MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Cinta


__ADS_3

Damien terdiam menundukkan kepalanya. Dia yang tidak tau apapun tentang silsilah keluarga akhirnya merasa bersalah karena telah berani menyimpan rasa yang menurutnya tak pantas dia miliki.


Ada rasa sesak yang kini terselip di dalam lubuk hati seorang Damien. Apakah salah jika dia mencintai Tantenya sendiri? Apakah salah jika dia begitu mencintai Silvia dan secara tidak sadar rasa itu telah tertanam begitu dalam di hatinya kini? Akh ... Damien benar-benar berada di ambang Dilema.


"Damien sayang. Kenapa kamu diam aja? Jawab pertanyaan Mommy, Nak."


"Mom ..."


"Iya, sayang."


"Apa salah jika aku suka sama Via?"


Mika hanya terdiam.


"Kenapa Mommy diam aja?"


Mika masih diam membisu.


"Mom. Bukankah cinta itu tidak bisa memilih kemana dan kepada siapa dia akan berlabuh?"


"Iya, Mommy mengerti."


"Lalu, kenapa Mommy gak jawab pertanyaan aku? Apa salah jika aku mencintai Via? Aku juga gak tau sejak kapan rasa ini mulai muncul tapi, aku sadar tanpa Via hati aku akan terasa hampa,'' ucap Damien lembut dengan wajah menunduk.


"Mommy gak tau harus ngomong apa."


"Kalau Mommy nanya aku, apakah aku menyukai Silvia, jawabannya iya. Aku suka sama dia, Mom. Aku juga cinta sama dia." Ucap Damien lagi mengangkat kepala lalu menatap wajah sang ibu dengan tatapan sayu.


"Damien, putra kesayangan Mommy. Mommy gak tau apakah Mommy harus sedih atau senang mendengar ini, Mommy bingung harus ngomong apa."


"Kenapa? Seharusnya Mommy dukung perasaan aku dong. Lagian Via juga gadis yang baik, Mommy juga sayang sama dia."


"Entahlah. Dia memang gadis yang baik, polos dan Mommy emang sayang sama dia tapi, kalau untuk menjadikan dia menantu Mommy rasanya Mommy masih bingung."


"Mom ..." Damien merengek seperti biasanya.


"Sayang, kamu pikirkan dulu matang-matang perasaan kamu ini. Mungkin aja perasaan yang kamu rasakan cuma rasa bersalah kamu aja. Atau mungkin itu hanya perasaan suka biasa bukan cinta."


"Nggak, Mom. Aku sayang sama Via, aku juga cinta sama dia jadi, aku mau Mommy dukung perasaan aku. Kalau nggak aku bakalan minggat dari rumah ini," ancam Damien dengan wajah masam.


"Astaga, Damien. Kenapa kamu jadi kayak gini sih?"


"Habisnya Mommy sih. Seharusnya aku yang nanya sama Mommy. Kenapa Mommy kayak gini?"

__ADS_1


"Akh, sudahlah mendingan sekarang kamu istirahat. Ingat, bentar lagi kamu harus sudah mulai kuliah, liburan semester udah hampir selesai lho." Pinta Mika mengusap lembut punggung putra kesayangannya.


Sebenarnya, Mika merasa tidak menyangkan bahwa, putra semata wayangnya akan jatuh cinta kepada Silvia, dan entah mengapa rasa tidak suka kini terselip di hatinya jika Damien harus menjalin cinta apalagi sampai menikah dengan Silvia.


Alasannya?


Entahlah, Mika sendiri tidak mengerti dengan apa yang saat ini mengganjal di hatinya.


"Aku mau tidur di sini sama Mommy," Damien merengek lalu meringkuk di atas ranjang.


"Hmm ... Baiklah kalau kamu mau tidur sama Mommy di sini."


Seketika Damien pun langsung memejamkan mata dan tertidur begitu lelapnya seolah benar-benar merasa nyaman berada di sana, di sisi ibunda tercinta.


♥️♥️


Di Rumah Sakit.


Dona menatap wajah putri kesayangannya yang saat ini sudah tertidur lelap. Matanya nampak menatap lekat wajah Silvia seolah tanpa berkedip lembut dan penuh kasih sayang.


Tatapan matanya pun seketika terhenti saat mendengar suara pintu yang dibuka dan Dona pun menoleh ke arah pintu.


