
Dona menatap penuh rasa haru, wajah putrinya yang terlihat begitu cantik dengan tubuh yang berbalut dress panjang berwarna putih bersih. Wajah Silvia yang biasa polos pun kini di poles make up natural membuat wajahnya yang sudah cantik alami kini semakin cantik sempurna dengan lipstik berwarna merah menyala.
Sungguh, hati seorang Dona benar-benar merasa terharu dan sangat bahagia. Dia sempat berfikir bahwa, tidak akan ada laki-laki yang mau menyunting putrinya itu mengingat bahwa dirinya mantan seorang wanita panggilan.
Tanpa terasa, buliran air mata tiba-tiba saja berjatuhan kini membasahi wajahnya dan Ridwan yang duduk di sampingnya pun menyadari hal itu. Dia segera meraih pergelangan tangan Dona dan mengusap punggung tangannya mencoba menenangkan.
"Apa kamu sedih, sayang?" Ucap Ridwan membuat Dona seketika tersenyum kecil. Mendengar kata sayang membuat wanita berusia 40-han itu merasa geli dan terdengar lucu.
"Mendengar kamu mengucapkan kata sayang, membuat bulu kudukku merinding, Mas Ridwan," ucap Dona tersenyum menoleh dan menatap wajah Ridwan.
"Merinding? Apa kamu ingin aku segera melamar kamu juga kayak mereka?'' Ridwan dengan nada suara sedikit menggoda.
"Kata siapa? Kapan aku ngomong kayak gitu?" Tanya Dona, menatap putrinya yang duduk di kursi paling depan di dalam sebuah ruangan luas dimana acara tunangan akan segera dimulai.
"Ya ... Siapa tau aja kamu inginnya seperti itu. Jangan nunggu lama-lama lho, nanti aku keburu tua."
"Emang kamu udah tua ko, aku juga. Kita bukan anak muda lagi Mas Ridwan.''
__ADS_1
"Makannya, aku ingin stelah putrimu selesai bertunangan, aku akan segera melamar kamu secara resmi juga, gimana?"
Dona menoleh menatap wajah tampan dewasa seorang Ridwan. Baru saja Dona hendak menjawab pertanyaan Ridwan, dari arah pintu masuk Daniel bersama keluarganya nampak mulai masuk ke dalam ruangan bersama Damien calon menantunya, Dona pun segera berjalan dan berdiri tepat di depan putrinya begitupun dengan Ridwan yang akan ikut mendampingi dan menjadi orang yang akan menerima pinangan Damien sebagai calon ayah dari gadis bernama Silvia.
Tidak lama kemudian acara lamaran pun di mulai, acara yang didominasi oleh tamu-tamu dari pihak Daniel dan tidak terlalu di hadiri banyak orang itu pun berjalan lancar penuh haru.
Daniel sebagai orang tua Damien pun meminta secara resmi kepada Dona untuk menjadikan putrinya sebagai menantu, istri dan pendamping putranya.
Kini acara puncak pun dimulai, acara dimana Damien akan melingkarkan cincin bertahtakan berlian berukuran besar tentu saja cincin yang berbeda dengan cincin yang diberikan olehnya kemarin karena cincin ini spesial di berikan oleh kedua orang tua Damien untuk calon menantunya.
Damien benar-benar gugup. Dia tidak tau kalau rasanya akan se'gugup ini, tubuhnya terlihat gemetar dengan keringat dingin yang membasahi telapak tangannya.
"Selamat malam semuanya, maaf saya gugup," ucap Damien berbicara dengan menggunakan microphon membuat semua yang hadir di sana seketika tertawa termasuk Silvia yang tidak merasa gugup sama sekali berbeda dengan apa yang dirasakan oleh kekasihnya.
"Silvia ... Maukah kamu jadi istriku? Maukah kamu menemani hari-hariku sekarang, besok, nanti dan selamanya sampai kita tua dan maut memisahkan kita?" Ucap Damien menatap wajah Silvia yang terlihat lebih cantik dari biasanya.
"Iya ... Damien, aku mau. Aku mau jadi istrimu, menemani hari-hari kamu sekarang, besok, nanti sampai tua dan maut memisahkan kita," jawab Silvia dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
Setelah mengucapkan hal itu, Damien pun melingkarkan cincin tersebut di jari manis kekasihnya dengan tersenyum bahagia.
Cup ....
Dia pun mengecup kening tunangannya itu membuat semua yang ada di sana bertepuk tangan merasakan kebahagiaan yang sama.
Di saat semua yang ada di sana merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh sepasang kekasih yang baru saja mengikat hubungan mereka dengan ikatan resmi yang akan membawa mereka ke jenjang pernikahan, hal berbeda dirasakan olah Aldo yang hanya menyaksikan acara itu dari kejauhan.
Dadanya terasa sesak, rasa sakit yang dia terima begitu menyiksa membuat hatinya benar-benar merasa terluka, sangat terluka. Dia pun menatap wajah Damien dan Silvia di depan sana yang terlihat begitu bahagia.
"Semoga kalian bahagia, Damien, Silvia." Lirih Aldo sebelum dia pergi dari sana dengan perasaan hancur dan hati yang terluka.
Aldo pun berbalik lalu pergi dari sana dengan perasaan hancur. Tangan nampak dikepalkan menahan rasa kesal yang memenuhi relung hatinya kini.
"Aku gak tau apakah aku benar-benar ikhlas melepaskan kamu, Via." Gumamnya lagi dan benar-benar berjalan menjauh hingga meninggalkan tempat itu.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1