MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Surat


__ADS_3

Silvia memeluk secarik kertas yang baru dia baca, ternyata, kertas tersebut adalah surat yang ditinggalkan oleh mendiang sang ayah untuk ibunya yang dilemparkan sang Ibu sembarang waktu itu.


Mungkin sudah takdir bagi Silvia untuk menemukan dan membaca surat tersebut, entah bagaimana caranya pelayan yang membereskan kamar miliknya tidak bisa menemukan surat itu.


''Ternyata apa yang dikatakan sama Tante Mika benar, Daddy bukan orang jahat, Daddy hanya pernah jahat sama Mommy namun, berakhir dengan penyesalan sampai akhir hayatnya, hiks hiks hiks ...'' lirih Via memutar kepala, menatap tembok yang berada di belakang ranjang dan sudah tidak terdapat lagi potret sang ayah yang semula ada di sana.


''Maafin Via, Dad. Via nyesel karena sempat membenci Daddy, maafin Via,'' gumamnya lagi dengan berurai air mata.


Perasaannya yang semula sudah sedikit tenang kini kembali kacau, hatinya yang semula sudah membaik kini kembali merasakan pedih, dan entah mengapa dia mendadak merindukan sosok sang ayah yang sama sekali belum pernah dia temui sekalipun selama hidupnya.


Via pun mengusap wajahnya kasar, membersihkan sisa air mata yang masih saja terus membanjiri wajah cantiknya dengan hidung yang kini memerah begitupun dengan bola matanya yang begitu merah sekaligus masih berair.


Perlahan, dia pun bangkit dan berjalan keluar dari dalam kamar lalu berdiri di depan lift dan menekan tombolnya.


Tut ....


Pintu lift pun seketika terbuka, lalu sekejap kemudian pintu lift kembali tertutup sesaat setelah Via masuk ke dalamnya.


Tut ....


Beberapa detik kemudian, lift pun berhenti di lantai dua dan pintu lift seketika terbuka tepat di depan kamar Damien membuat semua yang ada di sana terkejut karena gadis yang bernama Silvia itu kembali ke sana.


''Silvia ...?'' sapa Damien menatap dengan tatapan heran wajah Via yang terlihat pucat pasi dengan kelopak mata dan hidung memerah.


Baru saja Damien hendak menghampiri gadis itu, tiba-tiba saja dengan sigap Aldo lebih dulu menghampiri Via lalu menyapa gadis itu ramah dan tersenyum.


''Via ...? kamu belum tidur? muka kamu kenapa? apa kamu baru aja nangis?'' sapa Aldo berdiri tepat di depan Silvia.


''Bisa minta tolong music-nya matiin dulu, berisik,'' lirih Via lemah membuat Damien merasa heran karena wajah Via terlihat begitu muram.


Music pun seketika langsung dimatikan, suasana kamar pun hening dengan tatapan mata Aldo dan juga yang lainnya menatap wajah Via dengan perasaan heran.


''Damien, bisa antar aku ke suatu tempat?'' pinta Via, masih dengan suara lemah.

__ADS_1


''Malam-malam begini? emangnya kamu mau kemana?'' tanya Damien mengerutkan kening.


''Kamu tau dimana pusara Daddy aku, kakek kamu?''


Damien menganggukkan kepalanya, lalu seketika langsung membulatkan bola matanya.


''Apa kamu mau ke kuburan malam-malam begini?'' tanya Aldo masih berdiri di sana.


''Iya, bisakah kalian antar aku ke sana?''


''Gila kamu, kamu gak liat sekarang jam berapa, hah ...?'' ketus Damien tersenyum menyeringai.


''Kalau kamu gak mau ya gak apa-apa, biar aku minta di antar sama Aldo aja.''


''Dengan senang hati Via, kebetulan saya tau dimana pusara Kakek Richard berada, saya akan antar'kan kamu sekarang juga,'' jawab Aldo tersenyum senang.


Damien pun mendengus kesal, sesuatu yang panas membakar terasa kembali membara di dalam hatinya, entah apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya, dia pun hanya bisa mengusap wajahnya kasar mencoba mengontrol emosi yang mendadak memenuhi jiwanya kini.


