MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Silsilah Keluarga


__ADS_3

Silvia diam membisu mendengarkan dengan seksama apa yang sedang dibicarakan oleh Dona sang ibu dan orang yang bernama Ridwan. Jadi seperti itu cerita di balik kisah hidup Richard mendiang sang ayah, begitu rumit dan sangat sulit dimengerti oleh otaknya yang memang sedang bermasalah saat ini.


Seperti apakah ayahnya yang sebenarnya? Sejahat itukah? Ada rasa sesak yang kini menyelimuti hati seorang Silvia. Seperti apakah hidup yang dia jalani sebelum dia hilang ingatan dan seluruh memori di dalam otaknya terhapus tanpa jejak sedikitpun? Batin Silvia.


"Hmm ... Aku benar-benar gak nyangka kalau ada orang sebaik Daniel. Meskipun Mas Richard telah menyakitinya secara berkali-kali tapi, dia selalu ada di saat-saat terakhir ayah tirinya itu. Aku benar-benar kagum sama dia," ucap Dona tersenyum.


"Ya begitulah. Selain dia anak yang berbakti, bos Daniel juga baik, setia dan juga sangat mencintai istrinya. Itu sebabnya saya masih bekerja dengan dia meskipun bos Richard udah tiada," jelas Ridwan menatap wajah Dona yang entah mengapa terlihat begitu cantik alami tanpa polesan make up sedikitpun.


'Wajah kamu gak berubah sedikitpun, Dona. Dari dulu sampai sekarang masih tetap cantik. Tapi sayang, andai saja kamu bukan wanita penghibur mungkin aku akan sangat tertarik padamu,' (batin Ridwan)


Tatapan mata Ridwan masih saja menatap lekat wajah Dona, membuat wanita itu merasa gugup dan salah tingkah kini.


"Jangan liatin aku kayak gitu, Pak Ridwan." Pinta Dona memalingkan wajahnya merasa tidak percaya diri.


"Oh maaf, Dona. Muka kamu gak berubah sedikitpun dari dulu sampai sekarang. Saya hanya kagum sama kecantikan kamu," jawab Ridwan yang juga merasa salah tingkah saat ini.


Dona tersipu malu merapikan rambutnya yang kini tergerai panjang merasa tersanjung. Dia pun mengalihkan pandangannya kepada Silvia sang putri yang kini telah membuka mata dan menatap dirinya.


"Via sayang. Kamu ko bangun?" Tanya Dona bangkit lalu menghampiri Silvia.


"Mom, aku haus," ucap Via tenggorokannya terasa kering.


"Oh, tunggu sayang. Mommy ambilkan minum dulu."


Dona pun meraih gelas kaca berisi air putih dan membantu putrinya untuk bangkit dan meminum air tersebut.


"Mom, kapan aku pulang?"


"Nanti kita tunggu keputusan Dokter ya. Mudah-mudahan dalam beberapa hari ke depan kamu udah bisa pulang."


"Hmm ..." Silvia hanya bergumam.


"Gimana keadaan kamu, Silvia? Apa masih ada yang sakit?" Tanya Ridwan menghampiri.


"Saya sudah baik-baik aja, Om. Makannya saya ingin cepet pulang, gak enak tinggal lama-lama di rumah sakit." Jawab Via dengan suara lemah.


"Nanti Om bantu bicara sama Dokter supaya kamu bisa berobat jalan aja kalau gitu."


"Makasih, Om."


Sesaat Silvia menatap wajah Ridwan yang terlihat begitu teduh dengan aura kebapaan terpancar membuatnya sedikit berfikir akan lebih baik jika ibunya memiliki suami seperti Ridwan, setelah mendengar bahwa ayah kandungnya telah lama tiada.

__ADS_1


"O iya, Silvia. Apa kamu tidak ingin berkuliah? Om akan daftarkan kamu ke universitas terbaik di kota ini tapi, nanti kalau kamu udah benar-benar sehat," tanya Ridwan lagi.


"Apa aku gak kuliah?"


Dona terdiam menundukkan kepalanya. Setelah lulus Sekolah Menengah Atas putrinya itu memang belum sempat berkuliah karena dirinya tidak punya cukup uang untuk memasukkan putrinya ke Universitas.


"Maafkan Mommy, sayang. Mommy gak sempat memasukkan kamu ke Universitas karena--" Dona tidak meneruskan ucapannya merasa bersalah.


"Gak usah difikirkan, gak ada kata terlambat untuk belajar. Nanti kamu Om daftarkan di Universitas yang sama dengan Damien, biar kamu ada teman di sana, oke?"


"Baik, Om terima kasih."


"O iya, satu lagi Dona. Ada banyak berkas-berkas yang harus Silvia tanda tangani.'' Ucap Ridwan kemudian membuat Dona mengerutkan keningnya.


"Berkas? Berkas apa?"


"Berkas pengalihan warisan yang ditinggalkan oleh ayahnya. Menyangkut saham perusahaan, properti-properti, dan juga sejumlah uang di bank yang jumlahnya lumayan banyak. Saya harap kamu mendampingi Via dalam melakukannya," jelas Ridwan.


