MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)

MISS BILLIONAIRE (Aku bukan wanita Penghibur)
Menahan Rasa Kesal


__ADS_3

Damien segara memutar stir sesaat setelah dia menyalakan mobil. Wajahnya terlihat begitu geram dengan mata memerah penuh rasa amarah. Silvia pun menatap wajah kekasihnya, dia tidak pernah melihat wajah Damien semarah dan sekesal itu.


"Kita mau kemana, Dam? Ko mutar arah?" Tanya Via mengusap wajahnya kasar membersihkan sisa air mata yang masih tersisa di pipinya.


"Kita balik lagi ke rumah Aldo. Aku akan beri dia pelajaran, kurang ajar banget dia," jawab Damien penuh penekanan.


"Jangan, Dam. Please, aku gak mau kalian ribut gara-gara aku. Lagian aku baik-baik aja ko, sungguh,'' cegah Via kembali terisak.


"Tapi dia udah keterlaluan banget, Via. Aku udah lama kesel sama dia," jawabnya lagi mempercepat laju mobilnya.


"Aku mohon jangan balik lagi ke sana ya, kita pulang aja, sayang. Aku lelah banget, kepala aku juga pusing hiks hiks hiks ..."


Ckiiiiit ....


Damien seketika langsung menghentikan laju mobilnya di tepi jalan, dia pun menundukkan kepalanya di atas kemudi mobil menahan emosi yang saat ini terasa hendak meledak. Ingin rasanya dia memukuli sahabatnya yang bernama Aldo itu, ingin dia segera memuntahkan kekesalan yang selama ini dia tahan membuat dadanya sesak dan terasa begitu menyiksa.


Dia pun mengepalkan kedua tangannya lalu memukul stir mobil secara berkali-kali. Membuat Silvia merasa bersalah karena telah menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Terus apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku harus diam saja saat kamu dilecehkan kayak gitu, hah?" Teriak Damien seketika meluapkan emosinya.


Silvia hanya menangis melihat kekasihnya seperti itu, tangisnya bahkan terdengar pilu dengan wajah yang di tutup menggunakan telapak tangannya.


"Maafkan aku, Dam. Seharusnya aku gak cerita semuanya sama kamu, hiks hiks hiks ...'' lirih Silvia diiringi suara tangisan.


"Kamu gak salah, Via. Aku akan sangat marah jika kamu gak cerita masalah ini." Jawab Damien menoleh dan menatap wajah kekasihnya.


Damien pun segera memeluk tubuh Silvia erat, mendekapnya dengan buliran air mata yang seketika ikut membasahi wajahnya. Sakit rasanya melihat gadis yang dicintainya menangis seperti ini dihadapannya, hatinya pun begitu terluka melihat Silvia bersedih akibat perbuatan sahabatnya sendiri.


Sebagai seorang laki-laki, Damien merasa gagal dalam menjaga gadis yang dicintainya itu, sebagai seorang kekasih seharusnya dia tidak membiarkan Silvia di bawa begitu saja oleh Aldo. Sesaat, Damien pun menyalahkan dirinya sendiri karena, jika saja dia tidak membiarkan Aldo membawa Silvia pergi dari Restoran, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.


"Maafkan aku, Via. Semua ini salah aku, seharusnya aku gak membiarkan kamu di bawa sama Aldo tadi, seharusnya aku pegang tangan kamu erat-erat saat Aldo membawa kamu tadi, aku benar-benar minta maaf, sayang." Lirih Damien penuh penyesalan, mengusap lembut punggung kekasihnya.


"Aku yang salah, Dam. Kamu gak salah apapun, maafkan aku," jawab Via menangis sesenggukan.


Perlahan, Damien pun mulai mengurai pelukan. Dia mengusap lembut wajah Silvia yang kini terlihat pucat pasi lengkap dengan air mata yang membanjiri wajah cantiknya.


"Kita pulang ya. Kamu istirahat di rumah, masalah ini jangan dipikirkan lagi. Kamu harus jaga kesehatan kamu, aku gak mau kalau kamu sampai sakit lagi, sayang." Lirih Damien yang langsung di jawab dengan anggukkan oleh kekasihnya tersebut.