"Pak Ridwan," sapa Dona menatap Ridwan yang saat ini berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Belum, saya belum ngantuk."


"Oh begitu. O iya, dimana Lusi sama putranya?" Tanya Ridwan menatap sekeliling.


"Oh dia. Lusi minta perawat untuk pindah ruangan, katanya karena sudah ada saya yang jagain Sivia, Lusi ingin putranya di rawat di ruangan yang terpisah."


"Hmm ... Ya udah kalau gitu. Tapi apa kamu baik-baik aja sendirian ngejaga Silvia?"


"Tentu saja, justru saya senang karena gak ada orang lain lagi di sini. Sebenarnya, saya gak terlalu nyaman jika berada di depan banyak orang."


"Lho kenapa?"


Dona menundukkan kepalanya merasa tidak percaya diri karena dirinya hanyalah wanita rendahan, meskipun dia akan memulai hidup baru dan meninggalkan dunia yang selama ini telah menjerumuskannya ke dalam lubang hitam.


"Dona?" Sapa Ridwan menatap lekat wajah Dona.


"Saya gak pantas berada di antara kalian," lirih Dona masih dengan kepala yang menunduk merasa sedih.


Mendengar hal itu Ridwan pun mengerti apa yang dimaksudkan oleh wanita bernama Dona ini.

__ADS_1


"Hmm ... Sebenarnya saya ditugaskan sama Bos Daniel buat ngejaga kalian di sini." Ujar Ridwan mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa kayak gitu? Kami bukan anak kecil yang harus dijaga segala." Dona mengerutkan kening.


"Itu karena bos Daniel orang yang baik, dia tidak ingin kalau kamu merasa sendirian di sini."


"O ya? Sebaik itukah bos kamu? tidak seperti ayahnya?"


"Maksudnya, tidak seperti mendiang Bos Richard?"


Dona menganggukkan kepalanya.


"Andai saja kamu tahu betapa tersiksanya Bos Richard di saat-saat terakhirnya." Ridwan menunduk sedih mengingat sosok Richard.


"Maksudnya?"


"Di saat-saat terakhir hidupnya, Dia sangat menderita bahkan seperti orang gila. Sering berteriak memanggil nama kamu bahkan berkali-kali mengucapkan permohonan maaf kepada kamu, aku sungguh merasa iba saat melihat dia waktu itu."


Dona terdiam. Ada rasa tidak percaya mendengar laki-laki yang begitu jahat kepadanya saat itu bisa merasakan penyesalan tentang apa yang telah Richard lakukan padanya kala itu.


"Kenapa diam aja? Apa kamu gak percaya kalau orang kayak bos Richard bisa merasakan rasa penyesalan di dalam hidupnya?" Tanya Ridwan seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Dona.


"Entahlah, rasanya sulit untuk percaya." Jawab Dona mengangkat kepalanya lalu menatap wajah Ridwan.


"Tapi itulah kenyataannya Dona. Bos Richard mendapatkan karma yang setimpal atas apa yang telah dia lakukan sama kamu. Dia benar-benar kayak orang gila saat itu. Dalam tidurnya dia selalu memanggil nama kamu, bahkan selalu ketakutan layaknya orang yang sedang di kejar-kejar hantu."


"Separah itukah?"


Ridwan menganggukkan kepalanya.


"Tapi untungnya ada bos Daniel yang dengan setia selalu menemani beliau, dia dengan sabar selalu menjaga mendiang sepenuh hati meskipun bos Daniel bukan darah daging mendiang ayahnya Silvia."


"Apa? Jadi, Daniel bukan anak kandung Mas Richard?" Dona seketika terkejut membulatkan bola matanya.


"Jadi kamu gak tau kalau Bos Daniel itu anak tiri bos Richard?"


Dona menganggukkan kepalanya kepalanya.


"Hmm ... Emang gak banyak yang tau tentang hal itu karena hubungan keduanya emang sangat dekat layaknya anak dan ayah kandung, sebelum skandal besar terjadi di antara Daniel dan ayahnya."


"Hah? Skandal besar? Maksudnya?" Tanya Dona semakin penasaran.


Ridwan terdiam sejenak lalu mulai menceritakan masa lalu antara Richard, Mika dan juga Daniel. Tanpa mereka sadari bahwa, Silvia yang semula tertidur kini sudah terbangun dan mendengarkan semua yang dibicarakan oleh orang bernama Ridwan dan ibunya.

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2