
Aldo mulai membuka kedua matanya, dia pun merentangkan kedua tangan lebar-lebar seraya menguap menahan rasa kantuk. Entah mengapa tubuhnya terasa begitu ringan setelah ha*rat yang selama ini dia pendam, berhasil Aldo muntah'kan.
Dia pun tersenyum senang saat melihat Ririn masih berbaring tepat di sampingnya masih dalam keadaan mata terpejam dan tentu saja sama-sama polos tanpa sehelai benangpun.
Cup ....
Aldo melayangkan kec*pan mesra di kening Ririn membuatnya seketika langsung membuka mata.
"Kamu udah bangun? Jam berapa ini?'' Tanya Ririn menatap jam dinding yang tertempel di dinding kamar Aldo.
"Kenapa? Mau pulang sekarang? Nginep aja di sini, tanggung lho udah malam ini,'' jawab Aldo tersenyum menatap wajah Ririn dengan tatapan sayu penuh kasih sayang.
"Dih, masa nginep. Aku harus jemput Aldi tau.''
"O iya lupa. Putra kita pasti lagi nungguin sekarang.''
"Putra kita?"
"Kenapa? Sebentar lagi dia akan segera jadi putraku juga 'kan?"
Ririn tersenyum senang. Dia membayangkan betapa bahagianya hati Aldi sang putra saat dia tahu bahwa putranya itu akan segera memiliki seorang ayah, sesuatu yang sangat dia dambakan selama ini.
"Ya udah, kamu pakai baju dulu. Kita langsung jemput putra kita sekarang juga, kasian Aldi pasti lagi nungguin sekarang."
__ADS_1
Ririn menganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang.
Setelah keduanya berpakaian lengkap, mereka pun keluar dari dalam kamar secara bersamaan.
Ceklek ....
Pintu kamar pun di buka. Aldo keluar dari dalam kamar dengan menggenggam erat jemari-nya Ririn lengkap dengan senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibirnya. Akan tetapi, senyuman itu tidak bertahan lama karena Lusi sang ibu sudah duduk di ruangan yang berada tepat di depan pintu dengan di temani secangkir kopi hangat di atas meja.
"Kalian sudah bangun? Nyenyak tidurnya? Hebat ya kamu, masih muda udah pandai bercocok tanam," ketus Lusi tanpa menoleh ke arah sang putra yang kini terlihat gemetar begitupun dengan Ririn yang terkejut karena tidak menyangka bahwa ibu dari kekasihnya itu sudah berada di sana.
"Eu ... Mom? Se-jak kapan Mom-my di sini?" Tanya Aldo terbata-bata dengan wajah memerah.
"Sejak kapan? Mommy di sini dari tadi sore, kalian tidurnya nyenyak banget si sampai gak sadar Mommy masuk ke dalam kamar."
"Hah? Mommy masuk ke kamar? Itu artinya--"
"Cukup, Mom. Bukan dia yang ngajakin aku. Tapi, aku yang memaksa dia buat melayani aku. Maaf, aku tau aku salah, tapi Mommy jangan salahin dia karena Ririn sama sekali gak salah apapun,'' teriak Aldo tidak terima kekasihnya di hina seperti itu oleh sang ibu.
"Iya-iya, cinta memang buta, Aldo. Wajar kalau kamu membela pacar janda kamu ini. Tapi, Mommy gak nyangka kalau rasa cinta kamu bukan hanya membutakan kedua mata kamu tapi juga mata hati kamu, dasar bodoh.’' Ketus Lusi lagi lalu berdiri dan menatap wajah Ririn dengan tatapan tajam.
"Selamat, Ririn. Awalnya saya tidak setuju kamu pacaran sama putra saya apalagi kalau harus menjadi menantu saya. Tapi, karena sudah terjadi hal seperti ini dan saya tidak ingin putra saya jadi laki-laki pengecut yang tidak bertanggung jawab. Kalian akan segera saya nikahkan.''
"Hah? Mommy serius?" Tanya Aldo tersenyum senang.
__ADS_1
"Jangan senang dulu. Ada beberapa syarat yang harus pacar kamu penuhi sebelum dia menjadi menantu Mommy.''
"Apa, Mom? Katakan saja, Ririn pasti akan lakuin apapun yang Mommy mau,'' tanya Aldo masih dengan senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibirnya merasa bahagia.
Berbeda dengan reaksi Aldo yang terlihat begitu senang. Ririn nampak bersikap biasa saja bahkan terlihat memasang wajah datar menahan rasa geram sebenarnya.
Setiap ucapan yang keluar dari bibir calon mertuanya itu, terdengar seperti sebuah hinaan yang begitu menyakitkan membuatnya merasa seperti seorang ja*ang mur*han yang baru saja mengobralkan tubuhnya.
"Kamu harus berhenti bekerja sebagai penyanyi, saya akan membiayai hidup kamu jadi, kamu tidak usah bekerja lagi karena saya tidak ingin punya menantu seorang penyangga Cafe. Paham ...?'' Tegas Lusi penuh penekanan.
"Baik, Mom. Ririn akan menuruti keinginan Mommy.'' Lagi-lagi Aldo yang menjawab setiap pertanyaan ibundanya, sementara Ririn hanya terdiam menundukkan kepala menahan rasa sesak di dada sebenarnya.
"Mommy gak nanya sama kmu Aldo. Perasaan dari tadi kamu terus yang jawab. Emangnya pacar kamu ini gak punya mulut apa?" Ketus Lusi menatap lekat wajah Ririn.
"Maaf, Tante."
"Kenapa kamu minta maaf. Maaf kamu sama sekali gak ada gunanya."
"Saya akan mengikuti keinginan Tante.'' Ucap Ririn tidak ada pilihan lain karena dirinya memang merasa hanya seorang janda biasa.
"Bagus, satu lagi. Jika kamu udah jadi menantu saya, kamu harus nuruti semua peraturan di rumah ini, kamu harus nurut sama saya ibu mertua kamu. Astaga, saya gak nyangka akan segera punya seorang menantu," ucap Lusi lagi lalu berlalu hendak meninggalkan mereka berdua.
Akan tetapi, tiba-tiba saja dia menghentikan langkah kakinya lalu kembali menoleh ke arah Aldo dan juga Ririn dan menatap keduanya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Minggu depan kalian berdua akan segera menikah. O iya, bawa putra kamu untuk tinggal di sini juga nantinya.'' Ucap Lusi lagi lalu kembali meneruskan langkah kakinya.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️