__ADS_1


"Tapi, aku lapar." Rengek Via dengan suara manja.


"Kamu belum makan?"


Silvia menggelengkan kepalanya.


"Astaga, kenapa kamu gak bilang dari tadi, sayang?''


Silvia hanya tersenyum kecil seraya mengusap wajahnya sendiri.


"Kamu mau kita mampir di Restoran? Atau kita makan di rumah aja?"


"Aku ingin makan di rumah aja deh."


"Ya udah, kita pulang ya. Aku akan masakin makanan spesial buat kamu, oke?"


Silvia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


❤️❤️


"Kamu duduk di sini, aku bakalan masakin makanan buat kamu, sayang." Pinta Damien menarik kursi lalu membawa tubuh kekasihnya itu duduk.


"Hmm ... Emangnya kamu bisa masak?"


"Ish, tentu aja. Gini-gini aku juga jago masak lho."


"Oke, kita lihat seberapa enaknya masakan yang kamu buat,'' ucap Silvia seraya tersenyum menopang dagu dengan kepalan tangannya.


Mata Silvia nampak memperhatikan setiap gerakan tubuh Damien yang dengan begitu lihainya memperlihatkan keahliannya dalam memotong sayuran. Wajah Damien yang memang sudah tampan terlihat semakin tampan sempurna di mata Silvia membuatnya tidak berhenti tersenyum dalam memandangi wajah kekasihnya tersebut.


"Mau aku bantuin gak?" Tanya Via menatap lekat wajah kekasihnya.


"Gak usah, kamu diam aja di situ, Chef Damien sedang beraksi."


"Oke, aku akan sabar menunggu sampai masakan kamu matang.''


Satu jam kemudian.

__ADS_1


"Nah, sudah matang. Silahkan dimakan Nona Silvia," ucap Damien menyimpan satu piring spaghetti yang terlihat masih mengeluarkan asap.


"Hmm ... Kayaknya enak,'' ucap Silvia dengan mata yang berbinar menatap spaghetti yang ada di hadapannya.


"Cobain deh. Aku ini suami idaman 'kan? Selain tampan, aku juga pandai dalam segala hal, termasuk memasak."


"Iya-iya sayang, kamu memang calon suami idaman deh, pokoknya the best ..." Jawab Via mulai memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.


"Gimana? Enak 'kan?"


Silvia menganggukkan kepalanya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Saat mereka berdua sedang asyik-asyiknya bercengkrama dengan ditemani sepiring spaghetti, tiba-tiba saja Dona sang ibu masuk ke ruang makan bersama Ridwan membuat Silvia sontak menghentikan gerakan tangannya dan meletakan sendok di atas piring begitu saja.


Melihat sang ibu membuatnya kembali teringat akan kisah hidupnya yang tadi di ceritakan oleh kekasihnya.


"Via, sayang. Kamu lagi makan apa? Kelihatannya enak banget," tanya Dona duduk di kursi yang berada tepat di depan putrinya.


"Mommy dari mana?" Tanya Via datar.


"Oh, tadi Mommy habis dari--"


"Dari makan Daddy?" Silvia menyela ucapan ibunya.


"Lho, ko kamu tau?"


Silvia hanya terdiam menundukkan kepalanya. Entah mengapa kepalanya tiba-tiba saja terasa pusing. Entah karena dia telat makan atau memang ada hal lain yang membuat kepalanya terasa berputar-putar.


Silvia pun memegangi kepalanya membuat Damien yang saat ini duduk disampingnya pun merasa heran.


"Via? Kamu kenapa, sayang?" Tanya Damien menyentuh pundak Silvia lembut.


Seiringan dengan itu, tiba-tiba saja bayangan-bayangan aneh muncul di dalam otaknya. Bayangan itu pun semakin terlihat jelas namun, semakin jelas bayangan di dalam otaknya maka kepalanya pun manjadi semakin pusing.


"Argh ... Kepala aku sakit, Dam. Argh ... Sakit banget," teriak Silvia memegangi kepalanya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2