''Tunggu, aku juga ikut. Mana mungkin aku biarin kalian pergi berdua,'' ketus Damien kesal.


''Eh, kalian mau ikut juga atau mau tinggal di sini?'' Tanya Aldo kepada kawan lainnya.


''Kalian pergi aja, biar kami nunggu di sini, lagian kami ngantuk banget pengen tidur,'' jawab salah satu kawan.


''Baiklah, kami gak akan lama ko. Lagian, nih cewek aneh-aneh aja si, masa malam-malam gini minta antar ke kuburan, kalau nanti di sana ada hantu gimana? emangnya kamu gak takut, hah?''


''Udah kalau kamu gak mau nganter juga gak apa-apa, gak usah ngomel kayak gitu, dasar cerewet,'' jawab Via kesal langsung masuk ke dalam lift dan langsung di susul oleh Aldo.


''Tunggu, aku juga ikut. Kalau nanti kamu ada yang culik gimana? bisa dimarahin aku sama Daddy dan Mommy,'' ujar Damien segera berlari ke dalam lift dan masuk ke dalamnya.


Tut ....


Pintu lift pun seketika kembali tertutup rapat dengan Aldo, Silvia, dan Damien berada di dalamnya.

__ADS_1


❤️❤️


Akhirnya ketiganya pun sampai di pemakaman dimana mendiang Richard dikebumikan 20 tahun yang lalu, Damien nampak menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan menatap jarum jam yang saat ini menunjukkan pukul 02.00 dini hari, seketika dia pun bergidik ketakutan.


Ketiganya berjalan saling berdempetan dengan Silvia berada di tengah-tengah, di apit oleh Aldo dan juga Damien yang kini melingkarkan tangannya kuat di kedua sisi pergelangan tangan Silvia, kedua pemuda itu terlihat begitu ketakutan menatap sekeliling pemakaman yang terlihat begitu mencekam.


''Duh, gila banget sih, kenapa serem banget di sini,'' ucap Damien pelan semakin merekatkan lingkaran tangannya kuat.


''Ya, namanya juga kuburan, pasti serem 'lah, kalau mau yang ramai di mall bukan di sini,'' jawab Via dengan wajah tenang.


''Via, kita balik aja ya, perasaan aku udah gak enak banget nih,'' lirih Aldo dengan kaki yang gemetar berjalan pelan mengikuti gerakan langkah Silvia dan juga Damien.


''Dih, kamu lagi, tadi aja keliatan so berani mau antar aku ke sini, sekarang udah ada di sini malah gemetaran kayak gini, dasar pecundang so keren,'' jawab Via tersenyum menyeringai.


Keak ... Keak ... Keak ....


Tiba-tiba terdengar suara burung gagak yang terdengar begitu nyaring dan mengejutkan membuat Damien dan Aldo reflek memeluk tubuh Silvia yang berada tepat di tengah-tengah mereka.


''Huaaaaa ... suara apa itu?'' teriak Damien ketakutan.


''Bu-rung gagak, biasanya kalau dia bernyanyi kayak gitu, itu berarti di sekitar kita ada--'' Aldo tidak meneruskan ucapannya, matanya nampak menatap sekeliling dengan tatapan penuh rasa takut.


Langkah kaki mereka pun seketika terhenti saat mendengar suara burung hantu yang juga terdengar saling bersautan.


Kuuuk ... Kuuk ... Kuuk ....


Seiringan dengan itu, suara langkah kaki pun tiba-tiba terdengar dari arah belakang, Aldo, Damien dan juga Silvia seketika saling menatap satu sama lain dengan tatapan heran dan penuh ketakutan.


Silvia yang memiliki keberanian paling tinggi diantara yang lainnya memberanikan diri untuk menoleh ke arah belakang, dan sedetik kemudian ....


''HANTUUUUU ...!'' Silvia berteriak kencang lalu berlari secepat mungkin di susul oleh kedua temannya kemudian.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2