MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Berpura-pura


__ADS_3

Semua yang ada di sana terkejut seketika saat mendengar Aldo berkata bahwa dia adalah kekasih Silvia, terutama Damien, dia nampak mengepalkan tangannya menoleh ke arah Aldo menatapnya dengan tatapan tajam.


"Kekasih? Aku punya kekasih?" Tanya Silvia menatap ke arah Aldo dengan tatapan heran.


"Jangan percaya, Via. Dia bohong, kamu bukan--" Damien tidak meneruskan ucapannya karena Aldo kembali menyela.


"Aku pacar kamu, Via. Kamu harus percaya, aku yakin lama-lama juga kamu bakalan ingat sama aku," sela Aldo masih mencoba meyakinkan.


"Bohong, jangan percaya sama dia."


"CUKUP ..." Silvia menaikan suaranya karena kepalanya terasa pusing kini.


"Aldo, Damien, cukup."


Daniel membulatkan bola matanya menatap wajah Aldo dan juga Damien secara bergantian.


"Damien, ikut Papi keluar, kamu juga Aldo," pinta Daniel berjalan keluar dari dalam ruangan dan langsung diikuti oleh Damien dan juga Aldo yang saat ini masih memakai kursi roda.


Di luar ruangan.


Damien dan Aldo berdiri tepat di depan Daniel, keduanya menunduk karena tidak kuasa menatap wajah Daniel yang saat ini menatap keduanya secara bergantian dengan tatapan tajam setajam busur panah yang siap untuk ditebakan.


"Apa yang terjadi dengan kalian?" Tanya Daniel memulai pembicaraan.


Damien dan Aldo hanya terdiam masih menunduk seolah menatap lantai berwarna putih yang entah mengapa terasa begitu dingin.


"Kenapa kalian diam aja?"


Keduanya masih tidak bergeming.


"Aldo, apa maksud kamu mengaku-ngaku sebagai pacar Silvia?"


"Saya suka sama dia, Om." Jawab Aldo berkata jujur.


"Suka?"


Aldo mengangkat kepala seraya mengangguk penuh keyakinan.


"Gimana bisa kamu suka sama dia? Kalian aja baru ketemu satu kali, dasar ngarang. Pake ngaku-ngaku jadi pacarnya lagi," ucap Damien kesal.


"Lalu kamu, Damien? Jangan bilang kalau kamu juga suka sama dia?"


Damien terdiam.


"Jangan bilang kalau kamu juga suka sama dia?"


Damien masih terdiam.

__ADS_1


"Jawab Damien."


"Nggak, Pap. Mana mungkin aku suka sama Silvia," jawab Damien dengan bodohnya berbohong tentang perasaannya yang sebenarnya.


"Syukurlah, Papi lega mendengarnya. Papi gak mau kalian berselisih hanya karena memperebutkan satu orang wanita."


"Aldo, karena kamu sudah mengaku sebagai pacar Silvia, maka mulai sekarang, kamu harus berpura-pura jadi pacarnya dia."


"Lho, kenapa gitu, Pap? Kasian Silviana di bohongi kayak gitu dong," protes Damien tidak terima.


"Nasi sudah jadi bubur, kalau kita jujur sama dia bahwa Aldo berbohong, Papi takut kedepannya dia bakalan hilang kepercayaan nama kita, dan itu bakal berdampak buruk buat kesehatan Via."


"Baik, Om. Saya janji bakal berakting dengan baik sebagai pacarnya Silvia, lagipula saya beneran suka sama dia, saya bakalan bikin dia jatuh cinta sama saya, dan gak perlu ada kebohongan lagi kedepannya jika dia sudah jadi pacar saya yang sesungguhnya," ucap Aldo tersenyum lebar merasa senang.


"Hey, ingat. Cuma pura-pura ya, jangan cari kesempatan dalam kesempitan," tegas Damien penuh penekanan.


"Bukan mencari kesempatan Dalam kesempitan tapi, sambil menyelam minum air," jawab Aldo tersenyum puas.


"Sudah cukup, Papi nggak mau dengar kalian ribut lagi, kasian Silvia kalau kalian masih saja berdebat kayak gini, apa kalian mau kamar kalian di pisah?"


"Iya Om pisah aja, Silvia biar satu kamar sama saya," pinta Aldo penuh percaya diri.


"Kamu yang seharusnya keluar dari kamar ini, Aldo. Apa kamu lupa ini kamar siapa?"


