Milly, Gift From God

Milly, Gift From God
Bab 21. Kejutan


__ADS_3

Menghabiskan waktu hanya untuk memikirkan sesuatu, maka kamu tidak akan menyelesaikan apapun.


Jika bisa diprediksi maka tak akan lagi jadi kejutan.


Sebab Ia selalu datang di saat kita tidak siap, karena itulah disebutnya kejutan.


♡♡♡♡♡


Tak butuh waktu lama bagi seorang Milly Harrison untuk bersiap.


Sekali lagi Ia mematut dirinya pada cermin berukuran besar melebihi tubuhnya yang mungil.


Huuuuufftttt......


Beberapa kali Ia harus menarik napas panjang lalu menghembuskannya kembali.


Semua Ia lakukan untuk mengontrol emosinya.


Yah, gadis yang hari ini akan secara resmi melepas statusnya sebagai pelajar kini tengah dibuat kesal oleh sang kekasih, Allard.


Pasalnya hubungan Long Distance diantara keduanya sudah berjalan lebih dari setahun, dan selama itu pula MIlly bertahan dengan segala sifat cemburu dan keposesifan Al padanya.


Dikecewakan? Sering.


Namun yang paling Milly ingat adalah ketika untuk pertama kalinya dalam 18 tahun hidupnya di dunia, Ia harus melewati hari ulang tahunnya tanpa Al.


Dengan alasan jika Al kala itu memiliki meeting yang sangat penting.


“Harusnya aku tidak mudah memaafkannya saat itu,” sesal Milly.


“Kali ini, dia pasti berpikir jika aku akan memaafkannya lagi dengan mudah, jangan harap.” Gerutunya.


Ia telah membulatkan tekadnya, kali ini tidak mudah baginya memberi maaf pada Al.


Hari ini adalah hari kelulusan Milly.


Namun Al kembali memberi alasan sibuk dengan pekerjaan hingga tak bisa menemani Milly di salah satu hari bersejarahnya ini.


“Nona, Sarapan sudah siap, Nona diminta unuk segera turun.” Ucap salah seorang pelayan.


Wajah cantik itu menoleh sekilas, “Baik.” Ucapnya ramah.


Sekali lagi, Milly menyesap oksigen sebanyak mungkin yang Ia bisa dan menghembuskannya begitu saja.


“Ayo Milly, yang menunggumu masih banyak, mereka semua ingin melihat bahagimu hari ini. Tersenyumlah. “ Titahnya pada dirinya.


Tersenyum, yah benar seperti perintahnya pada dirinya sendiri.



Gadis cantik yang tengah mengenakan gaun biru dengan panjang hanya setengah dari pahanya. Lengan panjang dan detail model leher yang tertutup menjadikan tampilan Milly terlihat sopan dan anggun.


Tap... Tap... Tap....


Bunyi suara langkah kaki Milly beradu dengan tangga besar di mansion keluarga Harrison.


“Oh My.... Milly, My girl, kau cantik sekali Nak.” Puji Mommy Carol dengan satu tangan harus menutup mulutnya karena haru yang mampu mengalahkan kata.


Isakan kecil terdengar jelas di telinga Milly, “My Girl, kecantikanmu mengingatkan Mommy pada sahabat tersayangku, Grisel.” Sambungnya.


Milly mengelus lembut punggung Mommy Carol. Wanita kedua selain Ibu kandungnya Yang dipanggil Mommy olehnya.


“Thank You Mommy Carol, ini semua berkatmu. Terimakasih telah membesarkanku dengan sangat baik.” Balas Milly.


Air mata Carol terus menetes tanpa henti, semakin deras.

__ADS_1


Semua yang ada di meja makan saat itu menjadi saksi bagaimana dulu Caroline sering kewalahan karena tingkah tiga anak yang beranjak remaja yang Ia rawat.


Al putranya, Milly putri sahabatnya, dan Kelvin putra asisten suaminya.


Dengan usapan lembut jemarinya, Milly menghapus air mata Carol.


“Simpan air mata Mommy. Aku yakin sebentar lagi Mommy Carol akan kembali menangis saat melihat aku berhasil meraih penghargaan di upacara kelulusan.” Ucap Milly.


“Really?” Pekik Daddy Robert dan Daddy Sean bersamaan.


Milly menoleh dan tersenyum.


