
"Kamu? Mau apa kamu ke sini?" Tanya Silvia dengan wajah pucat pasi menatap Aldo yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
Aldo pun hanya tersenyum menyeringai, matanya nampak menatap wajah Silvia dengan tatapan menggoda.
"Kenapa, sayang? Wajah kamu ko terkejut gitu?" Jawab Aldo semakin berjalan mendekat.
"Kebetulan kamu datang kemari, aku memang mau bikin perhitungan sama kamu, Aldo." Silvia memasang kuda-kuda seolah siap untuk bertarung, dia bahkan mengikat rambutnya di ujung kepala, tanpa rasa takut ataupun gentar menyambut kedatang Aldo.
"Sayang? Kamu ko jadi kayak gini? Apa jangan-jangan--"
"Jangan-jangan apa? Ingatan aku emang udah kembali, mau apa kamu, hah? Kamu pikir aku akan selamanya amnesia? Heuh ... Jangan harap," ketus Silvia tersenyum menyeringai.
"Oh jadi gitu? It's oke ... Gak masalah. Meskipun ingatan kamu udah balik lagi, kamu tetap milikku Via. Gak ada yang boleh memiliki kamu selain aku," tegas Aldo penuh penekanan disertai senyuman yang terlihat begitu menyebalkan.
"Hahaha ... Emangnya aku boneka yang bisa kamu akui sesuka kamu, hah ...? Aku ini Silvia, Miss Billionaire ... Sini kamu maju kalau berani, aku sama sekali gak takut sama kamu, Aldo sialan."
"Oke, kalau itu yang kamu mau tapi ingat, kamu jangan nyesel ya. Karena aku gak akan pernah lepasin kamu." Jawab Aldo dengan penuh percaya diri semakin mendekati Silvia.
Semakin dekat, semakin dekat, Aldo pun hendak memeluk Silvia akan tetapi, gerakan kaki Silvia benar-benar tidak bisa di duga. Tiba-tiba saja dia menendang keras bagian inti tubuh Aldo membuat pemuda itu seketika berjongkok dengan memegangi senjata pusaka miliknya seraya meringis kesakitan.
"Argh ... Sialan ... Argh ... Sakit ... Silvia kamu ... Haaaa ..." Teriak Aldo memejamkan mata merasakan sakit tiada terkira.
"Hahaha ... Rasain kamu, Aldo. Kamu pikir aku masih sama kayak waktu aku masih hilang ingatan? Kamu gak tau siapa aku yang sebenarnya," tawa Silvia terdengar puas dan juga senang.
__ADS_1
"Awas kamu, Silvia." Aldo mencoba untuk bangkit, setelah rasa sakit di bagian intinya itu mereda dia pun bersiap untuk kembali menerkam Silvia. Aldo menatap tubuh Silvia dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Silvia yang menyadari hal itu pun kembali memasang kuda-kuda. Dia balas menatap tubuh Aldo dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan mencibir seolah merasa jijik.
Grep ....
Brug ....
Aldo hendak kembali memeluk tubuh Silvia namun, secepat kilat gadis itu pun segera menghindar lalu melayangkan pukulan di wajah Aldo keras dan juga bertenaga.
"Wah ... Pacar aku pandai bela diri juga ternyata, aku benar-benar semakin cinta sama kamu, Via."
"Dih, enak aja pacar kamu. Cuihhh ... Aku gak sudi punya pacar kayak kamu, najis amit-amit jabang bayi ..." Jawab Via mengetuk jidatnya sendiri lalu bergantian mengetuk tembok secara berkali-kali.
"Hiiiih ... Dasar cowok gak tau diri. Pake panggil sayang segala lagi. Najis ... Najis ... Najis ... Aku gak sudi dipanggil sayang sama kamu," ketus Via berjalan ke arah lift karena dirinya sudah malas meladeni Aldo.
"Mau kemana kamu, sayang?"
"Jangan panggil aku, sayang. Gak sudi aku di panggil sayang sama kamu," jawab Silvia lagi lalu menekan tombol lift.
Tut ....
Pintu lift pun terbuka, Via masuk ke dalam lift dengan wajah masam dan perasaan kesal. Tanpa di sangka, tiba-tiba saja Aldo menyusul dirinya masuk membuat Via terkejut seketika.
__ADS_1
Aldo pun tersenyum penuh kemenangan, dia segera menekan tombol lift, dan seketika dia pun segera mengunci kedua tangan dan menghimpit tubuh langsing Via di tembok lift. Ruangan lift yang memang sempit membuat Silvia tidak sempat menghindar, ditambah lagi gerakan pemuda itu yang terlalu cepat membuatnya tidak bisa berbuat apapun lagi.
"Brengsek ... Lepasin aku." Pinta Silvia tegas dan penuh penekanan.
"Lepasin? Hahaha ... Gak akan. Aku gak akan pernah ngelepasin kamu, sayang. Kamu itu milikku dan akan selalu jadi milikku," jawab Aldo mendengus'kan hidungnya mencium aroma wangi gadis itu merasakan aroma tubuhnya yang terasa menyegarkan juga meng*airahkan.
Posisi Aldo yang sangat dekat hanya menyisakan beberapa senti saja, membuatnya bisa dengan mudah menc*umi wajah Via brutal dan kasar. Silvia pun mencoba berontak dan menggerakkan tubuhnya sedemikan rupa tapi, usahanya sia-sia karena dekapan kuat keduanya tangan pemuda itu begitu kuat, begitupun dengan tubuhnya yang kini dihimpit dan benar-benar menempel sempurna.
"Lepasin aku brengsek, Aldoooo ..." Teriaknya sekuat tenaga.
Tut ....
Pintu lift seketika terbuka dan tanpa di sangka Damien kini berdiri tepat di depan pintu lift menyaksikan pemandangan yang sangat-sangat tidak di sangka. Kekasihnya sedang cu*bu sedemikan rupa oleh sahabatnya sendiri benar-benar membuat Damien seketika merasa murka. Dia pun segera meraih kerah baju Aldo kasar dan bertenaga lalu sedetik kemudian.
Buuuk ....
Plak ....
Bruk ....
Damien memukuli Aldo secara berkali-kali hingga pemuda itu benar-benar tidak berdaya dan juga tidak sempat menghindari semua pukulan yang dilayangkan oleh Damien.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1