MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Mencoba Melupakan


__ADS_3

Aldo perlahan mulai meninggalkan tempat itu dengan perasaan hancur dan hati yang patah. Ternyata begini rasanya di tolak secara berkali-kali dan puncaknya adalah patah hati yang begitu dalam. Sakit, rasanya sangat sakit sehingga dadanya terasa sesak kini dengan tubuh yang terasa lemas.


Langkah kaki gontai'nya tiba-tiba saja terhenti saat pundaknya di tepuk pelan diiringi suara seorang laki-laki yang sangat dia kenal.


"Are you okay my son?" Tanya Arman berdiri tepat di samping putranya.


"Daddy, kenapa udah ada di sini? Bukannya acara di dalam belum selesai?" Tanya Aldo menoleh dan menatap wajah sang ayah.


"Di dalam sumpek terlalu banyak orang. Makannya Daddy keluar buat cari udara segar. Eh ... Malah ketemu sama kamu. Daddy kira kamu langsung pulang.''


"Mommy yang ngajakin aku ke sini." Jawab Aldo dengan wajah masam.


"Kamu gak jawab pertanyaan Daddy. Apa kamu baik-baik aja?"


"Hmm ..."


"Hmm?" Arman mengerutkan kening.


"Ya gitu deh."


"Daddy tau pasti rasanya sakit melihat wanita yang kamu cintai bersanding dengan laki-laki lain. Di tambah laki-laki itu adalah sahabat kamu sendiri. Tapi sayang, ini belum seberapa. Satu bulan lagi kamu bakalan liat mereka di pelaminan dan rasanya pasti akan lebih sakit dari ini. Daddy harap, sebelum itu terjadi kamu udah bisa melupakan gadis itu, oke?"


Aldo terdiam menunduk seolah sedang menyelami lubuk hatinya yang paling dalam. Dia pun tersenyum getir dan akhirnya menganggukkan kepalanya pelan.


"Aku akan berusaha, Dad." Jawabnya singkat.


"Nah, gitu dong. Gimana kalau kita jalan berdua, udah lama kita gak ngabisin waktu bersama," tawar Arman dan langsung di jawab dengan anggukan oleh putranya.


❤️❤️

__ADS_1


Beberapa jam kemudian.


Dikediamannya, Lusi nampak sedang berbaring di atas ranjang bersama suaminya, beberapa hari ini otak serta pikirannya benar-benar dibuat pusing tujuh keliling akibat perbuatan putra semata wayangnya itu.


Bagi mereka Aldo adalah harta yang paling berharga yang mereka miliki, meskipun putranya telah berbuat kesalahan besar dan telah membuat dirinya merasa malu di depan Daniel tapi, rasa sayangnya kepada putranya itu sama sekali tidak berkurang sedikitpun.


Lusi nampak menatap langit-langit kamar dengan wajah datar, matanya bahkan tidak berkedip sedikitpun seolah sedang membayangkan sesuatu membuat Arman merasa heran.


"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Arman menatap wajah istrinya.


"Aku lagi bayangin perasaan putra kita, pasti rasanya sakit banget ngeliat gadis yang dia cintai bertunangan dengan sahabatnya sendiri," lirih Lusi seolah ikut merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh putranya.


"Aku udah bicara sama dia tadi. Sepertinya Aldo akan berusaha melupakan gadis bernama Silvia itu."


"Harus dong. Silvia udah jadi milik orang lain. Sebenarnya, aku bersyukur karena Damien segera melamar gadis itu, mudah-mudahan mereka segera menikah dan putra kita bisa benar-benar melupakan Sivia secepatnya."


"Hus, gak bisa gitu dong. Aku mau putra kita menikah dengan wanita yang jelas, bibit, bebet, bobotnya. Gak kayak si Silvia itu lho."


"Maksud kamu?"


Lusi seketika terdiam. Sama seperti yang semula di rasakan oleh Mika, Lusi pun tidak setuju jika putranya menikah dengan Silvia yang notabenenya adalah anak dari seorang wanita penghibur, belum lagi ayah dari Silvia adalah laki-laki yang sangat dia benci.


"Kenapa diam? Apa kamu tidak suka jika melihat putra kita bahagia dengan gadis yang dia cintai? Atau, ada hal lain yang kamu sembunyikan dari aku, sayang?"


Lusi masih terdiam tidak ingin terlalu dalam membahas masa lalu yang masih saja terasa menyakitkan saat mengingatnya.


"Sayang ... Eu ... Badan aku lelah banget ini."


"Nah, malah ngalihin pembicaraan 'kan?" Tanya Arman sedikit merasa kesal.

__ADS_1


"Bukan kayak gitu, hari ini emang benar-benar melelahkan banget, kayaknya aku butuh anu, sayang.''


"Hah?"


"Hah ... Heh ... Hoh ...! Jangan pura-pura gak ngerti deh."


"Iya apa? Kalau ngomong yang jelas dong."


"Ini ..." Jawab Lusi seketika langsung mencengkram kuat pusaka milik suaminya tanpa kode, tanpa aba-aba membuat Arman seketika terkejut membulatkan bola matanya.


"Astaga ...! Dasar nakal ya kamu," lirih Arman memejamkan mata saat pusaka miliknya itu di re*as oleh Lusi dengan begitu lembutnya.


"Sayaaaaang ..."


''Iya, sayang.''


"Pelan-pelan dong, lagian kenapa gak bilang dari tadi kalau mau sosis jumbo kesayangan kamu ini?"


"Gimana mau bilang, kamu-nya nyerocos terus." Jawab Lusi semakin intens memainkan benda pavoritnya itu.


"Tunggu, sayang."


"Kenapa?"


"Jangan sungkan, masuk aja ke dalam," pinta Arman memasukan lengan istrinya ke dalam celana boxer yang dia kenakan.


"Akh ... Sosis kesayangan aku," teriak Lusi memejamkan mata.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2