“Lihatlah Dad, meski seorang wanita tapi cucu mu itu tetap selalu membanggakan keluarga Harrison.” Ucap Daddy Robert pada Ayahnya, Grandpa Donald.


“Ya tentu saja. Tak pernah ku ragukan kemampuan cucuku. Dia adalah Harrison sejati.” Ucap Grandpa Donald sembari memeluk cucunya erat.


Uhuukk... Uhuuukkk....


Grandpa Gilbert sampai tersedak air minumnya.


“Donald kau jangan senang dulu seperti itu. Jika gadisku ini sudah menikah dengan Allard, maka dia segera akan menjadi seorang Anderson.” Ucap Grandpa Gilbert sengaja menggoda sahabatnya.


“Cih, kau sangat yakin jika cucuku mau menikahi cucumu. Sekarang saja di mana dia?” balas Donald sengaja menyudutkan Gilbert sahabatnya.


Sstt.... Sssttt.....


“Sudahlah Dad... mengenai hubungan Milly dan Al, biarkan menjadi urusan mereka berdua. Yang paling penting sekarang adalah selesaikan sarapannya dan segera berangkat kesekolah.” Ucap Daddy Sean.


Milly tersenyum dengan pembelaan yang bijak dari ayah kekasihnya.


Sebelum duduk di kursinya, Milly mengitari meja makan. Memeluk dan mencium pipi Daddy Robert, Daddy Sean, dan Grandpa Gilbert untuk menyapa dan mengucapkan terimakasih pada mereka.


“Bagiku, Milly akan tetap seorang Harrison meski telah menikah dengan cucumu.” Ucap Grandpa Donald, masih terus membahas pernikahan kedua cucu mereka.


“Oh tentu tidak, anak pertama Milly yang akan meneruskan Harrison.” Balas Donald juga tak mau kalah.


“Jangan bertengkar, nanti Milly dan Al akan membuatkan banyak cicit untuk kalian, jadi tenanglah.” Celetuk Daddy Sean.


“Iya benar kata Sean, nanti anak pertama mereka kembar. Jadi kalian mendapatkan jatah masing-masing.” Sambung Daddy Robert.


Tawa dan canda menghiasi sarapan yang berlangsung pagi ini di kediaman keluarga Harrison.


Meski senyum dan tawa menghiasi wajah Milly, namun berbeda dengan hatinya yang tersenyum getir di dalam sana.


“Mereka tak tahu saja jika kini Aku dan Al tidak dalam hubungan yang baik.” Keluhnya dalam hati.


Hingga tibalah 3 orang lagi yang juga ingin turut serta merayakan kebahagiaan satu-satunya putri keturunan dari keluarga Geffrey, keluarga Mommy Griselda, Ibu kandung Milly.


“Wah sepertinya kami terlambat, tawa kalian terdengar hingga ke depan pintu mansion.” Suara bariton Edmund Geffrey, adik dari Griselda terdengar menyela perdebatan dua tetua.


“Aaron,” Pekik Milly.


Ia berlari menemui kakak sepupunya yang sudah lama tak Ia temui.


Pelukan erat Milly melingkari pinggang Aaron, sedikit membuat pria tampan yang baru saja kembali dari Paris itu terkejut.


“Whooaa whooo gadis kecil, kau mengejutkanku.” Ucapnya membalas pelukan dari gadis kecilnya yang kini tidak kecil lagi.


“Sejak kapan kau tumbuh sebesar ini gadis kecil?” Tanya Aaron.


“Sejak kau mulai lupa untuk pulang dan menemui aunty Bella yang sangat merindukan putranya.” Jawab Milly disertai sindiran untuk kakak sepupunya itu.


Ia beralih memeluk Isabella Geffrey, istri dari Uncle Edmund.


“Kau benar Milly, memang hanya kamu yang mengerti perasaan aunty ketika diabaikan karena anak ini sibuk bergonta-ganti wanita di sana.” Ucap Isabella.

__ADS_1


“Mom... i’m here. Please, stop.” Ucap Aaron menghentikan curahan hati sang Ibu yang bisa menyebar gosip.


Tawa kembali terdengar dari yang lainnya melihat wajah memohon Aaron yang sangat lucu.


Rasanya wajar jika banyak yang iri pada Milly. Memiliki paras yang cantik, otak yang cerdas, dan menjadi kesayangan dari 3 keluarga yang terkenal merajai dunia bisnis pada bidangnya masing-masing.