Aldo seketika terdiam lalu tersenyum dengan sedikit dipaksakan.


"Ba-baik, Om. Saya janji gak bakalan bikin gara-gara sama dia." Janji Aldo seraya menunjuk tidak ingin sampai dipindahkan ruangan.


♥️♥️


Keesokan harinya.


Silvia nampak baru saja membuka mata, dia pun menoleh ke arah kiri dan kanannya yang diapit oleh ranjang Aldo dan juga Damien yang saat ini masih dalam keadaan tertidur.


"Duh, apa gak ada siapa-siapa lagi di sini? Aku kebelet pipis nih," gumam Via berusaha untuk bangkit.


Dengan susah payah, akhirnya Silvia pun duduk dengan bersandar bantal di belakang punggungnya, dahinya nampak dikerutkan menahan rasa pusing di kepala yang saat ini masih dibalut perban berwarna putih.


Karena sudah tidak tahan lagi, dia pun mencoba untuk turun, namun, karena tubuhnya masih sulit untuk digerakan Silvia pun sedikit kesulitan untuk menurunkan kedua kakinya.


"Kamu mau apa?" Tanya Damien yang baru saja membuka matanya.


"Kamu udah bangun?" Tanya via masih berusaha untuk turun dari atas ranjang.


"Kamu mau kemana, Silvia?"


"Aku mau ke toilet, gak tahan pengen pipis," jawab Via dengan polosnya.

__ADS_1


"Astaga, emang kamu bisa jalan ke toilet sendiri?"


Silvia menggelengkan kepalanya.


"Mau aku bantuin?"


Silvia menganggukkan kepalanya tidak ada cara lain.


Perlahan, Damien yang memang sudah tidak diinfus pun mulai turun dari atas ranjang, lalu menghampiri Silvia dan berdiri tepat di samping ranjangnya.


"Gimana caranya kamu bisa nolongin aku? Bukannya kamu juga lagi sakit?" Tanya Silvia menatap lekat wajah tampan Damien.


Tanpa di minta dan tanpa di beri aba-aba, tiba-tiba saja tangan Damien meraih tubuh gadis itu dan hendak menggendongnya.


"Tunggu," pinta Silvia dan seketika Damien pun mengurungkan niatnya.


"Kamu mau apa?"


"Mau bawa kamu ke kamar mandi."


"Serius?"


Damien menganggukkan kepalanya lalu hendak meraih kembali tubuh Silvia.


"Tunggu," ucap Via lagi dan Damien pun kembali mengurungkan niatnya


"Kenapa lagi? Gak mau di bantuin? Emangnya kamu bisa jalan ke kamar mandi sendiri?"


"Nggak, bukan itu. Tapi, ini ... Botol infusnya jangan sampai ketinggalan," rengek Via membuat Damien seketika tersenyum, lalu meraih botol infus yang tergantung ditempatnya dan memberikannya kepada Silvia.


"Pegang baik-baik ya, jangan sampai lepas botol infusnya."


Silvia menganggukkan kepalanya lalu mulai melingkarkan tangannya di leher pemuda tampan itu dengan mata yang menatap lekat wajah Damien yang saat ini begitu dekat, hanya berjarak beberapa senti saja.


Pelan tapi pasti, perlahan Damien pun mulai mengangkat tubuh Silvia yang terasa begitu ringan seringan kapas membuatnya tidak kesulitan sama sekali untuk membawanya ke dalam kamar mandi yang masih berada di ruangan yang sama.


'Siapa sebenarnya pemuda ini? Kenapa jantungku berdetak kencang sekarang, kelihatannya dia juga baik dan perhatian sama aku,' (batin Silvia penuh tanda tanya)


Setelah sampai di dalam kamar mandi, Damien pun segera menurunkan tubuh Via pelan dan sangat hati-hati hingga gadis itu berdiri tegak kini. Sesaat, pandangan mata mereka pun saling beradu, saling menatap satu sama lain dengan jantung yang juga berdetak begitu kencang merasa berdebar.


"Makasih, kamu boleh keluar sekarang," ucap Via lembut dan lirih di dengar.


"Kalau udah selesai, panggil aku, aku akan menunggu di depan pintu," pinta Damien dengan tatapan mesra menatap wajah Silvia membuat gadis itu seketika merasa gugup.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Promosi Novel karya author hebat dengan ceritanya yang menarik, dijamin bikin nagih. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian ya Reader ♥️

__ADS_1



__ADS_2