"Hmm ... Apakah Mas Richard sungguh mewariskan seluruh hartanya sama Silvia?"


"Gak seluruhnya si, hanya aset pribadinya saja yang dia wariskan sedangkan yang lainnya mutlak milik Daniel. Meskipun begitu, harta yang ditinggalkan oleh ayahnya Silvia gak akan habis tujuh turunan karena jika di total jumlahnya mencapai Triliunan.''


"Tentu saja, sangat kaya. Jadi Silvia, mulai sekarang kamu harus hidup dengan baik, kuliah juga biar nanti kamu bisa ikut mengelola perusahaan ayahmu. Kamu juga, Dona. Berhentilah bekerja dan nikmati harta warisan yang ditinggalkan bos Richard. Beliau ingin kalian berdua hidup berkecukupan dan tanpa kekurangan sedikitpun,'' ucap Ridwan lagi menatap wajah Via dan juga Dona secara bergantian.


Dona pun tersenyum lalu menundukkan kepalanya. Mungkin ini memang waktu yang tepat untuknya mengakhiri pekerjaan yang hina dan melelahkan itu.


Mulai saat ini, Dona bertekad akan menjadi wanita baik-baik dan tentu saja bertaubat dan meminta ampun atas segala dosa yang pernah dia lakukan sebagai wanita penghibur. Semoga saja Tuhan Yang Maha Esa masih sudi menerima taubatnya.


♥️♥️


Tiga hari kemudian.


Akhirnya, Silvia sudah diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit. Saat ini dia nampak sedang berada diperjalanan menuju rumah yang dia sendiri masih belum ingat dimana rumahnya itu berada.


Ridwan masih dengan setia menemani Dona dan membantunya mengurus segala keperluan Silvia selama gadis itu berada di Rumah Sakit.


Mobil pun mulai memasuki halaman besar rumah mewah berlantai empat. Silvia nampak membulatkan bola matanya menatap keluar mobil dengan tatapan berbinar persis yang dia lakukan dulu waktu pertama kali dia datang ke rumah itu.


Mobil pun berhenti tepat di halaman. Ridwan pun segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Silvia yang duduk di kursi belakang.


Ceklek ... (Suara pintu Mobil yang di buka)

__ADS_1


Perlahan Silvia mulai keluar dari dalam mobil dengan dibantu sang ibu.


"Aku tinggal di sini?" Tanya Via menatap sekeliling.


"Iya, Via. Ini rumah kamu," jawab Ridwan tersenyum.


Mika dan juga Damien nampak telah berdiri di terasa rumah menyambut kedatangan Silvia dan juga Dona. Wajah Damien pun tersenyum begitu lebar menatap ke arah Via dengan perasaan senang.


"Selamat datang kembali, Silvia," sambut Mika menghampiri Silvia ramah.


"Makasih, Tante."


"Selamat datang, Via. Aku senang akhirnya kamu pulang juga," ucap Damien tersenyum sumringah menatap wajah Silvia.


"Makasih, Damien. Aku juga senang akhirnya bisa ketemu lagi sama kamu. Gimana keadaan kamu? Apakah kamu udah benar-benar sehat?" Tanya Via menatap wajah Damien dengan tersenyum seolah begitu merindukan sosok pemuda yang memiliki paras tampan itu.


"Aku udah baik-baik aja, Via. Aku juga seneng akhirnya bisa ketemu sama kamu lagi." Jawab Damien masih dengan senyuman manisnya.


Sepertinya, Dona bisa menangkap ada sesuatu diantara mereka berdua. Tatapan penuh rasa cinta terpancar begitu jelas baik dari mata Damien maupun Silvia sang putri.


'Apa mereka pacaran? Ko Silvia kayaknya seneng banget bisa ketemu sama putranya Daniel ini? Mommy akan selalu mendukung kamu, Via. Mommy ingin kamu mendapatkan pria baik dan bisa menerima kamu apa adanya.' (batin Dona)


"Mari masuk, Dona, Via dan pak Ridwan. Saya sudah minta pelayan buat siapin masakan spesial buat menyambut kedatangan kalian jadi, kita langsung ke meja makan karena makanan udah tersaji di sana," pinta Mika ramah.


Baru saja mereka berdua hendak masuk ke dalam rumah tiba-tiba saja, satu mobil berwarna merah kembali memasuki halaman membuat mereka semua menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah mobil tersebut.


Ckiiit ....


Mobil pun berhenti tepat dibelakang mobil milik Ridwan.


Ceklek ....


Blug ....


Aldo bersama sang ibu keluar dari dalam mobil membuat Damien seketika merasa kesal.


'Astaga, mau apa mereka kemari,' (batin Damien)


"Silvia, sayang. Kenapa gak bilang sama aku kalau kamu pulang hari ini." Ucap Aldo langsung menghampiri Via dan memeluknya erat membuat semua yang ada di sana merasa terkejut, terutama Damien yang saat ini mengepalkan kedua tangannya merasa Cemburu.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2