Milly bagai seorang putri yang harus selalu dijaga, putri yang tawanya selalu di nantikan oleh 3 keluarga itu.


Terlebih para gadis, sebagian besar iri padanya. Gadis milik Allard, pria idola di lingkungan sosial mereka. Belum lagi Kelvin, meski tak pernah mengatakannya tapi jelas sekali jika pria yang tak kalah tampan ini juga menyukai Milly. Dan terakhir Aaron. Playboy cap buaya ini, tak pernah lepas dari yang makhluk yang disebut wanita. Dan hanya Milly seorang, adik sepupunya, yang bisa mengusir wanita wanita itu.


♡♡♡♡♡♡♡♡


Kini Milly telah duduk dengan tenang di samping Penny. Satu-satunya teman dekat Milly selama Ia berstatus seorang pelajar.


Ketiga keluarga itu kini tengah duduk di barisan terdepan, menyaksikan upacara kelulusan bagi Milly dan murid lain yang seangkatan dengannya.


Mereka semua memang mendapatkan undangan untuk hadir di acara itu karena mereka semua adalah donatur tetap untuk yayasan sekolah.


Ballroom sekolah yang tak kalah mewah dan megah dari hotel bintang 5, kini sudah mulai hening saat upacara kelulusan dimulai.


Sambutan demi sambutan terdengar bergantian dari atas panggung. Hingga akhirnya satu-persatu dari 10 murid yang berhasil mendapatkan predikat lulus dengan nilai tertinggi secara bergantian naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan dan memberi pidato singkat.


Milly yang tidak bersemangat meringis ketika Penny menyikutnya.


“Whats wrong?” geramnya.


Penny terkekeh dengan dua jari terangkat membentuk huruf V.


“Kamu sih melamun. Bersiaplah, sebentar lagi namamu dipanggil gadis pintar.


Dan jangan lupa sebutkan namaku, agar aku bisa sedikit saja panjat sosial padamu.” Ucap Penny.


Dan benar saja, tak lama setelah ucapan Penny, Milly terkejut saat namanya dipanggil.


“Dan inilah dia, murid yang berhasil lulus dengan nilai tertinggi tahun ini, selamat kepada Milly Lynelle Harrison.” Ucap MC.


Musik penuh semangat mengiringi langkah gugup gadis berparas nyaris sempurna itu.


Di atas sana, ucapan terima kasih dari Milly Ia sampaikan pada 3 keluarga yang selalu mendukungnya, juga pada guru-guru dan tentu saja Penny.


Gadis itu menjadi heboh sendiri di tempatnya saat namanya benar-bener disebutkan oleh Milly.


Sebelum menutup pidato singkat yang berisi ucapan terimakasihnya dari kejauhan Ia melihat sosok pria tampan yang wajahnya tak asing baginya, berjalan dengan langkah tegap dan sebuah buket bunga di tanganya.


Mejadi pusat perhatian tidak sama sekali mengganggunya. Perhatiannya hanya satu, netranya terfokus hanya pada satu objek, wanita yang berdiri di tengah panggung yang juga kini menatapnya.


“Terakhir, aku ingin berterimakasih pada pria yang telah menjadi pendukung setiaku sejak kecil.” Ucap Milly.


Netra keduanya yang saling menatap dalam kerinduan tak ingin melepas satu sama lainnya.


“Terimakasih karena berkat sifat posesifnya aku bisa memiliki waktu yang lebih banyak untuk belajar.”Sambungnya mengundang tawa dari beberapa orang.


“Terimakasih karena sudah membuat keputusan yang tepat untuk berada di sini sekarang. Jika tidak mungkin kau tak punya kesempatan mendengar ini, I love you Allard Junior Anderson.”


Tepuk tangan riuh mengiringi langkah Milly menghampiri Allard yang telah menunggunya di anak tangga terakhir pada tepi panggung.


“I love you too Milly Lynelle Harrison.”


Balas Al ketik gadis pujaannya sudah berhambur ke dalam dekapannya.


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡


Aku di sini bukan karena aku seharusnya berada di sini, atau karena aku terjebak di sini, itu karena aku lebih suka bersamamu daripada di mana pun di dunia ini.


Ingatlah bahwa aku mencintaimu, ingatlah bahwa aku peduli padamu, ingatlah bahwa aku ada di sini untukmu, ingatlah bahwa kamu tidak sendiri, ingatlah bahwa aku mencintaimu sejak hari pertama.

__ADS_1


__ADS_2