MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Kegaduhan


__ADS_3

"Mom? Jangan panggil Ririn dengan sebutan wanita sialan. Dia itu wanita baik-baik ko." Protes Aldo tidak terima saat mendengar ibunya mengatakan hal yang tidak baik tengang wanita bernama Ririn.


"Kenapa? Emang kenyataannya kayak gitu 'kan? Apa kamu lupa, dulu kamu sampai nangis-nangis gara-gara wanita bernama Ririn itu nikah sama om-om kaya raya dan kamu dicampakkan begitu saja?'' tanya Lusi sedikit menaikan suaranya.


"Itu 'kan masa lalu, Mom. Sekarang dia udah gak kayak gitu lagi, Mommy tau, suaminya Ririn udah ninggalin dia. Kasian 'kan? Mommy jangan ngatain dia kayak gitu dong."


"Jadi si Ririn itu janda? Dia seusia kamu 'kan? Astaga?" Lusi mengusap wajahnya kasar dengan perasaan kesal.


"Memangnya kenapa kalau dia janda? Dia masih tetap cantik ko walaupun udah jadi janda.''


Arman yang sedari tadi hanya menyimak percakapan tidak jelas antara istri dan juga putranya pun akhirnya ikut angkat bicara mencoba untuk mendinginkan suasana yang terasa semakin memanas.


"Cukup ... Kalian berdua kenapa si? Ko jadi berdebat gak jelas kayak gini? Sayang, kamu jangan terlalu keras sama putra kita. Biarkan dia memilih wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya, toh dia juga yang akan menjalani hubungan mereka. Dan kamu juga Aldo, jangan berani membentak dan bicara terlalu keras sama ibu kamu sendiri. Gak baik lho," jelas Arman membuat mereka berdua seketika terdiam.


"Sekarang kita istirahat ya, ini udah malam lho," ucap Arman lagi meletakan tangannya di atas bahu istrinya.


"Aku minta maaf, Mom. Kalau ucapan aku terlalu keras tadi." Lirih Aldo memeluk tubuh sang ibu.


"Iya, sayang. Mommy pun minta maaf karena telah bicara kasar tentang si Ririn itu. Tapi, saran Mommy kamu pikirkan baik-baik jika kamu mau deketin dia lagi karena Mommy gak suka sama dia," lirih Lusi mengusap punggung putranya.


Aldo hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan ibunya tersebut.


❤️❤️

__ADS_1


Keesokan harinya.


Semenjak Aldo tau bahwa Ririn bekerja sebagai penyanyi di Cafe yang dikelola sang ayah, Aldo jadi lebih bersemangat untuk pergi ke tempat itu dengan alasan membantu Arman padahal ada alasan lain yang terselubung di balik niatnya itu.


Dia melakukan hal itu yaitu untuk bertemu dengan wanita bernama Ririn yang tidak lain dan tidak bukan adalah mantan kekasihnya di masa lalu.


Aldo nampak baru saja sampai di depan Cafe dengan wajah yang ceria, dia benar-benar tidak sabar ingin segera bertemu dengan Ririn yang pastinya sedang bernyanyi di dalam sana.


Belum juga masuk ke dalam Cafe, Aldo sudah bisa mendengar sayup-sayup suara Ririn yang sedang menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang terdengar begitu merdu. Dia pun tersenyum kecil lalu mulai berjalan masuk ke dalam Cafe.


Senyuman yang semula mengembang dari kedua sisi Aldo pun seketika terhenti saat dia mendengar suara keributan di dalam Cafe dan suara merdu Ririn pun seketika tenggelam diantara riuhnya pengunjung yang saat ini bersorak dan berteriak.


Aldo pun seketika berlari dengan wajah cemas karena ingin segera tau apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.


"Haaa ... Jangan pegang-pegang," teriak Ririn saat tangan seorang laki-laki hendak mencolek pinggulnya dengan wajah me*um.


Anehnya, tidak ada satupun pengunjung yang berani mengambil tindakan, mereka semua hanya bersorak bahkan tertawa terbahak-bahak seolah sedang melihat pertunjukan yang menyenangkan.


Aldo yang baru saja masuk ke dalam Cafe pun segera berlari ke atas panggung dan menghadiahi sebuah bogem mentah membuat laki-laki itu seketika langsung tersungkur ke bawah panggung.


Buk ....


"Brengsek kamu, berani kamu gangguin wanita ini, hah?" Teriak Aldo dengan wajah yang memerah menahan rasa amarah.

__ADS_1


"Sialan, siapa kamu? Apa kamu suami dia? Atau kamu pacar dia? Bukan 'kan?" Jawab laki-laki tersebut kembali bangkit lalu hendak membalas pukulan Aldo.


"Cukup, Aldo. Gak usah dilayani, aku baik-baik aja ko," lirih Ririn melingkarkan tangannya kuat di pergelangan tangan Aldo dengan sedikit terisak.


Aldo yang memang sudah gelap mata dan dibutakan oleh rasa cemburu pun menepis tangan wanita itu lalu menghampiri laki-laki tersebut dan hendak bertarung satu lawan satu.


Akan tetapi gerakan langkanya tiba-tiba terhenti saat mendengar suara yang menggelegar dan memekikkan berteriak kencang membuat laki-laki itu pun ikut menghentikan gerakan kakinya.


"BERHENTI ...!" Teriaknya memekikkan telinga.


Aldo pun menoleh dan tersenyum seketika menatap Silvia bersama Damien yang memang hendak makan di Cafe tersebut.


"Via?" Gumam Aldo menatap wajah Silvia dan Damien secara bergantian.


Silvia dengan begitu beraninya melangkah maju lalu melayangkan tendangan mautnya tepat mengenai bagian inti laki-laki tersebut, membuatnya seketika berteriak histeris lalu berjongkok dengan memegangi bagian inti tubuhnya.


"Hahaha ... Dasar laki-laki me*um, kamu pantas mendapatkan tendangan maut dari aku," teriak Silvia penuh kemenangan.


Damien yang menyaksikan hal itu pun hanya bisa tersenyum lucu melihat tingkah tunangannya yang selalu saja tidak bisa tinggal diam saat melihat ketidakadilan di depan matanya.


Silvia pun hendak kembali menghantam laki-laki tersebut namun, Damien segera menahan dan memeluk tubuhnya dari arah belakang.


''Cukup, sayang. Dia bisa mati kalau sampai kamu jajar lagi,'' ucap Damien terasa tersenyum pelan.

__ADS_1


''Biarin aja, biar dia mati sekalian,'' jawab Silvia dengan begitu entengnya.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2