadari, Stella sempat menyeringai sebelum wanita itu tertawa saat mendengar penuturan Milly. Lihat saja, apa sebentar lagi kau masih bisa tersenyum seperti itu! batinnya.
Menit demi menit terus berlalu. Obrolan di antara pria semakin menarik. Semakin banyak pengusaha muda lainnya yang ikut serta dalam perbincangan mengenai dunia bisnis.
“Milly, apakah kau tak ingin berkeliling? Kita bisa mencoba beberapa hidangan di sana. Aku mulai bosan,” bisik Stella.
Milly mengangguk setuju. Lalu tanpa pamit pada Allard, ia mengikuti langkah Stella menuju salah satu meja di pojok ruangan. Meja dengan banyak kudapan yang tertata begitu cantik di atasnya. Kedua wanita itu mengobrol dan tertawa bersama layaknya dua orang sahabat yang telah lama saling mengenal.
Hingga tak lama setelahnya, Stella mendadak pamit pada Milly untuk pergi ke toilet. “Sepertinya aku terlalu banyak memakan kudapan manis itu. Aku harus segera ke toilet, maukah kau menungguku di sini?” tanya Stella.
“Ya, tentu saja. Pergilah, jangan terburu-buru. Gunakan waktumu, Stel.”
__ADS_1
Namun tak berselang lama setelah Stella pergi, tiga orang wanita datang menghampiri Milly. “Hai, kamu wanita yang datang bersama Allard?” tanya seorang dari mereka tanpa basa-basi.
Kening Milly mengernyit. “Ya, benar. Ada apa?”
“Jika boleh, kami ingin bicara denganmu. Hal ini cukup penting,” ucap salah seorang dari mereka.
“Boleh saja, tapi maaf aku tak mengenal kalian,” tolak Milly dengan halus.
“Tapi kami mengenal tunanganmu, sangat mengenalnya. Dan yang ingin kami bicarakan ini adalah tentangnya,” bujuk seornag wanita yang lain.
“Hem ….” Milly tampak berpikir sejenak. “Bicaralah, kita bisa bicara di sini. Aku tak bisa ke mana pun. Aku sedang menunggu temanku.”
“Hanya sebentar, Nona. Sangat disayangkan jika kau melewatkan informasi ini. Kita hanya akan mencari tempat yang cukup tenang untuk bicara,” bujuk wanita itu lagi.
Akhirnya Milly mengalah. Ia mengangguk hingga ketiga wanita cantik itu tersenyum. “Ayo, ikuti aku.”
Milly mengikuti langkah wanita itu yang masuk melewati pintu khusus karyawan hotel. Mereka melewati ruangan seperti dapur hotel.
Meski suasana sudah cukup tenang, namun langkah ketiga wanita itu tak kunjung berhenti. Milly sempat menghela napasnya, ia merasa kesulitan sebab jalanan yang ditunjukkan ketiga wanita ini begitu minim pencahayaan.
Sementara di ballroom tempat pesta berlangsung, Allard yang menyadari tidak adanya kehadiran Milly sontak dilanda kepanikan yang luar biasa. Apalagi, Stella yang datang bersama Kalvin juga tak ada di tempatnya.
“Si*l!” gerutu Allard. “Ini salahmu! Kenapa lu datang bersama wanita gila itu?!” geramnya.
“Dia ngancam gue! Dia akan mengungkap semua kebohongan ini pada Milly, jika gue nggak izinin dis ikut,” jawab Kalvin jujur.
Allard mengusap wajahnya kasar. “Dan lihat, bisa saja dia sedang melakukannya sekarang!”
“Sudah … sudah, jangan berdebat! Yang paling penting sekarang adalah kita harus menemukan Milly,” ujar Digta.
“Ya, lu benar. Ayo, sekarang kita berpencar mencari Milly!” ucap Allard.
__ADS_1
...—————————...